Malam itu Tata memasuki ‘neraka’ dengan suka rela. Neraka berbentuk bangunan megah yang berisi kemewahan. Rumah dua lantai di depannya membuat Tata berhenti sejenak hanya untuk mengagumi eksteriornya yang megah, seperti pemiliknya rumah ini juga memiliki aura yang sedikit berbeda dari rumah kebanyakan.
Tata memasuki neraka megah ini dengan menikahi laki-laki bernama Satya Mahendra. Saat pertama kali melihatnya Tata langsung mengerti mengapa laki-laki tampan dengan wajah bak dewa Yunani itu dilabeli iblis. Tata seketika menyadari bahwa keputusannya untuk melamar laki-laki itu adalah keputusan yang tepat. Ia membutuhkan seorang iblis untuk melawan iblis lainnya.
Di rumah itu tidak ada siapa-siapa saat Tata sampai. Ternyata benar bahwa laki-laki itu hanya tinggal seorang diri, tidak ada keluarga. Mungkin Tata adalah keluarga pertama Satya yang diketahui oleh banyak orang.
Banyak rumor beredar tentang Satya, salah satu yang paling popular adalah tentang laki-laki itu terlibat dalam berbagai kasus criminal, dia dikabarkan terlibat dalam bisnis gelap, seperti perdagangan organ manusia, perdagangan senjata dan obat-obat terlarang, ia juga diduga terlibat dalam beberapa kasus pembunuhan yang sampai sekarang masih belum terungkap.
Setelah mendengar rumor-rumor itu tidak mengurangi niat Tata untuk menikahi Satya. Bukan karna tidak takut, tapi karna Tata yakin bahwa laki-laki itu akan bisa melindunginya, laki-laki itu lawan yang sepadan untuk musuh-musuhnya.
Gunawan yang merupakan orang kepercayaan Satya yang tadi mengantarkannya ke rumah ini tidak mengatakan kapan si pemilik rumah akan pulang, karena itu Tata memutuskan untuk menunggu di ruang tamu.
Bosan setelah menunggu hampir dua jam, Tata memutuskan untuk melihat-lihat isi rumah, dimulai dari ruang tamu, ruang keluarga sampai area dapur yang bersih dan rapi, kulkas yang terisi penuh juga alat masak yang terbilang cukup lengkap. Sebagai seseorang yang cukup sering berada di dapur Tata bisa tau bahwa pemiliknya mungkin suka memasak.
Selanjutnya ada beberapa ruangan yang sepertinya kurang sopan kalau Tata masuki tanpa izin dari pemiliknya. Lalu Tata melangkah menuju tangga lantai dua, mungkin terdapat kamar utama di sana. Tata hanya menebak saja karna ia tidak mungkin naik ke atas sana sebelum pemilik rumah ini alias suaminya pulang.
Merasa sudah cukup melihat-lihat, Tata memutuskan untuk kembali ke ruang tamu dan memilih memainkan game di smartphone miliknya. Mungkin bisa sedikit membunuh rasa bosan.
Beruntungnya tidak lama setelah itu Tata mendengar suara pintu terbuka. Sepertinya orang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya pulang. Tata melihat jam di dinding, sekarang sudah pukul sembilan lewat.
“Ikut saya.”
Tata melebarkan matanya mendengar kalimat pertama yang laki-laki itu ucapkan saat melihatnya duduk di ruang tamu, tidak ada basa-basi atau sekedar sapaan. Tak ingin ambil pusing, Tata pun segera mengikuti dari belakang, mereka menaiki tangga menuju ke lantai dua.
“Kamu bisa tidur di sini malam ini.” Satya membuka pintu di depannya dan memperlihatkan kamar luas dengan interior yang cukup feminine, tempat tidur ukuran king size, terdapat meja rias yang sudah tertata rapi juga sebuah sofa mengisi sudut ruangan.
“Pakaian dan lainnya ada di sini.” Kemudian laki-laki itu menggeser pintu di samping pintu kamar mandi yang ternyata merupakan walk in closet yang cukup luas. Barang-barangnya yang tidak begitu banyak sudah tertata di sana.
Kemarin sebelum pindah Tata memang sudah mengirimkan barang-barangnya terlebih dahulu dan tidak disangka sudah dibereskan dan tertata rapi di sini. Bahkan makeup dan skincarenya pun sudah tersusun di meja rias.
“Terima kasih,” Tata tersenyum ramah sambil menatap laki-laki di depannya.
Satya tidak membalas juga tidak tersenyum, ekspresi wajahnya hanya datar.
