Bella adalah wanita dengan penampilan sempurna yang memiliki wajah cantik dan tubuh indah. Sejak SMP dia sudah pintar bergaya sehingga dia semakin menarik perhatian kaum adam.
Namun Bella sebenarnya bukan sosok yang memusingkan penampilannya. Dia bukan tipe yang berpikir bagaimana membuat orang tertarik kepadanya. Melainkan dia hanya menyukai fashion dan suka mendesain.
Bella adalah wanita yang cuek dan bukan tipikal yang mudah tertarik dengan pria.
Bella tidak memusingkan perihal berpacaran meskipun banyak dikelilingi laki laki.
Beberapa kali Bella berpacaran sejak SMP, namun Bella tidak pernah serius. Dia hanya berpacaran untuk menghindari incaran para lelaki, sehingga lama Bella berpacaran tak akan pernah lebih dari 3 bulan. Begitu sampai sekarang.
Renata selalu menjadi saksi kandasnya percintaan Bella. Kali ini adalah Chris. Chris adalah Senior Renata di program S2 saat ini, yang juga teman dekat David, laki laki yang sudah 4 tahun berpacaran degan Renata, sejak dia semester 5 program S1 yang juga merupakan senior Renata waktu itu.
Renata tak pernah ikut campur mengenai percintaan Bella sejak SMP, karena Renata tau Bella bagaimana, namun sejak balik dari Amerika Rena mulai mengkhawatirkan Bella sehingga dia menjodohkan Bella dengan Chris yang dikenal Rena baik, dewasa serta mapan karena seorang pebisnis muda.
Rena berpikir Chris lain dari pada yang lain, buktinya Chris bisa melewati angka keramat Bella yaitu 3 bulan. Namun kali ini pun Bella memutuskan Chris pada bulan ke 7 mereka pacaran.
"Bel, Benarkah tak ada kesempatan sama sekali buat Chris?..." Rena berteriak menanyainya yang sudah menutup dirinya di balik selimut.
Bella malas memberi respon. Dia sudah cerita alasannya memutuskan Chris kepada Rena sejak hari pertama putus, bahkan Rena sering mendengar keluhannya tentang Chris sebelum putus, tapi sepertinya sahabatnya ini lebih berpihak pada Chris yang sudah putus darinya hampir 2 minggu yang lalu itu.
Bella mengenal Chris sejak 3 tahun lalu saat dia masuk Universitas Harapan, karena Chris sahabat dari pacar sahabatnya sendiri. Bella sering bertemu Chris saat jalan bersama Rena dan David sehingga Bella bisa menilai Chris.
Chris adalah laki laki yang baik menurutnya. Kalem, sopan, perhatian dan berwibawa, itulah mengapa dia setuju berpacaran dengan Chris saat Chris mengajaknya. Lagipula Chris tau tentang dirinya yang menyukai desain dan tetap menunjukkan ketertarikan padanya.
Bella senang berpacaran dengan Chris, Chris disegani banyak orang termasuk banyak pria, sehingga dia bisa terbebas dari incaran incaran lelaki mata keranjang karena Chris menjaganya, mengingat di kampus banyak yang suka mendekatinya sebelum dia berpacaran dengan Chris. Chris juga sering menemaninya melakukan hal hal yang berhubungan dengan mendesain, seperti saat menggambar, memasukan hasil desain dan lain lain.
Namun lama kelamaan saat melewati bulan ke 6 berpacaran, Chris mulai sering menegur dan memarahinya karena dia terlalu menekuni desain dan mengabaikan banyak hal lain. Bella mulai merasa tidak nyaman. Chris berubah 180 derajat dari penilaiannya semula. Dia pun memutuskan mengakhiri hubungan mereka, karena merasa Chris ternyata hanya memendam keinginan untuk mengatur ngaturnya selama ini. Bella sadar hubungannya dengan Chris hanya akan menjadi batu sandungan bagi dia dan mimpinya, jika dia mempertahankan itu.
Dia sedang berusaha keluar dari penjara orang tuanya saat ini, untuk apa dia masih bertahan dengan Chris jika tau Chris sedang mempersiapkan penjara Chris untuknya.
Chris masih mencoba menghubunginya sejak putus, namun dia tidak mau mengangkat. Dia tau Chris akan menggunakan Rena, dia tetap kekeh.
"...Wah benar benar kamu ini, apakah isi kepalamu hanya mendesain? sepertinya hanya itu yang bisa kamu seriusi!" Rena terus mencercahnya mengenai Chris.
