"Ting Tung" Suara bel menandakan pergantian jam pelajaran sudah dekat, dan jam pulang sekolah sudah semakin dekat. Namun itu tak berlaku untuk kelas 8E yang sejak awal pelajaran menciptakan kebebasannya sendiri.
"Jam pelajaran berikutnya apa ya?" tanya Allison pada Ellyora.
"Biar ku tebak, apa kau lupa membawa buku pelajarannya? kau tak akan bertanya seperti itu jika kau membawa buku pelajaran dengan kumplit dan sempurna." Jawab Ellyora yang merasa bangga karna suda mengetahui setiap seluk beluk perilaku dan kebiasaan sahabatnya tersebut.
"Hehehe, nah tuh tau. Berarti kamu tau kan selanjutnya aku akan mengatakan apa?" tanya Allison dengan senyum manja dan nakal kepada kakak tak sedarahnya tersebut.
"Tidak bisa, hari ini aku mau belajar dengan sungguh-sungguh. Aku sudah berjanji kepada ayahku untuk belajar dengan giat dan rajin, agar ia bisa bangga denganku bukan pada kakakku saja." Jawab Ellyora dngan api semangat yang membara.
"Sudahlah, bagaimanapun kamu belajar tetap tidak bisa berada diatas ku. Aku bukan anak ayahmu tapi dia selalu memuji aku." Jawab Allison dengan besar kepala yang sudah hampir mau meledak, sekalian menggoda temannya.
"Itu hanya formalitas saja, lihatlah hidungmu sudah terbang entah kemana?" kata Ellyora mulai kesal dengan kesombongan Allison. Yang sebenarnya, karna Allison sudah bersama dia sejak 3 tahun lalu, jadi secara tanpa sengaja dan tersirat pun mereka tau Allison sudah menjadi bagian dari keluarganya.
Kehadiran Allison dalam hidup Ellyora dan keluarganya bukanlah sebuah kebetulan. Pertemuan tak sengaja hanya karna sebuah bolpoint yang dipinjam temannya Ellyora pada saat itu, menyatukan mereka hingga sampai saat ini. Saat itu Ellyora sedang dalam masa terpuruk karna baru saja di tinggal ibunya ke surga yang disebabkan oleh diabetes dan keterlambatan respon para perawat maupun ambulance, dan harus menerima kenyataan karna mengetahui ayahnya sudah menyelingkuhi ibunya jauh sebelum ibunya pergi. Ellena satu-satunya kakak yang Ellyora punya pun tidak tinggal bersamanya dan berada jauh di kota lain. Karna ayahnya merasa tidak mampu menghidupi mereka sehingga menitipkan Ellena pada adik dari istrinya. Ellena dan Ellyora hanya bertemu setahun sekali pada hari libur nasional yang panjang. Inilah salah satu alasan mengapa Ellyora menerima Allison di dalam hidupnya, selain merasa sama-sama kesepian, dia melihat seperti ada cahaya terpancar dari Allison, sepertinya keceriannya dan semangatnya yang pantang luntur. Saat itu dia sangat berharap dapat seangkatan, sekelas atau bahkan sebangku dengan Allison dan ternyata langsung dikabulkan semesta. Ellyora yang tinggal kelas dan Allison yang berada di kelas 1 tingkat diatas angkatan pada anak-anak seusianya. Ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka berdua masuk dalam daftar anak kelas 8E di sekolah tingkat menengah.
"Jadi, kau tidak mau menemaniku? Baiklah tidak apa apa." tanya Allison kepada Ellyora dengan muka manja, memelas, dan menggemaskannya, seperti anak kucing yang baru saja dibuang dalam kardus dan basah karena kehujanan.
"Yasudah yasudah nanti aku akan menyembunyikan bukuku dan bilang bahwa aku tidak membawanya juga sehingga kita sama sama dihukum kembali." Jawab Ellyora karena merasa tak tega melihat anak kucing didepan matanya meski kadang dia berpikir apa urusan dia dengan anak kucing ini.
"Hehehe.. gitu dong itu baru namanya solidaritas antar persahabatan. Tenang saja, setau ku guru kali ini menghukum kita di belakang kelas bukan di koridor lagi. Jadi, mata kamu aman dari abang abang ganteng OSIS yang bolak balik untuk acara open house nanti." Kata Allison mencoba menenangkan sahabatnya ini.
