Minggu sore menjelang malam, di hotel berbintang ibukota, Josh melangkah dengan santai mengikuti langkah kaki Ronan dan Jully yang sangat terburu buru didepannya menuju restoran yang ada di dalam hotel ini.
Josh membuat papanya kesal kali ini dengan pulang ke rumah satu jam lebih lama dari yang diperintahkan kepadanya, alhasil saat ini mereka terlambat datang di janjian pertemuan dengan sahabat papanya terkait perjodohannya.
Memasuki restoran yang terbilang sepi, Ronan dan Jully langsung menuju sudut kiri restoran dimana dapat Josh lihat meski berdiri beberapa jarak di belakang papa dan mamanya, terdapat satu meja yang sedang diduduki sosok pria dan wanita paruh baya, dimana prianya sedang mengangkat tangan ke arah papanya. Langsung saja Josh dapat menebak bahwa itu adalah sahabat dari papanya.
"Good night... Richard... Diana... Wah Aku sungguh minta maaf membuat kalian menunggu." Ronan menyapa Richard dan Diana ketika sampai di meja yang dituju.
"No problem... Apa kabar Ronan?... Jully.. It's been a while..." Richard langsung berdiri memeluk dan menyalami Ronan dan Jully, begitu juga Diana, mereka saling menyapa.
Josh memperhatikan sepasang suami istri yang saat ini sedang saling melempar senyum menyapa papanya dan mamanya. Kesan pertama Josh terhadap sepasang suami istri itu adalah dia tidak bersimpatik, karena mereka adalah orangtua yang dia pikir sama dengan papa dan mamanya.
"Ini Josh ya?" Pandangan Richard lalu menuju kepada Josh selepas menyambut Ronan dan Jully.
"Iya benar.." Josh menyalami Richard yang sudah memberi tangan kepadanya, dengan senyum yang tidak alami. Sulit buat Josh bahkan untuk pura pura tersenyum saat ini.
"Richard Frederick... Woah Gagah loh kamu..." Richard menepuk lengan Josh setelah menyalaminya seakan kagum dengan postur tubuh Josh yang lebih tinggi dari Richard... "Ini istri saya... Ma.." ucap Richard memberi isyarat pada istrinya untuk menyapa Josh.
"Hai Josh, Diana Santoso."
"Ya... Josh tante."
"Ayo duduk duduk..." ajak Richard kemudian.
"Harusnya kita yang menyambut kalian, malah sebaliknya. Tidak enak aku Chad..." Ronan masih menyampaikan perasaan tidak enak kepada Richard.
"Halah...It's okay!"
"Josh... Kamu tau om Richard dan tante Diana ini baru saja tiba dari Vancouver siang ini. Mereka bahkan belum terus pulang kerumah bela belain pengen ketemu kita dulu. Kamu harus lebih perhatian kedepan, om dan tante ini orang penting dan orang sibuk juga." ucap Ronan memandang Josh sekilas. "Kita terlambat karena menunggunya sampai rumah." Ronan lalu beralih kepada Richard yang sedang menatap Ronan.
Josh menatap papanya heran. Sepanjang perjalanan tadi meskipun cemberut papanya terus menyelipkan wanti wanti kepadanya agar dia bersikap baik di depan sahabat papanya ini, terkesan papanya ingin agar dia memperlihatka citra baik, kenapa sekarang papanya malah terang terangan menyudutkannya? Apakah papanya sengaja ingin memamerkan kedaulatan papanya atas dirinya depan sahabatnya?
"Om sebenarnya saya bermaksud menuju kesini dari lokasi, tapi papa memaksa saya harus dari rumah bersama, jadi yah seperti ini." Josh menatap papanya yang sedang menatapnya sengit. "I am sorry?" Josh menatap papanya sok bertanya apakah dia perlu minta maaf untuk itu. Dia bermaksud mengejek papanya. Tapi tanpa balasan papanya dia langsung menatap Richard dan diana "I am sorry..." Ucap Josh menatap Ronan dan Diana. Muka papanya menjadi merah padam, karena dia sangat tidak ikhlas.
"Hahaha, no problem. kita juga istirahat kok disini... Ronan..." Richard menahan Ronan.
Josh mengernyit. Dia seolah dapat membaca jelas bahwa Sepertinya orangtua orangtua ini, khususnya para papa di hadapannya saling memahami dan adalah sekutu.
"Uhm... Jadi kamu dari lokasi syuting?" Ronan mencairkan suasana.
"Iya om." Jawab Josh singkat tidak mood.
"Film yah? apa sinteron?"
"Bukan dua duanya, hanya rekaman untuk kampanye gerakan..." Ketus Josh seadanya
"Iklan ya..." Gumam Richard
"Hmm..." Angguk Josh "...Tapi Sorry, I am not seeing your daughter?" Josh kemudian langsung mengalihkan topik. Dia malas bertele tele. Dia langsung bertanya mengenai keberadaan perempuan yang akan dijodohkan dengannya yang sedari tadi dia menatap sekeliling, tidak ada tanda tanda perempuan itu. Papanya menatapnya strick karena pastilah dia terdengar tidak sopan mengganti topik, tapi Josh tidak peduli.
