Kami tiba disebuah resort bintang lima lengkap dengan spa mewahnya. Resort yang sangat luas dengan parkir, bar dan kolam renang privat. Diluar itu, ada lapangan tenis dan fasilitas yoga disetiap pagi. Hal lain yang membuatku terhenyak adalah fakta biaya yang harus dikeluarkan setiap malamnya.
" 2000 dolar per night?"
Pekikku.
Kutatap Elijah yang sedang menyodorkan kartu kreditnya. Kutajamkan mataku pada kartu kredit berwarna hitam dengan design yang simple.
Ah, American Express Centurion Card.
Gila, dia pasti pria yang sangat kaya.
Dia tidak mengindahkan kata-kataku membuatku tertawa dalam hati. Apa artinya dua ribu dolar untuknya.
" Dua malam."
Ucap Elijah pada resepsionis yang sejak awal memang sudah bersikap ramah.
Resepsionis itu menggesek kartu tersebut.
" Selamat malam, Tuan dan Nyonya."
Ucapnya ramah bergantian memandang kami.
Nyonya?
Kuberikan dia sebuah senyum kaku.
Seorang pria lain dengan kostum serupa dengan resepsionis tadi menuntun kami berjalan menuju satu unit villa terbaik yang mereka miliki. Mataku tak henti-henti memandang bagaimana mewahnya tempat ini. Setibanya, dia berpamitan dan Elijah memberi tips untuknya. Tips untuk tuntunan tanpa barang? Beruntungnya dia.
Kami berada dalam ruangan dengan nuansa klasik bercampur etnik. Jika tidak salah kutebak nuansanya seperti kebanyakan arsitektur Meksiko. Entah apa ada korelasinya dengan letak San Diego itu sendiri. Benar-benar unik.
" Kamarku?"
Tanyaku pada Elijah yang sedang membuka jasnya. Kami berdiri didepan api unggun. Cuaca di tengah malam seperti ini sudah semakin dingin.
" Kita akan berbagi tempat tidur."
Kukenyitkan dahiku.
" Apa?"
Ucapku tak percaya.
" Maksudmu kita tidur didalam tempat tidur yang sama?"
Tanyaku meyakinkan.
" uhm, ya kurang lebih."
Balasnya tanpa ragu.
Aku menatap tak percaya.
" Aku bisa tidur di sofa, lagipula aku tidak ingin berhutang kembali padamu."
Ucapku menolak.
Dia mungkin kaya tetapi dia pria yang perhitungan. Elijah tertawa kepadaku.
" Apa aku terlihat seperti seorang pria kaya yang pelit?"
Tanyanya dengan berkacak pinggang.
" Pelit? Kau memang pelit bukan?"
Ucapku menantang.
" Jika kau bukan pria semacam itu, seharusnya kau lupakan semua hutangku padamu."
Balasku berdesis.
Dia berjalan mendekatiku. Jantungku kembali berdebar. Dia kembali mendekatiku sama seperti yang sebelum-sebelumnya. Entah mengapa, kali ini aku tidak berusaha menjauh walaupun berada dekat dengannya membuatku sangat gugup.
Mataku membulat memandangnya.
Dia membelai pipiku menuruni rahang menuju tengkuk leherku. Tanpa ijinku, dia menyesap bibirku dengan tangan melingkar di pinggangku. Pelukannya semakin erat dengan bibirnya yang mengunci bibirku kuat. Sesapan itu membuat kakiku lemas. Tubuhku meremang dan getaran hebat membuat logikaku lumpuh. Dia menarik bibirnya ketika aku masih sangat menikmati setiap detik dari ciuman itu.
" Aku bersyukur tidak ada hal buruk yang terjadi padamu."
Ucapnya lembut dan aku mulai sadar bahwa itu adalah sebuah kesalahan.
" Ehemm, aku harus pergi mandi."
Wajahku memerah.
