"Rou We."
Suara ayahnya menghentikan langkah Yang Rou We yang sedang menapaki anak tangga, dia segera ingin menghilang dari pandangan semua orang yang ada di rumah ini setelah membuat Hanan secepat mungkin meninggalkan sarang singa ini.
Yang Rou We berhenti di anak tangga namun dia tidak menoleh dia sedang menahan amarahnya juga di dalam hatinya.
"Turun," kata ayahnya.
Yang Rou We membalikkan tubuhnya dan langsung bertabrakan dengan tatapan ayahnya yang dengan tajam melihat Yang Rou We.
"Turun," untuk kesekian kalinya.
"Untuk apa? Apa ayah kurang puas mempermalukan aku di depan Hanan?" Namun tetap saja Yang Rou We kembali turun dan duduk di depan ayahnya dengan semua mata tertuju padanya, Yang Yuan dan ibunya hanya menjadi penonton tidak berani mengeluarkan pendapat mereka, karena hanya ayah mereka itu sudah lebih dari cukup untuk membuat ruangan ini suhunya naik beberapa derajat.
"Apa menurutmu kamu tidak melukai perasaaan ayah?"
"Aku menyembunyikan semuanya selama ini hanya untuk ayah, aku tahu ini akan menyakitimu dan aku belum siap mengatakan semuanya."
"Jika kamu tahu ini salah kenapa masih melanjutkannya, waktu lima tahun itu sangat lama Yang Rou We, itu akan semakin sulit untuk kamu lepas dan melupakan, percayalah kamu hanya akan mendapatkan luka karena hubunganmu dengan laki-laki itu. Dia sangat berbeda dari kita, dari hal kecil saja seperti makan saja dia tidak sudah berbeda, kamu tahu jika ini salah tapi kamu menutup matamu sendiri karena cinta buta yang kamu miliki untuknya."
"Tapi setidaknya biarkan aku bahagia untuk saat ini, ayah."
"Tidak, kamu sudah terlalu lama berhubungan dengannya. Sudah waktunya untuk mengakhiri hubungan kalian, kamu sudah saatnya menikah, dan bukan lagi menjalani hubungan hanya kesenangan semata, aku akan mencarikan jodoh untukmu. Jika kamu tidak bisa mengakhiri hubungan mu dengan laki-laki itu biarkan ayah yang mengakhirinya."
"Tidak ayah, aku dan Hanan sangat serius, kami sudah lama saling mencintai."
"Serius kamu bilang? Serius macam apa yang kamu bicarakan? Apakah Hanan akan datang untuk melamar mu?"
Untuk hal ini Yang Rou We tidak punya jawabannya, karena sampai detik ini Hanan sama sekali tidak pernah membahas akan pernikahan, mereka hanya menjalani hubungan ini mengalir begitu saja, saling mengisi kehidupan satu sama lain, mewarnai kehidupan mereka dengan cinta kasih yang mereka berikan ke satu sama lain. Yang Rou We pernah berpikir apakah Hanan nantinya akan menjadi satu-satunya orang yang akan menemaninya sampai tua, Yang Rou We tidak pernah membahas pernikahan sama sekali dengan Hanan karena pembahasan itu cukup sensitif, Yang Rou We takut jika karena satu pertanyaannya akan membuat celah kecil di hubungan mereka, Yang Rou We takut masalah yang dia buat sendiri akan membangunkan Yang Rou We dari mimpi indah yang sudah dia jalani bertahun-tahun dengan Hanan.
Yang Rou We memang tidak yakin hari tuanya masih akan bersama dengan Hanan dalam ikatan sebuah hubungan yang lebih serius tapi Yang Rou We sangat yakin jika Yang Rou We menjadi satu-satunya orang yang di cintai oleh Hanan sampai detik ini.
"Kenapa diam? Apakah Hanan pernah menjanjikan akan menikahi mu?" Pertanyaan dari ayahnya ini menampar kenyataan, ayahnya mengatakan hal yang tidak pernah bisa Yang Rou We katakan pada laki-laki yang sangat dia cintai.
"Yang Rou We sadarlah sampai kapan kamu akan di pase ini? Usiamu bukan lagi untuk di mana kamu terus bersenang-senang, jika bukan kamu yang meninggal Hanan, cepat atau lambat Hanan yang akan meninggalkan mu."
Yang Rou We langsung mengangkat kepalanya dan melihat mata ayahnya yang sedang menatapnya, dia dalam hatinya dia berontak, menyangkal apa yang dia katakan ayahnya, meski kemungkinan itu pasti ada.
"Tidak, Hanan tidak akan meninggalkan aku, kami saling mencintai. Kami tidak akan mengkhianati satu sama lain," kata Yang Rou We di dalam hatinya, dia merasakan jika matanya terasa panas dan nampaknya mata Yang Rou We dengan otomatis memproduksi air mata dan kini masih tertahan di matanya.