"Apakah kamu sahabatku?!" Bella membuka selimutnya tak tahan juga dengan perkataan Rena.
"Tentu saja! Daripada dirimu sendiri, aku yang lebih sayang padamu! Bel.. Bel.. Kamu harus memikirkan hal yang lain juga!" Tegur Rena, membuat Bella teringat pernah mendengar kata kata yang sama persis dari Chris saat terakhir mereka bertengkar.
"Tch! Kamu masih tak tau apa apa tentang ku!"
"Hei! Aku tak terima itu." Rena melempari Bella dengan bantal. Begitulah mereka memulai perang bantal sampai mereka tergeletak lelah.
Mereka selalu saling apa adanya dan tidak pernah menutup nutupi penilaian satu sama lain. Sudah biasa bagi mereka melempar kata kata pedas karena ada sifat keras kepala di antara mereka, mereka sering bertengkar lalu akhirnya selalu berbaikan. Mereka berdua benar benar adalah soulmate. Mereka bisa sangat serius, mereka bisa sangat bercanda, mereka juga bisa serius sambil bercanda. Seperti saat ini.
"Bell. Chris baik loh dari semuanya. Kamu... Ah kamu membuatku speechless ah..." Sahut Rena setelah rasa capeknya hilang, masih terbaring di atas kasur.
"Ren, aku sedang berusaha mengejar mimpiku. Kamu tau aku kan?! Aku juga pikir aku bisa berjalan bersama Chris, tapi aku rasa tidak bisa, dia akan menjadi penghambatku yang lain."
"Bell, kita ini sudah 25 tahun. Di usia ini seharusnya kita sudah bisa mandiri... bahkan sudah bisa menikah...Aku memang tak bekerja saat ini, tapi setidaknya aku sedang S2. Aku juga sudah punya David. Kamu?..." Bella terdiam karena perkataan Rena. "...Bukankah kamu terlalu fokus kepada mimpimu itu? Aku bukan menyalahkan mimpimu yah Bell. Tapi lihatlah keadaanmu dan pikirkan juga hal hal lain. Sebagai Contoh, kamu harus S1 setidaknya."
"Ren! kamu membuatku jadi sedih ah." Protes Bella lirih membayangkan keadaannya. Bella sadar bahwa dia belum mencapai apapun sekarang dibanding sahabatnya ini yang bahkan sudah punya pengalaman bekerja di Bank sebelum akhirnya berhenti karena mau fokus ujian S2. Rena berambisi mendapat posisi tinggi di perusahaan swasta, untuk itu Rena menambah gelar S2. Melihat Rena yang perlahan lahan dapat memenuhi ambisinya, membuatnya sedih dengan keadaannya.
"Mengenai Chris... Jangan membuangnya begitu ah, kasihan... Dia benar menurutku, tapi dia bilang dia minta maaf berarti dia merasa bersalah kan? Kamu lihat, dia sabar loh menghadapi kamu, siapa lagi yang bisa seperti dia?"
Bella hanya terdiam. Perkataan Rena benar benar bisa menusuk hatinya. Namun bukan mengenai Chris. Dia jadi terpikirkan mengenai usianya yang makin bertambah.
'Kapan aku akan bisa mendesain dengan bangga dan bebas? Kapan aku akan bisa menunjukkan kepada papi mamiku, aku bisa hidup sukses dengan mendesain? Aku benar benar masih kacau sekarang.' Batin Bella.
Dilihatnya Rena sudah berdiam disampingnya, tak lagi berlarut larut membahas Chris. 'Tch Dia benar benar mengenalku! Dia tau sekarang perkataannya sudah menusuk hatiku makanya sekarang dia diam?' Batin Bella lagi, namun dia sayang sekali dengan sahabatnya ini.
***
Pukul 4 sore lewat 40 menit, Bella dan Rena sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan megah di ibu kota.
Sejak pagi di rumah Rena, Bella memutuskan memeriksa semua tugas tugas kampusnya dan mengerjakannya. Dia telah menyelesaikan tugas 5 mata kuliah sekaligus, untuk itu saat ini dia mengapresiasi dirinya dengan belanja dan jalan jalan bersama Rena.
Bella suka mengunjungi toko pakaian dan jalan jalan di pusat keramaian seperti mall Bioskop Restoran dll. Dia selalu melakukan riset fashion dengan begitu.
