Kertas itu bergerak tidak sampai selebar jari sebelum jatuh kembali ke meja.
Alex memandangnya dengan ekspresi yang biasa ia gunakan ketika membaca usulan biaya tidak masuk akal. Ravian, sebaliknya, tampak cukup puas.
"Berhenti dulu."
"Baru segitu."
"Dan kamu menghentikannya tanpa membuat semua benda di sebelahnya ikut berpindah. Itu yang ingin kita lihat."
Mereka berada di apartemen Alex pada pagi akhir pekan. Tirai tidak ditutup seluruhnya, membiarkan cahaya masuk dari sisi yang tidak langsung mengenai tempat duduk mereka. Tidak ada alat aneh berderet. Hanya benda bening milik Ravian, buku catatan, serta selembar kertas yang sekarang tampak terlalu penting.
Alex menarik tangannya. Ia tidak merasa lemah seperti setelah memaksa tenaga keluar, tetapi godaan mencoba lagi masih ada. Kemajuan kecil terasa menjengkelkan bagi seseorang yang pernah memindahkan benda jauh lebih berat tanpa berpikir.
Ravian menunggu sampai ia benar-benar bersandar.
"Kamu ingat saat pertama belajar menyesuaikan diri di sini?"
"Saya tidak ingin mendengar cerita memalukan sebelum sarapan."
"Berarti masih ingat."
Alex mendecih. Tubuh yang mereka gunakan untuk hidup di bumi tidak selalu merespons seperti kebiasaan di tempat asal. Dulu ia membutuhkan waktu untuk memahami batasnya. Setelah begitu lama, kemudahan itu berubah menjadi sesuatu yang dianggap pasti.
Sekarang ia harus memperhatikan lagi hal-hal yang selama ini dilakukan tanpa sadar.
Ravian mencatat hasilnya. Tidak ada janji bahwa satu latihan berhasil berarti kemampuan Alex akan pulih sepenuhnya besok. Mereka akan melihat apakah kendali yang sama tetap muncul tanpa kelelahan sesudahnya.
"Saya ada acara perusahaan dua pekan lagi."
"Kamu diminta memberikan sambutan atau menerbangkan gedung?"
Alex menatapnya.
"Kalau sambutan, pakai suara saja."
Pria itu mengalihkan pandangan sebelum senyumnya terlihat terlalu jelas. Ravian menutup buku, lalu menanyakan hal yang sebenarnya membuat Alex menyebut acara itu.
Alex akhirnya bercerita mengenai foto lama dan ancaman Sony. Kali ini ia tidak memotong bagian yang membuatnya tampak ceroboh. Ia pernah berdiri dalam dokumentasi perusahaan karena pada saat itu semua orang di sekelilingnya terasa cukup aman.
"Kamu menyesal pernah ada di sana?" tanya Ravian.
Alex memandang kertas di meja. "Tidak. Saya menyesal sekarang harus memikirkan akibatnya."
Ravian tidak menyarankan agar ia menghilang. Ia juga tidak mengatakan manusia pasti menerima apa pun bila diberi penjelasan yang tepat. Mereka sama-sama telah hidup cukup lama untuk mengetahui bahwa ketakutan orang lain tidak dapat diatur semudah susunan kursi.
"Bicarakan dengan orang yang memang terlibat sebelum mengambil keputusan," katanya. "Jangan pindah kota lalu mengirim pesan sesudah pesawat berangkat."
"Andromeda sudah mengatakan hal serupa."
"Bagus. Berarti ada kemungkinan kamu mendengarnya dua kali."
Alex mengambil kertas itu dengan tangan, melipatnya, lalu menyelipkannya di buku catatan. Ravian tidak bertanya mengapa ia menyimpan hasil latihan yang nyaris tidak terlihat.
Sebelum beranjak, Ravian meminta Alex mencatat juga hari ketika tidak ada gangguan. Selama ini halaman bukunya hanya dipenuhi kegagalan, seolah seluruh jam di antara kejadian tersebut tidak pernah ada.
"Kalau semuanya biasa saja, apa yang ditulis?"
"Bahwa semuanya biasa saja."
Alex menatapnya dengan ragu, tetapi membuka halaman berikutnya. Ia menuliskan waktu latihan, gerakan kertas, dan kenyataan bahwa tangannya tidak gemetar sesudahnya. Kemudian ia berhenti.
"Cukup?"
Ravian membaca dari seberang meja. "Tambahkan bahwa kamu berhenti saat diminta. Itu jarang terjadi."
"Kamu bisa pulang sekarang."
