Tidak semuanya sembuh. Ratri belajar menerima itu pelan-pelan, sebagaimana ia belajar menerima banyak hal pahit dalam hidupnya.
Ia pergi ke pasar suatu pagi, ke lapak sayur di sudut yang sering ia lewati. Di sana, di balik tumpukan kangkung dan bayam, duduk seorang perempuan paruh baya dengan wajah yang sudah lelah oleh hidup. Perempuan yang dulu Ratri dan Yusuf cari ke seluruh penjuru—biduan yang hilang, yang pernah dijebak Hendra dengan kontrak yang sama persis, yang menyerah total pada dunia panggung dan kini menjual sayur untuk bertahan hidup. Perempuan yang memberi Ratri salinan kontrak lamanya—bukti pola jebakan Hendra—tapi menolak bersaksi karena traumanya terlalu dalam.
Ratri membeli sayur darinya, seperti yang sering ia lakukan belakangan ini. Bukan karena butuh sayur. Tapi karena ini satu-satunya cara perempuan itu mau menerima kehadirannya.
"Hendra udah tumbang, Mbak," kata Ratri pelan, sambil perempuan itu menimbang kangkung. "Kerajaannya runtuh. Dia nggak bisa nyakitin biduan lain lagi."
Perempuan itu mengangguk tanpa menengadah. "Aku denger," jawabnya datar. "Bagus." Lalu ia diam, tangannya terus menimbang. "Tapi itu nggak balikin yang udah hilang dari aku, Nduk."
Ratri terdiam.
"Kamu menang," lanjut perempuan itu, dan untuk pertama kali ia menatap Ratri, matanya tidak benci, hanya lelah yang dalam. "Aku seneng kamu menang. Beneran. Tapi aku nggak bisa balik nyanyi. Tiap kali aku denger musik koplo, tanganku gemeteran. Aku inget studio pengap itu, inget gimana mereka mereka aku jadi barang. Sebagian dari aku mati di sana, dan dia nggak balik cuma karena Hendra kalah di pengadilan." Ia menyodorkan plastik kangkung. "Aku udah ikhlas jadi penjual sayur. Di sini nggak ada yang motong aku. Nggak ada yang nyuruh aku goyang. Aku tenang."
Ratri menerima sayur itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia ingin berkata banyak hal—bahwa perempuan ini masih punya suara, bahwa sirkuit baru ini aman, bahwa ia bisa mulai lagi seperti Selvi. Tapi ia menelan semua itu. Karena ia sadar, mendesak perempuan ini untuk "sembuh" dan kembali ke panggung sama saja dengan tidak menghormati lukanya. Tidak semua orang harus menang dengan cara yang sama. Bagi sebagian orang, kemenangan adalah berhenti, adalah tenang, adalah lapak sayur di sudut pasar yang tak ada yang memotongnya.
"Iya, Mbak," kata Ratri akhirnya. "Mbak udah menang dengan cara Mbak sendiri."
Perempuan itu menatapnya, lalu untuk pertama kali, sudut bibirnya naik sedikit—bukan senyum penuh, tapi cukup. "Kamu ngerti," katanya. "Bagus kamu ngerti. Banyak orang nggak."
Ratri pulang membawa kangkung yang tak ia butuhkan, dan dada yang penuh oleh sesuatu yang sukar dinamai. Bukan sedih persis, bukan juga kecewa. Lebih seperti kedewasaan yang pahit—pemahaman bahwa kemenangannya, sebesar apa pun, punya batas. Bahwa ada luka yang tak bisa ia sembuhkan, ada orang yang tak bisa ia selamatkan, ada bagian dunia yang tetap gelap meski ia berhasil menyalakan sepetak.
Dan bukan cuma perempuan penjual sayur itu. Ratri tahu, ketika ia jujur pada dirinya sendiri, bahwa kemenangannya tidak mengubah segalanya.
Di kampung, masih ada tetangga yang memandang biduan dengan curiga, yang berbisik saat ia lewat, yang menganggap profesinya hina apa pun yang sudah ia buktikan. Stigma yang lebih tua dari Hendra, lebih dalam dari calo mana pun, tidak runtuh hanya karena satu putusan pengadilan. Ada ibu-ibu yang masih melarang anak gadisnya bergaul dengan "anak orkes". Ada yang masih menganggap suaranya yang jujur tak ada bedanya dengan goyang yang dulu dipotong vulgar. Perubahan persepsi berjalan jauh lebih lambat dari perubahan hukum.
Dan di luar Tapal Kuda, mesin sensasi tetap berputar. Ratri tahu itu. Di sirkuit-sirkuit lain, calo-calo seperti Mursid masih memeras. Manajer-manajer seperti Hendra masih menjebak biduan muda dengan kontrak licik dan poster vulgar. Video-video masih dipotong dan diberi judul kotor untuk viral semalam. Ia mengubah satu sudut—Tapal Kuda, sirkuit kecilnya, beberapa orkes, beberapa biduan. Tapi industri yang besar, gelap, dan lapar itu tetap ada, di luar jangkauannya, terus berjalan.
Malam itu Ratri duduk di teras, memandang laut yang gelap. Bukan dengan kepahitan, tapi dengan kejujuran. Ia teringat dulu, di awal perjuangannya, ia membayangkan kemenangan sebagai sesuatu yang utuh dan terang—Hendra kalah, semua orang bebas, dunia jadi adil. Sekarang ia tahu kemenangan tak pernah sebersih itu. Yang ia raih nyata: kontrak batal, orkes hidup, sirkuit tanpa calo, suaranya merdeka, biduan-biduan muda yang berani menolak. Itu nyata dan itu berharga. Tapi di tepinya selalu ada bayang-bayang yang tersisa—luka yang tak sembuh, orang yang tak kembali, dunia yang tak seluruhnya berubah.
Dan menerima itu, Ratri sadar, bukan kekalahan. Justru sebaliknya. Yang naif adalah mengira ia bisa menyembuhkan segalanya. Yang dewasa adalah mengubah apa yang bisa ia ubah, dengan sungguh-sungguh, lalu cukup jujur untuk mengakui apa yang tak bisa.
"Kamu kenapa, Nduk?" tanya Pak Sahlan, keluar membawa dua gelas teh.
Ratri tersenyum, menerima tehnya. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma mikir." Ia menatap laut. "Kita menang, ya, Pak. Tapi nggak semuanya bisa dibetulin."
Pak Sahlan duduk di sebelahnya, mengangguk pelan. "Iya, Nduk. Hidup emang gitu. Tapi yang kamu betulin itu beneran. Itu cukup." Ia menyeruput tehnya. "Bapak dulu cuma mimpi gerobak rujak Bapak laku. Sekarang anak Bapak ngubah nasib orang-orang yang Bapak nggak kenal. Mana ada yang sempurna. Yang ada cuma yang cukup, dan kamu udah lebih dari cukup."
Ratri menyandarkan kepala ke bahu bapaknya. Di kejauhan, lampu-lampu perahu nelayan berkedip di atas laut yang gelap—sebagian terang, sebagian temaram, sebagian sudah padam. Tidak semua menyala. Tapi yang menyala, menyala betul.
Dan itu, malam itu, terasa cukup.