Alex datang lebih awal dan memilih meja yang tidak terkena matahari langsung. Ketika Nindy tiba, ia sedang membaca menu dengan kesungguhan yang biasanya diberikan kepada laporan anggaran.
Gadis itu berhenti di sisi meja. "Ada angka yang mencurigakan, Pak?"
Alex mendongak, lalu berdiri sebentar ketika ia menarik kursi. "Saya sedang memilih makanan."
"Kelihatannya seperti mau memeriksa pemiliknya."
Pria itu menutup menu dan tersenyum. Nindy mengenakan pakaian sederhana yang berbeda dari blus kantor. Rambutnya dibiarkan terurai, dan tasnya lebih kecil karena tidak membawa buku jadwal besar.
Ia sendiri masih sulit mempercayai bahwa orang di depannya adalah Alex tanpa keperluan rapat.
Mereka memesan setelah mendiskusikan makanan yang ingin dicoba. Nindy memilih sesuai seleranya, bukan yang paling murah sampai membuatnya tetap lapar. Tempat itu memang sudah dipilih agar ia tidak perlu menghitung setiap suapan sebagai keputusan keuangan.
Alex menolak tambahan sayuran dengan wajah datar.
"Bapak konsisten sekali."
"Kamu ingin mengubah pesanan saya?"
"Tidak. Saya hanya menghormati permusuhan yang panjang."
Alex tertawa sebelum sempat menahannya. Pelayan ikut tersenyum, lalu pergi membawa pesanan.
Di antara mereka tidak ada map yang bisa dibuka ketika percakapan berhenti. Nindy sempat memegang tali tas karena tidak tahu harus meletakkan tangan di mana. Alex ternyata tidak selalu mempunyai kalimat pembuka yang tepat di luar pekerjaan.
"Perjalananmu lancar?"
"Lancar. Kalau Bapak tanya lagi nanti, jawabannya tetap sama."
Ia terdiam, lalu mereka sama-sama tertawa.
°°°°°
Pembicaraan menjadi lebih mudah setelah Nindy menceritakan Nandiro yang langsung curiga ketika melihatnya memilih pakaian. Adiknya menawarkan diri menjadi pengawas, kemudian meminta ongkos seolah pekerjaan itu sungguh dibutuhkan.
"Saya bilang tidak ada lowongan."
Alex menggeleng. "Dia cepat melihat kesempatan."
"Sayangnya sering kesempatan yang menyebalkan."
Alex bertanya apa yang dahulu ingin dilakukan Nindy sebelum keadaan keluarganya berubah. Gadis itu bercerita mengenai rencana bepergian dan keinginannya bekerja di bidang yang menggunakan apa yang dipelajarinya selama kuliah. Ia pernah membayangkan hidup dewasa akan dimulai dengan upacara kelulusan, foto bersama teman, kemudian pekerjaan yang datang setelah beberapa lamaran.
"Ternyata hidup saya suka menukar urutan tanpa izin."
Alex mendengarkan. Ia tidak menawarkan membeli kembali semua pengalaman yang terlewat. Ketika Nindy mengatakan masih ingin bepergian suatu hari, pria itu menanyakan tempat yang paling ingin dilihatnya, bukan langsung membuka jadwal penerbangan.
Nindy menyukai pertanyaan itu.
Ia gantian menanyakan apa yang Alex lakukan ketika tidak bekerja atau berlatih bersama Ravian. Jawabannya ternyata tidak penuh petualangan luar biasa. Ia membaca, berjalan pada waktu yang nyaman, dan kadang menghabiskan waktu terlalu lama memilih sesuatu untuk ditonton lalu tidak menonton apa pun.
"Saya kira itu penyakit manusia saja," kata Nindy.
"Ternyata tidak."
Makanan datang, dan percakapan beralih kepada hal-hal kecil. Nindy bercerita tentang masakan Ratih. Alex mengakui pernah menjalani masa ketika makan hanya dianggap gangguan di antara pekerjaan, sampai orang-orang di sekelilingnya terus mengingatkan.
Ia menyebut Refan tanpa mendadak menutup percakapan.
Nindy mendengarkan, membiarkan nama itu hadir sebagai bagian kehidupan Alex, bukan sesuatu yang harus segera dialihkan agar suasana tetap menyenangkan.
Ketika tagihan datang, mereka membayarnya sesuai pesanan masing-masing seperti yang sudah dibicarakan saat memilih tempat. Alex tidak memperpanjang urusan tersebut dengan memaksa Nindy menerima traktiran, sementara Nindy tidak merasa perlu membuktikan kemandirian melalui pertengkaran di depan pelayan.
"Lain kali aku boleh memilih makanan penutup?" tanyanya setelah mengembalikan dompet ke tas.
