Hendra keluar dari balik panggung dengan langkah orang yang sudah kehabisan pertimbangan. Ia tidak lagi memikirkan kamera siaran, tidak lagi memikirkan ribuan ponsel yang teracung. Yang ia tahu hanya satu: perempuan itu masih berdiri di atas panggungnya, masih bernyanyi lewat sound butut yang tak bisa ia matikan, dan setiap bait yang keluar dari mulutnya adalah satu paku lagi di peti citra yang sudah ia bangun bertahun-tahun.
Ia naik ke panggung dari sisi tangga, melewati Paman Darto yang jemarinya berhenti di atas tuts, melewati Pak Hari yang menurunkan suling. Penonton di barisan depan melihatnya datang. Mereka melihat manajer kota berbaju rapi itu berjalan cepat ke arah biduan yang baru saja menaklukkan mereka, dan mereka tahu, dengan naluri kerumunan yang lebih cepat dari pikiran, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Turun," kata Hendra. Suaranya tidak masuk mikrofon, tapi orang-orang di depan bisa membaca bibirnya. "Ini panggungku. Kontrakmu bilang kamu nyanyi yang aku atur, bukan yang kamu mau. Turun sekarang."
Ia meraih lengan Ratri.
Ratri tidak menarik diri. Ia menatap tangan yang mencengkeram lengannya, lalu menatap wajah lelaki yang dulu datang ke kampungnya membawa kontrak dan janji studio, yang mengubah liriknya, yang menempelkan wajahnya di poster yang tak ia kenali. Untuk sesaat ada ketakutan lama yang merayap—ketakutan perempuan kecil dari Ketapang menghadapi orang kota yang punya uang dan pengacara dan kuasa. Tapi ketakutan itu lewat. Ia sudah melewati hujan di lapangan bola, sudah melewati pasar tempat ia mengamen demi makan, sudah melewati malam-malam ketika orkesnya mati dan ia mengira semuanya selesai. Tangan ini, di lengannya, tidak lebih menakutkan dari itu.
Yang menyelamatkan Ratri bukan keberaniannya. Yang menyelamatkannya adalah ribuan orang.
Dari kerumunan, suara pertama pecah—seorang lelaki tua berkaus oblong, jauh di tengah. "Lepas! Lepasin dia!" Lalu suara kedua, perempuan, di sisi kiri. Lalu sepuluh suara, lalu seratus, lalu gelombang yang tak bisa dihitung. Penonton yang datang malam itu untuk menonton sensasi, yang dijanjikan poster vulgar dan goyang maut, kini berdiri membela perempuan berkebaya biru sederhana yang menyanyikan lagu nelayan untuk mereka. Mereka tidak tahu detail kontrak. Mereka tidak tahu soal putusan sela atau klausa citra. Tapi mereka melihat dengan mata kepala sendiri seorang lelaki berbaju rapi mencengkeram lengan perempuan yang baru saja membuat mereka menangis tanpa menangis, dan kerumunan tahu di pihak mana ia berdiri.
Hendra mendengar gemuruh itu dan untuk pertama kali malam ini, ia berhenti. Ia menoleh ke kerumunan—lautan wajah yang tadi ia kira akan bersorak untuknya, kini menatapnya dengan kemarahan yang sama yang dulu ia pelajari cara memanfaatkannya. Citra. Persepsi. Itu medannya, medan yang selama ini ia kuasai. Ia tahu cara membuat ribuan orang membenci siapa pun yang ia tunjuk. Tapi malam ini, di panggung yang ia kira paling miliknya, ribuan orang itu menunjuk dia.
Ponsel-ponsel masih teracung. Kamera siaran masih merekam. Setiap detik dari ini—tangannya di lengan Ratri, wajahnya yang berubah dari amarah ke kebingungan ke ketakutan, kerumunan yang meneriakinya—mengalir keluar lewat layar ke kota, ke kabupaten, ke seluruh sirkuit yang dulu memandangnya sebagai raja. Senjata yang ia asah seumur hidupnya, citra, kini menebas tangannya sendiri.
Ratri mengangkat mikrofon kecilnya. Suaranya, kasar lewat sound butut tapi jelas, menyebar ke seluruh lapangan. "Pak Hendra," katanya, tenang, hampir lembut. "Sampeyan lepas tangan saya. Bukan karena saya takut. Tapi karena semua orang lihat."
Hendra menatap tangannya sendiri seakan baru menyadari ia memegang sesuatu yang panas. Pelan, ia melepaskannya. Kerumunan bersorak—bukan untuk lagu, tapi untuk kemenangan kecil yang mereka saksikan bersama. Dan di sorak itu, Hendra mendengar sesuatu yang membuat perutnya dingin: bukan kebencian pada Ratri yang selama ini ia tanam lewat akun gosip dan judul vulgar. Kebencian pada dirinya.
Ia mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Lampu LED panggungnya—panggung yang ia bayar, sound yang ia sewa, lapangan yang ia booking—menyorot wajahnya yang basah dan pucat, dan tak ada satu pun dari ribuan orang itu yang berdiri di pihaknya. MC yang seharusnya menyelamatkan suasana untuknya bahkan tak bergerak dari sudut panggung, ponsel di tangan, ikut merekam.
Ratri tidak menikmati ini. Itu yang mengejutkan dirinya sendiri. Ia melihat orang yang menjebaknya, yang membeli utangnya diam-diam, yang hampir membuat bapaknya menjual rumah, kini berdiri dipermalukan di depan ribuan orang—dan yang ia rasakan bukan kemenangan, melainkan semacam lelah yang sunyi. Karena ia tahu, di balik amarah Hendra, ada juga ketakutan yang sama yang pernah ia rasakan sendiri: ketakutan kehilangan satu-satunya hal yang membuat namamu berarti.
Ia berbalik ke kerumunan. "Terima kasih," katanya, dan suara kasar dari sound butut itu terdengar lebih jujur daripada sound megah mana pun. "Saya nyanyiin satu lagi, ya. Lagu terakhir malam ini."
Dan ketika ia mulai—Paman Darto kembali ke tutsnya, Pak Hari mengangkat suling, Cak Salim menabuh gendang pelan—ribuan orang itu diam lagi, lalu ikut bernyanyi. Hendra turun dari panggung di tengah suara mereka, tak ada yang menahannya, tak ada yang memanggilnya. Ia kalah, malam ini, di medan yang dulu sepenuhnya ia kuasai—bukan oleh kekuatan yang lebih besar, tapi oleh ribuan orang kecil yang akhirnya melihat siapa yang sebenarnya pantas mereka bela.