Ada seseorang berdiri di sana.
Mirza mengerjapkan matanya sekali, dua kali, memastikan bahwa yang dilihatnya bukan bayangan yang terbentuk dari gelap.
Sosok bertubuh mungil dengan kulit yang terlalu putih. Kaus hitam polos, celana jeans, dan jaket yang kancingnya tak satu pun terpasang. Kedua tangannya disembunyikan di balik saku, persis seperti biasanya.
Wajahnya datar. Matanya kecil dan tajam.
"Kak… Aksa?"
Sosok itu tidak menjawab. Ia hanya mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan, seakan sedang mencoba mengingat di mana dirinya berada.
Mirza bangkit terlalu cepat sampai hampir terhuyung.
"Kak Aksa!"
Kali ini sosok itu menoleh.
Dan tepat pada detik ketika kedua mata mereka bertemu, Mirza merasakan sesuatu di dalam dadanya jatuh sampai ke dasar yang paling dalam.
Sebab hanya ada satu alasan mengapa Aksa bisa melihatnya.
"Tidak." Mirza menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, tidak, tidak."
"Berisik." Ujar Aksa.
Suara itu. Nada malas yang sama. Kalimat pendek yang sama.
Mirza berlari, menghambur, mendekap tubuh rekannya itu sekuat yang ia bisa. Dan yang membuat air matanya langsung tumpah adalah kenyataan bahwa ia benar-benar bisa merasakannya. Bahu itu, jaket itu, semuanya nyata.
"Kenapa aku bisa memelukmu?!" Jerit Mirza. "Kenapa?! Kenapa kau ada di sini?!"
Aksa tidak membalas pelukan itu. Ia hanya berdiri, membiarkan Mirza menggantung di tubuhnya, dengan wajah yang tetap datar.
"Aku juga tidak tahu." Jawabnya. "Aku hanya berjalan, lalu ada cahaya, lalu aku sudah berada di sini."
"Bohong!"
"Aku tidak pernah berbohong. Kau tahu itu."
Mirza melepaskan dekapannya, lalu mendorong bahu Aksa sampai lelaki itu mundur selangkah.
"Kau pergi ke mana semalam?!" Bentaknya. "Kenapa kau tidak pulang?! Kenapa kau berkeliaran sendirian di tengah malam seperti orang gila?!"
"Kalian menuduhku."
"Itu bukan alasan untuk mati!"
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Mirza, dan begitu keluar, ia sendiri yang tersentak mendengarnya.
Mati.
Ia baru saja mengatakannya keras-keras.
Aksa menundukkan kepalanya sedikit, memandangi kedua tangannya sendiri yang kini bersih tanpa satu pun luka. Tidak ada bekas darah di ujung jarinya. Tidak ada bekas jahitan di buku-buku tangannya. Tidak ada apa-apa.
"Ternyata benar." Gumamnya.
"Kak…"
"Aku sempat berpikir aku hanya bermimpi lagi." Kata Aksa. "Aku pernah memimpikan ini, kau tahu. Persis seperti ini. Kaca-kaca yang pecah, jalanan yang kosong, lalu sebuah mobil hitam."
Mirza menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Waktu itu aku bangun di atas piano dengan jari yang berdarah. Dan aku pikir, ah, ternyata hanya mimpi." Aksa mengangkat wajahnya, menatap Mirza. "Ternyata itu bukan mimpi. Itu pemberitahuan."
***
Keduanya terduduk di lantai, bersandar pada dinding yang sama, dengan tubuh Mirza yang masih terbaring di atas ranjang tepat di hadapan mereka.
"Kak Arvin juga begini." Ucap Mirza pelan. "Dia juga muncul tiba-tiba, lalu bercanda seolah tidak terjadi apa-apa."
"Dia memang menyebalkan."
"Kau lebih menyebalkan."
"Terima kasih."
Mirza tertawa. Tawa yang pecah di tengah dan berubah menjadi isak.
