Jakarta. Tujuh Tahun Silam.
Bandara International Soekarno Hatta
"Kamu beneran nggak mau ditemenin video call sampai waktu penerbangan?" Aku melihat Lusi bertanya dari sebrang sana. Temanku itu terlalu khawatir karena aku harus pergi ke Australia seorang diri.
"Iya gpp, Kok. Lagian emang kamu hari ini nggak kerja?" Aku bertanya sambil menatap Lusi curiga.
"Malam ini ambil libur, lagian kan besok gue mau jemput loe. Jadi sekalian aja ambil off-nya lanjut."
"Ya udah gih kamu istirahat, jangan sampe besok kamu telat dan kesiangan buat jemput aku," aku tertawa saat melihat wajah Lusi yang cemberut.
"Ish! Ya enggaklah, kan gue udah pasang alarm tuh sampe di dua tempat," Lusi mengarahkan gambar di ponsel ke jam kecil di samping tempat tidur dan juga ponselnya yang satu lagi.
"Iya, iya. Aku cuman bercanda kok, Darling," aku tertawa senang saat melihatnya cemberut. "Btw Lus?" Aku berkata serius.
"Hm, ya? Kenapa, Sar?" Lusi juga ikut menatapku serius lewat layar ponselnya.
"Makasih ya karena udah kirimin invitation letter buat aku." Aku menatap Lusi dengan penuh syukur.
"Ish apaan sih, Sar. Gue kirain apaan gitu yang serius. Itu mah bukan apa-apa kali, gue cuman pengen loe dapat visanya cepet dan nggak ditolak. Supaya niat loe bikin kejutan buat Vincent lancar," Lusi menatapku dengan penuh semangat. "Gue harap dan bantu do'ain, sehabis loe datang kesini, nanti siapa tahu loe bisa langsung hamil."
"Aamiin!" Aku menyetujui dengan bersemangat. Meskipun rasanya agak sedih karena keluarga Vincent selalu menuntut cucu, sudah tiga tahun aku menikah dengan Vincent, tapi hanya beberapa bulan tinggal bersama. Lalu setelah itu kita harus menjalani Longdistance Relationship saat suamiku itu menyatakan permintaan untuk melanjutkan kuliah ke negri kangguru atas permintaan orang tuanya. Dan biasanya ia pulang ke Indo untuk menemuiku setiap satu tahun sekali.
Awalnya aku menolak dengan keras, tapi apalah dayaku yang seorang yatim piatu. Aku tidak memiliki harta untuk menahan Vincent di sisiku, sementara keuangan keluarga kecil kami morat marit dan diujung tanduk karena keluarga Vincent turut campur di dalamnya. Mereka menggunakan uang suamiku tanpa merasa bersalah, sementara sampai saat ini aku masih membiayai diri dengan uang dari hasil kerja keras sendiri.
Vincent tidak pernah mengirimkan uangnya secara langsung kepadaku, kartu ATM dia yang di Indonesia dipegang oleh keluarganya, lebih tepatnya oleh adik perempuannya yang bungsu. Yang Vincent katakan hanyalah menyuruhku untuk meminta jatah bulanan ke orang rumah—keluarganya—saat aku meminta bantuan padanya. Bahkan bisa dibilang nominal uang dijatahkan untukku setiap bulannya tidaklah seberapa, hanya lima ratus ribu rupiah perbulan. Jika dihitung-hitung tidak tidak akan cukup untuk menutup biaya sewa rumah yang aku tempati.
Aku terpaksa harus menyewa rumah di dekat rumah keluarga Vincent. Dengan total biaya 12 juta untuk satu tahun. Dengan tahun pertama dibantu dibayar oleh suamiku setengah, dan setengahnya lagi dari uang tabunganku. Awalnya aku pernah bertanya mengenai uang bulanan lima ratus ribu tersebut kepada keluarganya, itupun karena saat itu aku belum gajian dan butuh uang untuk membayar tagihan listrik serta keperluan makan. Sementara uang di tabungan aku saat itu sedang digunakan untuk membeli bahan gaun pesanan. Kebetulan saat itu aku mendapat pesanan dalam jumlah besar dan keuntungannya juga lumayan.
