"Afif, ayo Kila makan siang." Ujar bram saat mengajakku untuk makan siang.
"Kamu duluan saja, aku mau solat jujur dulu." Jawab ku.
"Iya sudah... Aku duluan ya?" Ujar bram karena memang dia seorang yang non muslim.
"Iya ok."
Sebelum aku berangkat untuk solat juhur, aku merapihkan meja kerjaku terlebih dahulu. Karena Suara komat sudah terdengar dari musolah yang ada di bawah kantor, aku segera bergegas menuju musolah. Dan tanpa sengaja aku menabrak seorang wanita, hingga dia terjatuh.
"Auw..." Suara wanita itu kesakitan.
"Aduh maaf mba, saya tidak sengaja." Ucapku sembari membangunkan wanita itu.
Alangkah terkejut nya aku setelah melihat, ternyata wanita yang jatuh itu adalah Laras. Dia adalah salah seorang anak dari pak Budi Pranoto. pemilik perusahaan tempat di mana aku bekerja sekarang.
"Aduh, habislah aku." Ucapku dalam hati.
Karena siapah saja kariawan yang berurusan dengan nya, akan berakhir dengan sangat menyedihkan. Bahkan dia tidak segan untuk memecat siapa saja orang yang dia tidak sukai.
"Kamu gila ya? Kalau jalan itu pake mata, bukan pake dengkul." Ucap nya dengan nada kasar.
"Maaf mba, saya tidak sengaja. Tadi saya terburu-buru takut tertinggal solat berjamaah." Ujar ku sambil menunduk di hadapan nya.
"Kamu ya... Kalau bukan aku sedang terburu-buru pasti kamu sudah habis hari ini sama aku. Ingat urusan kita belum selesai. " Ujar Laras sembari menunjuk ke arah wajah ku. Lalu dia pergi meninggalkan ku, karena dia sedang terburu-buru.
"Huuh... Alhamdulilah." Ujar ku sembari mengelus d**a saat Laras si wanita pemarah itu pergi dari hadapanku.
Aku segera berlari saat aku teringat, kalau solat juhur berjamaah sudah di mulai.
Sesampainya aku di musolah yang ada di lantai bawah kantor, aku langsung mengambil air wudu, dan setelah itu aku berdiri di saf terakhir. Karena kejadian bersama Laras tadi, sehingga aku tertinggal satu rokaat.
*****
Setelah selesai solat dan berdoa, aku terkejut saat ada yang memegang pundak ku dari belakang.
"Assalamualaikum..." Ucap orang itu
"Waalaikumsalam..."
Aku menoleh ke arah belakang, untuk melihat siapakah orang yang sudah memegang pundak dan mengucapkan salam kepadaku. Dan alangkah terkejutnya aku, setelah aku melihat, ternyata orang itu adalah pak Budi Pranoto. Pemilik pruhasaan tempat aku bekerja sekarang.
"Pak Budi?" Sapa ku yang tidak berani melihat ke arah wajahnya.
"Nama kamu Afif kan?" Tanya pak Budi kepadaku.
"Iya pak."
"Nanti sehabis makan siang, kamu datang ke ruang saya ya?"
"I- iya pak." Jawabku terbata.
Kemudian pak Budi berlalu pergi.
****
"Yoi... Ngelamun aja." Ujar Baram yang mengagetkan aku.
"Ah kamu Baram, bikin aku terkejut saja."
"Kamu kenapa FIF, kok melamun?"
"Ini Bram, tadi di musolah aku bertemu sama pak Budi. Dan dia menyuruhku untuk datang ke ruangan nya."
"Pak Budi? bos kita besar Kuta?" Tanya Bram yang seolah tidak percaya, kalau seorang bos besar seperti pak Budi, mau berbicara dengan staf biasa sepertiku.
"Iya pak Budi, bos besar Kita." Tegas ku.
"Ada urusan apa, pak Budi sama kamu?"
"Ituh dia Bram yang membuat aku bingung. Kira-kira ada apa ya pak Budi memanggil ku?" Ucapku yang sedang merasa bingung.
