Setelah menulis surat permintaan maaf, Klaus tidak langsung memberinya kepada Edberg. Sambil menggenggam kertas, ia juga melirik pria tua itu.
“Apa saya boleh menanyakan sesuatu?” tanya Klaus.
“Tergantung pertanyaannya.”
“Bagaimana dengan Tyra? Apa dia juga diminta menulis surat ini? Atau dia dibebaskan?” tanya Klaus.
“Tyra dipenjara karena pernah kabur dari Soleclar. Jadi, tidak perlu menulis surat permintaan maaf. Untuk kejahatan lainnya, dia sudah dianggap tidak bersalah,” jawab Edberg.
Klaus melirik Edberg sebentar lalu kembali melihat tulisannya yang ada di kertas. Meski tulisan tangannya sulit untuk dibaca, namun si penulis masih bisa membacanya. Setelah selesai memeriksa ulang isinya, Klaus menyerahkannya kepada Edberg. Tangannya sedikit bergetar saat mengangkat kertasnya. Ya, pada dasarnya, dia masih ragu.
Edberg segera membaca surat milik Klaus. Sesekali ia melirik si penulis surat yang ada di hadapannya. Terdapat ekspresi kecewa pada Edberg karena Klaus terlihat sangat tenang. Padahal, ia berharap Klaus akan gugup dan lengah.
Tidak berbeda dengan Edberg, Klaus juga memperhatikan gerak-geriknya saat membaca. Dengan surat yang memiliki isi seperti itu, Klaus menerka-nerka reaksi Edberg.
Setelah selesai membacanya, Edberg menaruh kertas itu di atas meja. “Apa kamu ada bukti atas penjelasanmu ini?”
“Untuk hal sebesar itu, saya tidak mungkin berbohong, kan?” balas Klaus.
Edberg menatap kertas dan Klaus bergantian. “Baiklah. Kamu boleh pergi.”
Klaus menuruti perintah Edberg. Ia kembali diantar oleh seorang penjaga. Saat menyusuri lorong, seorang perempuan menabraknya dari belakang.
“Maaf,” ucap perempuan itu dengan singkat.
Klaus terbeku. Ia sadar bahwa ada secarik kertas yang disangkutkan ke sela jari tangannya saat perempuan itu menabraknya. Ia pun segera mendorong kertas itu dengan jarinya hingga masuk ke kepalan tangannya.
***
Sebuah keheningan menyelimuti sebuah rumah besar di pusat Escalera. Empat orang yang berada di ruang tamu saling lirik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Cerita yang keluar dari mulut Klaus membuat mereka terpesona sampai tidak bisa berkata-kata.
“Klaus! Dasar anak gila!” Setelah menghina temannya, dia tertawa.
“Klaus ini memang ada aja idenya,” tambah Arias.
“Aku tidak tahu kamu ini bodoh atau pintar,” ucap Feather. “Benar sih, kamu bakal terhindar dari bahaya. Tapi, ini namanya memanggil bahaya yang baru.”
Tim Eria berkumpul di rumah Feather untuk mendengarkan cerita dari Klaus. Muncul reaksi yang bermacam-macam dari teman-teman satu timnya. Klaus sendiri hanya bisa terdiam sambil melihat temannya satu per satu.
“Kenapa gak langsung bilang aja ‘Saya cucu dari Tuan Ritchie! Jangan macam-macam dengan saya!’” ucap Felix lalu tertawa lagi.
Sebelumnya, Klaus sudah menjelaskan mengenai identitasnya kepada Arias. Sehingga, semua orang di Tim Eria sudah mengetahui hal itu. Fakta itu sudah bukan masalah besar lagi. Mereka berempat bahkan bisa menjadikannya sebuah candaan.
“Tolonglah, aku masih memikirkan nyawaku,” jawab Klaus. “Fakta itu bisa menjadi kartu yang bisa mengalahkan segalanya. Aku tidak boleh mengeluarkannya sekarang.”
“Kenapa gak jelasin sesuai kesaksian Seth aja?” tanya Feather.
“Aku menulis itu dengan asumsi bahwa Edberg adalah bagian dari Blade. Akan sangat bahaya kalo aku memakai alasan Seth. Aku harus memikirkan solusi supaya kita semua aman,” jelas Klaus.
“Benar juga … kalau kamu menyebutkan bahwa ada jurnal mengenai Blade di rumah Tuan Ritchie, pasti Blade akan bergerak dengan cepat untuk mencarinya,” jawab Arias. “Apalagi, Edberg memiliki wewenang untuk menggeledah rumah orang.”
“Ah, aku masih khawatir. Takutnya, malah memunculkan masalah baru,” kata Feather.
“Paling tidak, untuk saat ini, kita aman,” jawab Arias.
Dalam menulis surat permintaan maaf, Klaus malah mengarang sebuah cerita. Dia menyatukan semua yang terjadi akhir-akhir ini dan membuatnya seperti hal yang sungguhan terjadi.
