Mengejar puluhan hingga ratusan shadow yang berhamburan menuju Trixia, Noa terus mengayunkan tangannya tanpa henti, membunuh setiap shadow yang berhasil dikejarnya. Sesuap demi sesuap salju hitam yang menumpuk di tanah dilahapnya guna menjaga panca inderanya untuk terus bekerja secara optimal. Akan tetapi, sekeras apapun dia berusaha, dirinya tetap tak mampu menghalau shadow-shadow tersebut memasuki Kota Trixia.
Shadow-shadow itu pun memaksa memasuki kota, menyebabkan korban jiwa yang besar. Pasukan pertahanan Trixia hanya mampu menahan kumpulan shadow yang banyak itu untuk beberapa menit, sebelum akhirnya mereka berhasil memasuki kota. Jeritan dan raungan pilu terdengar begitu para shadow berhasil menemukan penduduk yang belum mengungsi atau pun melarikan diri.
Sementara itu, Noa baru tiba ketika api terlihat telah menjalar ke seluruh kota. Perempuan itu perlahan-lahan melangkah memasuki kota yang kini telah menjadi sunyi. Tumpukan pasukan bergelimpangan dengan kulit yang hitam dan darah yang keluar dari mata serta hidung mereka. Meskipun Noa adalah seorang anggota pasukan penjelajah yang sudah berpengalaman, tetap saja perasaan mual perlahan-lahan mulai menyerang dirinya. Jubah bulunya ia lepaskan dan dirinya perlahan-lahan menyusuri setiap jalan yang ada di Kota Trixia untuk mencari korban yang mungkin saja selamat. Namun, telah beberapa menit ia berjalan, dirinya hanya menemukan mayat-mayat yang berserakan memenuhi kota.
Noa pun akhirnya tiba di depan sebuah bangunan yang bertuliskan Vixen. Dia memasuki bangunan yang sudah terbilang tua itu. Deritan kayu terdengar tiap kali ia menjejakkan kakinya. Sama seperti bangunan lainnya di kota ini, ada pula penduduk yang berguguran di tempat ini. Namun, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang dewasa dan juga pasukan pertahanan. Hal itu membuat Noa sedikit bertanya-tanya. Ke manakah pemilik dan anak-anak yang menempati pasti asuhan ini?
Sebuah suara terdengar dari lantai 2, memaksa Noa untuk mendekati sumber suara itu. Dia membuka pintu yang menutupi dirinya dengan sumber suara tersebut dan hal pertama yang ia lihat adalah sepasang orang yang tengah meringkuk di tempat tidur, memeluk seorang anak kecil. Sayangnya, kondisi mereka tak berbeda jauh dengan yang telah Noa lihat. Akan tetapi, sumber suara yang ia dengar tidaklah berasal dari mereka.
Noa berjalan lebih jauh memasuki ruangan tersebut dan membuka kembali sebuah pintu yang berisikan perlatan mandi. Dia menyibakkan tirai dan melihat seorang anak kecil yang bergetar ketakutan. Anak itu meringkuk saja di dalam sebuah bak mandi. Ketika Noa memegang pundak anak itu, dia menjerit ketakutan dan tidak sengaja membenturkan kepalanya pada dinding bak mandi tersebut. Anak itu pun pingsan.
***
Di sisi lain, Gral yang telah ditinggal oleh Noa akhirnya berjalan pulang, dipandu oleh Elisa. Sambil berlinangan air mata, dia berjalan gontai tanpa memedulikan apapun yang mungkin akan menimpanya. Untungnya, dia masih mau mendengarkan Elisa untuk menempuh rute yang telah diberitahu olehnya.
"Ayo bersemangatlah, Gral. Noa yang kukenal selalu mampu menjalankan misinya dengan baik," ucap Elisa mencoba untuk menghibur Gral. Sayangnya, pria yang ia coba untuk hibur sama sekali tak bergeming.
"Ayolah Gral. Aku yakin Carla dapat ditemukan oleh Noa," ucap Elisa kembali.
"Apa yang kau tahu tentang Carla, hah?" tanya Gral ketus. Kini giliran Elisa yang terdiam. "Anak itu hanyalah satu-satunya orang yang dapat mengingatkanku pada mendiang istriku."
Mereka pun kini dilanda keheningan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Elisa kembali mengarahkan Gral untuk kembali ke Shanaz.
"Aku minta maaf untuk yang tadi," pinta Gral.
"Tidak masalah. Jangan terlalu dipikirkan, oke?"
"Kalau boleh tahu, kenapa Noa tampak begitu marah?"
"Dia tidak suka ketika melihat orang yang cepat putus asa. Kulihat tadi, kau bersikap seolah-olah anakmu telah meninggal akibat kesalahanmu yang tidak mampu menghalau shadow-shadow itu."