Alex mengangkat alis. "Kamu sudah memikirkan lain kali?"
Nindy berhenti. "Itu contoh."
"Contoh yang cukup jelas."
Gadis itu menatapnya, lalu tertawa karena tidak berhasil menemukan pembelaan yang lebih baik. Alex memintanya menyimpan nama tempat yang disukai agar bisa dibicarakan lagi nanti.
Mereka berdiri dan memastikan tidak ada barang tertinggal. Nindy sempat hendak mengambil cangkir kosong untuk dirapikan, kebiasaan yang terbawa dari rumah dan pekerjaan lamanya. Pelayan mengatakan ia akan membereskannya.
Nindy mengucapkan terima kasih, kemudian mengikuti Alex ke pintu. Bahunya sudah jauh lebih santai dibandingkan ketika baru tiba.
°°°°°
Setelah makan, mereka berjalan di bagian taman yang teduh. Alex membawa payung, tetapi tidak membukanya karena jalur yang dipilih dinaungi pepohonan. Nindy berjalan di sampingnya tanpa merasa harus memastikan seluruh dunia tidak menyentuh bosnya.
Sesekali ia masih ingin memanggil dengan nada kerja. Kebiasaan tersebut terlalu kuat untuk hilang hanya karena hari Sabtu.
"Kamu boleh memanggil Alex di luar kantor," kata pria itu setelah panggilan Pak yang kesekian.
Nindy menoleh. "Langsung?"
"Nama saya tidak berubah."
"Saya butuh latihan."
"Tidak dinilai."
Gadis itu tertawa. Ia mencoba sekali, pelan, kemudian merasa pipinya panas tanpa alasan yang masuk akal. Alex tidak mengejek. Ia hanya menjawab seolah tidak ada hal besar yang baru terjadi.
Mereka duduk di bangku yang menghadap jalan setapak. Seorang anak lewat bersama orang tuanya sambil mengejar gelembung sabun. Nindy melihatnya sebentar, kemudian kembali kepada pria di sebelahnya.
"Saya senang hari ini," katanya.
"Saya juga."
Nindy merapikan ujung tas. "Bukan cuma karena makanannya."
Alex memandangnya dengan senyum kecil. "Saya mengerti."
Ia kemudian menanyakan apakah Nindy ingin mereka mulai menjalani hubungan, dengan pengaturan kerja yang sudah disepakati dan waktu untuk mengenal hal-hal yang belum diketahui. Bukan janji bahwa semua perbedaan akan mudah. Bukan pula permintaan keputusan tentang seluruh hidup mereka hari itu.
Nindy tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah yang dahulu terasa begitu jauh, lalu mengingat percakapan ketika dirinya mengaku telah menerima uang Sony. Tidak ada hubungan yang dimulai dari bagian paling rapi hidupnya. Namun, mereka kini mengetahui kesalahan dan ketakutan satu sama lain tanpa menggunakannya sebagai cara memaksa.
"Saya mau," katanya. "Kita coba dengan sungguh-sungguh."
Alex mengangguk, dan kelegaan yang terlihat di wajahnya membuat Nindy ingin tertawa sekaligus menangis sedikit.
Pria itu mengulurkan tangan dengan telapak terbuka di antara mereka. Nindy melihatnya, lalu meletakkan tangannya sendiri di sana.
Hangatnya biasa. Tidak ada pendar, tidak ada tenaga yang berpindah.
Justru karena itu, genggaman tersebut terasa sepenuhnya milik mereka.
°°°°°
Dalam perjalanan pulang, Nindy memberi kabar kepada Ratih bahwa ia akan sampai sebelum makan malam. Ibunya membalas dengan pertanyaan apakah jalan-jalannya menyenangkan.
Nindy mengetik ya, menghapusnya, lalu menulis bahwa ada seseorang yang ingin diperkenalkannya kepada keluarga jika waktunya cocok.
Balasan Ratih tidak langsung datang.
Di sebelahnya, Alex menunggu di tempat kendaraan berhenti. Mereka sudah melepas genggaman ketika berjalan melewati bagian yang ramai, tetapi Nindy masih mengingat tekanan ringan jari-jarinya.
"Saya memberi tahu Mama," katanya.
"Tentang kita?"
Nindy mengangguk. "Belum semuanya. Nanti saya jelaskan di rumah."
Alex mengatakan ia bersedia datang jika keluarganya menginginkan pertemuan. Nindy menyimpan telepon, lalu tersenyum ketika kendaraannya terlihat mendekat.
Hari itu tidak membuat utangnya lunas atau seluruh keraguan hilang.
Tetapi saat berpamitan, ia tidak lagi harus menebak apakah Alex akan menganggap pesan pribadinya sebagai gangguan setelah jam kerja.
°°°°°