Tata sudah menduganya. Tidak perlu ambil pusing dengan sikap laki-laki itu padanya, dia tidak mengharapkan apa pun dari pernikahan mereka selain perlindungan.
“Kalau ada hal lain yang kamu perlukan saya ada di kamar sebelah.”
“Baik.” Tata menjawab dengan sopan.
Setelahnya laki-laki itu meninggalkan kamar menyisakan Tata yang akhirnya bisa membersihkan diri dan berganti pakaian lalu segera merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Malam ini ia bisa tidur tanpa khawatir nyawanya melayang tiba-tiba.
***
Pukul dua dini hari Tata terbangun, ia lalu menekan saklar untuk menyalakan lampu kamar. Lagi-lagi mimpi buruk itu menghantuinya, ternyata tidur nyenyak yang ia dambakan setelah pindah kemari tidak juga ia dapatkan. Hal yang selama bertahun-tahun menyiksanya hampir setiap malam, ternyata mimpi itu tidak meninggalkannya meski sekarang ia sudah ditempat yang baru, di tempat yang cukup aman.
Ia kira dengan berpindah ke tempat yang lebih aman masalah tidurnya itu akan selesai, kekhawatirannya akan menghilang, namun ternyata ia salah. Kekhawatiran itu sudah mengakar, ketakutan itu sulit dihilangkan hingga mengganggunya sampai ke alam bawah sadarnya.
Setengah jam termenung di atas tempat tidur, Tata akhirnya turun dari kasur dan membasuh wajahnya ke kamar mandi. Karena melewatkan makan malam dan langsung tidur, kini Tata merasa lapar. Entah apa bisa ia menemukan sesuatu untuk dimakan di dapur. Biskuit atau buah mungkin bisa mengganjal perutnya.
Turun ke lantai satu, Tata sedikit kesulitan mencari saklar lampu, untung saja ia membawa ponselnya untuk membantu menerangi langkahnya. Sesampainya di dapur ia segera menuju kulkas untuk mencari apa yang bisa dimakan. Karna tidak ingin ribet, Tata memilih mengambil sebuah apel untuk mengganjal perutnya. Itu cukup, fikirnya.
Setelah mengambil segelas air putih dan apel di tangan, Tata memilih kembali ke kamarnya. Namun, baru menaiki tiga anak tangga Tata mendengar suara erangan, entah dari mana. Seketika tubuhnya menegang, bola matanya melirik sekeliling, namun tidak ada siapa-siapa.
Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan lebih panjang dari sebelumnya. Itu suara erangan kesakitan dari seorang laki-laki, Tata menebak demikian. Tata menelan ludahnya kasar. Mungkinkah rumah ini berhantu? Tapi Tata tidak percaya dengan hal seperti itu.
Tidak lama kemudian Tata mendengar suara dentuman keras, dan sekali lagi suara erangan itu terdengar, kali ini lebih lemah.
Mata Tata membulat sempuarna. Ini bukan hantu! Dengan kesadaran penuh ia melangkah cepat menaiki tangga menuju kamarnya tanpa menimbulkan suara apa pun.
Setelah sampai di kamarnya ia segera mengunci pintu dan mematikan lampu kamar. Ia tidak tau apa yang sedang terjadi, namun dia sekarang yakin bahwa rumor tentang Satya yang beredar di luar sana mungkin saja benar. Laki-laki itu berbahaya. Menikahi laki-laki itu bukan keputusan yang salah, bukan?
Pagi itu Tata keluar dari kamar pukul tujuh pagi. Ia tidak tidur lagi setelah terbangun sebelumnya, ia hanya menunggu di dalam kamar seolah ia tidak mendengar apa-apa.
Sesampainya di lantai bawah, Tata mendapati Satya sudah selesai sarapan, piringnya sudah kosong. Lalu Tata tanpa disuruh menarik kursi tepat di hadapan Satya lalu duduk menikmati sarapannya, sepotong sandwich dan buah yang entah disiapkan oleh siapa.
Tata menikmati sarapannya dalam diam. Satya di hadapannya sibuk dengan ponselnya, tidak memperhatikannya sama sekali. Namun begitu Tata meletakkan gelasnya setelah menenggak air putih di dalamnya, Satya segera meletakkan ponselnya dan kini tatapannya fokus pada Tata.
“Bisa kita bicara sekarang?” Satya bertanya dengan tenang.
Nada tenang itu justru membuat Tata gugup. Pikirannya sontak memutar memori tentang kejadian dini hari tadi. Apa Satya melihatnya saat itu?