"Ahh... Iya nih... Mm... Sebenarnya Kami belum bilang ke dia tentang ini... Jujur saja"
'Apa?' pengakuan Richard membuat Josh diam diam terkejut, dia pikir pertemuan ini untuk berkenalan dengan calonnya tapi ternyata perjodohan ini belum mencapai keputusan final.
"...Kedatangan kami ke sini untuk itu kok, memberitahu padanya langsung tentang ini semua, maklumlah... kita di Kanada, tidak bisa hanya memberitahunya lewat telepon kan..." Richard berbicara sabil menatap Ronan. Josh melihat papanya terihat khawatir.
"Papa belum bilang soalnya... Saya pikir pertemuan ini untuk perkenalan dengan putri om... Tapi mungkin papa juga tidak tau..." Sarkas Josh. Josh merasa seketika senang, karena adanya kemungkinan tidak menikah yang mungkin saja bisa terjadi. Josh merasa papanya menutupi itu agar dia meyakini bahwa perjodohan ini benar benar sudah fix.
"Ya... Kami berharap kalian bisa segera bertemu, om pribadi sangat menginginkan itu. Tapi om minta maaf bukan pada momen ini."
"Ekhrem... Apa kamu sudah tidak sabar ingin bertemu putri om Richard?" Selip papanya
"Om minta maaf Josh. Mungkin saja ini menyita waktumu..."
Josh hanya diam, setidaknya Richard lebih baik dari papanya karena meminta maaf daripada tidak mau kalah seperti papanya barusan.
"... Memang kami baru mau menyampaikan ini kepada putri kami, tapi tentang perjodohan ini, om sangat optimis, om sangat ingin menikahkan putri om dengan putra sahabat baik om sendiri... memikirkan hal itu om dan tante ingin sekali bertemu denganmu sebelum bertemu putri om."
Josh mengernyit, tak peduli dengan papanya dia langsung menyelidiki. "Apa iya saat ini om dan tante sedang meyakinkan diri tentang saya dan perjodohan ini, sebelum meyakinkan putri om?"
Richard terdiam sejenak. Lalu senyumnya perlahan muncul "Om akan terbuka denganmu josh...."
Josh menyimak. Ronan juga menyimak dengan was was. Ronan khawatir dengan pernyataan Richard karena dia sangat mengetahui sifat Josh. Ronan takut karena Richard orang yang lembut, Josh akan meremehkan perjodohan.
"...Sebenarnya posisi om dan tante Diana disini adalah sedang meminta tolong kepada orang tuamu, dan juga kepadamu tentunya Josh..."
Josh menatap Richard penuh dengan pemikiran dan pertanyaan. Sementara Ronan sedang gelisah tak karuan, ingin menghentikan perkataan Richard tapi di tahan Jully dengan kode pegangan tangan Jully.
"...Pekerjaan om basically diplomatik, sejak dulu sampai sekarang om hidup berpindah pindah diluar negeri... Putri om tidak nyaman dengan hidup berpindah pindah bersama om, dia lebih suka menetap... Singkatnya sudah 3 tahun ini dia tinggal di Indonesia. Om akhirnya ijinkan. Jujur putri om menjadi agak sulit diatur...,"
'Oh, simbiosis mutualisme.. ' Mendengar perkataan Richard yang sedang berlangsung, Josh sedikit menarik kesimpulan dalam hati.
"...Mungkin yang membuatnya begitu sedikit banyak karena perasaan terkekang harus pindah dengan om kesana kesini yang lama dia tahan dulu. Tapi om khawatir dan merasa tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi. Dia akan menjadi terlalu bebas jika terus tinggal sendirian. Memang sih kami punya keluarga di Indonesia, putri om tidak mau hidup bersama mereka karena jauh di daerah, maunya hidup di jakarta. Mamanya juga sesekali kesini, tapi yah itulah... Tidak bisa sepenuhnya mengontrolnya, kuliahnya belum beres beres hingga sekarang. Sebagai orang tua om merasa bersalah dan terbebani,umurnya sudah dewasa tapi sifatnya belum bisa dewasa. Om kebingungan mengatasi sikap putri om. Sampai om berkomunikasi dengan papamu, dan berpikir mungkin dengan menikah dia bisa berubah..."
'Benar kan... Dasar orang tua orang tua ini.' Rutuk kesal batin Josh.
"...Pertanyaan kamu tadi, jawabannya adalah tidak. Kami bukannya mau meyakinkan diri kami. Om sudah yakin pada perjodohan ini... Papamu itu wah sudah seperti keluarga, sangat baik dan selalu menolong om. Bahkan sampai saat ini pun papamu menolong om. Om hanya mau terbuka saja padamu. Om hanya mau minta tolong padamu. Pada Josh secara pribadi. Om bertemu karena ingin bicara dari hati ke hati dengan Josh karena bagaimanapun hubungan Om dan papa Ronan, Josh lah yang akan menjalani."
