Yang Rou We berjalan menuju apartemennya setelah dari minimarket yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, beberapa hari ini dia sering sekali melamun, itu di karenakan lukisan yang dia dapat dari Hanan, lukisan dirinya sendiri dari 4 tahun yang lalu.
Yang Rou We tidak tahu apa sebenarnya yang diinginkan pemuda itu, dulu Hanan sangat antusias untuk bisa dekat dengannya dan setelah Hanan berhasil membuat Yang Rou We membuka pintu hatinya dia malah tidak kunjung masuk kemudian membalikkan tubuhnya pergi begitu saja.
Dan sekarang tiba-tiba dia datang tidak tahu dari mana membuat kehidupan Yang Rou We tidak tenang, sorot mata Hanan masih sama seperti pertama mereka bertemu. Tapi sekarang Yang Rou We bukalah gadis remaja yang bisa dengan mudah di buat bawa perasaan, meski sebenarnya dia masih memiliki perasaan yang sama seperti 4 tahun yang lalu, namun egonya terlalu tinggi, dia tidak ingin sakit hati dan di kecewakan untuk selanjutnya.
Jarak antara apartemen dan minimarket tidaklah jauh namun Yang Rou We berjalan lambat karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan nanti saat berada di apartemen sendirian meski sebenarnya begitu banyak tugas yang menunggunya.
Yang Rou We membuka sebuah cookies coklat dengan toping almond, dia mengigit cookies itu sambil berjalan, namun gigitannya belum sampai putus, ponselmu berbunyi dan Yang Rou We memilih untuk mengambil ponselnya dan meletakan di telinga setelah menekan tombol hijau.
"Emm," gumam Yang Rou We, dia tidak bisa bicara dengan benar karena ada cookies di mulutnya, kedua tangannya juga tidak bebas karena satu memegang ponsel dan satunya lagi menentang paper bag hasil belanjaannya. Belum sempat Yang Rou We mendengar suara yang ada di ponselnya, tubuhnya sudah ditarik ke belakang hingga dia berputar menghadap orang yang menariknya.
"Hanan?" gumam Yang Rou We sambil membulatkan matanya, dia tidak bisa bisa bicara jadi saat ini dia menjadi pendengar untuk Hanan.
"Fokuslah cantik. Anda hampir saja ditabrak sebuah mobil," kata Hanan dengan masih memeluk pinggang Yang Rou We.
Yang Rou We tidak menjawab dia hanya bergumam tidka jelas yang membuat Hanan mengerutkan keningnya untuk mengartikan apa yang sebenarnya di katakan Yang Rou We. Hanan sangat gemas pada gadis yang ada di hadapannya ini apa lagi saat ini dia sedang mengigit cookies di mulutnya, entah keberanian dari mana Hanan ikut mengigit cookies yang masih besar itu yang membuat Yang Rou We lagi-lagi membuka matanya lebar, dan menahan napasnya beberapa saat, dia bahkan tidak berani bergerak sedikitpun di bawah tatapan mata Hanan.
Yang Rou We sama sekali tidak menyangka jika Hanan akan melakukan itu, untuk beberapa saat Yang Rou We terpaku di tempatnya. Ini bukan kali pertamanya Yang Rou We berinteraksi sedekat ini dengan Hanan, namun tetap saja Hanan berhasil membuatnya nampak bodoh di hadapannya.
"Manisnya pas," kata Hanan sambil mengunyah cookies yang dia gigit sambil mengedipkan satu matanya pada Yang Rou We.
Yang Rou We segera tersadar dan melepaskan dirinya dari pelukan Hanan, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia segera pergi dengan langkah besarnya, karena apartemennya sudah dekat jadi tidak sampai lebih lima menit Yang Rou We sudah sampai di tempat tinggalnya, dan bodohnya Yang Rou We saat dia meninggalkan tempat itu dia sama sekali tidak menengok ke belakang. Dia berjalan dengan cepat dan cookies di mulutnya segera di masukkan semuanya ke dalam mulutnya, Yang Rou We mendorongnya mengunakan tangannya yang memegang ponsel, dan panggilan itu sebenarnya masih tersambung.
