"Tempatmu."
Deon tidak langsung menjawab.
Di dalam gelap itu, hanya ada suara napasnya sendiri dan bunyi kayu yang sesekali retak di dalam tungku yang apinya sudah padam.
"Enam tempat sudah dikosongkan untuk mengembalikan satu." Lanjut Black Walker. "Kalau kau ingin mengembalikan enam, maka satu itu harus dikembalikan lebih dulu."
"Aku."
"Kau."
Deon menutup matanya.
"Hanya itu?"
"Kau bertanya seolah itu murah."
"Aku sudah pernah mati sekali." Ujar Deon. "Aku bahkan tidak ingat rasanya."
"Justru itu." Sahut Black Walker. "Yang pertama kau tidak mengetahui apa-apa. Rekan-rekanmu memastikan agar kau tidak pernah tahu, sebab syaratnya memang begitu. Kau berbaring di atas batu itu tanpa satu pun rasa takut."
Sosok itu melangkah mendekat.
"Kali ini kau tahu. Kau tahu apa yang akan terjadi, kau tahu berapa lama rasanya, kau tahu apa saja yang akan kau tinggalkan." Ujarnya. "Dan kau tetap harus berjalan ke sana dengan kakimu sendiri."
Deon membuka matanya perlahan.
"Baik."
"Jangan terburu-buru."
"Baik, kubilang."
"Aku belum menyelesaikan syaratnya."
Deon menegakkan punggungnya.
"Katakan."
"Mereka akan kembali." Ujar Black Walker. "Tapi aku tidak pernah menjanjikan ke mana."
Kening Deon berkerut. "Apa maksudnya?"
"Persis seperti yang kau dengar." Jawabnya. "Kau meminta agar mereka dikembalikan. Kau tidak pernah menyebutkan dikembalikan ke dunia yang mana."
"Aku menyebutnya sekarang. Kembalikan mereka ke rumah kami. Ke kota kami. Ke hari sebelum kami menginjakkan kaki di tempat sialan ini."
"Terlambat."
"Kenapa?!"
"Sebab kau sudah mengatakan baik, dua kali." Ujar Black Walker. "Dan aku sudah menerimanya."
Deon terkesiap.
Lelaki itu melangkah maju, hendak meraih jubah hitam itu, tapi tangannya menembus begitu saja seperti meraih asap.
"KAU CURANG!"
"Aku tidak pernah curang." Jawab sosok tersebut. "Aku hanya tidak pernah menjelaskan seluruhnya. Kalian yang selalu mengira keduanya sama."
Deon menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya sendiri untuk berpikir.
Marah tidak akan menghasilkan apa-apa di hadapan sesuatu seperti ini. Sejak dulu, sejak masih di panti asuhan, sejak menjadi presiden direktur di usia yang terlalu muda, Deon selalu tahu satu hal. Bahwa ketika lawan bicaramu memegang seluruh kartu, satu-satunya yang bisa kau lakukan adalah bertanya dengan lebih hati-hati.
"Baiklah." Ucapnya. "Kalau begitu jelaskan padaku seluruhnya sekarang."
"Kau tidak akan suka."
"Aku tidak pernah suka pada apa pun sejak aku bangun di depan pagar rumah itu."
Ada jeda.
Lalu Black Walker berkata,
"Mereka akan berada di tempat yang tidak dimiliki oleh siapa pun."
"Apa artinya?"
"Bukan dunia tempat kalian dilahirkan, bukan pula tempat yang kalian sebut setelah kematian." Ujarnya. "Sebuah tempat yang tidak punya pintu keluar, sebab ia memang tidak dibuat untuk dikeluari."
Deon merasakan dadanya sesak.
"Kau menjebak mereka."
"Aku mengembalikan mereka. Persis seperti yang kau minta." Jawab sosok itu. "Kau yang tidak pernah menyebutkan ke mana."
"Kalau begitu bawa aku juga ke sana."
Sosok itu terdiam untuk beberapa detik.
"Kau yakin?"
"Kalau aku harus memilih antara hidup sendirian atau tersesat bersama mereka," ucap Deon, "maka aku memilih tersesat."
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di dalam nada suara Black Walker yang berubah. Bukan senang, bukan pula kecewa. Sesuatu yang lebih menyerupai rasa penasaran.
"Kalian selalu menjawab begitu." Katanya. "Setiap kali. Tanpa kecuali."
"Karena memang itu jawabannya."
"Kalau begitu berdirilah, Deon."
***
Pintu ruangan itu terbuka dengan sendirinya.
Dan sebelum Deon sempat berbalik, ada sesuatu yang menariknya dari belakang, sesuatu yang tidak bisa dilihat dan tidak bisa dilawan, menyeretnya keluar dari ruangan itu, menyusuri lorong yang gelap, semakin cepat, semakin cepat, sampai seluruh dunia di sekelilingnya hanya menjadi garis-garis panjang yang berlari mundur.
