Aksa membuka matanya ketika matahari sudah berada di titik paling malas.
Lelaki itu tidak langsung bangkit. Ia hanya berbaring di sana, menatap langit-langit kamarnya, mencoba mengumpulkan satu persatu kepingan kesadarannya yang berserakan entah ke mana.
Punggungnya nyeri. Lehernya kaku. Mulutnya terasa kering seperti pasir. Tapi anehnya, ini kali pertama dalam berminggu-minggu ia bangun tanpa merasa seperti sedang dikejar sesuatu.
Aksa meraba-raba ke samping, menemukan ponselnya yang tertindih lengannya sendiri.
Layar menyala.
Tidak ada panggilan tak terjawab.
Tidak ada pesan.
Tidak ada apa pun.
Aksa mengerjapkan matanya, lalu memeriksanya sekali lagi, lebih teliti. Barangkali ada notifikasi yang tersembunyi, barangkali sinyalnya sempat hilang, barangkali ponselnya sendiri yang bermasalah.
Nihil.
"Aneh." Gumamnya.
Sejak sebulan belakangan, benda ini tidak pernah berhenti berdering. Orang itu meneleponnya di jam berapa pun, di hari apa pun, seolah tidak pernah tidur sama sekali. Dan kini, tepat setelah Aksa mengirimkan segala yang diminta serta membayar sejumlah yang ditagih, semuanya mendadak sunyi.
Aksa duduk di tepian ranjang, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
Ada dua kemungkinan.
Pertama, orang itu memang sedang mengerjakan bagiannya, persis seperti yang ia janjikan.
Kedua, orang itu sudah mendapatkan apa yang ia mau, dan tidak akan pernah muncul lagi.
Aksa menghela napas panjang, kemudian meletakkan ponselnya menghadap ke bawah di atas nakas.
"Baru satu hari." Katanya pada dirinya sendiri. "Baru satu hari, Aksa."
***
Ketika Aksa turun ke lantai bawah, rumah itu sudah kosong.
Di atas meja makan ada sepiring makanan yang ditutup tudung saji, lengkap dengan secarik kertas yang diselipkan di bawah piring.
"Hangatkan dulu. Jangan dimakan dingin-dingin. — Brian"
Aksa memandangi tulisan itu cukup lama.
Dulu, catatan semacam ini selalu ditulis oleh orang lain, dengan tulisan tangan yang jauh lebih rapi dan kalimat yang jauh lebih cerewet. Biasanya diakhiri dengan ancaman bahwa jatah camilan akan disita apabila makanannya tidak dihabiskan.
Lelaki itu meremas kertas kecil tersebut, lalu melemparnya ke tempat sampah.
Namun beberapa detik kemudian, ia mengambilnya kembali, meluruskannya di atas meja, dan menyimpannya di dalam saku.
"Cih. Menyebalkan." Umpatnya entah pada siapa.
***
Sementara itu, di rumah sakit, Darel sudah bisa duduk tegak tanpa bantuan.
"Lihat! Aku bisa!" Serunya bangga, sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Duduk saja kau banggakan." Cibir Nevan yang duduk di kursi samping ranjang.
"Kemarin aku bahkan tidak bisa mengangkat kepalaku sendiri, Kak!"
"Ya, ya. Selamat. Kau hebat sekali." Balas Nevan datar sambil mengupas sebuah apel.
Meski nadanya begitu, sudut bibir Nevan terangkat sedikit. Dan Darel, dengan mata bulatnya yang polos itu, jelas melihatnya.
"Kak Nevan."
"Apa?"
"Kau tersenyum."
"Tidak."
"Kau tersenyum!"
"Kubilang tidak!"
"Kak Brian! Kak Nevan tersenyum padaku!"
"Diam kau bocah!"
Brian yang berdiri di dekat jendela hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, memerhatikan dua rekannya yang akhirnya kembali saling melempar ejekan seperti dulu. Sudah terlalu lama ia tidak melihat pemandangan seperti ini.
Namun kemudian, tawa itu mereda dengan sendirinya.
"Kak," panggil Darel. "Bagaimana keadaan Kak Mirza?"
Brian dan Nevan sempat saling melempar tatap sebelum akhirnya Brian yang menjawab.
"Masih sama."
"Sudah berapa hari?"
"Jangan dihitung, Darel."
"Aku hanya ingin tahu."
Brian menghela napas, kemudian menghampiri ranjang dan menempatkan diri di tepiannya. "Yang perlu kau tahu adalah dia masih di sini, dan itu sudah cukup."
Darel menundukkan kepalanya, memainkan ujung selimutnya sendiri.
"Aku sempat memegangnya, Kak." Lirihnya. "Di dalam air. Aku sempat memegang tangannya."
"Aku tahu."
"Kalau saja aku lebih cepat sedikit…"
"Darel." Brian meraih bahu rekannya itu. "Kalau kau lebih lambat sedikit, kalian berdua yang tidak akan kembali. Jadi jangan pernah lagi kau ucapkan kalimat semacam itu."
Darel mengangguk pelan, meski matanya sudah berkaca.
Dan di sudut ruangan, tepat di dekat lemari kecil yang menyimpan barang-barang pasien, sesosok arwah berdiri diam sembari menyimak seluruh percakapan itu.
"Aku di sini, bodoh." Ucap Mirza, meski ia tahu betul tak akan ada yang mendengarnya. "Aku bahkan berdiri lebih dekat kepadamu daripada Kak Brian."
Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping ranjang Darel, lalu mengulurkan tangannya hendak menepuk bahu lelaki itu.
Tangannya menembus begitu saja.
Mirza menatap telapak tangannya sendiri, kemudian mengepalkannya kuat-kuat.
"Sialan."