Saat Yang Rou We masuk ke dalam apartemen miliknya, masih ada Hanan di belakangnya, dan Hanan mengunakan sepatunya untuk mengganjal pintu Yang Rou We, dia juga memiringkan kepalanya untuk melihat Yang Rou We.
"Kenapa kamu mengikuti ku?"
"Apakah ini perlakuan mu pada orang yang baru saja menyelamatkan nyawa mu?"
"Kau ...," Mulut Yang Rou We bergerak-gerak namun dia tidak tahu ingin berbicara apa pada Hanan. Dan akhirnya dia marah pada dirinya sendiri, Yang Rou We kesal dan membiarkan begitu saja pintu apartemennya, dan Hanan menang, dia masuk kemudian menutup pintunya.
Yang Rou We menaruh semua belanjaannya di atas meja begitu pula ponselnya yang sejak tadi masih ada di tangannya, baru setelah itu Yang Rou We sadar jika panggilan itu masih tersambung.
"Hallo," ucap Yang Rou We.
"Maaf. Ada kecelakaannya kecil, aku tidak apa-apa, ini hanya karena bertemu dengan orang aneh," ucap Yang Rou We sambil melirik Hanan yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku akan mencarinya," kata Yang Rou We sambil menuju meja belajarnya, mencari sesuatu yang dia butuhkan.
Hanan hanya melihat-lihat sekeliling apartemen Yang Rou We, tanpa berani menyentuh apapun, sebenarnya Hanan ingin melihat meja belajar Yang Rou We, untuk memastikan jika lukisannya sudah di terima olehnya, tapi nampaknya Yang Rou We masih sibuk di maja belajar, jadi Hanan pergi ke depan jendela kaca besar yang tertutupi oleh tirai, Hanan menyibakkan tirai itu dan membuat dia bisa melihat dunia luar.
Suara ketukan pintu tiga kali membuat Yang Rou We yang masih sibuk dengan ponselnya membuka pintu dan di dapati seorang perempuan.
"Bisa pinjam hairdryer, punyaku rusak. Aku harus mengeringkan rambut ini sebelum aku keluar untuk membelinya?" ucapnya sambil menunjukkan.
"Tunggu sebentar," jawab Yang Rou We, kemudian dia berbalik untuk mengambil hairdryer. Dan di saat itu perempuan itu melihat Hanan yang sedang menatap ke jendela.
"Sejak kapan kamu punya pacar?" tanya wanita itu pada Yang Rou We setelah dia kembali dengan membawa hairdryer.
"Siapa yang punya pacar?" tanya Yang Rou We binggung, dia masih melakukan panggilan, dia benar-benar lupa jika masih ada Hanan di kamarnya.
"Lalu dia siapa?"
Yang Rou We menoleh dan mendapati Hanan yang diam saja, dengan sudah payah dia menelan slavina kemudian mencoba tersenyum.
"Bukan, dia taman."
"Tampan."
"Terimakasih," ucap Yang Rou We sambil sedikit menutup pintu, dia ingin segera tetangganya ini pergi. Yang Rou We mematikan ponselnya yang sebenarnya belum selesai, namun keberadaan Hanan di tempat tinggalnya membuat dia tidak merasa nyaman.
Yang Rou We berjalan mendekati Hanan yang masih nampak damai berdiri di sana, "Hanan pergilah," ucap Yang Rou We dengan nada sangat serius. Hanan menoleh dan mendapati Yang Rou We berdiri di belakangnya tanpa ekspresi.
"Aku baru juga datang, bahkan kamu belum menyuguhi aku minuman, bahkan
dan kamu sudah menyuruh ku pergi?"
"Hanan, tolong pergilah."
"Memangnya kenapa jika aku di sini? Aku juga tidak mengganggumu?"
