Author’s POV
Jessica tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya dan melihat jam digital yang terletak di nakasnya. Sudah pukul 4 pagi dan ia masih belum bisa menenangkan pikirannya mengenai kegagalan yang sudah ia dapatkan. Pikirannya terus merasa bersalah dan merasa tidak berguna. Meskipun ia terlihat menyalahkan sang ayah, namun tidak bisa ditampik jika ia lebih membebankan kekalahan tersebut kepada dirinya sendiri.
Selama ini gadis itu selalu menahan semuanya sendiri, ia jarang sekali menceritakan apa yang menjadi alasannya merasa tidak nyaman kepada dirinya sendiri kepada orang lain, termasuk sahabat-sahabatnya. Ia tidak tahu kata seperti bisa ia berikan ketika ia mulai bercerita. Lebih tepatnya, gadis itu tidak tahu bagaimana caranya untuk menyalurkan perasaannya yang begitu complicated.
Jessica mengambil ponselnya dan ia pun melangkah keluar dari kamarnya. Tiba-tiba perutnya terasa lapar dan ia memutuskan untuk berjalan ke dapur untuk membuat beberapa roti yang akan ia makan untuk mengganjal perutnya.
Sesampainya ia di dapur, ia membuka lemari gantung yang biasanya terletak roti dan selai dan lemari tersebut terlihat kosong. Sepertinya asisten rumah tangganya belum membeli stok makanan. Gadis itu mendengus malas dan beralih ke kulkas. Ia semakin kesal ketika ia juga melihat beberapa stok makanan yang ada seperti daging, buah-buahan, semuanya kosong.
Jessica memegang perutnya yang tengah berbunyi keroncongan. Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan mengambil beberapa uang untuknya belanja di minimarket terdekat. Rumah gadis itu tidaklah kecil, melainkan sangat luas dan besar. Untuk menuju gerbang saja ia harus bersepeda dari halaman rumahnya ke gerbang depan.
Gadis itu memutuskan untuk pergi ke minimarket menggunakan sepedanya karena dinilai lebih cepat dan juga meminimalisir dirinya diikuti seseorang. Sesampainya di minimarket terdekat tersebut, gadis itu memarkirkan sepedanya sebelum ia benar-benar melangkah masuk ke dalam minimarket yang buka 24 jam tersebut. Ia mencari s**u dan beberapa makanan ringan lain untuknya.
Perhatian gadis itu beralih ke sebuah roti cokelat yang tersisa 1 di rak tersebut. Ketika gadis itu mau meraih roti kesukaannya itu, sebuah tangan sudah terlebih dahulu mengambil roti tersebut. Gadis itu mengerutkan wajahnya dan menoleh kepada pria yang tengah melangkah untuk meninggalkannya,
“Tunggu!” ujar gadis itu, membuat pria itu menghentikan langkahnya untuk sekejap. Gadis itu masih menunggu itikad pria itu untuk berbalik kepadanya, namun hal tersebut tampaknya tidak terjadi. Jessica mendengus kesal dan dia berjalan melewati pria itu lalu menghadangnya.
“Aku yang melihatnya lebih duluan,” ujar gadis itu yang yakin jika sedari tadi tidak ada sesiapapun yang di dekatnya ketika ia menatap roti tersebut.
Pria yang berparas tampan itu tampak tidak ingin meladeni gadis yang berdiri di depannya itu. Ia malah mengabaikan keberadaan gadis itu dan memilih untuk melewatkan gadis itu yang masih berdiri di tempatnya. Melihat dirinya yang sama sekali tidak digubris, gadis itu mencebik kesal dan dengan cepat merampas roti tersebut dari tangan pria itu dan berlari ke meja kasir untuk membayarnya.
Namun itu tidak bertahan lama karena pria itu juga merampas roti tersebut dan tiba di meja kasir lebih awal daripada gadis itu. Jessica terlambat selangkah dari pria itu yang sudah terlebih dahulu membayar roti tersebut kepadanya.
Gadis itu mendengus kesal dan tersenyum remeh kepada Alvin yang sudah menerima kembalian dari belanjaannya. Pria itu hendak meninggalkan minimarket tersebut namun gadis itu menghadangnya. Tidak ada kata yang dilontarkan kepada gadis itu yang masih menghalangi jalan pria itu untuk melangkah. Pria itu menatap gadis itu dengan dingin dan setelah sekian menit keduanya tidak bergerak juga, pria itu berinisiatif untuk melangkah ke kanan, namun hal itu dihalangi oleh gadis itu.
Begitu pula ketika pria itu melangkah ke kiri, gadis itu juga menghadangnya.
“Jual kembali roti tersebut kepadaku, aku akan membayarnya 3x lipat,” ujarnya sembari melipat tangannya. Alvin terlihat tenang dan tampaknya ia menghela napas kecil sebelum dia benar-benar melangkah dan menubruk tubuh gadis itu.
Gadis itu mencebik kesal karena pria itu mengabaikannya. Jarang sekali ada pria yang bisa melewatinya tanpa memuja parasnya yang cantik itu. Bisa dikatakan, ini pertama kalinya gadis itu diabaikan oleh seseorang. Ia berbalik dan menatap punggung pria itu yang tengah mendorong pintu kaca untuknya segera keluar. Gadis itu menarik napasnya dengan kesal, sungguh pria yang sombong.
