Seorang pria muda menggunakan rompi biru sedang berdiri tegak didepan meja kasir . Pria itu melayani pelanggan wanita yang nampaknya sedang kebingunan.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bima dengan ramah pada wanita sepertinya masih menginjak bangku SMP.
"Anu-" ucap wanita itu gugup.
Belom sempat dia menyelesaikan omongan, dia malah menangis membuat Bima panik tak tahu apa yang terjadi.
Bima keluar dari mejanya dan menghampiri gadis kecil itu.
"Jangan menangis, jika kau butuh sesuatu aku akan membantumu." Ucap Bima menenangkan gadis itu.
Bukannya tenang gadis itu malah semakin menangis keras. Untung saja toko swalayan ini sepi, kalau saja toko ini ramai pasti Bima disangka telah berbuat yang engga engga kepada gadis dibawah umur.
Bima yang tidak tahu harus berbuat apa tiba - tiba muncul seorang wanita datang membantunya.
"Hai, nama kamu siapa? Kenapa kamu nangis?" Ucap wanita itu sambil melihat noda merah yang ada dirok sekolah gadis itu. Seperti sudah tahu jawabannya dan tak ada jawaban dari gadis itu. Dia menyuruhku untuk mengambilkan sesuatu.
"Permisi, mas. Bisa tolong ambilkan pembalut untukku?" Ucap wanita itu.
"Eh? Pembalut?"
" Iya, pembalut"
Aku yang bingung hanya menuruti perkataan wanita itu dan bergegas mengambil pembalut. Setelah menemukan pembalut, aku kembali wanita itu dan memberikannya.
" Ini pembalutnya" aku menyodorkan pembalut itu tapi ekspresi wajah wanita itu malah tertawa.
" Astaga, maaf mas maksud saya pembalut wanita bukan pembalut perban," ucap wanita itu. Tetapi tetap saja aku tidak mengerti.
"Pembalut wanita?"
"Itu loh, yang namanya Softex ."
"Oooh, softex bilang dong daritadi."
Entah mengapa ketika wanita itu mengatakan softex aku langsung mengerti.
" Mas, pembalutnya yang ada sayap ya."
"Eh? Sayap? Oke, bentar saya ambilkan."
Baru saja aku tahu apa itu pembalut aku sudah disuruh mengambilkan pembalut yang ada sayapnya.
Aku bergegas menuju etalase yang berada paling pojok kiri yang menyediakan banyak sekali macam - macam pembalut wanita. Sangking banyaknya aku tidak tahu memilih yang mana. Aku yang baru 5 bulan bekerja disini, baru pertama kali ke area ini.
Mataku yang sibuk mencari tiba - tiba tertuju pada pembalut yang bertuliskan softex dan di bungkusnya terdapat gambar pembalut yang di setiap sisinya ada sayapnya. Setelah mengecek ulang pembalut yang sama persis seperti ciri - ciri yang disebutkan wanita itu , aku lekas kembali dan membawa pembalutnya.
"Nih, pembalutnya. Pembalut yang bertuliskan softex dan ada sayapnya." Ucapku yakin . Tidak mungkin kali ini aku salah lagi.
"Oke, ma-" wanita itu menghentikan ucapannya saat melihat pembalut yang baru saja aku bawa. Kali ini apa lagi salahku?
Wanita itu mendongak kearahku " Pembalut ini untuk wanita dewasa, tidak mungkin dipakai untuknya. Agh, sudahlah biar aku saja yang ambil." Ucap wanita itu. Kenapa engga daritadi saja dia ambil sendiri, kalau begini kan Bima tidak harus bolak - balik.
" Oh iya, Mas. Toilet nya ada dimana ya?" Tanya wanita itu.
" Lurus aja, terus belok kiri. Nanti terlihat kok toiletnya." Jawabku
"Oke, makasih. Ayo Nana,"
Wanita itu pergi bersama gadis kecil itu meninggalkan Bima sendiri. Setelah sekian lama menunggu, wanita itu keluar dari toilet.
"Udah selesai?" Tanyaku
"udah, berapa harganya?"
" Tidak usah dibayar, gapapa itu gratis." Ucapku berbohong kalau itu gratis. Aku juga tidak mengerti mengapa aku mengatakan itu. Mungkin setelah ini aku harus mengeluarkan duitku untuk mengganti harga pembalut itu.
" Wihh ternyata kau baik ya, kalau gitu bisa pinjamkan jaketmu?"
" Eh?"