Karena waktu istirahat makan siang sudah habis, aku dan Bram segera kembali kekantor. Dan di saat aku baru saja duduk di kursi mejaku, sekretaris pak Budi datang menghampiri ku, untuk memberi tahu kalau sekarang aku sudah di tunggu oleh pak Budi di ruangan nya.
"Afif." Ucap mba Tiara, sekretaris pak Budi.
"Iya mba."
"Afif, kamu sudah di tunggu sama pak Budi di ruangan nya sekarang."
"Iya mba."
Aku segera bangkit dari tempat duduk ku, dan mengikuti mba Tiara dari belakang.
"Tok, tok, tok." Mba Tiara mengetuk pintu.
"Iya masuk."
Suara pak Budi yang mempersilahkan aku dan mba Tiara untuk masuk ke dalam ruangan nya.
"Pak, ini Afif." Ujar mba Tiara.
"Iya terimakasih Tiara, sekarang kamu boleh kembali ke tempat kamu lagi." Ujar pak Budi kepada mba Tiara.
"Baik pak, saya permisi dulu." Mba Tiara pergi dan meninggalkan aku sendiri di ruangan pak Budi.
Setelah mba Tiara pergi, pak Budi langsung berdiri dari kursinya dan mendekat ke arahku yang masih berdiri karena bingung.
"Afif, ayo duduk."
Ucap pak Budi yang merangkul pundak ku.
"I-iya pak."
Aku dan pak Budi duduk bersama di sofa yang berada di dalam ruangan itu. Dan saat kami sedang duduk, tidak lama kemudian anak lelaki pak Budi yang bermana Haikal datang. Dia juga duduk bersama kami di sofa itu.
Aku merasa takut dan cemas, saat pak Budi dan mas Haikal menatap dan duduk di hadapanku.
"Afif, kamu sudah bekerja berapa lama di kantor ini?" Tanya pak Budi.
"Sudah hampir tiga tahun, pak." Jawab ku.
"Afif, saya dan juga Haikal, sudah memperhatikan kamu selama satu minggu terahir. Dan cuma kamu yang sepertinya bisa membantu saya." Ujar pak Budi kepadaku.
"Bantu bapak? Maaf pak. Apa yang bisa saya bantu?" Tanyaku
"Saya harap, kamu mau membantu saya, Afif?"
"Kalau saya bisa, saya akan membantu bapak. Tapi... Saya harus bantu apa pak?" Tanyaku.
"Baiklah... Kalau begitu, nanti malam saya akan memberitahukan ke kamu. Dan jangan lupa nanti malam, kamu harus datang ke rumah saya sehabis magrib."
Setelah mendengar ucapan dari pak Budi, hatiku menjadi lebih cemas dan bercampur bingung.
"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu."
Aku segera bergegas keluar dari ruangan pak Budi. Dan sebelum keluar, mas Haikal menjabat tangan ku.
"Tenang aja Fif, kamu pasti bisa kok." Ujar mas Haikal yang menenangkan perasaanku yang sedang gelisah.
"Iya mas, terimakasih." Aku segera keluar dari ruangan itu.
Di saat aku hendak kembali ke meja kerjaku, aku seolah bertanya. Mengapa pak Budi dan juga mas Haikal meminta bantuan kepadaku, yang hanya kariawan biasa sepertiku.
Karena waktu jam kantor sudah selesai, Afif segera pulang dengan menggunakan motor metik nya.
Dan di saat dia hendak menaiki motornya, Afif di panggil kembali dari dalam mobil oleh pak budi.
"Afif..." Ucap pak Budi yang memanggilku.
Aku langsung menghampiri pak Budi yang berada di dalam mobilnya.
"Iya pak."
"Jangan lupa ya, nanti malam kamu harus datang ke rumah saya!"
"Iya pak."
Lalu pak Budi pergi dengan mobilnya, dan aku pun lang sing menaiki motorku untuk kembali pulang.
Pada jam enam sore, aku sudah sampai di tempat kontrakan ku yang lumayan sederhana. Ya maklumlah... Aku tinggal di sini hanya seorang diri tanpa sanak keluarga.