"Kenapa kalian semua pergi…" Lirihnya. "Kenapa kalian semua meninggalkanku sendirian di tempat seperti ini…"
"Mirza."
"Apa?"
"Apa kau melihatnya?"
Mirza mengangkat wajahnya. "Siapa?"
"Arvin."
Kening Mirza berkerut, lalu perlahan mengendur ketika ia mengerti maksud pertanyaan itu.
"Aku melihatnya waktu itu." Jawabnya. "Malam ketika dia pergi. Dia bahkan sempat lari dariku."
"Lari?"
"Dia pikir aku hantu."
"Kau memang hantu."
"Kau juga sekarang!"
Aksa mendengus. Bunyi yang paling menyerupai tawa yang bisa dikeluarkan lelaki itu.
"Lalu setelah itu?"
"Setelah itu dia pergi." Jawab Mirza, dan suaranya melemah. "Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Ke rumah duka, ke pemakaman, ke rumah. Tidak ada lagi. Sekali pergi, benar-benar pergi."
Aksa terdiam cukup lama.
"Berarti aku juga begitu."
"Kak—"
"Bagus." Potong Aksa. "Aku benci antre."
Mirza memukul lengan rekannya itu sekuat yang ia bisa, dan Aksa membiarkannya.
Setelah itu keduanya kembali diam. Aksa menatap lurus ke depan, ke arah monitor yang menampilkan garis hijau yang naik turun dengan tenang.
"Mirza."
"Apa?"
"Ada sesuatu yang harus kau sampaikan kepada mereka."
Mirza mendongak. "Aku tidak bisa bicara pada siapa pun, Kak. Kau tahu itu. Aku sudah mencobanya ratusan kali."
"Kau akan bangun."
"Apa?"
"Kau akan bangun." Ulang Aksa. "Aku tidak tahu kapan. Tapi kau akan bangun, dan ketika itu terjadi, ada satu hal yang harus kau ingat."
"Katakan."
Aksa terdiam cukup lama. Lelaki itu memiringkan kepalanya sedikit, seakan sedang menimbang seberapa banyak yang boleh ia bagi.
"Uangku sudah habis." Katanya akhirnya.
Kening Mirza berkerut. "Hah?"
"Seluruhnya. Setiap rupiah yang kukumpulkan sejak aku mulai bekerja." Lanjut Aksa. "Aku memberikannya kepada seseorang, untuk membeli sesuatu yang bahkan tidak bisa dipegang."
"Untuk apa?!"
"Untuk memperbaiki sesuatu yang kita rusak dua tahun lalu."
Napas Mirza tercekat.
"Kak Aksa, apa maksudmu—"
"Aku tidak tahu apakah orang itu jujur atau tidak. Aku tidak tahu apakah yang kubeli itu benar-benar ada." Potong Aksa. "Tapi kalau suatu hari terjadi sesuatu yang tidak masuk akal, sesuatu yang membuat kalian semua berpikir bahwa dunia sedang bercanda…"
Aksa menoleh, menatap Mirza tepat di kedua matanya.
"Maka ingatlah bahwa aku yang membayarnya."
Mirza membeku.
"Kak, aku tidak mengerti. Katakan yang jelas!"
"Aku sendiri tidak mengerti, Mirza." Jawab Aksa, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai kelelahan di wajah datarnya itu. "Aku hanya ingin ada satu orang saja yang tahu bahwa aku mencoba."
***
Cahaya di ruangan itu berubah.
Mirza tidak tahu dari mana asalnya, sebab lampu masih padam dan gorden masih tertutup. Namun ada sesuatu yang membuat sudut ruangan itu perlahan menjadi lebih terang, dan Aksa yang duduk di sebelahnya perlahan bangkit berdiri.
"Kak?"
"Sepertinya sudah waktunya."
"Jangan." Mirza ikut bangkit, meraih lengan Aksa. "Jangan, Kak. Tunggu sebentar lagi."
