“Mama kelewatan banget ngerjain aku. Kok bisa dia pilih wanita seperti ini untuk jadi istriku. Diantara tiga pilihan, kenapa justru wanita ini. Padahal Mama tau betul seperti apa seleraku. Selama ini aku juga tau pasti komentar Mama pada wanita sejenis ini,” Tirta mengomel dalam hati sambil terus memandangi punggung wanita di seberangnya.
Wanita yang baru dilihatnya di kamar pengantin ini meskipun sudah menghalalkannya satu jam yang lalu. Punggung yang lebar, kebaya ketat yang membalut tubuhnya juga tangan yang terlihat bengkak menunjukkan berat badannya yang tidak ideal. Bahkan jika dihitung indeks massa tubuhnya pasti sudah masuk ke kategori overweight.
Tirta menepuk kasur tempatnya duduk lalu berdiri kesal, “Aku mau protes sama Mama. Aku nggak mungkin bisa hidup selamanya dengannya. Mumpung masih belum terjadi apa-apa aku akan minta Mama membatalkan pernikahan ini,” ucapnya masih dalam hati.
Tirta segera menuju pintu kamar berniat menemui kedua orang tuanya yang pasti masih berada di rumah mempelai wanita ini.
Tiwi, wanita yang sejak tadi dibicarakan Tirta dalam hati hanya melirik sekilas. Dia memilih melanjutkan aktivitas melepas hiasan rambut dan pernak-pernik yang tadi digunakan saat akad nikah ketimbang mencari tahu apa yang akan dilakukan Tirta. Sejak pertemuan pertama mereka setelah ijab qobul tadi, Tiwi sangat yakin Tirta tidak menyukainya.
Gubrak!!!
Baru juga pintu kamar terbuka sekelompok wanita terjatuh tumpang tindih di hadapan Tirta. Kejadian ini pun membuat Tiwi ikut terkejut dan berjalan mendekati suaminya.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!” Tanya Tirta geram.
Ketidaksukaannya pada Tiwi ditambah tingkah keluarganya ini membuat kekesalan pria itu semakin memuncak.
“Kalian mau menguping ya?! Mau cari tahu apa yang kami lakukan lalu kalian bicarakan kemana-mana?!” Lanjut Tirta masih dengan suara lantangnya.
“Minggir!!!”
“Kampungan!!”
Para wanita yang tadi terjatuh hanya terpaku tanpa mendengar kemarahan Tirta. Antara kaget, takut, dan tidak suka dengan respon Tirta yang mereka anggap berlebihan.
“Ya Allah! Galak banget itu orang,” kata seorang wanita.
“Iya! Cuma gitu aja kok marah-marah,”
“Sombong amat si Tirta itu. Mentang-mentang orang kaya,”
“Belum juga sehari jadi orang sini sudah sok. Mending langsung kita usir aja sekarang,”
Ucapan kekesalan para wanita yang masih saudara dan tetangga Tiwi saling bersahutan.
“Sudah-sudah, Mbak, Bulek. Maafkan ucapan suami saya ya,” akhirnya Tiwi bersuara.
“Mending kamu ga usah jadi nikah sama orang itu, Wi. Bisa mati muda kamu dengar omelan-omelan pedasnya,” Sahut salah satu wanita.
“Husss! Kamu ini kalau ngomong juga sama ga benernya. Orang baru nikah sudah diminta pisah,” Kata wanita yang lain.
Tiwi menghela nafas panjang. Salah satu karakter orang-orang di kampungnya yang masih belum berubah. Tidak mau mengakui kalau salah dan lebih marah kalau dimarahi.
“Mbak… Sebenarnya yang salah siapa ya? Apa kalian sudah melakukan yang benar dengan bergerombol di depan pintu kamarku?” Tanya Tiwi.
Para wanita itu saling berpandangan dan senggol menyenggol bahu. Tidak ada yang berniat menjawab.
“Aku sangat berterima kasih atas bantuan Mbak, Bulek, Bude dan semuanya yang sudah membantu acara kami ini. Tapi aku juga mohon maaf kalau sejujurnya juga tidak nyaman kalau ada yang mau tahu urusan pribadi kami seperti ini,” Kata Tiwi menguatkan hati.
Dia paham resiko mengingatkan orang-orang ini. Meskipun maksudnya baik tapi gengsi mereka hanya akan menjadikan kejadian ini bahan gosip.
“Sudah-sudah ayo kita semua keluar. Biarkan pengantin baru ini menikmati malam pertama mereka,” ucap salah satu wanita yang akhirnya diikuti yang lain.
Tiwi kembali bernafas panjang lalu menutup pintu. Dia kembali duduk di depan meja rias untuk melanjutkan bebersih.
