Meja makan itu punya tujuh kursi. Dulu ketujuhnya selalu penuh, bahkan kerap kali kurang sebab Deon punya kebiasaan menarik kursi tambahan hanya untuk menaruh panci.
Malam ini, hanya tiga yang terisi.
Brian menaruh panci sup di tengah meja, lalu duduk di kursinya yang biasa. Darel sudah lebih dulu duduk dengan rambut yang masih basah sehabis mandi, sedang Nevan menempati kursi paling ujung sembari menyiapkan satu nampan terpisah.
"Nevan, kau makan di sini saja. Nampan itu bisa kau bawa setelah kita selesai." Kata Brian.
Nevan sempat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan meletakkan kembali nampan tersebut di sisi meja. Ketiganya mulai menyantap makan malam dalam hening yang terasa terlalu panjang. Hanya ada bunyi sendok yang beradu dengan mangkuk.
"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Brian, memecah sunyi.
Darel menelan suapannya lebih dulu sebelum menjawab, "lancar, Kak. Minggu depan ada tugas kelompok."
"Kelompok? Bersama siapa?"
"Teman-teman satu kelas." Jawab Darel singkat, kemudian ia menyendok kuah supnya. "Tapi mereka pasti akan menyuruhku mengerjakan bagian yang paling banyak."
"Kenapa begitu?"
"Karena aku tidak bisa menolak."
Brian terkekeh kecil, "kau memang seperti itu sejak dulu."
Nevan tidak ikut tertawa. Lelaki itu hanya menatap mangkuknya, mengaduk kuah yang sebenarnya sudah tidak perlu diaduk. Brian meliriknya sekilas, kemudian memilih untuk tidak mengganggu.
"Kak Mirza tidak makan?" Tanya Darel.
"Sudah kupanggil dua kali." Jawab Brian.
"Kak Aksa?"
"Tiga kali."
Darel menghela napas, lelaki itu kembali menyuap makanannya tanpa berkata apa-apa lagi. Ada sesuatu yang menyesakkan dari meja makan yang terlalu lapang ini, tapi tak satu pun dari mereka bertiga yang berani menyebutkannya dengan lantang.
***
Nevan mengetuk pintu kamar Arvin dua kali sebelum masuk, meski ia tahu betul pemilik kamar itu tidak pernah mempermasalahkan apakah pintunya diketuk atau tidak.
"Makan malam, Tuan!"
"Aku sudah menunggu sejak tadi!" Seru Arvin, langsung menegakkan punggungnya.
Nevan menyiapkan meja kecil di atas ranjang, meletakkan nampan di sana, kemudian menempati kursi yang memang selalu ada di sisi ranjang Arvin. Kursi yang sudah nyaris menjadi milik Nevan seorang.
Arvin menyantap makanannya dengan lahap. Bagi Nevan, itu pemandangan yang selalu bisa membuat dadanya sedikit lebih longgar.
"Sup buatan Kak Brian tidak seburuk yang orang-orang bilang." Komentar Arvin di sela kunyahannya.
"Kau bicara begitu karena kau lapar."
"Mungkin."
Setelah mangkuk itu bersih, arloji di tangan kiri Nevan berbunyi. Lelaki itu menekan salah satu tombolnya, lalu meraih tiga botol yang berjejer rapi di atas nakas.
Satu kapsul.
Dua kapsul.
Dan pada kapsul terakhir, Arvin memandanginya lama sekali, memutar-mutarnya di antara jemari seolah benda kecil itu adalah sesuatu yang harus dipelajari.
"Kenapa?" Tanya Nevan.
"Tidak. Hanya penasaran." Jawab Arvin. "Vitamin apa yang harus diminum tiga kali sehari selama satu tahun, Nevan?"
Detik itu juga Nevan merasa ada yang mencengkeram tengkuknya dari belakang. Namun lelaki itu berhasil menyimpulkan senyum, senyum yang sudah ia latih berpuluh kali di depan cermin.
"Vitamin yang mahal, Kak. Jadi jangan disia-siakan."
Arvin menatapnya sebentar, lalu terkekeh dan menelan kapsul itu. "Baiklah, baiklah."
Nevan membereskan nampan, membenarkan letak selimut Arvin, lalu menutup gorden seperti yang biasa diminta rekannya itu.
"Nevan."
"Ya, Kak?"
"Terima kasih."
Nevan sempat berhenti di ambang pintu. Punggungnya masih membelakangi Arvin, sehingga lelaki itu tidak bisa melihat bagaimana wajah Nevan berubah.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
"Kau bicara seperti orang yang mau pergi jauh saja."
"Ehey! Aku hanya berterima kasih!"
"Ya sudah, tidur sana!" Ujar Nevan, kemudian buru-buru menutup pintu.
Di lorong, lelaki itu bersandar sejenak ke dinding sambil memejamkan mata, menunggu detak jantungnya kembali ke tempo semula.
***
Di dapur, Darel menggulung lengan kausnya dan mulai mencuci mangkuk-mangkuk bekas makan malam. Brian berdiri di sebelahnya, mengelap peralatan yang sudah bersih dan menatanya kembali ke rak.
"Kak," panggil Darel.
"Hm?"
"Apa Kak Aksa masih membenciku?"
Gerakan tangan Brian sempat terhenti. Lelaki itu meletakkan gelas yang baru saja dilapnya, kemudian menoleh ke arah rekan termudanya yang masih menunduk menatap busa di dalam bak cuci.
