Selvi menghubungi Ratri pada malam yang basah, lewat panggilan suara, dan begitu Ratri mengangkat, ia langsung tahu ada yang berbeda. Suara Selvi—yang selama ini selalu hati-hati, selalu menimbang, selalu setengah berbisik seperti orang yang takut didengar—malam itu tenang dengan ketenangan yang menakutkan, ketenangan orang yang sudah memutuskan sesuatu yang besar dan tidak akan menariknya kembali.
"Ratri," katanya. "Aku keluar dari Hendra."
Untuk sesaat Ratri tidak bisa bicara. Selvi—bintang terbesar Hendra, biduan yang sudah lebih dulu masuk jalur yang Ratri tolak, perempuan yang selama ini terjepit di antara dua pihak, yang diam-diam mengirim Ratri rekaman bukti tapi tidak pernah berani melangkah lebih jauh—Selvi keluar.
"Selvi," kata Ratri akhirnya. "Kamu—kamu yakin? Kamu tau risikonya. Kamu bakal dituntut. Sama kayak aku. Kontraknya—"
"Aku tau," potong Selvi. "Aku tau persis. Aku yang liat sendiri gimana Hendra ngancur kamu. Aku yang ada di ruangan pas dia ketawa soal formulir izin itu. Aku yang paling ngerti apa yang nungguin aku begitu aku keluar." Ia diam sebentar. "Justru karena aku ngerti, makanya aku takut bertahun-tahun. Aku liat kamu jatuh sampai ngamen di pasar, Ratri. Aku liat orkes kamu bubar. Dan aku mikir—lebih baik aku tetap di kandang yang enak daripada keluar dan hancur kayak dia."
Hujan terdengar di latar telepon, di kedua ujung, jatuh di atap-atap yang berbeda.
"Terus apa yang berubah?" tanya Ratri pelan.
Selvi tertawa kecil, tawa yang getir dan lega sekaligus. "Kamu yang berubah," katanya. "Aku liat video kamu di pasar itu. Cuma pakai pengeras suara butut. Nggak ada lampu, nggak ada goyang, nggak ada apa-apa. Cuma suara. Dan orang-orang dengerin—bukan karena sensasi, tapi karena kamu jujur." Suaranya bergetar. "Selama ini aku kira cuma ada dua pilihan, Ratri. Makan kenyang di kandang Hendra, atau lapar dan hancur di luar. Itu yang Hendra tanem di kepalaku bertahun-tahun. Tapi kamu—kamu nunjukin ada pilihan ketiga. Lapar dulu, susah dulu, tapi merdeka. Dan dari merdeka itu, sesuatu yang beneran bisa tumbuh."
Ratri merasakan matanya panas. Ia ingat kalimat Bu Wening: keberanian itu nular. Ia ingat Bu Tarsih yang berani karena melihat Ratri berani, Mbak Yanti yang malu diam karena yang muda nekat. Dan kini Selvi—Selvi yang dulu adalah cermin menakutkan, contoh hidup dari jalan yang Ratri tolak, bukti bahwa naik lewat jalan merendahkan itu mungkin—Selvi memilih turun dari kandang emasnya karena melihat Ratri membuktikan jalan lain ada.
"Hendra bakal nuntut kamu," kata Ratri. "Dia bakal nyerang kamu kayak dia nyerang aku. Lebih parah, malah, karena kamu bintang dia. Kehilangan kamu itu kehilangan duit besar buat dia."
"Biar," kata Selvi, dan ketenangan itu kembali ke suaranya. "Aku bukan nyerah, Ratri. Aku justru baru mulai. Aku udah ngomong sama Bu Wening kamu—lewat nomor yang kamu kasih dulu. Aku mau gabung. Bukan cuma keluar, tapi bersaksi. Aku mau cerita ke pengadilan semua yang aku liat. Semua talenta yang Hendra jebak, formulir yang dia pakai, cara dia muter narasi. Aku ada di dalam bertahun-tahun. Aku tau semuanya."