"Untuk apa?"
"Untuk apa saja! Untuk mengobrol! Untuk bertengkar! Untuk apa pun asal kau jangan pergi dulu!"
Aksa menatap tangan Mirza yang mencengkeram lengannya, lalu perlahan melepaskannya, satu jari demi satu jari.
"Kau tahu apa yang paling kubenci selama hidupku?" Tanya Aksa.
Mirza menggeleng.
"Perpisahan yang panjang. Membosankan sekali."
"Kak Aksa—"
"Sampaikan pada Nevan bahwa aku tidak marah padanya." Ujar Aksa. "Sampaikan pada Brian bahwa dia sudah cukup. Dia selalu cukup. Dan sampaikan pada Darel…"
Lelaki itu menghentikan kalimatnya. Rahangnya mengeras.
"Sampaikan pada Darel bahwa aku tidak pernah benar-benar menginginkan dia yang mati."
Air mata Mirza kembali jatuh.
"Kenapa tidak kau sampaikan sendiri?!"
"Karena aku pengecut." Jawab Aksa. "Sejak dulu."
Kemudian lelaki bertubuh mungil dengan kulit yang terlalu putih itu berjalan ke arah pintu, menembusnya begitu saja, dan hilang.
Mirza berlari menyusul, menembus pintu yang sama, sampai ke koridor.
Kosong.
Hanya ada lorong panjang dengan lampu yang diredupkan dan seorang perawat yang berjalan sambil mendorong troli di ujung sana.
"KAK AKSA!!" Teriak Mirza sekuat-kuatnya.
Perawat itu tidak menoleh sedikit pun.
***
Pagi datang seperti biasa, tanpa peduli apa pun yang terjadi semalam.
Pintu kamar Darel terbuka, menampilkan Brian dan Nevan yang melangkah masuk sambil membawa sebuah wadah plastik berisi potongan buah yang sudah dikupas rapi.
"Wah! Buah!" Seru Darel dengan mata berbinar.
"Jangan berteriak, ini rumah sakit." Tegur Nevan.
"Siapa yang memotongnya?"
"Aku." Jawab Brian.
"Berarti aku harus periksa dulu apakah ada jarinya yang ikut terpotong."
"Darel."
"Bercanda, Kak!"
Darel meraih wadah itu dan meletakkannya di pangkuan, sementara Brian menarik kursi dan Nevan berdiri di sisi ranjang sambil melipat kedua tangannya.
"Kak Mirza bagaimana?" Tanya Darel.
"Sudah stabil." Jawab Brian.
"Syukurlah." Darel membuka penutup wadah itu perlahan. "Kak, kalau Kak Mirza sudah bangun nanti, aku mau kita makan bersama lagi di meja makan. Kita semua. Berlima."
Suasana di ruangan itu berubah dalam sekejap.
Brian menunduk. Nevan memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Kenapa?" Tanya Darel, tangannya berhenti tepat sebelum meraih garpu kecil di dalam wadah.
"Tidak apa-apa." Jawab Brian terlalu cepat.
"Kak Aksa mana? Sudah dua hari dia tidak menjengukku."
Nevan menggigit bibir bawahnya sampai memutih. Brian membuka mulutnya, tapi tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar dari sana.
Tepat pada detik itu, terdengar ketukan di pintu.
Seorang lelaki berdiri di ambang, mengenakan setelan sederhana dengan map cokelat di tangannya.
"Maaf, apa benar dengan Saudara Brian?"
Brian langsung bangkit dari kursinya. "Ya, saya."
"Bisa bicara sebentar di luar?"
"Tentu."
Brian dan Nevan melangkah keluar bersama-sama, menutup pintu di belakang mereka, meninggalkan Darel yang masih duduk dengan sebuah wadah buah di pangkuannya dan sederet pertanyaan yang tak seorang pun bersedia menjawab.