"Aksa tidak membencimu."
"Dia bilang seharusnya aku yang mati."
"Darel."
"Aku tidak marah, Kak. Aku hanya…" Darel menghentikan cuciannya sejenak. "Aku hanya berpikir, kalau memang aku yang seharusnya ada di posisi Kak Deon, kenapa aku masih di sini?"
Brian menghela napas panjang. Ia meraih kain lap yang tersampir di bahunya, lalu mengusapkan tangannya sendiri di sana.
"Orang yang sedang sakit itu akan melempar apa pun yang ada di dekatnya, Darel. Kebetulan saja kau yang paling dekat." Kata Brian. "Itu bukan berarti dia ingin melukaimu."
Darel tidak menjawab. Ia hanya kembali menggosok mangkuk yang sebenarnya sudah bersih sejak tadi.
"Habiskan cucianmu, lalu tidur. Besok kau kuliah pagi, bukan?"
"Iya, Kak."
Brian menepuk pundak Darel dua kali, kemudian melangkah meninggalkan dapur. Namun sebelum benar-benar pergi, lelaki itu sempat menoleh sekali lagi.
"Darel."
"Ya?"
"Kau masih di sini karena memang seharusnya begitu. Jangan pernah kau tawar-menawar lagi soal itu."
Darel mengangkat wajahnya, tapi Brian sudah lebih dulu berlalu.
***
Pintu depan terbuka menjelang pukul sebelas malam.
Darel yang baru saja selesai membereskan dapur pun menoleh, mendapati Aksa melangkah masuk dengan jaket yang sudah dilepas dan ditenteng di lengan kanan. Rambutnya berantakan, dan lingkar hitam di bawah matanya terlihat semakin jelas.
"Kak Aksa." Sapa Darel.
Aksa tidak menjawab. Lelaki itu berjalan lurus menuju lemari pendingin, membukanya, lalu berdiri di sana cukup lama tanpa mengambil apa pun.
"Tidak ada apa-apa di dalam sana, Kak."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa dibuka?"
"Karena dingin."
Darel mengerutkan keningnya. "Kau membuka lemari pendingin karena kau kedinginan?"
"Karena aku ingin merasa lebih dingin lagi." Jawab Aksa sambil menutup pintu lemari itu. "Ada masalah?"
Darel menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
Aksa berbalik, hendak melangkah menuju anak tangga. Namun langkahnya terhenti tepat ketika ia melewati Darel.
"Kau belum tidur." Katanya, tanpa menoleh.
"Aku baru selesai mencuci piring."
"Besok kau kuliah pagi."
"Iya."
"Kalau begitu tidur."
Kemudian Aksa melanjutkan langkahnya, menaiki anak tangga satu persatu tanpa menunggu jawaban.
Darel berdiri di sana, memandangi punggung rekannya itu sampai hilang di lantai atas.
Dua tahun lalu, kalimat semacam itu akan diikuti oleh jitakan di dahi, atau ancaman bahwa jatah s**u-nya akan disita, atau ejekan tentang tinggi badannya. Sekarang tinggal kalimatnya saja, telanjang, tanpa apa-apa lagi di belakangnya.
Tapi kalimat itu tetap ada.
Dan bagi Darel, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya menyimpulkan senyum sebelum akhirnya mematikan lampu dapur.
***
Anak tangga menuju lantai tiga itu jarang dilewati siapa pun belakangan ini. Brian menapakinya perlahan, satu persatu, sampai kakinya berhenti di depan sebuah pintu yang selama dua tahun terakhir tidak pernah dibuka.
Kamar Deon.
Brian tidak menyentuh gagang pintunya. Ia hanya berdiri di sana, kedua tangan disembunyikan di balik saku celana, memandangi permukaan kayu itu seolah dari sana akan keluar seseorang dan menegurnya karena belum tidur.
"Kalau kau masih ada di sini, kau pasti sudah mengomeliku sejak tadi." Ucap Brian pelan. "Kau pasti bilang, Brian, kau ini pemimpin macam apa sampai membiarkan meja makan kosong begitu?"
Tidak ada yang menjawab. Tentu saja.
Brian menundukkan kepalanya, "aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Kak."
Angin dari jendela lorong berembus, membuat lelaki itu sedikit menggigil. Pun akhirnya Brian membalikkan badan, menuruni anak tangga dan kembali ke kamarnya sendiri.
***
Lewat tengah malam, rumah tiga lantai itu akhirnya benar-benar sunyi. Televisi di kamar Mirza sudah dimatikan. Lampu kamar Darel padam lebih dulu. Brian menyerah pada tumpukan berkas perusahaan yang dibawanya pulang, dan tertidur dengan lampu meja yang masih menyala.
Hanya satu kamar yang lampunya tetap hidup.
Nevan duduk bersandar di kaki ranjangnya, memandangi tiga botol obat yang sengaja ia bawa ke kamarnya untuk dihitung ulang. Isinya berkurang persis sesuai jadwal. Tidak ada yang salah. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Namun entah kenapa, Nevan merasa dirinya sedang berdiri di atas sesuatu yang perlahan retak.
"Besok kita periksa lagi. Kalau dokter bilang tidak apa-apa, berarti tidak apa-apa." Katanya kepada dirinya sendiri, seperti orang yang sedang membujuk anak kecil.
Lelaki itu menyandarkan kepalanya ke tepian ranjang, memejamkan mata, dan membiarkan malam berjalan tanpa dirinya.