Idenya sederhana, dan justru karena sederhana, ia hampir tak berani mempercayainya: sebuah panggung musik koplo yang sepenuhnya milik mereka sendiri. Bukan job hajatan orang. Bukan festival pinjaman dengan nama orang lain di atasnya. Bukan panggung yang dijebakkan padanya oleh siapa pun. Panggung yang mereka rancang sendiri, biayai sendiri, miliki sendiri—di lapangan Ketapang, tanah berumput tempat segalanya bermula.
Mereka menamainya Malam Koplo Ketapang. Tidak megah, tidak menjanjikan goyang maut, tidak ada poster vulgar. Hanya spanduk kain dengan tulisan tangan Yusuf, dipasang di gapura kampung dan di warung Cak Misnan.
Menggelarnya bukan perkara gampang. Yusuf membuat hitungan di buku catatan job warisan kakek Paman Darto—buku yang sekarang jadi miliknya dan Ratri, dengan tulisan tua di halaman pertama: panggung sejati dibangun bukan dipinjam. Sewa lampu, sewa kursi—tidak, mereka tak menyewa kursi, orang bawa tikar sendiri. Konsumsi. Listrik. Untungnya sound sudah milik sendiri sekarang, dan genset baru tak lagi batuk. Sisanya ditanggung patungan kampung dan tiket sukarela yang mereka sebut "saweran panggung"—bukan saweran ke biduan, tapi ke kas acara, supaya yang berikutnya bisa digelar lagi.
"Kalau rugi gimana, Nduk?" tanya Yusuf, pensil di belakang telinga, dahi berkerut di atas angka-angka.
"Ya rugi," jawab Ratri. "Tapi rugi punya sendiri lebih enak dari untung pinjeman."
Yusuf menatapnya, lalu tertawa pendek. "Kamu udah kayak Paman Darto ngomongnya."
Kampung bergerak dengan cara yang membuat Ratri tak menyangka. Ibu-ibu warung patungan untuk nasi bungkus. Tukang las kampung menyumbang besi untuk rangka panggung. Bocah-bocah ikut mengangkut papan. Bapak-bapak yang dulu cuma menonton kini memasang terpal—bukan terpal bocor seperti dulu, terpal baru yang dibeli bersama. Cak Misnan menggratiskan kopi untuk para personel yang bekerja sampai malam. Bahkan Pak Sahlan menggeser gerobak rujaknya ke pinggir lapangan, dan untuk pertama kali ia berjualan di tempat anaknya akan tampil, bukan di pinggir keramaian yang menelan suaranya, tapi di acara yang anaknya sendiri yang punya.
Selama tiga hari lapangan Ketapang berubah. Panggung kayu naik, lebih kokoh dari panggung reyot Bintang Samudra yang dulu, tapi tetap sederhana—papan, tiang, atap terpal, tanpa lampu LED yang membutakan, tanpa kemegahan yang dipaksakan. Yusuf memasang sound milik mereka sendiri, menyetelnya berhari-hari sampai sempurna, dan tiap kali ia mengetuk mikrofon dan suaranya keluar bersih tanpa dengung, ia tersenyum seperti anak kecil.
Ratri berdiri di tengah lapangan saat senja hari pertama, menatap panggung yang setengah jadi, dan tiba-tiba teringat malam pertama dalam cerita hidupnya yang panjang ini—hajatan sunatan, genset batuk, terpal bocor, sound sumbang, dan ia naik menggantikan biduan yang ngambek soal bayaran. Berapa jauh ia sudah berjalan dari malam itu. Berapa banyak yang sudah ia kehilangan dan ia menangkan dalam perjalanan itu. Dan sekarang ia berdiri di lapangan yang sama, di tanah yang sama, menatap panggung yang akhirnya benar-benar miliknya.
"Kamu nangis?" Yusuf muncul di sampingnya, lap di pundak, tangan kotor oli.
"Enggak," kata Ratri, mengusap mata. "Kemasukan debu."
"Iya, debu." Yusuf tersenyum, tak memaksa. "Banyak debu di lapangan ini."
Malam pertunjukan tiba. Lapangan Ketapang penuh, tapi penuhnya berbeda dari kerumunan festival Hendra dulu. Tidak ada orang mabuk yang berteriak minta lagu panas. Tidak ada yang datang menunggu sensasi. Ada keluarga, ada anak-anak yang lari-lari di pinggir, ada bapak-bapak duduk di tikar dengan kopi, ada ibu-ibu yang membawa balita. Ada Wati, gadis dari pesisir Banyuwangi yang Ratri tuntun, duduk di barisan depan dengan mata berbinar. Ada Selvi, yang malam ini bukan rival, bukan cermin yang menakutkan, tapi sahabat yang akan ikut tampil. Ada Nining. Ada orkes-orkes sekutu dari sirkuit tanpa calo, datang bukan untuk bersaing tapi untuk merayakan.
Dan ada laut, di kejauhan, gelap dan berangin, menggema rendah di balik suara genset baru yang halus.
Paman Darto naik panggung lebih dulu, duduk di belakang keyboard. Ia lebih kurus dari dulu, geraknya pelan, tapi matanya menyala. Ia menatap Ratri, mengangguk sekali, lalu jari-jarinya turun ke tuts. Nada pembuka mengalir—nada yang Ratri kenal sejak kecil, nada Bintang Samudra, nada yang dulu keluar dari keyboard murahan di panggung reyot dan sekarang keluar dari panggung yang mereka bangun sendiri.
Ratri naik. Tidak ada MC yang menyebut goyang maut. Tidak ada kostum yang membuatnya merasa diperdagangkan. Ia memakai baju yang ia pilih sendiri, berdiri di tengah panggung miliknya sendiri, dan saat ia membuka mulut, cengkoknya keluar—serak-basah, jujur, caranya menangis tanpa menangis—dan lapangan Ketapang yang penuh itu, untuk sesaat, diam. Diam yang sama seperti malam pertama, bertahun lalu, saat satu cengkoknya membuat penonton berhenti makan untuk mendengar.
Lalu lapangan itu riuh. Bukan riuh karena tubuh. Riuh karena suara.
Dan di pinggir lapangan, di gerobak rujaknya yang baru, Pak Sahlan berhenti mengulek, menengadah ke panggung, mendengarkan anaknya menyanyi di tanah tempat semuanya dimulai, di panggung yang akhirnya tak dipinjam dari siapa-siapa.