Ratri menggenggam teleponnya erat-erat. Ini—ini lebih dari yang berani ia harapkan. Bu Tarsih adalah saksi dari masa lalu, tujuh tahun lalu. Selvi adalah saksi dari sekarang, dari jantung kerajaan Hendra, orang yang ada di ruangan ketika Hendra menjelaskan triknya pada talenta baru. Kesaksian Selvi tidak bisa dibilang kebetulan, tidak bisa dibilang dendam talenta lama. Selvi adalah bukti hidup yang baru saja keluar dari mulut singa.
"Selvi," kata Ratri, suaranya serak. "Kamu tau kamu lagi ngelempar semuanya. Panggung besar, bayaran besar, nama yang udah dikenal. Demi—demi apa? Demi aku?"
"Bukan demi kamu," jawab Selvi pelan. "Demi aku sendiri. Bertahun-tahun aku nyanyi lagu yang bukan punyaku, pakai baju yang bukan pilihanku, goyang yang aku benci, dengan nama panggung yang Hendra bikin, bukan nama dari ibuku. Aku punya semua—dan aku nggak punya apa-apa. Aku terkenal, tapi yang orang kenal bukan aku." Ia menarik napas. "Aku cuma pengen, sekali aja sebelum aku terlalu tua, nyanyi sebagai aku sendiri. Suara aku. Nama aku. Pilihan aku. Kamu nunjukin itu masih mungkin, walau udah terlambat. Dan aku—aku nggak mau mati nyesel karena nggak pernah nyoba."
Mereka bicara lama malam itu, dua biduan di bawah hujan yang sama tapi atap yang berbeda, merancang langkah-langkah—kapan Selvi akan datang ke Bu Wening, bagaimana melindunginya dari balasan Hendra yang pasti akan datang, bagaimana Laras bisa membantu menjaga ceritanya tetap di cahaya. Tapi di balik semua perencanaan itu, ada sesuatu yang lebih besar yang Ratri rasakan, sesuatu yang membuat dadanya penuh.
Selvi bukan lagi cermin yang menakutkan. Selvi adalah bukti bahwa tidak ada yang terlambat untuk merebut diri kembali. Bahwa bahkan orang yang sudah berada di puncak jalan yang merendahkan, yang sudah menukar dirinya bertahun-tahun, masih bisa berbalik. Tema yang sejak awal menjadi denyut hidup Ratri—bahwa yang layak dijual adalah suara, bukan tubuh; bahwa nama sendiri lebih berharga dari nama panggung yang dibuat orang lain—kini bergema di mulut perempuan yang dulu memilih sebaliknya.
Ketika sambungan ditutup, Ratri duduk lama di teras, mendengar hujan reda jadi gerimis, lalu jadi tetes-tetes terakhir dari atap. Di kabupaten sebelah, di kantor mewahnya, Hendra akan segera tahu—kalau belum tahu—bahwa bintang terbesarnya telah lepas. Bukan dibujuk lawan, bukan dibeli. Lepas karena melihat seorang biduan kampung yang ia kira sudah ia hancurkan, malah bangkit dengan cara yang membuat orang malu untuk terus tunduk.
Ratri tidak merasa menang. Belum. Denda masih membayang, perkara masih panjang, Hendra yang kehilangan bintang akan jadi jauh lebih nekat dan berbahaya, bukan lebih lunak. Tapi ia merasakan sesuatu yang lebih dalam dari menang: ia merasakan bahwa apa yang ia perjuangkan ternyata lebih besar dari dirinya sendiri. Ia tidak cuma melepas rantainya sendiri. Ia sedang membuat orang lain percaya bahwa rantai itu bisa dilepas—dan kepercayaan itu, ia mulai mengerti, adalah palu yang akan membongkar pabrik Hendra sampai ke fondasinya. Satu per satu, orang-orang yang dulu diam mulai berdiri. Dan orang yang berdiri, tidak bisa dijebak lagi.