Pagi ini Haresh terbangun dengan leher pegal bukan main. Semalam ia ketiduran sambil mengerjakan tugasnya yang segunung. Ia segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi. Lalu bersiap untuk ke sekolah. Semoga saja hari ini lebih baik dari kemarin. Haresh jujur saja sudah lelah, padahal hari baru akan dimulai.
Selesai mengenakan seragam sekolah, sebuah suara ketukan menyapa indra pendengaran Haresh. Lalu disusul suara pintu yang dibuka dari luar. Sosok Jeza tampak di ambang pintu. Terlihat agak segan untuk masuk, tetapi akhirnya masuk juga. Meski hanya diam selama beberapa menit. Memerhatikan gerak-gerik sang kakak yang tampak masih kesal.
"Abang," panggil Jeza pelan. Berhati-hati agar tidak kena semprot Haresh. Ia merenung semalaman dan merasa tidak enak karena sudah membuat Haresh dimarahi kemarin.
Haresh berdehem pelan. Kemudian berujar, "Kalau lo mau minta maaf soal kemarin, gue nggak mau maafin. Gue masih kesel sama lo. Lebih baik lo jauh-jauh aja dari gue. Gue juga nggak akan ke deket lo lagi. Gue bakal biarin lo tenang. Seneng, kan, lo?"
"Bang, gue minta maaf. Gue emang kemarin berlebihan. Gue keterlaluan. Maaf banget," kata Jeza. Tidak peduli dengan perkataan Haresh barusan.
"Lo tuli, ya?"
Jeza menggigit bagian dalam pipinya pelan. Nada bicara Haresh terdengar amat menyeramkan. "Gue minta maaf."
"Keluar," balas Haresh dingin.
"Tapi Abang--"
"Gue bilang keluar, ya keluar!" sentak Haresh sampai Jeza berjengit kaget. Emosi Haresh mendadak memuncak. Ia memandang Jeza penuh emosi. "Gue udah bilang gue nggak mau maafin lo. Nggak usah batu! Lo masih punya telinga, 'kan? Masih ngeri bahasa manusia?"
Dengan membawa segenap rasa kesalnya, Jeza memilih keluar dari kamar Haresh. Pagi harinya benar-benar buruk. Ia kembali ke kamar untuk mengambil tas lalu segera turun ke lantai bawah.
Seusai kepergian sang adik, Haresh kembali melanjutkan kegiatannya. Tidak peduli dengan Jeza yang harus pergi tanpa mengantongi maaf. Ia terlanjur kesal pada Jeza. Biar saja ia mengadu pada orang tua mereka. Toh, Haresh sudah biasa menjadi tempat pelampiasan amarah mereka setiap hari.
Pemuda kurus itu lantas menuruni anak tangga dengan perlahan. Jujur saja hari ini tidak bersemangat sama sekali. Tugasnya belum selesai dan itu berarti ia harus melanjutkan dengan secepat kilat saat sampai di sekolah. Padahal ia tidak mempunyai waktu tidur yang cukup.
"Kenapa kamu tadi bentak Jeza?" Kalimat tanya tersebut yang menyambut kedatangan Haresh di meja makan. Kontan pemuda tersebut menghela napas panjang dan sedikit menghentak kursi yang ia seret untuk duduk.
"Aku nggak niat ngebentak. Aku cuma lagi kesel aja, jadi kelepasan." Haresh memberikan pembelaan seadanya.
"Apa nggak cukup kamu kemarin hampir mencelakai dia? Sekarang kamu bentak-bentak juga. Kakak macam apa, sih, kamu ini? Nggak bisa sama sekali disebut seorang kakak. Kelakuannya nggak ada yang bener."
Mendengar suara omelan di pagi hari memang bukanlah sebuah momen yang menyenangkan. Suasana hati Haresh makin memburuk saja kalau begini. Ditambah tatapan tajam dari Sadewa. Haresh merasa seperti dimusuhi satu rumah.
Jeza yang menjadi biang kerok hanya diam. Tampak puas karena Haresh kembali mendapat omelan dari sang mama. Si bungsu itu memang gampang menyimpan dendam. Padahal beberapa menit lalu ia mengemis maaf pada Haresh. Benar-benar sangat tidak konsisten.
"Di sekolah kamu nggak berprestasi, kerjaannya nunggak tugas. Di kelas jarang memerhatikan guru. Di rumah masa mau berulah juga? Mama ini capek, Resh, ngomelin kamu terus. Di tengah kesibukan Mama, Mama masih sempet buat ngomelin kamu. Kasih tau kamu yang bener. Tapi kamu selama ini kayak nggak menghargai sama sekali. Mau kamu sebenarnya apa?"
Suara bangku yang bergeser menjadi respon dari Haresh. Pemuda itu langsung beranjak berdiri. Wajahnya kusut dan ada aura gelap yang menguar dari tubuh pemuda tersebut.
"Aku berangkat duluan."
Haresh beranjak pergi meninggalkan meja makan tanpa berpamitan. Tidak peduli sang Ayah meneriakkan namanya.
