"Sumpah gue bete banget di rumah. Ini tugas kuliah juga banyak banget anjir." Gerutu gadis yang tengah mengotak-atik laptop, dirasa sudah lelah dia menyerup gelas greentea nya.
Suasana cafe bernuansa sederhana dan klasik ini cukup ramai, gadis bercepol satu itu hanya duduk sendiri mengutuki tugas-tugasnya yang semakin semester semakin banyak.
Tak lama petikan gitar terdengar, alunan suara khas seorang pria menghiasi musik di sore hari ini. Gadis Cepol satu itu hanya melirik seorang pria di atas panggung yang sedang menyanyikan sebuah lagu dengan gitar nya.
Beberapa gadis banyak mendekat ke arah panggung melihat visual serta suara pria itu lebih jelas. Sontak banyak yang jatuh cinta terhadap suara lembut nya.
Baik, ini cukup menganggu gadis bernama Julia. Gadis bercepol satu yang sedang di pusingkan dengan tugas kuliah justru merasa terganggu dengan teriakan para gadis Disana. Jujur saja, suara pria itu memang bagus tapi suara teriakan gadis-gadis itu merusak pendengaran.
"Ck, tantrum banget." Lia, panggilan gadis ini. Ia pun memasang earphone sembari mengerjakan tugas kuliah nya. Menghiraukan panggilan banyak yang masuk di handphone nya.
Jam kian semakin bertambah, tanpa sadar matahari sudah terbenam digantikan oleh sang bulan. Rintikan air pun mulai berturunan. Begitu sunyi bahkan orang-orang tak ada satupun yang melintasi jalanan. Lia tak berkutik dari tempat, masih asik mengerjakan tugas yang entah sampai kapan akan berakhir. Sudah beberapa gelas greentea juga ia habiskan. Memang minuman ini favorit Lia banget.
Seseorang menepuk bahu nya. Lia menoleh lalu melepaskan earphone, rupa nya seorang pegawai cafe yang tengah membungkuk pada nya. "Kak, mohon maaf. Cafe ini sebentar lagi mau tutup."
Sadar sudah berapa waktu yang Lia habiskan untuk cafe ini. Melirik jam sudah menunjukkan pukul 23.29 Lia menepuk dahi nya sendiri, ini sudah tengah malam bisa-bisa papa nya tengah sibuk mengkhawatirkan diri nya.
"Iyaa kak, ini mau pulang. Makasih ya."
Pegawai itu tersenyum kemudian kembali membungkuk dan pergi dari hadapan Lia. Tak langsung pulang, Lia masih melihat keluar jendela hujan nya begitu deras beserta deras nya angin malah yang membuat seseorang berada di luar sana akan menggigil kedinginan.
Lia langsung membereskan barang-barangnya, mengecek ponsel pink dan benar saja banyak sekali panggilan masuk dari papa nya yang menanyakan kapan pulang. Langkah nya berjalan menuju pintu keluar sambil mengirimkan pesan ke sang ayah bahwa dia sedang berada di jalan.
"Lebat banget hujan nya, gimana gue bisa sampai mobil." Tak akan menyangka bahwa hujan akan turun di tengah malam, gadis ini kembali menggerutu kenapa juga dia harus memarkir kan mobil nya sangat jauh di belakang sana.
Mungkin Lia akan menunggu sebentar, siapa tau hujan nya akan mereda. Dari pada Lia harus menerobos hujan dan berakhir basah kuyup terus besok nya akan sakit, dia lebih memilih menunggu saja. Cafe semula terang seketika padam. Sudah banyak karyawan yang pulang dan kini kondisi cafe yang tutup semakin sepi hanya ada Lia sendirian yang berdiri di depan.
Pukul 00.00 pas Lia berdiri sendirian di tengah kondisi hujan yang malah semakin deras. Kulit mulus nya sudah menggigil di terpa deras nya angin sedari tadi. Lia hanya mengenakan kaos putih dan celana cargo saja, tanpa membawa jaket. Tengah sibuk melamun tiba-tiba gadis ini tersentak kaget, seseorang kembali menepuk bahu nya.
"Mba, kenapa belum pulang?" Rupa nya lelaki ini, lelaki yang sempat menyanyi dan disoraki banyak gadis.
Lia melirik lelaki ini dari atas sampai bawah, mengenakan Hoodie hitam dan celana kain dengan payung yang berada di tangan nya. Gadis ini sedikit menjaga jarak, ia sedikit takut ketika berbicara dengan orang asing di tengah situasi seperti ini, hanya ada mereka berdua dan takut nya lelaki ini akan berbuat macam-macam terhadap Lia.
"Mba, jangan takut. Saya gak macem-macem." Ujar nya sadar akan respon Lia yang kurang baik terhadap kedatangan nya.
"Mba, mau pulang ya? Ini saya ada payung pake aja, mba." Ia menyerahkan payung ungu itu dan di terima oleh Lia dengan hati-hati.
"Kalau gue pakai payung nya, lu pulang gimana?" Tanya Lia kemudian membuka payung ini.