Awalnya, Klaus ragu dengan karangannya. Dirinya tidak tahu apa alasan jenderal utama Escalera tiba-tiba diganti. Hanya para petinggi yang mengetahui hal itu—juga Tim Elite yang secara tidak sengaja menyaksikan semuanya.
Edberg sendiri bukanlah orang asing bagi Klaus. Dirinya tahu bahwa Edberg adalah orang yang pernah menyerang Tyra. Dia juga pernah bertemu secara langsung dengan Edberg saat dirinya masih dipenjara. Mengetahui bahwa Tyra dan Edberg memiliki hubungan permusuhan, ini membuat Klaus memberi kesimpulan bahwa Edberg adalah seorang musuh.
Saat Klaus bicara dengan Tyra di Soleclar, Tyra menyiratkan bahwa dirinya berada di pihak Klaus. Maka, Klaus juga berusaha memandang dari sisi Tyra. Jika Edberg menyerang Tyra, maka Edberg adalah musuh Tyra.
Klaus ingin mencari jalan tengah. Ia tidak ingin membahayakan dirinya sendiri dan orang lain. Selain itu, apa yang ia tulis harus bisa diterima oleh Edberg. Otak Klaus berusaha memutar segala informasi yang sudah ia ketahui dan yang sudah dipastikan kebenarannya.
Satu ide muncul di kepalanya: Amy Wing merupakan anggota Blade yang memiliki kedudukan cukup tinggi. Dirinya bahkan tercatat di jurnal tentang Blade. Orang yang sudah mati tidak bisa mengatakan apa-apa. Sehingga, menjadikan Amy sebagai perisai adalah jalan yang aman. Dari sini, Klaus membuat beberapa perkiraan.
Pertama, jika Edberg adalah bagian dari Blade juga, maka pria itu tidak akan bisa berkutik. Jika dilihat dari situasinya, Amy Wing adalah atasan dari Edberg. Anggota Blade yang berada di tingkat rendah seperti Edberg tidak mungkin berani mengatakan apa pun. Karangan ini akan menjadi solusi yang terbaik.
Kedua, jika Edberg ternyata memiliki posisi lebih tinggi dari Amy, maka Klaus akan dalam bahaya. Secara logika, Edberg seharusnya tahu semua yang dilakukan oleh bawahannya. Pria itu bisa mematahkan segala kesaksian Klaus dan memutarbalikkan fakta. Bisa saja Klaus diminta untuk menjadi mata-mata dan menumpahkan segala rahasia mengenai kantor pusat.
Ketiga, jika Edberg bukan bagian dari Blade, maka karangan itu menjadi tidak ada artinya. Dia harus mencari bukti pendukung atas tulisannya. Namun, kemungkinan terjadinya hal ini sangat kecil.
Mengapa Klaus sangat yakin bahwa Edberg adalah bagian dari Blade? Karena Edberg menyerang Tyra yang memberi tahu mengenai Blade ke Seth. Jika Edberg bukan bagian dari Blade, untuk apa ia menyakiti Tyra? Seharusnya, sebagai kesatria yang setia dan dipercayakan untuk bekerja di Soleclar, Edberg melindungi saksi sepenting Tyra.
Di atas kertas, Klaus menjelaskan bahwa dirinya sempat hampir dibunuh oleh Amy Wing. Namun, ia terus memohon pada Amy supaya jangan membunuhnya. Amy pun memberi pengecualian padanya jika dirinya bisa membawa barang milik Ritchie Cleogard yang masih memiliki kandungan energi milik beliau. Dari barang itu, Amy berencana untuk membuat senjata baru untuk Blade.
Klaus juga menjelaskan bahwa ia tidak menjawab saat diinterogasi karena ia takut dibunuh oleh Amy. Untuk meyakinkan bahwa dirinya benar-benar diperintahkan oleh Amy, ia menuliskan bahwa dirinya memiliki elemen yang sama dengan Ritchie, yaitu elemen cahaya. Sehingga, Amy tidak pikir panjang dan menganggap Klaus bisa mendeteksi jejak energi milik Ritchie karena tidak asing dengan elemen cahaya.
Reaksi Edberg tepat seperti apa yang diperkirakan Klaus. Jenderal itu membiarkannya pergi begitu saja tanpa banyak bertanya. Ini menjadi kemenangan bagi Klaus. Selain berhasil kabur, ia juga mendapatkan dua jawaban: Edberg adalah bagian dari Blade dan jabatan Edberg berada di bawah Amy.
“Kamu gak takut ketahuan bohong, Klaus?” tanya Feather.
“Ya, kalo aku ketahuan, itu tugas kalian untuk melindungiku,” jawab Klaus.
“Dasar merepotkan. Suruh kakekmu saja,” sahut Felix.
“Kalo dia masih hidup, pasti semuanya akan aman,” jawab Arias.
“Ya, aku juga sejujurnya takut. Sangat takut. Tapi, aku harus bisa tenang untuk melawan Edberg,” jawab Klaus.
“Klaus, apa kakekmu benar-benar mati karena perang?” tanya Feather tiba-tiba.
“Pertanyaanmu salah,” jawab Klaus. “Seharusnya, apakah dia benar-benar sudah mati?”