Josh terdiam. Tampaknya dia terhanyut dengan perkataan perkataan Richard, tapi tentu saja dia masih merasa sulit untuk menerima ini semua.
"Let's be honest, Right?" Josh menatap Richard seolah mengisyaratkan akan berkata apa adanya, tak memedulikan papanya. Richard mengangguk kecil. "Saya memiliki perdebatan dengan papa saya pada awalnya tentang perjodohan ini, saya tidak mau, mungkin om tau, mungkin juga tidak, i don't know, tapi yang saya mau bilang adalah saya mau, karena saya akhirnya mau..."
Richard dan Diana serius menyimak Josh sementara Ronan dan Jully menatap Josh tegang.
"...Om dan tante mungkin tau sedikit banyak tentang saya, mungkin juga tidak. Tapi yang saya pikir adalah karena kedekatan om dengan papa saya, om yakin yakin saja dengan perjodohan ini, lalu mengesampingkan hal hal lainnya..."
Ronan meneguk air putih didepannya, mulai merasa panas.
"...Saya tidak percaya diri om..." Jujurnya. "...Om bisa saja mempercayai papa saya, tapi menurut saya..."
"Kamu tidak bisa di percaya? Jangan percaya padamu, begitu? Kamu mau berbuat apa memangnya?!" potong Ronan tak tahan.
"Pa... Papa bilang kan tadi aku harus bersikap baik di depan Om Richard, aku sedang berusaha bersikap baik, kumohon!" Sahut Josh kesal kepada papanya. Dilihatnya Richard mengangguk seolah menahan papanya lagi.
"Josh... Om tau semuanya, sedikit banyak tentang kamu. Om bukannya mengesampingkan atau mengabaikan hal hal lain. itulah mengapa saat ini om juga datang menemui kalian, om mau menemuimu secara khusus sebenarnya. Sebenarnya perjodohan ini simbiosis mutualisme bisa dibilang yah..."
'Wow om ini begitu jujur dan pengertian, bagaimana bisa dia menjodohkan anaknya.?'Josh bingung dalam hatinya sementara dia menyimak perkataan Richard.
"...Tapi om rasa pihak om yang paling diuntungkan..."
"Ekrhem.." Ronan menyentil Richard, bagi Ronan, Richard tidak perlu terlalu merendah dihadapan Josh. Tapi Richard mengabaikan Ronan.
"...Kamu sudah bersedia dijodohkan bagaimanapun om sangat bersyukur, om appreciate you. Lalu saat ini mendengar pengakuanmu, honestly makes me appreciate you even more. I think you are a nice person..."
Josh menghela nafasnya perlahan.
"It's okay, let's work on this together. Pada momen ini om mau mengajukan permintaan padamu..."
'Um?' Josh terlonjak bingung dalam hati.
"Kita mungkin sudah membicarakan perjodohan ini, tapi bagaimanapun... om want to start it with manner... Maukah kamu membantu om dengan menikah dengan anak om...?" Dengan terbata bata Richard bertanya kepada Josh.
Josh tiba tiba speechless. "Mm? ah a I... I'll try om..." Mulutnya juga jadi kelu, Perjodohan ini sudah diputuskan oleh para orang tua ini, dia tidak menyangka Richard masih bertanya kepadanya. Richard tersenyum mengikuti perkataannya. Setidaknya dia merasa sedikit dihargai saat ini. "Aprreciated you... om Richard." Josh menekan ucapan 'You' kepada Richard menyinggung papanya. Papanya hanya memberikan muka yang masam. Lalu pesanan makanan mereka datang.
"Tepat sekali... Kita makan dulu yah..." Pekik Richard mencairkan suasana lalu mereka makan sambil berbincang bincang ringan.
Josh tidak banyak bertanya tentang calonnya. Saat ini dia tidak penasaran dengan sosok putri Richard itu. Dia hanya berharap semoga saja perempuan itu lebih gila dan keras kepala darinya.
Josh banyak bercerita tentang pekerjaannya karena selain banyak ditanya Richard, dia ingin menyiratkan bahwa dia tak mau terpisahkan dengan pekerjaannya itu. Josh mengungkapkan secara lepas kecintaannya terhadap dunia seni peran, dia agak sengaja membuat Ronan gerah.
Mereka juga banyak bercerita tentang hubungan diantara Richard dan Ronan, sehingga Josh tau betapa dekatnya mereka, dan tak heran sampai jadi begini.
Saat ini Josh setengah pasrah dengan perjodohan, karena dirinya tak bisa berbuat apa apa lagi tentang itu. Yang terpenting baginya dia tidak kehilangan sesuatu yang bisa mengusik papanya seumur hidup papanya yaitu karirnya.
Akan tetapi Josh sedikit berharap akan ada sesuatu yang bisa mengacaukan perjodohan para orang tua ini, yaitu anak Richard dan Diana.