Lelaki bersurai kecoklatan tersenyum tipis, "udah santai aja, mba. Saya duluan." Kemudian langsung menerobos hujan yang mana pakaian nya seketika basah kuyup.
Lia tersentak, lelaki itu nekat sekali menerobos hujan yang sangat lebat ini. Sudah Lia yakini bahwa kondisi lelaki itu pasti menggigil kedinginan bagaimana berada di bongkahan es.
"Makasih ya." Langkah nya langsung menuju di mana mobil nya terparkir jauh.
Di halte, lelaki berhoodie hitam sampai dengan basah kuyup. Bibir nya bergetar menggigil. Inya meyakini bahwa satu bus pasti tidak akan lewat di jam segini, 00.10 sudah 10 menit memasuki hari Selasa.
"Dingin..." lirih nya sembari membuka tudung Hoodie mengacak rambut yang tetesan air turun dari helaian surai. Wajah rupawan nya basah dan bibir pucat itu tidak mengurangi kadar ketampanan.
"Mau gak mau harus jalan kaki." Ia singgah sejenak di halte ini untuk menetralkan suhu tubuh nya. Tak berselang lama, ia bangkit kembali lalu menerobos hujan dengan santai.
Saya sudah biasa dengan kesendirian yang menyelimuti hidup.
***
Kicauan burung bagaikan musik santai di pagi hari, matahari telah terbit menyinari seisi nya. Semua orang sudah bangkit menjalankan hari-hari seperti biasa. Kembali menuju sebuah rumah bak istana ini, tepat di kamar yang bernuansa kan cream. Seseorang masih terbalut dengan selimut, wajah damai nya merasakan mimpi indah di alam sana, ia sama sekali tak terganggu dengan keributan di lantai bawah. Mata bulat yang masih terpejam, hidung kecil mancung, kulit semulus dan seputih s**u, jangan lupakan bibir pink nya. Sungguh, ketika ia tidur saja gadis ini masih sangat cantik.
Kilauan cahaya menerpa wajah nya, gadis ini terganggu dengan waktu tidurnya lalu membuka sebelah mata.
"Ayo my princess bangun, Lia." Ia membuka lebar-lebar gorden membiarkan udara pagi dan sinar matahari memasuki kamar.
Oh, lelaki ini. Lia hafal betul dengan suara nya. Lelaki yang datang pagi-pagi buta demi untuk membangun kan Lia, "Sam, are you crazy?"
"Why babe? Waktu nya untuk kuliah." Sam, pria yang wajahnya bagaikan pangeran. Tinggi 180 cm, rambut hitam tertata rapi, kemeja dan celana hitam, jangan lupakan badan gagah nya.
"Gue masih ngantuk." Lia menutup wajah nya dengan selimut.
"Dengar Julia, gue aduin lu juga ke papah."
Lia membuka kasar gumpalan selimut yang menutupi wajah cantik itu, "Sam, dengar ya. gue hari ini libur."
Lelaki 180 cm itu tersenyum senang, berjalan mendekat ke arah kasur Lia, "Kalau pun lu libur, hari ini kita ngedate." Ajak nya dengan mengguncangkan tubuh Lia.
"Gila, tugas kuliah gue banyak. Skip." Lia menepis tangan Sam yang berada di bahu nya.
Sam terdiam, mata tajam itu menatap Lia tepat pada pupil dengan tatapan yang sulit di artikan, "Li, lu gak pernah jalan sama gue. Apa lu masih belum bisa nerima?"
Oke... Lia paham sekali kemana alur pembicaraan ini, topik ini yang sangat Lia benci. Ia pasti akan merasa terpojokkan oleh pertanyaan-pertanyaan Sam, "Maaf, gue masih belum terbiasa sama situasi ini. Sam, lu itu sahabat kecil gue. Kita ini udah kaya saudara, jadi aneh aja."
Sam menutup mata sejenak menghembuskan nafas dengan kasar, "Gue udah cinta sama lu dari dulu, Li. Please... Kita gak ada hubungan darah, bebas aja kalau papa lu jodohin kita."
"Sam... Tolong jangan bahas ini, gue masih perlu waktu." Kata Lia mengalihkan pandangannya dari mata tajam Sam.
Sam justru menggapai tangan Lia, mengelus cincin yang sudah terpatri di jari manis, "Ini penting, kita udah tunangan. Lu harus bisa cintai hubungan kita."
Gadis itu mengangguk saja, ingin mengakhiri topik aneh yang membuat atmosfer kamar menjadi tegang. Ini semua perbuatan sang papa yang langsung menjodohkan mereka tanpa persetujuan Lia. Kan membuat Lia terasa canggung pada Sam. Padahal keduanya sudah berteman sejak kecil di karenakan orang tua.
"Gue harus mandi, Karina minta ke kampus buat ngumpul makalah." Lia pun menarik kembali tangannya dari Sam. Kemudian bangkit mengambil baju nya di lemari dan memasuki kamar mandi.
Sam membiarkan saja, lelaki ini tau kejadian tak terduga menimpa hidup Lia membuat nya terkejut. Apa lagi seluruh hidup Lia, ayah nya yang pegang kuasa. Sam hanya akan menunggu dan membiarkan waktu yang akan menjawab terhadap Lia. Membiarkan gadis itu hidup bebas adalah pengawasan Sam dari jauh.