Aku tak berani memandang wajahnya mengingat fakta bahwa aku tidak berusaha melawan ciuman itu. Kutinggalkan dia di ruang terbuka itu dan pergi ke kamar mandi. Kamar mandi luas dengan bath up batu berukuran besar yang muat untuk dua orang sekaligus. Hal yang baru kusadari adalah tempat ini seperti tempat untuk berbulan madu. Hobi membacaku membawaku pada kesimpulan tentang efek aromaterapi. Aromaterapi ternyata mampu merangsang suasana romantis dan seksual sekaligus. Tadi itu kurasa efek samping dari aromatherapi itu sendiri. Entahlah pikiranku benar-benar acak. Kutanggalkan seluruh pakaianku. Dimulai dari atasan, kemudian bawahan dan pakaian dalam. Tak lupa menghidupkan air hangat untuk merelaksasi otot-otot tubuhku.
" Ahhh ini sangat menyenangkan."
Gumamku.
Kurendam 7/8 tubuhku dengan kepala yang tersisa. Otot-ototku yang kaku kini lemas seketika. Berendam membuatku melupakan sejenak hal-hal buruk yang terjadi belakangan ini. Kupejamkan mataku sejenak untuk menghayati setiap detik relaksasi ini.
" Sangat menyenangkan bukan?"
Suara Elijah membangunkanku.
Sial, dimana handuk?
Bagaimana aku lupa mengunci pintu kamar mandi itu?
Sial sial sial.
Kutatap dia yang berjalan menuju kearahku. Dia tersenyum tipis dengan rambutnya yang berantakan. Tubuhnya yang penuh tonjolan itu membuatku menelan ludah.
Ya Tuhan bagaimana dia begitu sangat sempurna!
Posisiku benar-benar sulit saat ini.
Hal yang terlintas pertama bagaimana cara untuk menyingkir dari bath up ini, segera.
" Aku sudah melihat semuanya."
Ucapnya.
Aku memberanikan diri menatapnya. Dia sudah berada didalam air dan tepat diseberangku saat ini. Fakta yang dia katakan tadi ada benarnya.
" Kuharap tidak banyak yang berubah setelah sepuluh tahun."
Ya, itu sudah sepuluh tahun lamanya.
Ethan terlintas dalam pikiranku.
" Ethan juga sudah melihat semuanya."
Ucapku spontan.
Wajahnya mengeras dan aku merasa puas. Yang kukatakan tadi adalah sebuah kebohongan. Ethan mungkin sudah menyakiti perasaanku tetapi dia tidak pernah berbuat m***m kepadaku. Aku hanya menumpahkan api diatas gasoline.
" That's bastard!"
Teriaknya kesal.
Aku tertawa dalam hati.
" Dia adikmu."
Ungkapku.
" Dia bukan adikku!"
" Dia hanya anak haram hasil dari hubungan gelap, tidak lebih."
Kutatap bola matanya yang memerah. Aku tahu api yang kutimbulkan terlalu besar. Maksudku hanya membuatnya kesal. Entahlah, ajakannya pada Claudia tentang ruangan kenikmatan itu terus saja terlintas dikepalaku. Ada perasaan kesal setiap pembicaraan mereka terlintas terus menerus. Aku hanya ingin membalasnya.
Dia terlihat kacau.
Ada luka dibalik sorot matanya. Ada sebuah kenangan pahit yang tergambar jelas. Ini membuatku merasa berdosa karena telah menggunakan Ethan untuk membuatnya kesal. Aku benar-benar bodoh. Dia mengangkat tubuhnya dan pergi. Dalam perasaan bersalah aku mengangkat tubuhku dan mengejarnya dan memeluknya dari belakang. Elijah menghentikan langkahnya.
" Maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu terluka."
" Aku hanya menggodamu untuk melihat ekspresimu."
Kupeluk pinggangnya dengan erat. Kesandarkan tubuhku pada punggungnya yang benar-benar sangat lebar. Raut wajah itu membuat hatiku ikut terluka. Dia melepas tanganku dari pinggangnya. Detak jantungku seketika terhenti.
Apa ini sebuah penolakan?
Dia membalikkan tubuhnya menarik tubuhku untuk bersatu dengan tubuhnya. Dia kembali melumat bibirku dengan bibirnya membuatku tenggelam bersamanya. Elijah menggendongku dengan kedua tangannya membawaku menuju kamar tidur yang berada tak jauh dari kamar mandi.
