Bau debu dan kayu tua menyambut Darel begitu ia melangkah masuk.
Ruangan utama bangunan itu luas dan tinggi, dengan langit-langit yang berhias ukiran yang sebagian sudah runtuh. Cahaya matahari menerobos dari jendela-jendela besar di kedua sisinya, jatuh membentuk kotak-kotak terang di atas lantai marmer yang retak.
Patung-patung putih itu masih berdiri di tempatnya masing-masing.
Darel melangkah pelan di antara mereka. Suara sepatunya menggema, memantul ke seluruh penjuru ruangan.
Ia berhenti di depan sebuah patung yang berbeda dari yang lain.
Sesosok lelaki yang tengah merunduk, dengan sepasang sayap di punggungnya yang patah di bagian tengah.
Darel mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan sayap yang patah itu.
"Kak Mirza pernah bercerita tentangmu." Ucapnya. "Katanya Kak Deon mencium bibirmu, lalu kau menangis."
Patung itu tentu saja tidak menjawab.
Darel mengalihkan pandangannya ke dinding utama, ke sebuah lukisan besar yang tergantung di sana. Lukisan abstrak, dengan garis-garis yang saling menimpa, warna-warna yang tidak masuk akal, dan sesuatu di bagian tengahnya yang kalau ditatap terlalu lama akan mulai membentuk wujud.
Sepasang tanduk merah.
Darel menatapnya lama sekali.
"Aku pernah melukis sesuatu yang mirip ini." Katanya. "Di kamarku. Tanganku bergerak sendiri waktu itu."
Angin berembus dari entah mana, membuat debu di lantai berputar kecil di sekitar kakinya.
***
Anak tangga di sisi kanan ruangan itu membawanya ke lantai dua.
Lorongnya panjang dan gelap, dengan lampu-lampu dinding yang berkedip lemah. Darel menyusurinya satu persatu, melewati pintu-pintu yang tertutup, sampai akhirnya ia tiba di sebuah ruangan yang pintunya terbuka lebar.
Rak-rak buku berjajar dari lantai sampai langit-langit.
Ada sebuah sofa bermuatan satu orang di tengah ruangan, lengkap dengan meja kecil di sisinya.
Dan di ujung sana, sebuah tungku perapian yang apinya menyala.
Darel berhenti di ambang pintu.
"Siapa yang menyalakannya…" Gumamnya.
"Aku."
Suara itu datang dari belakang.
Darel membalikkan badan secepat yang ia bisa.
Di ujung lorong yang gelap, sesosok berjubah hitam panjang berdiri diam. Bagian kepalanya tertutup sepenuhnya sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali. Di dadanya, tergantung sebuah kalung dengan lambang bintang berujung lancip di dalam lingkaran.
Darel tidak mundur.
Justru lelaki itu melangkah maju.
"Black Walker."
"Kau memanggilku dengan nama itu sejak dulu." Sahut sosok tersebut. "Padahal aku tidak pernah menyebutkannya kepada siapa pun."
"Buku itu yang menyebutkannya."
"Buku itu hanya kertas. Yang menyebutkannya adalah kalian sendiri."
Darel berhenti pada jarak tiga langkah dari sosok tersebut.
Dua tahun lalu, ketika ia melihat sosok ini untuk pertama kali di dalam mimpinya, seluruh tubuhnya gemetar sampai ia terjatuh dan pingsan.
Sekarang, sama sekali tidak ada yang gemetar.
"Aku datang untuk membuat kesepakatan." Ucap Darel.
***
Sosok itu tidak langsung menjawab.
Ia justru berjalan melewati Darel, memasuki ruangan berisi rak-rak buku itu, lalu menempatkan diri di atas sofa bermuatan satu orang tersebut dengan kaki yang disilangkan.
"Duduklah." Katanya.
"Tidak ada kursi lain."
"Maka berdirilah."
Darel mengepalkan tangannya.
"Aku serius."
"Aku tahu."
"Kalau begitu dengarkan aku." Suara Darel meninggi. "Dua tahun lalu, aku yang seharusnya menjadi tumbal. Aku yang namanya tertulis di kertas itu. Aku yang seharusnya berbaring di atas batu itu, bukan Kak Deon."
"Benar."
"Lalu kenapa kau ambil dia?!"
"Aku tidak mengambil siapa pun." Jawab sosok itu dengan nada yang sama sekali tidak berubah. "Rekan-rekanmu yang menyerahkannya. Dengan tangan mereka sendiri. Dengan suara mereka sendiri. Aku hanya menerima apa yang diletakkan di hadapanku."
Rahang Darel mengeras.
"Kalau begitu aku ingin menukarnya." Katanya. "Ambil aku. Kembalikan mereka."
Untuk pertama kalinya, sosok itu bergerak. Kepalanya sedikit dimiringkan, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang menarik.
"Mereka?"
"Semuanya." Jawab Darel. "Kak Deon. Kak Arvin. Kak Aksa. Kak Brian. Kak Mirza. Dan Kak Nevan."
"Enam orang, dengan satu orang."
"Ambil apa saja yang kau mau dariku. Umurku, tubuhku, ingatanku. Apa pun."
Ada jeda panjang di ruangan itu. Hanya ada suara kayu yang meletup di dalam tungku perapian.
Lalu sosok itu berkata,
"Kau terlambat."
Kening Darel berkerut. "Apa?"
"Kesepakatan itu sudah dibuat, dan harganya sudah dibayar lunas." Ujarnya. "Bukan olehmu."
Darel merasa ada sesuatu yang jatuh di dalam dadanya.