"Justru aku lebih memilih untuk dihukum di koridor, kalo dibelakang kelas. Lihatlah ke belakang kelas tidak ada pemandangan sama sekali untuk mencuci mata. Coba dipikirkan oleh kamu udah kena hukuman masih harus memandangi dinding, bahkan itu dinding tidak akan berubah menjadi patung kesenian yang mahal meski aku pandangi 5 jam sekalipun." Kata Ellyora sambil mengeluh dan menghela nafas.
"Bisa saja, hanya hasilnya harus kamu bayarkan kepada sekolah sebagai ganti rugi karena kamu telah menghancurkan dinding salah satu kelas disekolah ini." Kata Allison yang sedang menguji kesabarannya Ellyora yang sudah mulai terlihat tanduknya.
"Allison!!!" Teriak Ellyora yang sudah bersiap mengejar Allison.
"Iya? ada apa? aku disini" Tanya Allison dengan muka polos sambil berlari menjauhi Ellyora.
Tiba tiba terdengar suara pintu kelas yang dibuka secara perlahan, tak lama setelah itu terlihat seorang bapak seperti keturunan belanda dengan postur tinggi badan yang hampir mencapai 180 cm, kulitnya sedikit berwarna merah mungkin karena terbakar matahari ketika perjalanan jalan ke sini, dan rambutnya yang hampir tidak terlihat.
"Wah, guru ini pasti sangat jenius." Kata Allison yang seketika menghentikan larinya karena perhatiannya teralihkan oleh guru ini.
"Dari mana kamu tau guru ini jenius?" Tanya Ellyora yang keheranan karena melihat Allison begitu cepat mengambil keputusan.
"Lihatlah, tidak ada sehelai rambut pun dikepalanya. Aku dengar dari ibu panti asuhan orang yang seperti itu biasanya jenius. Tapi aku melihat adik dipanti asuhanku tidak ada rambut dan dia tidak jenius." Kata Allison sambil bertanya ke Ellyora.
"Bercandanya gelap sekali ya Allison. Tolong bedakan botak jenius, botak kanker, dan botaknya yang dibuat sendiri." Kata Ellyora yang sudah sangat geram kepada Allison.
"Selamat siang anak anak, apakah saya mengagetkan kalian? perkenalkan nama saya prof Steve saya berasal dari negeri netherland yang dipanggil langsung ke sekolah ini untuk mengajar matematika. Sebelum itu, bisakah kalian kembali ke tempat duduk masing masing." Kata prof Steve dengan senyuman ramah diawal karir dia sebagai guru dikelas 8E. entah sampai kapan senyuman itu akan bertahan setelah dia mengetahui betapa uniknya kelas ini.
"Selamat siang prof Steve.." Sapa murid murid kepada prof Steve.
"Benarkan kataku, dia jenius." Kata Allison menegaskan dan sedikit menyombongkan diri karena apa yang dia tebak benar.
"Daripada kau memikirkan itu, lebih baik pikirkan hukuman apa yang akan kita terima dihari pertama dia mengajar." Kata Ellyora yang kesal dengan kesombongan Allison.
"Ya anak anak karena perkenalannya sudah selesai, bisakah kita memulai pelajarannya dengan membuka buku halaman 10." Pinta prof Steve kepada murid muridnya.
Murid murid pun dengan patuh mengeluarkan buku dan membuka halaman yang dimaksud. Dalam keheningan, tiba tiba seorang murid perempuan berdiri dari kursinya.
"Pak, saya tidak membawa bukunya." Kata Allison dengan polos dan siap untuk menerima hukuman karena merasa ada temannya nanti.
"Baik, ada lagi yang tidak membawa buku?" Tanya prof Steve ke murid murid kelas 8E.
"Saya juga pak." Jawab Ellyora karena sudah berjanji kepada Allison.
"Kalian ini adik kakak atau bersahabat. bagaimana bisa satu bangku dua orang dan keduanya tidak membawa buku. tapi karena hari ini hari pertama saya mengajar, dengan baik hati saya tidak menghukum kalian kalian boleh meminjam buku kepada teman kalian dan kalian sharing." Kata prof Steve dengan baik hati.
Allison pun meminjam buku ke Ryan dan berbagi bukunya dengan Ellyora. Sambil tertawa mereka merasa apa yang mereka lakukan cukup konyol hari ini dan mereka melanjutkan pelajaran bersama prof Steve sambil menunggu jam pulang.