"Cepat lepaskan dan berikan padaku."
Entah mengapa tubuhku dengan spontan menuruti perintah wanita seperti sedang dihipnotis. Aku langsung memberikan jaket itu kepadanya.
Bima memperhatikan sikap wanita itu. Dia melingkarkan jaket itu ke pinggang gadis tersebut. Menutupi bercak merah yang ada di roknya.
"Nah dah selesai, kau sudah mengerti kan apa yang tadi aku jelaskan padamu? Mulai sekarang kau tidak akan lagi malu lagi jika datang bulan karena kau sudah tahu apa yang harus dilakukan." Ucap wanita itu.
"Makasih ya, kak" ucap gadis kecil itu tersenyum.
"Kau juga harus berterimakasih kepada kakak itu karena sudah meminjamkan jaketnya kepadamu,"
"Makasih ya kakak ganteng, udah minjemin jaketnya. Nanti aku kembali kesini dan mengembalikan jaketnya."
" Ah, tidak apa - apa. Bukan masalah besar." Jawabku.
"Kalau gitu aku pamit pulang ya, kak," ucap gadis itu membungkuk lalu berjalan keluar.
"Hati - hati dijalan yaa," ucap wanita yang disebelahku melambaikan tangannya kepada gadis kecil.
Suasana kita terasa canggung karena kini hanya ada kita berdua yang berada di toko ini.
Aku yang daritadi tidak memperhatikan wajah wanita itu dengan jelas. Tidak tahu kalau dia memilik wajah yang cantik, dengan gaun casual berwana putih dilapisi blouse berwarna biru membuatnya semakin cantik.
"Mas,"
Suara wanita itu mengejutkan ku yang daritadi melamun.
"Ah, iya?"
"Saya mau beli pulpen, ada ga?"
"Pul-pulpen? Oh iya ada," aku lupa kalau wanita ini datang untuk berbelanja bukan untuk menemuinya. Segera aku mengambil pulpen dan memberikannya.
"Berapa, mas?" Ucap gadis itu.
"Tidak usah, untukmu saja. Jangan panggil saya mas, kita seumuran." Entah kenapa daritadi aku memberikan barang barang jualan dengan percuma, walaupun ujung - ujungnya harus kuganti dengan gajiku.
"Eh? Benarkah? Aku merasa tidak enak, aku bayar saja ya." Ucap wanita itu.
"Ah tidak apa - apa, itu hanya bolpoin. Lagipula tadi kamu membantuku, anggap saja ucapan terimakasih ku karena kamu menolong gadis kecil itu, kalau tidak ada kamu mungkin aku sudah jadi bulan - bulanan orang sekitar karena telah membuat anak itu menangis," ucapku sambil tersenyum
"Hahaha, kamu lucu juga ya ternyata." Wanita itu tertawa karena sikapku yang gelagapan. Bagaimana tidak malu, ini pertama kalinya Bima berbicara dengan wanita secantik dirinya.
"Tadi kau bilang kita seumuran, memang umurmu berapa? Kenapa kau sudah bekerja?" Tanya wanita itu.
" Umurku 15 tahun, aku bekerja untuk menambah uang saku." Jawabku.
"Kau hebat ya, di usia mu yang sekarang kau sudah bekerja sedangkan aku, hanya bangun tidur, pergi sekolah, belajar, makan, pulang sekolah, makan lagi, belajar lagi dan tidur. Gak tau apa yang harus kukejar." Ucap wanita itu.
"Kau hanya belum menemukan jalanmu, suatu saat nanti kau pasti akan sukses. Menurutku, kau adalah orang yang pintar."
"Ini pertama kalinya aku mendapatkan pujian." Ucapnya sambil tersenyum.
Kami pun duduk bersama sambil mengobrol dan tertawa menikmati waktu, hingga tak terasa sudah berapa lama kami mengobrol. Matahari pun mulai terbenam.
"Sepertinya aku harus pulang. Orang tua ku pasti akan memarahi kalau aku tidak pulang tepat waktu," wanita itu bergegas membereskan tasnya dan bangkit dari tempat duduknya. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, terimakasih traktirannya. Lain kali aku yang mentraktirmu." Wanita itu melambaikan tangannya kepada Bima lalu pergi begitu saja hingga hilang dari pandangannya.
Bima yang daritadi hanya melihat kepergian wanita itu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ada sesuatu yang janggal dalam pikirannya.
Ya, benar sekali.
Bima tidak tahu siapa nama wanita itu.