***
Di koridor, setelah keluar dari kamar Darel, Nevan berjalan beriringan dengan Brian. Sebundel berkas masih ia dekap di depan d**a, sama seperti kemarin, dan kemarinnya lagi.
"Kau membawanya lagi?" Tanya Brian.
"Bagaimana kalau tiba-tiba ada kesempatan?"
"Nevan, kau membawa berkas medis ke mana-mana seperti orang membawa bekal makan siang."
"Aku hanya ingin siap, Kak."
Brian berhenti melangkah, membuat Nevan ikut berhenti.
"Kau takut."
"Aku tidak takut."
"Kau takut kalau mereka akan marah padamu." Ujar Brian. "Terutama Aksa."
Nevan tidak menjawab. Dekapannya pada bundel berkas itu justru mengerat.
"Dia pasti akan marah, Nevan. Aku tidak akan berbohong padamu." Kata Brian. "Tapi marah itu jauh lebih baik daripada terus menerus tidak tahu apa-apa."
"Kalau dia menyalahkanku bagaimana?"
"Maka aku akan berdiri di sebelahmu."
Nevan mengangkat wajahnya, menatap Brian, dan untuk sesaat ia hampir kembali menangis. Namun lelaki itu buru-buru mengalihkan pandangan sambil berdehem.
"Ekhem. Baiklah. Terserah kau saja."
"Kau gengsi sekali."
"Aku tidak gengsi!"
"Kau menurunkan hidungmu setiap kali gengsi, Nevan. Aku sudah hafal."
"KAK BRIAN!"
Beberapa perawat yang lewat sempat menoleh, membuat dua lelaki itu langsung menunduk dan mempercepat langkah sambil berbisik-bisik saling menyalahkan.
***
Menjelang sore, pintu kamar Darel kembali terbuka.
Kali ini tanpa ketukan, tanpa sapaan, dan tanpa suara apa pun selain bunyi engsel.
"Kak Aksa!" Seru Darel, matanya seketika berbinar.
Aksa tidak menjawab. Lelaki itu melangkah masuk, meletakkan sebuah kantung plastik hitam di atas nakas, lalu menempatkan diri di kursi samping ranjang dengan kedua tangan yang tetap disembunyikan di balik saku jaketnya.
"Apa ini, Kak?"
"Bukan untukmu."
"Lalu untuk siapa?"
"Untuk siapa pun yang kebetulan berada di ranjang ini."
Darel terkekeh, kemudian meraih kantung itu dan membukanya. Di dalamnya ada dua kotak s**u rasa pisang, sebungkus roti, dan beberapa bungkus camilan.
"Kak Aksa, kau ingat!"
"Aku tidak ingat apa-apa."
"Kau ingat!"
"Diam, Darel."
Darel tertawa lebar sambil menusukkan sedotan ke kotak s**u itu.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Aksa memandang keluar jendela, sementara Darel menyesap s**u-nya sambil sesekali melirik ke arah rekannya itu.
"Kak."
"Hm."
"Kau kelihatan tidak tidur."
"Aku memang tidak tidur."
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu."
Darel meletakkan kotak s**u-nya. "Kak Aksa."
"Apa lagi?"
"Kalau ada sesuatu, kau bisa bilang pada kami."
Aksa akhirnya menoleh. Sorot matanya yang kecil dan tajam itu bertemu dengan mata bulat Darel yang masih sama polosnya seperti belasan tahun lalu di panti asuhan.
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang bergerak di wajah datar itu.
Lalu hilang lagi.
"Habiskan obatmu." Ujar Aksa sambil menunjuk tiga butir kapsul yang masih tergeletak di atas nakas dengan dagunya. "Suster bilang kau selalu menyisakan satu."
"Yang bulat itu pahit sekali, Kak."
"Kalau kau tidak menghabiskannya, aku tidak akan datang lagi."
"Ey! Baiklah! Baiklah!"
Darel meraih ketiga kapsul itu dan menelannya sekaligus sambil memasang wajah menderita yang berlebihan. Aksa hanya menggelengkan kepalanya.
Kemudian lelaki itu bangkit dari kursinya.
"Kak, sudah mau pulang?"
"Ada yang harus kutunggu."
"Menunggu apa?"
Aksa berhenti di ambang pintu, tapi tidak menoleh.
"Sesuatu yang sudah kutunggu selama dua tahun."
Dan sebelum Darel sempat bertanya lebih jauh, pintu itu sudah tertutup.
***
Malam itu, rumah tiga lantai itu kembali diisi oleh tiga orang penghuni.
Brian di ruang depan, tenggelam dalam berkas perusahaan yang tak pernah habis. Nevan di kamarnya, memandangi bundel kertas yang akhirnya ia letakkan kembali di dalam laci nakas.
Dan Aksa, di kamarnya sendiri, duduk bersandar di kursi kerjanya dengan layar komputer yang sengaja tidak ia nyalakan.
Di atas meja, ponselnya tergeletak menghadap ke bawah.
Aksa memandanginya dari sudut mata. Sekali. Dua kali. Lalu ia memutar kursinya, membelakangi meja itu sepenuhnya, seolah dengan begitu ia bisa berhenti memedulikannya.
Tidak sampai lima detik, kursinya berputar kembali.
Aksa meraih ponsel itu, membaliknya, dan menyalakan layarnya.
Kosong.
"Sabar." Katanya pada dirinya sendiri. "Kau sudah menunggu dua tahun. Masa satu hari saja tidak bisa."
Namun tetap saja, sepanjang malam itu Aksa tidak benar-benar tidur. Setiap kali ia hampir terlelap, tangannya bergerak sendiri meraih ponsel di atas nakas, memeriksa layar yang tetap gelap, lalu meletakkannya kembali.
Berulang-ulang.
Sampai pagi datang.