*
Aku terbaring di tempat tidur resort dengan pemandangan Elijah yang berada diatasku. Dia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya, otot-otot lengannya membuatku terbuai pada keindahannya. Wajahnya yang begitu karimastik membuaiku menenggelamkanku untuk menyatu dengannya. Aku sudah memasrahkan diri pada keadaan. Dia mulai menciumiku. Berawal perlahan lalu semakin ganas hingga menghirup udara disekitar seperti hal yang tak mungkin. Sesapan di leher menghantarkan gelombang penuh sensasi geli kesekujur tubuhku.
" Apa kau yakin?"
Tanyanya kepadaku.
Kujawab dengan satu anggukan.
" Aku mencintaimu, Laura."
" Aku benar-benar sangat terobsesi padamu."
Menggenggam tanganku dan menciumku.
Dia sudah pergi tidur.
Setelah kami membersihkan semuanya dan sprei putih yang penuh darah itu diganti, kami memutuskan untuk pergi tidur. Aku benar-benar sangat lelah. Kehilangan keperawanan itu ternyata begitu sangat melelahkan, menyakitkan walaupun menyenangkan. Kupandang Elijah yang sedang tertidur disebelahku, wajahnya ketika tertidur sangat lugu.
Kulirik jam yang berada diatas nakas.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi tetapi walaupun aku merasa lelah kantuk tidak juga mendatangiku. Kutatap flashdisk yang kuletakkan diatas meja. Flashdisk itu menyita perhatianku. Kuangkat tubuhku dan membawa selimut untuk kugunakan diluar. Isinya membuatku sangat penasaran.
Kupasang dia pada soket USB yang tersedia di televisi.
Nafasku terhenti sesaat.
Air mataku mengalir bahkan di tiga menit pertama sejak video itu diputar.
Ini benar-benar tidak bisa kupercaya. Apa saja yang baru kutonton ini benar-benar membuat hatiku menjerit. Claudia itu benar. Dia adalah monster. Ethan juga benar. Dia memang monster. Flashdisk itu bukti yang cukup.
Elijah melakukannya dengan Claudia, mengikat kedua tangan wanita itu begitupun dengan kakinya, menyumpal bibirnya kemudian menamparnya sembari melakukan hubungan seksual. Tak kusadari aku menonton film yang berdurasi satu jam itu hingga detik terakhir.
Dia pelaku sadisme. Aku berusaha untuk tidak mempercayai apa yang baru saja kulihat. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa itu bukanlah Elijah.
Dia pasti pria lain.
Ya Tuhan ubahlah pria di video itu menjadi pria lainnya, pintaku merengek.
Aku tak bisa menahan tangisku. Fakta yang paling menyakiti hatiku adalah, mungkin aku telah jatuh cinta juga padanya.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Ini membuatku sangat bingung.
***
Pagi hari tiba.
Aku tidak tidur semalaman. Hanya berbaring di tempat tidur dengan Elijah yang tidur disebelahku. Dia terbangun dari tidurnya dan mendaratkan sebuah ciuman di dahiku. Jika keadaan baik-baik saja, seharusnya ini menjadi sebuah keadaan yang normal.
Hanya saja semua tidak baik-baik saja.
Kami pergi menuju meja makan dimana sarapan sudah disediakan. Sebenarnya aku sedang tidak berselera dan dia bertingkah seperti tidak ada apapun.
" Apa kau baik-baik saja?"
Tanyanya dengan senyum yang terus saja mengembang sejak tadi membuatku yakin bahwa dia memang monster.
Pikiranku berubah menjadi prasangka buruk. Ditambah rasa sakit dan nyeri masih kurasakan sejak semalam. Moodku pagi ini benar-benar hancur. Aku tidak menyentuh sama sekali makanan dihadapanku. Aku terus menatapnya dan diapun menatapku. Kutatap dia dengan tatapan penuh kekecewaan tetapi dia seperti tidak menyadarinya. Dia terus menerus meletakkan makanan dipiringku.
Sikap acuhnya membuatku kesal.
" Aku sudah melunasi semua hutangku padamu."
Gumamku dengan nada datar.
Seharusnya dia menyadari sekarang bahwa ada yang berbeda dariku.
" Kurasa tidak ada urusan lain lagi diantara kita."
Kuangkat tubuhku.
" Hubungan kita berakhir sampai disini."
" Semua sudah kubayar lunas!"