"Apa maksudmu?"
"Ada yang datang lebih dulu darimu." Lanjut sosok itu. "Ia menawar berkali-kali. Ia memaksa, ia mengancam, ia memohon. Dan pada akhirnya ia menyerahkan segala yang ia punya, sampai tidak tersisa satu pun."
Napas Darel tercekat.
Uangku sudah habis. Seluruhnya. Setiap rupiah yang kukumpulkan sejak aku mulai bekerja.
Aksa.
"Tidak." Darel menggelengkan kepalanya. "Tidak, kalian menipunya. Aku tahu kalian menipunya. Dia sudah mati, dan uangnya tidak menghasilkan apa-apa!"
"Aku tidak pernah menipu siapa pun." Sahut sosok itu. "Aku hanya tidak pernah menjelaskan seluruhnya. Manusia yang selalu mengira keduanya sama."
"Lalu apa yang dia beli?!"
"Satu nama."
"Nama siapa?!"
Sosok berjubah hitam itu bangkit dari sofanya.
"Nama yang paling kalian sesali."
***
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin.
Api di dalam tungku perapian meliuk ke satu arah, seakan ditarik oleh sesuatu.
"Tunggu." Darel melangkah maju. "Kalau memang kesepakatan itu sudah dibayar, kenapa belum terjadi apa-apa? Kenapa mereka tetap mati satu persatu? Kak Arvin, Kak Aksa, Kak Brian, Kak Nevan, Kak Mirza. Semuanya mati! Untuk apa uang itu dibayarkan kalau ujungnya begini?!"
"Sebab semua yang kau sebutkan itu adalah bagian dari harganya."
Darel membeku di tempatnya.
"Apa?"
"Kau tidak bisa mengembalikan sesuatu ke dalam kotak yang sudah penuh, Darel." Ucap sosok itu. "Untuk mengembalikan satu, harus ada tempat yang dikosongkan."
"Kau…" Suara Darel bergetar hebat. "Kau membunuh mereka semua untuk itu?"
"Aku tidak membunuh siapa pun." Jawabnya. "Yang satu memilih menelan seluruh obatnya. Yang satu memilih berjalan di tengah jalan pada malam hari. Yang satu memilih masuk kembali ke dalam api. Yang satu memilih untuk tidak lagi mencari alasan untuk bertahan."
Sosok itu melangkah mendekat.
"Aku hanya membuka pintunya sedikit. Merekalah yang berjalan keluar."
"Kau menghitung mereka seperti barang." Suara Darel bergetar hebat. "Kak Nevan menangis setiap malam di kamarnya selama berbulan-bulan. Aku mendengarnya dari balik pintu, dan aku tidak pernah berani mengetuk. Kak Mirza bangun dari koma hanya untuk mendapati bahwa rumahnya sudah kosong."
"Aku tahu."
"Kau tahu?!"
"Aku selalu tahu." Jawab sosok itu. "Aku hadir di setiap malam yang kau sebutkan tadi. Aku berdiri di lorong itu ketika kau berhenti di depan pintu kamarnya dan memutuskan untuk tidak mengetuk."
Darel merasakan seluruh bulu di tengkuknya berdiri.
"Kau ada di rumah kami?"
"Aku selalu ada di mana pun ada orang yang sedang menghitung mundur." Ujar sosok itu. "Itu pekerjaanku."
Darel merasakan lututnya melemas. Lelaki itu mundur selangkah, lalu selangkah lagi, sampai punggungnya membentur dinding lorong.
"Kalau begitu ambil aku juga." Katanya. "Kosongkan tempatku sekalian. Aku tidak mau tinggal di dunia yang isinya cuma aku."
"Itu bukan permintaanmu."
"Itu permintaanku!"
"Bukan." Sosok itu berhenti tepat di hadapan Darel. "Yang membayar sudah menuliskan permintaannya. Dan di dalam permintaannya, kau tidak termasuk yang boleh pergi."
Darel menatap kegelapan di balik tudung jubah itu.
"Kenapa?"
"Tanyakan pada orang yang membayarnya."
***
Angin berembus kencang dari ujung lorong, membawa serta sesuatu yang berwarna putih.
Kelopak bunga lily.
Satu, dua, tiga, semakin banyak, sampai seluruh lorong itu dipenuhi kelopak yang berputar-putar di udara seperti salju yang menolak jatuh.
Darel mengulurkan tangannya, dan satu kelopak mendarat di telapaknya.
"Apa ini…"
"Kesepakatan itu akan dijalankan sekarang." Ucap sosok itu. "Kau datang tepat pada harinya. Kebetulan yang menyenangkan."
"Tunggu!"
Cahaya mulai memenuhi lorong itu. Bukan cahaya matahari, bukan pula cahaya api. Cahaya yang putih, rata, dan tidak memiliki sumber.
Darel berusaha melangkah maju, tapi kakinya tidak mau bergerak sedikit pun.
"Katakan padaku!" Teriaknya. "Nama siapa yang dibelinya?! Katakan!"
Sosok berjubah hitam itu berdiri diam di tengah pusaran kelopak lily, dan untuk sepersekian detik, Darel merasa sosok itu tersenyum di balik tudungnya.
"Kau akan mengetahuinya sendiri. Sebentar lagi."
Kemudian seluruh lorong itu menjadi putih.
Dan di kejauhan, di sebuah kota yang berbeda, pada pagi yang masih menyisakan salju di sudut-sudut jalan, sepasang mata yang sudah dua tahun terpejam perlahan terbuka.