Sementara melihat lihat pakaian di satu butik, sesosok lelaki tinggi putih dan tampan mendekat ke Bella dan Rena.
"Ah Bell..." Rena tiba tiba bergumam saat Bella sedang melihat lihat baju, membuat Bella teralih menatap Rena. "...Kian." Rena memberi tahu sesuatu kepadanya tapi tidak jelas baginya karena Rena hanya berbisik.
"Hm?"
"Hai, Kalian berdua..." Suara berat dan sedikit cadel yang familiar bagi Bella terdengar menyapa dari belakang Bella, saat Bella fokus kepada maksud gumaman Rena.
Bella langsung menengok sumber suara itu.
'Oh ternyata Rena ingin memberitahu ada Kian?' Ujar Bella dalam hati kesal. Bella tak menyapa karena dirinya tak sudi menyapa sosok ini.
Ini adalah Kian, teman satu SMA Bella dan Rena, yang sekarang adalah seorang publik figur terkenal.
Mereka bertiga cukup dekat saat SMA karena mereka tergabung dalam organisasi siswa. Namun kian membuat hubungan mereka menjadi slek, khususnya hubungan dengan Bella.
Kian menyukai Bella, namun Bella tidak. Awalnya Kian dan Bella hanya berpura pura pacaran karena saat itu Bella terganggu dengan banyaknya laki laki yang mendekatinya.
Kian mengajukan diri membantu Bella untuk berpura pura menjadi pacar Bella karena kasihan dengan Bella dan Bella menerima itu. Saran Kian manjur, laki laki di sekolah tidak lagi ada yang mengganggu Bella karena tahu pacaran dengan Kian, apalagi mereka terlihat memang serasi karena penampilan mereka cantik dan ganteng.
Bella sangat berterima kasih kepada Kian. Namun lama kelamaan bela curiga dan mencium hal aneh. Ternyata Kian memang memiliki hati kepadanya, dan menggunakan cara itu untuk mendekatinya. Kian mengakui perasaan kepada Bella setelah tertangkap basah oleh Bella.
Bella yang awalnya mulai merasa nyaman karena kebaikan Kian pun berubah merasa tak nyaman dan merasa Kian tidak tulus karena memiliki maksud terselubung kepadanya. Bella akhirnya memutuskan mengakhiri sandiwara mereka, namun Kian menciumnya paksa membuat Bella benar benar muak dengan Kian dan sangat marah dengan Kian hingga kini.
Hal itu terjadi saat mereka duduk di bangku kelas 1. Bella mulai mengacuhkan Kian dan membiarkan jika laki laki mendekatinya setelah itu, dan Kian mulai banyak bolos sekolah karena mulai mengikuti Modeling. Sat memasuki kelas 2 Bella pindah ke Amerika. Mereka tak pernah bertemu lagi sejak itu. Bella juga tak mau bertemu Kian lagi.
"Hai Kian..." Rena mengambil alih menyahut agar tak membuat suasana menjadi canggung. Rena sangat tau benar apa alasan dibalik suasana ini.
"Hm. Bell, aku pikir kamu wanita yang cuek tapi sepertinya kamu masih mengingat ingat kejadian itu yah..." Kian mendengus.
'Tentu saja! Dasar laki laki tak tau malu!' gerutuh Bella kesal dalam hatinya, mengingat kejadian waktu Kian mengecup paksa bibirnya.
"Kian apa kabarmu? Sendiri saja nih?" Rena berusaha mengalihkan Kian agar tak begitu, karena Rena tau Bella terusik dengan sikap Kian itu.
"Aku baik Ren.. Ada sama orang... Wah... Rena kita berdua sering bertemu kan ? Tapi dengan wanita ini... Aku sangat ingin tau bagaimana kabarnya, Aku rindu sekali padanya, tapi dia jutek begini padaku."
"Aku heran kamu masih punya muka juga ya bertemu denganku ?!" Bella tak tahan mendengar ocehan Kian, akhirnya pun angkat suara.
"Aku juga heran kenapa kamu yang seperti tidak ada muka bertemu denganku, padahal aku yang salah kan yah?..." Sahut Kian lancar.
'Tentu saja karena aku eneg!' Pikir Bella sangat emosi. Bella sangat kesal dengan sikap tak bersalah Kian saat ini, tapi dia malas mengungkapkan apalagi ini di umum, Bella memilih diam daripada harus bertengkar karena masih menghargai Kian yang dikenal banyak orang.