"Banyak orang salah paham tentangmu, beberapa hari lalu teman-temanku, sekarang tetanggaku, aku lelah menjelaskan pada mereka jika kamu orang asing yang tidak memiliki hubungan apa-apa denganku."
"Jika begitu buat hubungan denganku," Hanan mengambil langkah lebih dekat dengan Yang Rou We.
"Apa pikiranmu terganggu?"
"Benar, wajahmu selalu menghantui aku setelah kita bertemu kembali," jawab Hanan sambil terus mendekati Yang Rou We dan Yang Rou We terus menghindarinya.
"Plis Hanan, pergilah. Biarkan aku hidup dengan baik sekarang, kamu sudah cukup membuat kehidupanku bermasalah dulu, aku sudah menata kembali kehidupanku dan setelah semua sudah baik-baik saja kamu datang lagi, apakah aku sebodoh itu untuk membuat akses masuk lagi untukmu? Aku rasa tidak?" ucap Yang Rou We sambil menggeleng.
"Maaf jika aku membaut kesalahan di masa lalu, tapi aku juga menderita waktu itu karena kamu."
"Aku?" tanya Yang Rou We tidak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Apa yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Yang Rou We dengan wajah bodohnya.
Hanan menatap mata Yang Rou We, dan jarak mereka cukup dekat, kali ini Yang Rou We tidak menghindari Hanan.
"Kenapa kamu memberikan lampu hijau padaku jika kamu sendiri sudah memiliki seseorang di hidupmu," kata Hanan sangat tenang.
"Aku? Kapan?"
"Sudahlah Yang Rou We itu masa lalu, tidak perlu di bahas lagi, bukankah yang terpenting saat ini sama-sama tidak memiliki seseorang di hidup kita?"
"Tidak! Aku merasa ada yang salah. Aku tidak memiliki kekasih saat aku dekat denganmu, apakah kamu punya bukti?"
"Aku tidak memiliki bukti, tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku."
Hanan menceritakan yang di lihatnya 4 tahun yang lalu saat Hanan diam-diam menyusul Yang Rou We dan melihat Yang Rou We memeluk seorang pemuda di tempat umum, yang menjadi awal keretakan kedekatan mereka, hubungan mereka bahkan belum di mulai namun sudah berakhir.
"Kamu menyimpulkan sendiri apa yang aku lihat? tanya Yang Rou We sambil menahan senyumnya.
"Apakah kemungkinan lain?" Hanan balik bertanya.
"Banyak," jawab Yang Rou We, kali ini Yang Rou We tidak bisa menahan tawanya yang membuat Hanan binggung.
"Hanan, Hanan. Kamu lucu sekali," Yang Rou We tertawa sambil menutup matanya, Hanan yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Yang Rou We, Hanan kembali membawa Yang Rou We ke dalam pelukannya, yang membuat Yang Rou We langsung berhenti tertawa karena terkejut dengan perlakuan Hanan padanya.
Mata Yang Rou We yang terbuka lebar bertemu mata Hanan yang menatapnya tajam, yang berjarak sangat dekat dengannya.
"Apakah ada yang lucu?" tanya Hanan.
"Lepaskanlah," jawab Yang Rou We.
"Jawab dulu pertanyaan ku?"
"Kamu lucu Hanan, kamu menyimpulkannya sesuatu berdasarkan hanya apa yang kamu lihat, seharusnya kamu bertanya dulu padaku siapa dia, bukan malah mengartikan sesuatu yang belum pasti."
"Yang Rou We?!" Hanan ingin pertanyaan segera di jawab bukan berbelit-belit seperti ini.
"Kakak ku," jawab Yang Rou We.
"Ha?"
"Dia kakak ku, puas?" Yang Rou We menekannya pada kakak.
"Apa kamu tidak berbohong?" Hanan memastikan.