‘Percuma memiliki tampang yang paripurna jika sikapnya begitu sombong!’ batinnya yang saat ini sedang teriak di dalam. Jessica tentu tidak akan melupakan hal ini, ia akan terus menandai pria itu kapanpun dan dimanapun jika mereka bertemu kembali.
****
Iris menatap sang sahabat dengan begitu prihatin. Tidak hanya dia, Juliette juga berlaku hal yang sama. Sementara itu, Jessica berusaha untuk menyakinkan para sahabatnya jika ia baik-baik saja. Jessica baru menceritakan alasan mengapa ia bisa kalah bertanding. Ia berkata jika ia sedang tidak fokus di saat itu yang membawa timnya tidak sampai kepada kemenangan,
“Hey, mengapa kalian menatapku begitu?” ujarnya yang merasa tidak enak,
Iris menggelengkan kepalanya,”Kau masih bertanya mengapa kami menatapmu begitu? Sudah jelas kami prihatin dengan keadaanmu, bodoh!” ujarnya sembari melayangkan tangannya yang sudah terkepal itu untuk menggetok kepala gadis itu hingga ia meringis,
“Kau sendiri yang membuatku sakit sekarang,” ujarnya sembari memegang kepalanya yang kesakitan,
“Lalu bagaimana dengan ayahmu? Aku yakin ia marah besar karena ini,”
Jessica mengangguk,”Iya… begitulah,”
Jessica tidak menceritakan jika ia ditampar ayahnya. Ia sengaja melakukannya karena ia tidak ingin sahabatnya semakin mengkhawatirkan dirinya. Lagipula menurutnya hal itu adalah sebuah aib yang tidak perlu diceritakan kepada siapapun.
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Juliette yang mengundang tanya oleh Jessica.
“Aku?” tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri. Juliette menanyakan hal tersebut bukannya ia tidak tahu Jessica adalah tipikal gadis yang ambisius. Justru karena ia sudah mengetahui apa yang seharusnya gadis itu rasakan, ia menanyakan hal tersebut agar gadis bisa meluapkan apa yang menjadi bebannya saat ini.
Dan sekarang, Julliette yakin jika sebenarnya gadis itu tidak baik-baik saja, terlihat dari bagaimana gadis itu berusaha untuk tetap tertawa kecil kepadanya.
“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku baik-baik saja,” ujarnya sembari mengibaskan tangannya kepada Juliette. Juliette menghela napasnya dan ia menatap lurus kepada Jessica yang mulai melunturkan senyumnya. Jessica sudah tahu betul gelagat Juliette jika ia sedang serius, terlihat dari bagaimana gadis itu mulai menegapkan tubuhnya dan melipat tangannya.
“Kau bohong…” ujarnya, membuat gadis itu menelan ludahnya.
“B-bohong seperti apa? Aku tidak mengerti maksu-“
“Berhentilah berpura-pura baik-baik saja jika hatimu sendiri tidak merasakan apapun yang baik,” ujarnya, membuat Jessica menundukkan kepalanya untuk sejenak. Iris melihat situasi yang menurutnya tidak mengenakkan ini mulai memegang pundak Juliette dan menepuknya pelan. Walaupun sebenarnya ia berada di pihak Juliette, namun berkata seperti itu tidak akan mempengaruhi Jessica karena tidak mungkin untuk seseorang bisa mengubah pendiriannya hanya karena satu dua kalimat saja,
Jessica memikirkan perkataan Juliette dan mulai mengambil napasnya. Ingin sekali ia jujur terhadap apa yang ia rasakan, namun ia rasa tidak bisa karena ia sungguh menganggap ini adalah sebuah aib dan kelemahan yang tidak ingin ia tunjukkan kepada sahabatnya,
Gadis itu mengangkat kepalanya dan tersenyum simpul,”Mungkin kau benar… tapi aku benar-benar baik-baik saja kok,” ujarnya dengan senyuman tipis. Juliette hanya bisa menghela napasnya melihat gadis itu,
“Ya sudah… berceritalah kepada kami ketika kamu sudah siap,” ujar Juliette yang langsung dinimbrung Iris,
“Benar, jangan sungkan juga meminta bantuan kami,” ujarnya dengan mata yang ia kedipkan satu.
“Iya iya… yaudah, sebagai gantinya, kali ini aku yang akan traktir, okey?” ujar Jessica yang tanpa basa basi langsung mengundurkan diri untuk melangkah ke meja kasir. Ia memegang dadanya dan menghela napas lega. Rasanya atmosfir di sekitarnya tadi cukup menegangkan,
Ketika gadis itu berjalan, ponselnya bergetar, yang membuatnya mengambil ponselnya dari sakunya tanpa melihat ke depan. Disaat itu ia baru membuka ponselnya, secara tidak sengaja, ia menabrak seseorang.
Gadis itu langsung menyadari kesalahannya dan membungkuk minta maaf karena dirinya sudah salah. Karena tidak mendapat respon apapun dari pria yang ia tabrak, gadis itu mengangkat kepalanya dan ia tidak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat siapa yang ia tabrak,
‘Bukankah dia pria yang tadi?!’ batinnya yang menjerit tidak percaya.
Terdengar cebikan yang membuat gadis itu mengepalkan tangannya dengan keras. Belum lagi pria itu kembali mengabaikannya dan kembali berjalan melewati dirinya yang kembali lagi menatap punggung pria itu dari kejauhan,
“Kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria b******k itu sih!?”