Sekitar sepuluh menit kemudian Tirta kembali masuk ke dalam kamar. Pria itu menutup pintu pelan namun membanting tubuh di atas kasur. Tiwi yang terkejut dengan kedatangan tiba-tiba pria itu hanya memperhatikan sebentar lalu berbalik badan.
“Apa-apaan sih?” Ucapnya lirih.
“Kamu apakan orang tuaku sampai-sampai mereka memilih kamu untuk menikah denganku?!” Tuduh Tirta.
“Astaghfirullah!” Kapas di tangan Tiwi sampai terjatuh saking kagetnya dengan kemunculan Tirta di depannya.
“Ck! Ga usah sok jadi orang bener kamu dengan baca istighfar. Aku yakin pasti kamu pakai guna-guna kan buat menggaet keluargaku,” kata Tirta berapi-api.
Tiwi acuh dan mengambil kapas lagi untuk lanjut membersihkan wajah.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu? Apa karena kamu merasa kalian lebih kaya sedangkan kami yang tinggal di kampung ini tidak punya apa-apa?” Tanya Tiwi tenang.
“Jelas! Itu salah satunya,” jawab Tirta cepat.
Tiwi tertawa singkat, “Memangnya kamu pernah menghitung dan membandingkan?”
“Tanpa perlu dihitung juga sudah jelas kalau harta kalian tidak sebanding dengan milik keluargaku. Kamu lihat sendiri kan berapa banyak mobil mewah yang ada di rumahku? Sedangkan kalian? Sebiji aja aku ga lihat,” kata Tirta.
“Kamu tidak melihat bukan berarti tidak ada kan?” Sanggah Tiwi.
Tirta tertawa mengejek, “Klasik! Jawaban orang yang tidak menunjukkan bukti pasti seperti itu,”
“Aku bisa saja membuktikan. Tapi aku tidak yakin kalau kamu mau ditunjukkan,” balas Tiwi masih fokus memandang wajahnya di cermin.
“Oke! Tunjukkan sekarang!” Tantang Tirta.
“Tidak bisa sekarang. Perjalanan ke lokasi terlalu sulit dilalui saat malam hari,” kata Tiwi.
Kali ini dia mengatakannya dengan menatap Tirta tegas. Dan lagi-lagi pria itu menunjukkan ekspresi mengejek.
“Kalau kamu memaksa aku bisa tunjukkan jalannya. Tapi silahkan berangkat sendiri. Aku tidak akan mengantar,” lanjutnya dengan tatapan semakin tajam.
Tirta mundur dan merebah di kasur sambil terbahak-bahak, “Benar-benar lucu! Konyol! Kamu pikir aku bodoh dan mau mengikuti omongan kamu?!”
Tiwi melengos. Kali ini dia yang agak kesal. Akan tetapi dia mencoba mengatur nafas untuk mengendalikan emosi.
“Udah deh kamu nggak usah mengada-ada. Kalau miskin ya miskin aja. Nggak perlu sok-sok an menunjukkan sesuatu yang tidak kalian miliki,” Kata Tirta setelah berada dalam posisi duduk.
“Lagipula kamu lihat tubuh dan wajahmu itu. Walaupun keluargamu penguasa dunia tidak mungkin membuatku menyukaimu,” Lanjutnya.
“Udah gemuk, nggak cantik, dan- Ahhhh… Entah bagian mana darimu yang menarik. Maka dari itu aku yakin setiap orang yang tahu pernikahan ini akan menduga kalau kalian pakai ilmu hitam,” Kata Tirta tajam.
Ucapan Tirta kali ini berhasil membuat Tiwi membalik badan menghadap pria itu. Tatapan menusuk dilontarkan lurus ke matanya. Wanita itu kemudian menggeser duduk dan kursinya agar bayangan Tirta muncul di cermin meja riasnya.
“Coba sekarang kamu yang lihat tubuh dan wajahmu,” Tiwi berdiri mendekati Tirta.
Tangannya menunjuk ke belakang tempat cermin riasnya berada. Seakan terhipnotis, Tirta menuruti ucapan Tiwi.
“Wajah tirus, kulit mulus, d**a bidang-” kata Tiwi sembari menggerakkan tangannya di bagian tubuh Tirta yang disebutkan.
Sejenak Tirta terlena namun sejenak kemudian terkejut karena Tiwi mendorongnya hingga jatuh telentang.
“Tapi Manja! Anak Mama!,” Lanjut Tiwi
“Kamu pikir hanya dengan penampilan bagus bisa membuat semua wanita di dunia mendambakanmu?”
“Ck! Mimpi!” Kata Tiwi yang kemudian keluar dari kamar meninggalkan Tirta dengan perasaannya yang tak karuan.