Bab 1: Awal yang Manis
Alana duduk di pojok kantin kampus, matanya fokus pada layar laptop yang penuh dengan tugas yang belum tersentuh. Buku catatan terbuka, tapi pikirannya justru melayang jauh. Hari itu, seperti biasa, dia dikelilingi oleh teman-temannya yang ramai, namun tetap merasa ada yang kurang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang familiar membuatnya tersadar. Tanpa menoleh, dia sudah tahu siapa yang datang. "Za, lo ngapain datang pagi-pagi gini?" katanya sambil melirik ke arah Reza yang baru saja menghampiri mejanya dengan senyum lebar.
"Udah, santai aja. Gue bawa teh kesukaan lo, Na," jawab Reza, sambil menyodorkan segelas es teh yang disiapkannya di luar. Alana tersenyum, lalu menerima gelas itu dengan senang hati.
"Thanks, Za," kata Alana sambil meneguk es teh itu, merasakan kesejukan yang langsung menyegarkan tenggorokannya.
Reza duduk di hadapannya dengan gaya santai, menyandarkan punggung ke kursi sambil melipat tangan. "Lo masih mikirin tugas itu? Jangan deh, Na. Lo butuh hiburan. Gue bawa lo jalan-jalan, deh."
Alana tertawa kecil. "Kalau jalan-jalan terus, siapa yang bakal ngerjain tugas? Nggak bisa gitu, Za."
"Yaudah, gue temenin aja. Tugas lo juga pasti beres, kan. Lo kan jenius," Reza menjawab dengan percaya diri.
Alana memutar mata, merasa sedikit terganggu dengan tingkah Reza yang selalu terlalu percaya diri. Tapi, dia tahu, Reza selalu bisa membuat suasana jadi lebih ringan. Mungkin itu yang membuatnya merasa nyaman di dekat sahabatnya ini. Reza sudah seperti keluarga sendiri bagi Alana.
Tapi, ada sesuatu yang mulai mengganggu Alana beberapa hari belakangan ini. Mungkin lebih tepatnya, seseorang.
Dimas.
Sosok yang baru muncul di kampusnya sebulan yang lalu. Di awal pertemuan mereka, Dimas hanya tampak sebagai mahasiswa baru yang biasa saja. Namun, entah kenapa, dia berhasil menarik perhatian Alana dengan caranya yang tenang dan misterius.
Pada pertemuan pertama mereka, Dimas tidak tampak seperti cowok yang suka banyak bicara. Dia lebih sering diam, hanya tersenyum ketika berbicara, dan berbicara dengan nada yang terkesan penuh perhatian. Semua itu membuat Alana merasa berbeda. Dia merasa ada ketertarikan yang tak bisa dijelaskan.
“Eh, lo ngapain sih liatin laptop terus? Gue bosen deh,” kata Reza yang tiba-tiba membuat Alana terkejut.
“Gue mikirin Dimas,” jawabnya dengan spontan, tak sadar dia baru saja menyebutkan nama cowok itu.
Reza langsung menatapnya tajam. "Dimas? Lo tertarik sama dia, ya?"
Alana terdiam sejenak. Bibirnya bergetar. "Gue nggak tau, Za. Dia tuh beda banget dari cowok-cowok lain yang gue kenal."
Reza mengernyitkan dahi. "Tapi lo udah punya gue, Na. Lo jangan main-main sama Dimas. Dia nggak kayak gue."
Alana hanya bisa terdiam. Dia tahu bahwa Reza tidak akan bisa memahami apa yang dirasakannya. Reza memang sahabat terbaik, tapi kadang dia merasa bahwa hubungan mereka sudah terlalu nyaman, seperti saudara. Ada perasaan yang tak bisa Alana ungkapkan—perasaan yang sulit dijelaskan, apalagi kalau harus berbicara tentang Reza.
Namun, di sisi lain, Dimas hadir dengan cara yang baru.
Sementara itu, Dimas sedang duduk di meja lain bersama teman-temannya. Matanya yang tajam terus mengamati Alana dari jauh. Setiap kali Alana tertawa atau berbicara dengan Reza, Dimas merasa ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Seperti ada ketertarikan yang dia coba sembunyikan.
“Lo liatin terus tuh cewek, Din. Tertarik?” tanya Rina, teman satu meja Dimas dengan senyum nakal.
Dimas hanya terkekeh. “Gue cuma penasaran aja.”
Rina mendengus. “Penasaran? Lo tuh kalau udah penasaran, bisa lama banget. Hati-hati aja, Din. Jangan sampe lo masuk ke situasi yang malah bikin lo bingung.”
Dimas menatap Rina. "Gue tahu apa yang gue lakukan."
Namun, dalam hati Dimas, keraguan mulai muncul. Dia tahu Alana sudah dekat dengan Reza, sahabatnya yang selalu berada di sisinya. Tapi, ada perasaan kuat yang mendorongnya untuk lebih mengenal Alana.
Keesokan harinya, tanpa sengaja, Alana dan Dimas bertemu di koridor kampus. Buku-buku yang dibawa Alana terjatuh ke lantai, dan Dimas langsung bergerak cepat untuk membantu.
“Eh, sorry banget!” kata Alana dengan gugup.
“Gak masalah, gue bantu,” jawab Dimas sambil membungkuk untuk memungut buku-buku tersebut.
Ketika mata mereka bertemu, Alana merasa ada sesuatu yang berbeda. Dimas tersenyum, dan senyuman itu seakan membekas di hati Alana.
“Lo anak baru, ya?” tanya Alana dengan senyum malu.
“Iya. Gue Dimas. Lo?” jawab Dimas, masih tersenyum.
“Alana,” jawab Alana singkat.
Kedua pandangan mereka saling bertautan, sejenak mengabaikan hiruk pikuk sekitar. Di saat itulah, Alana merasa perasaan asing itu tumbuh lagi, lebih kuat dari sebelumnya.
Di sisi lain, Reza yang kebetulan melihat kejadian itu dari kejauhan, merasa ada yang salah. Matanya memperhatikan Alana dan Dimas, dan untuk pertama kalinya, dia merasa tidak nyaman. Ada ketegangan yang mulai terbangun.