"...Waktu itu kamu melihatku kan, tapi kamu menghindar, kamu terlihat menggandeng cowok mesra, Apa dia pacar sandiwara kamu?" ungkit Kian.
"Tentu saja tidak! Dia pacarku!" Bella merujuk pada Chris. Waktu itu dia pernah bertemu Kian saat sedang jalan bersama Chris. Bella telah mendengar dari Rena yang beberapa kali bertemu dengan Kian bahwa Kian ingin menemuinya, tidak mau sampai hal itu terjadi, sehingga dia menghindari Kian.
"Hm...." Kian mengangkat sudut bibirnya tersenyum.
"Sebaiknya kamu pergi aku tidak suka bertemu denganmu."
"Ren, Kamu menyampaikan permintaanku ke dia tidak?" Kian menatap Rena, Rena hanya berpaling muka. "Aku rasa permintaan maafku tak diterima yah?" Kian menunduk. ekspresi dan nada suaranya tiba tiba berubah. "Bell, Aku benar benar menyesal begitu kepadamu dan kita jadi begini. Aku menyukaimu tapi aku sadar bukan berarti aku menyukai orang dan orang yang aku sukai akan menyukai aku atau harus menyukaiku."
Bella hanya diam. Dia agak tersentuh namun sedikit curiga, Kian ini mungkin sedang berakting, mengingat Kian ini aktor yang hebat. Rena memang sudah pernah bilang kepadanya Kian ingin menemuinya untuk minta maaf, namun dia perpikir lebih baik tidak usah bertemu agar mereka tak usah berhubungan lagi, apalagi dia mendengar juga dari Rena bahwa Kian ini sering terlihat dekat dengan banyak wanita.
"Aku mau menikah..." Ucap Kian membuat Bella langsung memandangnya. "Aku mau memulai hidup baru, aku tidak mau bermasalah dengan orang Bell, aku merasa tidak tenang. Kumohon..."
"Benarkah?" Tanya Bella spontan.
"Hm.." Kian mengangguk terlihat tidak berbohong bagi Bella.
"Hei. Ketahuilah aku sudah memaafkanmu sebelum kamu minta. Semua hanya tergantung kamu kita bermasalah atau tidak..."
Kian mengangkat sudut bibirnya mendapati betapa sarkastik sekaligus juga kerennya Bella menghadapinya. "Kamu sungguh Bella yang aku kenal.... Maukah kau datang ke pernikahanku? Kalian berdua... itu permintaan terakhirku padamu Bell, Datanglah ke pernikahanku... setelah itu kita tak perlu bertemu jika itu yang kau mau. Aku tak akan meminta apapun darimu atau mengganggumu lagi. Mungkin kedatanganmu akan membuatku lega..."
"Okay..." Bella menyahut enteng, Rena memandanginya seperti tak menyangka.
***
Diperjalanan pulang dari mall,
"Wah, aku tak percaya Kian akan menikah..." Rena bergumam tentang Kian lagi. "Bell kupikir pikir lagi masalah kalian ini, padahal Kian hanya menyukaimu loh..."
"Dia menyukaiku tapi caranya salah... It makes everything so wrong." Bella menyahut meski sedang fokus menyetir.
"Tak pernahkah kamu berpikir bagaimana kalau seandainya kamu juga menyukainya?"
"Tidak tuh..." Ketus Bella. Bella berpikir Rena akan mulai lagi mengarah ke permasalahan dirinya yang tak pernah serius mengenai pria.
"Huh.. Dasar kau ini..."
"Kamu jadi kasihan padanya kan? Aku juga..., ini semua karena dia berubah, coba kalau tidak berubah, pasti menjengkelkan."
Rena terdiam padahal Rena hanya bermaksud menyentuh perasaan Bella, tapi mengenai pria Bella tak bisa disentuh dengan perkataan Rena rupanya. "Eh tapi ngomong ngomong, Kamu masih kan dengan Chris? Hihihi..."
"Jangan mulai!" Bella ingat tadi dia bangga membawa bawa Chris didepan Kian, tentu saja Rena membuat itu jadi bahan."
"Hahaha, nanti sama siapa ke kondangan Kian? Aku akan mengajak David ah."
"Dasar kamu! Kita hanya pergi berdua pokoknya!"
"Hahaha..." Rena memang sengaja menggoda Bella. "Wah... Satu lagi seumuran kita menikah..." Rena berucap sembari membayangkan sendiri.
Bella menghembuskan nafas panjang perlahan lahan.