***
"Widih... Jadi juga makalah nya. Thanks ya, gue mau ngumpulin ini ke dospem gue." Ujar gadis bersurai panjang bergelombang, Karina.
"Y, gue ngebut banget semalaman ngerjain ini." Kata Lia sembari bersandar pada mobil merah nya.
"Tapi selesai kan, udah jangan di sesali. Yang penting lu bisa santai-santai sekarang." Kata Karina.
"Iyaa sih, udah lah. Gue mau pergi dulu." Lia masuk ke dalam mobil, membuka kaca hanya sampai setengah membiarkan Karina yang kembali bertanya.
"Kemana? Sama Sam ya?" Tanya Karina, gadis ini tau status Lia sebagai pacar seorang pengusaha dan YouTubers yaitu Sam Hwang.
"Gak anjir, mau keliling bentar."
"Oh... Hati-hati dijalan ya, Li."
"Makasih banyak, Rin."
Karina mengangguk sambil tersenyum lebar mengacungkan jempol nya. mobil merah ini pun bergerak meninggalkan perkarangan kampus yang begitu luas dan besar ini, isi nya hanyalah orang-orang berada yang berkuliah di kampus swasta.
"Kak, green tea sama spaghetti bolognese nya 1."
Tepat di cafe yang sama dengan kemaren. Lia menjadikan tempat ini menjadi list favorit nya. Alasan lain juga ia ingin mengembalikan payung si karyawan lelaki itu.
Sambil menunggu pesanan datang, Lia memainkan ponsel nya dan membalas pesan singkat dari Sam. Lelaki itu tidak bisa kah 1 jam saja tidak menchat Lia, ini setiap menit selalu menanyakan Lia dimana.
"Permisi, mba. Ini pesanan nya."
Ketika Lia menoleh pada pelayan ini dan benar saja lelaki yang tengah menghidangkan pesanan Lia adalah lelaki yang memberikan payung kemaren.
"Lu yang kasih payung kan?" Tanya Lia.
Lelaki berbaju khas pelayan juga tersentak, mengerjakan mata nya kemudian tersenyum lebar sambil mengangguk.
"Kemaren gak papa kan? Lu sakit gak?" Tanya Lia bertubi-tubi.
Lelaki ini hanya menggeleng pelan serta senyuman manis itu tak pudar.
"Eumm... Makasih banyak yang kemaren. Oh iya, gue mau balikin payung lu."
"Iyaa mba, nanti payung nya taruh di meja ini aja." Kata lelaki ini.
"Maaf mba, saya mau kembali bekerja. Makasih kembali ya.."
Baru selangkah lelaki ini berjalan, Lia justru menahan lengan nya, "Eh maaf..." Sadar akan tindakan nya yang lancang Lia langsung melepaskan sentuhan tadi.
"Biasa nya ada jam istirahat kan? Boleh gue nunggu lu disini? Gue mau traktir lu." Kata Lia.
Lelaki yang masih memegang nampan tersenyum saja sambil mengangguk, "makasih banyak ya, mba. Nanti saya kesini lagi."
Lia pun membiarkan lelaki ini pergi untuk melayani pelanggan yang lain. Aura pemuda itu begitu adem dan sederhana, Lia begitu menyukai tutur kata yang sopan dan tak lupa lelaki itu sering mengucapkan maaf dan terimakasih. Begitu sederhana tapi seseorang akan merasa sangat di hargai.
mulut Arjuna terbuka ingin membenarkan typo dari Lia, tapi gadis itu sudah menyeletuk duluan.
"Ajun ya, kenapa nama lu lucu." Kata Lia.
"Mba, Arjuna biasa di panggil Juna atau Arjun bukan Ajun." Kata Arjuna sembari tersenyum.
"Padahal Ajun lucu loh, jarang ada yang pakai. Kalau gue manggil lu itu boleh gak?" Tanya Lia.
Arjuna hanya mengangguk tak lepas sama sekali senyuman di wajah nya. Nama itu terdengar unik dan lucu ketika Lia yang menyebutkan nya. Tanpa meminta izin pun Arjuna setuju dengan nama yang orang-orang berikan bahwa kan lebih banyak dan menyakiti kan.
Makanan mereka pun datang, kedua nya sama-sama diam memakan nasi goreng ini. Kedua nya banyak bercerita dan bercanda gurau satu sama lain.
"Mba, makasih ya. Traktiran nya, nanti kapan-kapan saya yang traktir." Kata Arjuna selesai meminum Thai tea nya.
"Lia, jun."
"Iya Lia."
"Sama-sama, udah gak papa. Gue ikhlas kok traktir lu." Kata Lia.
"Oh iyaa, Jun. Gue mau duluan ya, ada janji soal nya."
Kedua nya sama-sama bangkit dari kursi, Lia maupun Arjuna tersenyum. Kemudian kedua nya berpisah, Lia yang keluar cafe dan Arjuna kembali ke dapur melaksanakan tugas nya.