"Tapi itu benar, kan? Merupakan kesalahanku sehingga banyak shadow yang harusnya bisa dibunuh oleh Noa, menjadi lepas melewatiku."
"Dengar Gral. Baik aku dan Noa telah bersama-sama selama 10 tahun lebih. Kami pun juga menjalankan misi pertama kali sekitar 7 tahun yang lalu. Jadi kami tahu bagaimana perasaan seseorang yang baru pertama kali menjalankan misi," ucap Elisa. "Noa mungkin terlalu keras padamu, tapi memang itu sifatnya. Dia tidak pernah ingin meraih kegagalan dalam misinya karena yah, mungkin dia tak ingin apa yang menimpanya dulu terjadi pada orang lain."
"Dulu?" tanya Gral penasaran.
"Yah, kedua orang tuanya meninggal tepat di depannya. Mungkin kau bisa mendengar cerita yang lengkap dari Noa secara langsung ketika dia telah lebih terbuka denganmu."
"Hey, Elisa. Apa kau punya tips agar aku dapat menjadi kuat dengan lebih cepat?"
"Hmm... Kalau dulu, sih, kami dilatih secara langsung oleh Tuan Paul. Sayangnya, beliau saat ini telah mengundurkan diri akibat masalah kesehatan. Mungkin kau bisa meminta Maro untuk mengajarimu, nanti akan aku bantu, bagaimana?"
"Apa kau yakin dia mampu membuatku yang menyedihkan seperti ini menjadi kuat?" tanya Gral lagi.
"Semua tergantung padamu. Untuk kemampuan Marco tidak perlu dipertanyakan karena dia adalah anak dari Tuan Paul. Jadi seharusnya dia adalah orang yang paling tepat untukmu saat ini."
Kini senyuman tipis menghiasi wajah Gral. Dia telah menemukan kembali tujuannya dan hal yang harus dilakukannya saat ini. Hal yang ia harapkan hanyalah keberhasilan misi yang dijalankan oleh Noa sendirian.
"Gral! Cepat bersembunyi!" teriak Elsa dari tranceiver. "Tetap diam, ada seseorang yang datang."
Gral yang mendengar perintah Elisa pun segera mencari tumpukan salju dan membaringkan dirinya di sana. Beberapa saat berselang, seorang pemuda nampak berjalan sendirian dari arah Kota Shanaz. Wajahnya ditutupi oleh sebuah masker.
Tiba-tiba pemuda itu berhenti sebentar dan menurunkan maskernya. Dia tampak mengendus-endus untuk beberapa saat sebelum memasang maskernya kembali. Baik Gral maupun Elisa tidak mengetahui siapa pemuda itu akibat tudung kepala yang menutupi kepalanya.
"Aku tahu ada seseorang di sini," ucapnya. "Bisakah kau keluar?"
"Apa yang harus kuperbuat?" tanya Gral kebingungan.
"Untuk saat ini, tetap berbaring. Kau coba untuk menganalisis perilakunya. Kalau kau pikir dia bersahabat, silakan saja keluar dari persembunyianmu. Aku akan coba untuk mencari tahu siapa pemuda itu."
Gral terus berbaring. Akan tetapi, seolah mengetahui keberadaan Gral, pemuda itu berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah. "Ayolah, aku tak berbahaya. Bisakah kau keluar? Aku tak suka jika harus berbicara sendirian seperti ini," ucap pemuda itu sambil menggerakan kepalanya terus menerus, mencari keberadaan Gral.
"Kurasa kau boleh keluar," ucap Elisa. "Sistem mendeteksi suaranya sebagai Gedson, orang yang kita temui di Shanaz beberapa hari yang lalu."
Gral segera meninggalkan persembunyiannya sambil mengangkat kedua tangannya di belakang kepalanya. "I-ini aku, Gral. Apa kau ingat?" tanya Gral sambil tetap menjaga jarak dengan Gedson.
Pemuda yang berada hanya beberapa meter di depan Gral menurunkan tudung kepalanya dan maskernya. Sesuai dengan prediksi Elisa, pemuda itu adalah Gedson. Dia tampak mencoba untuk mengingat-ingat siapa itu Gral.
"Kau tahu, pria yang baru saja dimasukan ke tim Noa bersama dengan Elisa?" ucap Gral untuk meyakinkan Gedson.
"Ah! Gral yang mencari putrinya!" ucap Gedson sambil menepuk kedua tangannya.
"Bagaimana? Apa kau sudah pergi ke Vixen?" tanyanya.
"Belum. Saat ini, Noa tengah mengusir shadow-shadow yang menyerang Kota Trixia," jawab Gral.
"Bukankah kau satu kelompok dengan Noa? Kalau Noa berada di sana sendirian, kenapa kau ada di sini?" tanya Gedson kembali. Akan tetapi, raut wajahnya kali ini telah berubah.
"Kau meninggalkan Noa sendirian?"