Oh iya, aku bekerja di rumah sebagai desainer pakaian pesta serta merancang kebaya untuk pernikahan. Dari situlah aku bisa menghidupi diri sendiri, dan karena sudah memiliki banyak pelanggan tetap serta aku sudah cukup memiliki nama di kalangan pemesan. Setidaknya aku bisa tetap menghidupi diri sendiri tanpa bantuan suami.
Aku ingat betul bagaimana reaksi adik serta ibunya saat aku menanyakan uang bulanan tersebut. Aku harus duduk di sana selama satu jam hanya untuk mendengar bagaimana rasanya diceramahi mengenai pentingnya berhemat, jangan menghamburkan uang suami dan hal-hal menyakitkan lainnya. Sejak saat itu aku tidak pernah mau lagi bertanya kepada mereka mengenai hak ku sebagai istri atas uang suami yang sudah seharusnya aku dapatkan. Dan mereka juga tidak pernah dengan baik hati memberikannya padaku.
Mereka seolah menutup mata dan berpura-pura lupa, atau entahlah. Mungkin mereka memang sengaja tidak ingin membiarkan aku memakai uang Vincent meski hanya mendapatkan remah-remahnya. Ya, hanya remah-remah jika dibandingkan dengan gaji Vincent selama sebulan. Aku tahu jika Vincent kuliah dan juga bekerja di Australia, untuk saat ini ia bekerja sebagai Chef dengan gaji kotor sekitar 40 juta perbulan. Tapi meski demikian, aku tahu ia harus hidup membiayai diri sendiri selama di sana.
Tapi setelah dipotong makan dan uang sewa rumah, serta uang sekolah. Aku masih bisa melihat jika Vincent masih mendapatkan uang bersih di atas 20 juta setiap bulannya. Suamiku hanya membiayai diri sendiri dan termasuk boros dan tidak bisa mengatur keuangan. Tapi aku tidak pernah mengeluh, aku hanya berpikir tidak apa-apa selama ia masih menyisihkan uangnya untuk masa depan kami. Lagi pula aku tahu jika Vincent sedang menabung karena ingin membeli rumah agar saat ia kembali nanti, kami sudah mempunyai rumah sendiri dan tidak harus mengontrak lagi.
"Udah ya, Lus. Istirahat gih di sana udah jam satu kan?" Aku mengajak Lusi untuk mengakhiri panggilan video call ini.
"Iya sih." Lusi mengiyakan. "Ya udah deh, gue tidur dulu ya supaya besok siang bisa jemput loe ke bandara dengan wajah mempesona."
Aku tergelak mendengar kelakarnya. "Oke deh, Miss Universe bobo dulu gih. Jangan lupa ya besok siang bangun awal biar bisa dandan."
"Yeaa tau aja nih ibu satu."
"Ya udah gih, Selamat tidur, happy good night ya."
"Oke deh, Sar. Hati-hati di jalan and safe flight ya. Bye."
Kami mengakhiri perbincangan, aku meletakan ponsel kembali ke dalam tas. Sementara debar di dadaku terus menggebu. Sudah enam bulan sejak kepulangan suamiku ke Indonesia yang terakhir. Aku sudah sangat merindukannya lagi. Dan semoga saja ia senang dengan kejutan yang aku lakukan kali ini. Aku sengaja tidak memberitahu kedatanganku kepadanya, aku berkunjung ke Australia untuk merayakan pesta ulang tahunnya di sana.
"Tunggu aku, Ai." Aku bergumam sambil tidak kuasa menahan senyuman yang terus mengembang di wajah. Aku tidak sabar untuk merayakan ulang tahun suamiku tercinta.
Namun ternyata kedatanganku untuk memberi kejutan ulang tahun baginya adalah awal dari petaka yang telah aku semai sendiri. Aku datang kesana untuk melihat bagaimana laki-laki yang aku cintai mendua dengan cara yang membuat batinku teriris pedih.
Aku terluka parah, dan rasanya tidak memiliki lagi ruang untuk menyembuhkan diri.