Setelah album itu, hidup Ratri terbelah jadi dua dunia, dan untuk sementara ia takut salah satu akan menelan yang lain.
Di satu sisi ada studio—bukan studio pengap Hendra, melainkan studio Mas Gilang yang sekarang sedikit lebih baik berkat dana label, dan kadang studio resmi di Surabaya tempat ia merekam dengan peralatan yang dulu tak terbayangkan. Di sana suaranya ditangkap bersih, disusun rapi, dikirim ke jutaan telinga lewat layar telepon orang-orang yang tak pernah ia temui. Lagu-lagunya mulai diputar bukan hanya di angkot Tapal Kuda, tapi di angkot kota lain, di warung kopi provinsi seberang, di telepon anak-anak muda yang menyanyikan ulang cengkoknya.
Di sisi lain ada lapangan—panggung kayu, terpal, genset, tikar, kerumunan kampung yang membawa anak dan kopi dan tawa. Hajatan sunatan, nikahan, panen, malam tujuhbelasan. Tanah berumput, angin laut, asap kretek, bau rujak bapaknya di pinggir. Dunia yang membesarkannya.
Label, dengan cara yang halus, mulai mendorongnya ke arah studio. Lebih banyak rekaman, lebih banyak panggung kota, lebih banyak wawancara. Bu Andin tidak pernah memaksa, tapi orang-orang di sekitar Ratri mulai berkata hal-hal yang sama: kamu sudah besar sekarang, Nduk, kenapa masih nyanyi di hajatan kampung yang bayarannya recehan; kamu pantas di panggung yang lebih layak; tinggalkan yang kecil-kecil itu.
Godaan itu nyata. Ada malam saat Ratri lelah, pulang dari panggung kampung yang becek dan bayarannya tak seberapa, dengan sepatu penuh lumpur, dan ia berpikir—mungkin mereka benar. Mungkin ia memang sudah melewati semua ini.
Tapi malam itu, di teras rumah dengan teh dari bapaknya, Ratri menimbang dengan jujur. Ia teringat siapa dirinya saat lapangan-lapangan becek itu adalah satu-satunya panggung yang ia punya. Ia teringat malam hujan di lapangan bola, listrik korslet, penonton mabuk, dan bagaimana ia menaklukkan kerumunan itu dengan suara, bukan tubuh—dan bagaimana di malam itu, di tempat paling rendah, suaranya justru paling murni. Ia teringat saat orkes vakum dan ia menyanyi di pasar dengan satu pengeras suara pinjaman, dan bagaimana di sana, tanpa lampu, tanpa saweran, ia menemukan orang yang sungguh-sungguh mendengar. Video pasar itulah yang membuka semua pintu. Bukan studio yang menemukannya. Lapangan dan pasar yang menemukannya.
Meninggalkan lapangan demi studio berarti meninggalkan akar yang justru jadi sumber suaranya. Ia pernah melihat apa yang terjadi pada biduan yang menukar akar dengan puncak—Selvi, yang dibayar layak di Mutiara Pantura tapi dipaksa main lagu yang tak ia suka; Topo, yang dibayar di muka tapi pulang dengan mata kosong. Naik tanpa akar bukan naik. Itu cuma terangkat, dan yang terangkat bisa dijatuhkan.
"Bapak," kata Ratri suatu malam, "orang-orang bilang saya mestinya berhenti nyanyi di kampung. Katanya saya udah gede."
Pak Sahlan menyeruput tehnya, lama berpikir, seperti biasa. "Kamu seneng nggak nyanyi di kampung?"
"Seneng, Pak. Itu rumah saya."
"Ya udah." Pak Sahlan mengangkat bahu. "Bapak jualan rujak gerobak baru juga di pasar yang sama. Orang nanya kenapa nggak buka restoran. Bapak bilang, Bapak tukang rujak. Tukang rujak ya di pasar. Mau gerobaknya emas juga ya di pasar." Ia tertawa kecil. "Kamu biduan. Biduan ya di panggung mana aja yang mau dengerin. Studio iya, lapangan iya. Kenapa mesti milih?"
Kenapa mesti milih. Kalimat sederhana bapaknya itu melepaskan sesuatu yang sudah lama menegang dalam dada Ratri. Selama ini ia membayangkan dunia memaksanya memilih—antara naik dan jujur, antara besar dan akar, antara suara dan komunitas. Tapi seluruh perjuangannya, ia sadari, justru tentang menolak pilihan palsu itu. Hendra dulu memaksanya memilih: panggung besar atau harga diri. Ia menolak memilih, dan ia membangun jalan ketiga. Sekarang dunia menawarkan pilihan palsu yang lain: studio atau lapangan. Dan jawabannya sama—ia menolak memilih.
Maka Ratri membawa keduanya. Ia merekam di studio dan ia tetap naik panggung kampung. Ia tampil di kota dan ia tetap menggelar Malam Koplo Ketapang. Ia membiarkan lagunya menyebar lewat layar, dan ia tetap menyanyi di hajatan tempat orang menyaweri kas acara, bukan tubuhnya. Lebih dari itu, ia menyambungkan kedua dunia: bayaran dari label dan panggung kota ia alirkan untuk menghidupi sirkuit tanpa calo, untuk membayar para senior layak, untuk membeli alat orkes, untuk membiayai panggung kampung yang takkan pernah balik modal kalau dihitung untung-rugi semata.
Studio memberi suaranya jangkauan. Lapangan memberi suaranya kebenaran. Yang satu tanpa yang lain akan timpang—suara yang jauh tapi kosong, atau suara yang jujur tapi terkubur. Bersama, keduanya jadi utuh.
Di sebuah panggung kota, suatu kali, seseorang dari kru bertanya padanya kenapa ia masih repot-repot pulang menyanyi di lapangan becek kampungnya. Ratri menatap orang itu dan menjawab dengan kalimat yang baru ia sadari kebenarannya saat ia mengucapkannya:
"Karena di lapangan itu saya belajar nyanyi. Kalau saya tinggalin, saya bakal lupa caranya. Dan kalau saya lupa caranya, suara saya di studio juga bakal mati."
Ia tidak memilih antara naik dan jujur. Ia membuktikan, sepanjang seluruh cerita hidupnya, bahwa siapa pun yang menyuruhmu memilih di antara keduanya sedang menjual sesuatu padamu. Suara dan akar bukan dua hal yang harus dipertukarkan. Mereka satu hal, dan ia membawa keduanya, dari studio yang bersih sampai lapangan yang berumput, sampai laut.