•••
Pikiran Haresh terasa makin penuh. Hari makin gelap, tetapi Haresh masih betah memainkan si kulit oren. Mendribblenya lalu menembak ke ring meski tidak berhasil masuk. Seragam abu-abu putihnya, bahkan sampai penuh debu dan keringat. Sedangkan Roger yang menunggu ia bermain sejak tadi sampai lelah sendiri melihat Haresh. Ia paham Haresh sedang tidak baik-baik saja. Namun, akan berakibat buruk jika diteruskan.
"Resh, udahan dulu!" pekik Roger dari pinggir lapangan. Sayangnya tidak digubris sama sekali oleh Haresh.
Hingga tiba-tiba Haresh terjatuh. Bola basket yang ia genggam dibiarkan menggelinding begitu saja. Ia tampak kesulitan untuk mengambil napas. Oksigen yang tersedia bebas serasa sulit sekali untuk mengisi paru-paru Haresh. Ia memukul dadanya pelan. Berharap dapat mengurangi sesak yang membelenggu, tetapi ternyata tidak berdampak apa pun.
Butuh beberapa detik bagi Roger untuk membaca situasi dan berlari ke Haresh. Menawarkan bantuan pada sang sahabat untuk mengurangi sesak yang menyiksa. Roger panik setengah mati. Mata Haresh makin menyayu di tengah langit senja ini.
"Haresh! Heh, jangan mati dulu, Resh!" ujar Roger. Ia mengguncangkan tubuh Haresh kencang.
"A ... ir ..." Gumaman Haresh terdengar begitu lirih.
"Oh, air?!" respon tersebut baru dilempar Roger setelah beberapa saat. Ia segera bangkit dan mengambil tupperware berisi air minum di tasnya. Lalu membiarkan Haresh menegaknya sampai tandas.
Sesak di d**a Haresh perlahan memudar. Menyisakan wajahnya yang sepucat mayat dan keringat yang membasahi tubuh pemuda itu. Rambutnya bahkan sampai lepek karena keringat. Entah apa yang sedang terjadi. Haresh sendiri tidak paham mengapa ia mendadak merasakan sesak yang teramat sangat. Dan di saat ia tidak bisa bernapas itu ia malah ingin sekali untuk minum air. Yang muncul di kepalanya hanya air.
Roger kemudian membantu Haresh untuk bangun secara perlahan. Membawa pemuda itu ke punggir lapangan untuk diajak berbicara. Ia masih terkejut karena barusan Haresh seperti orang yang sedang sekarat.
"Lo kenapa, Resh? Gue ngeri banget liat lo kayak tadi. Gue kira lo serangan jantung atau kenapa barusan."
"Ngaco!" sahut Haresh. "Gue juga nggak tau, dah. Dehidrasi kali. Gue dari pagi kan nggak makan sama minum."
"Dih, ya pantes!"
Hanya cengiran tanpa dosa yang Haresh perlihatkan.
"Balik aja, yuk? Nanti di rumah bilang ke Mama sama Papa lo. Ajak periksa. Nggak wajar orang dehidrasi sampai kayak ikan terdampar gitu. Gue takutnya lo ada penyakit serius."
"Heh, jangan nakutin!" pekik Haresh. Ia refleks memukul lengan berotot Roger. Padahal ia sudah berusaha untuk berprasangka baik, tetapi Roger malah membuat berbagai pikiran buruknya kembali muncul.
Mereka kemudian segera bertolak ke parkiran. Roger yang akan mengantar Haresh demi keamanan pemuda itu. Ia tidak mau mendengar kabar kecelakaan lalu lintas karena membiarkan Haresh pulang seorang diri.
Hening mengungkung mereka berdua cukup lama. Haresh malas bicara karena sedang mengumpulkan tenaga. Sementara Roger ingin menyetir dengan tenang. Hingga sebuah pertanyaan mendadak terlintas di kepala Roger. "Lo lagi ada masalah, ya? Berantem sama orang tua lo lagi?" tanya pemuda itu.
"Iya," jawab Haresh sambil mengangguk. "Gara-gara si Jeza pake sandiwara segala. Gue benci banget sama itu anak."
"Hah? Sandiwara gimana?"
"Jadi, kemarin itu gue ngegangguin dia kaya biasa. Terus kejar-kejaran lah. Sampe keluar terus gue ceburin tu anak ke kolam renang. Basah semua dan dia malah masuk sebelum ngeringin badan. Lantainya jadi licin terus dia kepleset, jatuh. Dia pura-pura pingsan abis itu. Ya gue dimarahin lah. Di bentak-bentak. Terus tadi pagi dia ngadu ke orang tua gue, bilang gue bentak dia. Emang iya gue ngebentak dia, tapi itu karena gue kesel dia ngotot banget minta maaf."
Alis Roger menyatu. Kemudian mengangguk-angguk pelan. Pandangannya masih tetap mengarah pada jalanan. "Tapi lo juga salah, Resh. Harusnya jangan lo bentak waktu adek lo minta maaf. Dia 'kan berniat baik."
"Udah, deh. Gue nggak mau denger pembelaan buat dia. Udah cukup."
"Haresh––"
"Ini aja kayanya bakal kena marah lagi kali karena ninggalin mobil di sekolah."
Roger menelan kembali kalimat yang sudah ia susun rapi. Sebaiknya ia memang diam saja. Haresh tidak bisa lagi berpikir dengan akal sehat kalau suasana hatinya tidak baik. Hingga tidak heran bisa berlaku begitu. Roger maklum.