"Sekarang begini saja, seandainya. Seandainya Hanan berniat menjadikan kamu istrinya, dia datang melamar mu, jika ayah mengajukan satu syarat padanya apakah dia bisa melakukannya? Aku ingin dia yang mengikuti agama dan tradisi kita. Bagiamana dengan itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Yang Rou We lemah.
"Jika dia benar-benar bersungguh-sungguh mencintaimu aku rasa dia bisa melakukannya, tapi menurutku itu tidak akan berhasil karena dia tidak hidup sendirian di dunia ini, masih ada keluarganya, dia dari keluarga terpandang, dan keluarganya akan meminta hal yang sama dengan apa yang aku ajukan, sampai kapanpun ini tidak akan berhasil."
"Ayah ...?"
"Tunggu," Ayah Yang Rou We memotong perkataan Yang Rou We yang belum mengatakan apapun untuk pendapatnya.
"Apapun yang akan kamu katakan itu tidak akan merubah fakta, pikirkan dulu pembelaan apa yang akan kamu berikan padaku, dan rundingan hal ini dengan laki-laki itu. Jika dia masih ingin mempertahankan mu maka dia harus memenuhi persyaratan yang aku ajukan, jika tidak maka semuanya selesai. Aku tidak peduli jika dia dari keluarga biasa, memiliki kemampuan yang biasa-biasa saja, derajatnya lebih rendah dari keluarga kita, tapi aku tegaskan dia harus bisa mengimbangi keluarga kita. Wajah tampan, kaya dan pekerjaan sebagai dokter itu tidak akan berarti apa-apa di mataku jika dia bukan dari golongan yang sama seperti kita. Ingat itu."
Dan laki-laki itu beranjak dari tempatnya kembali ke kamarnya, meninggalkan Yang Rou We yang menundukkan kepalanya dia mulai terisak. Yang Yuan dan ibunya adalah pendukung ayah mereka, mereka tidak bisa tetap duduk diam melihat gadis ini terisak, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan Yang Rou We waktu sendiri, biarkan dia berpikir dan merenung semua hal yang membuat perselisihan di antara keluarga mereka.
Kini di ruangan ini tinggal Yang Rou We sendirian dengan masih berlinangan air mata, air mata itu benar-benar tumpah ketika dia sendirian, Yang Rou We ingin cepat kembali ke kamarnya dan menangis sepuasnya di tempat ternyaman untuknya, tapi dia tidak memiliki tenaga untuk menaiki tangga menuju kamarnya, dia tersedu tanpa suara di sofa, tempat yang terasa dingin tanpa ada kehidupan lain selain dirinya.
Ponsel Yang Rou We bergetar di sakunya, dan Yang Rou We tahu jika itu dari Hanan karena Yang Rou We memasang nada dering yang khusus untuk Hanan, dia mengambil ponselnya, dia tidak bisa menerima panggilan dari Hanan di saat seperti ini tapi itu tidak pernah berhenti berdering yang membuat Yang Rou We akhirnya mengangkatnya.
Yang Rou We tidak mengatakan apapun setelah mengangkat panggilan itu dan Hanan pun juga diam saja, Panggilan itu sudah lima menit tapi tetap tidak ada yang bersuara hingga Hanan mengatakan satu hal pada Yang Rou We yang membuat Yang Rou We semakin terisak.
"Tolong, berhenti menangis," kata Hanan dengan suara lemahnya.
Yang Rou We bukannya berhenti malah semak menjadi karena dia menebak jika Hanan mengetahui pertengkaran dirinya dan ayahnya, karena Yang Rou We sebisa mungkin tidak menunjukkan jika dirinya sedang menangis.
"Aku sakit melihatmu menangis," lanjut Hanan.
"Sudah cukup air matamu terbuang sia-sia karena aku, pergilah istirahat. Mimpi yang indah karena aku akan datang lagi besok untuk melamar mu."
Seakan jantung Yang Rou We berhenti mendengar pertanyaan dari Hanan, bukan karena Hanan akan melamarnya besok tapi yang membuat Yang Rou We kaget adalah bagaimana dia bisa mengetahui apa yang baru saja di ributkan di rumah ini, kecuali jika Hanan juga ada di sini.
Yang Rou We menoleh ke pintu dan mendapati seorang pemuda yang berdiri di depan jendela dengan ponsel di telinganya, Yang Rou We langsung melemparkan ponselnya dan berlari keluar rumah, melemparkan tubuhnya pada pemuda di hadapannya, Yang Rou We memeluk erat tubuh Hanan dan Hanan pun membalas pelukan itu, tidak ada yang berbicara mereka jatuh di dalam kesunyian, saling diam tapi saling menguatkan satu sama lain.
Kamu tahu apa yang di sukai seorang wanita selain uang, yaitu sebuah kepastian.