Ravian tertawa sambil mengambil tas. Alex tetap menambahkan satu kalimat pendek sebelum menutup buku. Ia tidak memperlihatkan isinya lagi, tetapi ketika mengantar temannya ke pintu, langkahnya terasa lebih ringan. Hasil pagi itu tidak sebesar yang diinginkannya. Meski begitu, untuk sekali ini ia tidak merusaknya dengan percobaan tambahan.
°°°°°
Pada Senin pagi, Nindy mengetahui bahwa kemampuan Alex mulai sedikit lebih terkendali karena pria itu menyampaikannya sendiri. Ia baru selesai menjelaskan perubahan jadwal saat Alex menyebut pertemuan dengan Ravian.
"Sudah bisa mengangkat gelas lagi, Pak?"
"Kertas."
Nindy berusaha menjaga wajahnya. Usahanya gagal ketika sebelah alis terangkat.
"Kamu kecewa?"
"Bukan. Saya sedang menyesuaikan bayangan. Tadi sempat membayangkan meja terbang."
"Untung tidak terjadi di depan kamu. Pasti seluruh kantor tahu dari teriakanmu."
"Kalau meja terbang ke arah saya, saya rasa berteriak masih wajar."
Alex menggeleng kecil. Nindy ikut tersenyum, lalu bertanya apakah tubuhnya terasa lebih baik sesudah latihan. Ia tidak meminta demonstrasi. Pengalaman melihat benda bergerak ketika Alex kehilangan kendali masih cukup jelas dalam ingatannya.
"Lebih baik dibandingkan ketika saya memaksakannya."
"Kalau begitu, kertas juga lumayan. Tagihan kan bentuknya kertas. Beratnya terasa sampai rumah."
Alex sempat terdiam sebelum menyadari ia sedang bercanda. Sudut mulutnya bergerak tipis. Nindy merasa menang dengan cara yang tidak bisa dicatat dalam laporan kerja.
Ia mengambil map kosong dan bersiap keluar. Alex memanggilnya sekali lagi, kali ini untuk memastikan waktu keberangkatannya pada hari acara. Petugas akan mendapat pengarahan lebih dahulu, dan transportasi pulang pegawai yang selesai malam sedang diatur perusahaan.
Nindy mencatat. Tidak perlu memikirkan ongkos kendaraan tambahan sendiri membuat bahunya sedikit lebih ringan.
"Baju saya harus disetujui juga?" tanyanya.
Alex mengangkat pandangan. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Saya hanya memastikan tidak ada revisi mendadak seperti bahan presentasi."
"Pakai yang sesuai ketentuan. Kamu datang untuk bekerja."
"Baik. Berarti tidak perlu tiga alternatif."
Setelah pintu tertutup, Alex baru tertawa pelan.
°°°°°
Menjelang pulang, Nindy harus mengantar susunan sambutan yang telah diperbaiki. Ruangan Alex kosong, dan ia hendak meletakkan map di tempat biasa ketika melihat sebuah kertas terlipat jatuh di dekat kaki kursi.
Ia tidak membukanya. Gadis itu memanggil Alex yang ternyata baru keluar dari ruang pertemuan kecil di sebelah.
"Ini jatuh, Pak. Saya taruh di meja?"
Alex melihat benda yang diangkatnya. "Ya."
Tidak ada tulisan rahasia pada kertas itu. Nindy bahkan tidak mempunyai alasan untuk curiga. Namun, gerakannya menunggu izin sebelum menyentuh barang lain mengingatkan Alex pada meja yang dulu harus ia jauhkan dari gadis tersebut.
Kepercayaan tidak kembali sekaligus. Kadang ia datang melalui hal sekecil seseorang yang tidak membuka lipatan.
"Itu kertas yang tadi Bapak ceritakan?" tanya Nindy ketika melihat Alex menyelipkannya ke buku yang sama.
Pria itu mengangguk.
"Disimpan?"
"Supaya saya ingat kapan mulai berhasil lagi."
Nindy menatapnya, lalu tersenyum tanpa mengejek. Ia teringat lembar penerimaan kerja yang pernah disimpannya baik-baik, sebelum tawaran Sony membuat kenangan tersebut menjadi rumit. Rupanya seseorang yang berusia lebih dari seribu tahun pun masih membutuhkan bukti kecil bahwa dirinya sedang bergerak maju.
"Jangan sampai dipakai orang buat mencatat pesanan makan, Pak."
"Itulah gunanya buku ini."
Ia menutup sampulnya. Nindy berpamitan, membawa map yang memang perlu dikembalikan ke meja sekretaris.
Alex memperhatikan pintu yang kembali tertutup. Untuk pertama kalinya sejak Sony menunjukkan foto, pikiran tentang datang bekerja besok terasa lebih kuat daripada keinginan untuk meninggalkan semuanya.
°°°°°