"Apakah aku terlihat sedang membohongimu? Lagipula itu tidak akan merubah apapun," jawab Yang Rou We menohok, dia nampak kesal dan segera ingin lepas dari pelukan Hanan, namun Hanan tidak membiarkan dirinya pergi malah semakin mempererat pelukannya.
"Hanan, lepaskan aku," Itu bukan permintaan melainkan perintah.
"Tidak akan aku lepaskan lagi," jawab Hanan sambil dengan gerakan cepat mencuri sesuatu yang ada di depan matanya, yang membuat Yang Rou We dengan otomatis memejamkan matanya karena dia tidak bisa melihat apapun hanya ada wajah Hanan yang berjarak beberapa senti saja darinya.
Pertemuan itu cukup lama hingga Yang Rou We merasa kesulitan bernapas membuat dia otomatis memukul pundak Hanan baru setelah itu Hanan melepaskan tautan itu, Yang Rou We mendorong d**a Hanan agar tubuh laki-laki itu memiliki sedikit jarak dengannya, namun dia tidak cukup memiliki tenaga besar jika di bandingkan dengan Hanan, Hanan kali ini benar-benar tidak ingin melepaskan Yang Rou We dengan mudah, Hanan masih menginginkan Yang Rou We di dekapannya satu kecupan mendarat di pelipis Yang Rou We, yang membuat Yang Rou We menghangat karena ketulusan yang di berikan Hanan untuknya. Namun dia masih tidak ingin membalas pelukan Hanan karena dia teringat bagaimana pemuda ini sudah menumpahkan banyak air mata.
"Maafkan aku," gumam Hanan sambil menutup matanya dengan Yang Rou We masih ada di pelukannya. Yang Rou We tidak menjawab Hanan, setelah menunggu beberapa saat gadis di pelukannya ini tidak mengatakan apapun Hanan membuka matanya kemudian menangkup wajah Yang Rou We menatapnya dengan tatapan penuh kasih.
Wajah mereka sangat dekat hidung mereka tinggal beberapa sentimeter sudah bertabrakan.
"I love you."
Gumam Hanan kemudian menyatukan kembali milik mereka namun hanya sentuhan ringan, setelah itu Hanan menempelkan kening mereka.
"I love you," gumam Hanan lagi.
"Maafkan kebodohan ku, kecerobohan dan kekanak-kanakan ku."
"Karena kebodohanmu, kamu membuatku sakit," kata Yang Rou We.
"Kamu bisa menghukum ku sekarang, lakukan kan apapun yang membuatmu bahagia, aku akan melakukan segalanya untukmu."
"Terlalu banyak bicara," kata Yang Rou We sambil menendang tulang kering Hanan, yang membuat laki-laki itu langsung melepaskan Yang Rou We dan memegangi kaki kirinya yang baru saja mendapatkan tendangan dari Yang Rou We.
"Kenapa kamu menendang ku?" tanya Hanan sambil menahan rasa sakit di kakinya.
"Bukankah baru saja kamu mengatakan jika aku bisa melakukan apapun? Itu hanya sebuah tendangan dan kamu sudah mempertanyakannya?"
"Ooh astaga, wanita ini mengapa sangat mengemaskan," Hanan akan kembali memperangkap Yang Rou We dalam pelukannya namun gadis itu segera menghindar, dan jadilah dua bayi besar sedang berlarian mengitari ruangan ini.
Yang Rou We berlari ke segala arah agar tidak tertangkap oleh Hanan, namun tempat ini tidak begitu bagus untuk main kejar-kejaran, Yang Rou We dengan cepat kembali tertangkap oleh Hanan, dan benar saja Hanan memeluknya sangat erat, tidak ada yang bicara mereka sibuk dengan pernapasan mereka yang belum teratur.
"Aku mohon, jangan pergi lagi dari hidupku, aku mohon."
Hanan menenggelamkan wajahnya di pelukan Yang Rou We, dia mengulangi beberapa kali perkataannya, Yang Rou We tidak bisa berbuat banyak. Dia hampir luluh dengan ketulusan yang di tunjukkan Hanan padanya.