Kemudian semuanya berhenti.
***
Deon membuka matanya, dan yang pertama kali ia rasakan adalah dingin di telapak kakinya.
Ia terduduk di tepian sebuah ranjang.
Ruangan itu gelap, sempit, tanpa jendela. Tidak ada perabot lain selain ranjang yang ia duduki. Dindingnya polos, langit-langitnya rendah, dan satu-satunya pintu berada tepat di hadapannya.
Deon menunduk, memandangi dirinya sendiri.
Kemeja putih lengan panjang. Celana pendek hitam.
Pakaian yang sama persis dengan yang ia kenakan pada hari terakhirnya, dua tahun yang lalu, sebelum mereka semua berangkat ke penginapan tepi pantai itu.
Dan di lantai, tepat di depan kakinya, terkumpul enam kelopak bunga lily berwarna putih.
Deon menatapnya.
Enam.
Ia turun dari ranjang, merendahkan tubuhnya, lalu mengulurkan kedua tangan agar telapaknya bisa menampung kelopak-kelopak itu.
Ringan sekali.
Padahal beratnya seharusnya tidak masuk akal.
Deon kembali duduk di tepian ranjang, memandangi enam kelopak yang kini berada di kedua telapak tangannya.
"Brian." Ucapnya, sambil menyentuh kelopak yang pertama.
"Aksa."
"Arvin."
"Mirza."
"Nevan."
Jemarinya berhenti pada kelopak yang terakhir.
"Darel."
Dan pada nama itu, pertahanan yang selama ini ia bangun akhirnya runtuh sepenuhnya. Cairan bening mulai menetes membasahi pipinya, jatuh menimpa kelopak-kelopak putih di telapak tangannya.
Anak itu.
Anak yang dulu datang ke panti asuhan dengan pipi gembul dan senyum gigi kelinci. Anak yang menyapa semua orang satu persatu dan diabaikan semuanya. Anak yang bahkan sampai umur delapan belas masih menghabiskan lima kotak s**u dalam sehari kalau tidak ditahan.
Anak yang seharusnya berbaring di atas batu itu, dan yang justru berdiri diam menyaksikan Deon menggantikannya.
"Maafkan aku." Lirih Deon. "Maafkan aku, Darel."
***
Pada detik berikutnya, secercah cahaya menyorot wajahnya.
Pintu di hadapannya terbuka, menampilkan sesosok berjubah hitam yang berdiri di ambang, menatap lurus ke arahnya.
Deon menyipitkan mata, mencoba melihat wajah yang ada di balik jubah itu.
Tidak ada apa-apa di sana. Tidak pernah ada.
"Ini akan menjadi momen paling indah dalam hidup mereka." Ujar sosok itu.
Kemudian pintu itu kembali ditutup, memenjarakan Deon dalam gelap.
Air matanya malah mengalir semakin deras. Enam kelopak yang semula berada di telapaknya pun berhasil lolos, mendarat berserakan di atas lantai.
Deon beringsut ke atas ranjang, meringkuk, merasakan sekujur tubuh juga hatinya ditikam rasa sakit yang luar biasa.
***
Rasa sakit itu datang bergelombang.
Mula-mula dari dada, lalu menyebar ke bahu, ke leher, ke ujung jari, sampai ke tempat-tempat yang bahkan Deon tidak tahu bisa merasakan sakit.
Ia menggigit lengan bajunya sendiri agar tidak berteriak.
Namun di tengah semua itu, ada sesuatu yang aneh.
Setiap kali gelombang rasa sakit itu datang, ada satu wajah yang muncul di kepalanya. Dan setiap kali gelombang itu mereda, wajah tersebut ikut memudar, digantikan oleh wajah yang lain.
Brian, yang menepuk pundaknya di malam sebelum mereka berangkat.
Aksa, yang mengeluh kepanasan di atas perahu di tengah danau.
Arvin, yang berlari terbirit-b***t dikejar anjing bersamanya.
Mirza, yang menjerit kegirangan karena berhasil mendapat satu ekor ikan kecil.
Nevan, yang memukul bola baseball sampai ke tengah danau lalu meminta tolong dengan wajah tanpa dosa.
Dan Darel, yang berdiri di halaman sekolahnya dengan medali yang menggantung di leher, mencari-cari seseorang yang terlambat datang.
"Jangan pergi." Lirih Deon di tengah rasa sakitnya. "Kalian boleh pergi ke mana saja, asal jangan sendirian."
Gelap di ruangan itu semakin pekat.
Sampai pada satu titik, Deon tidak lagi bisa membedakan apakah matanya sedang terbuka atau terpejam.
***
Kemudian dinding-dinding itu datang.
Deon merasakannya lebih dulu sebelum melihatnya. Sesuatu yang tinggi, dingin, dan berdiri terlalu dekat di kanan dan kirinya.
Ia bangkit, mengulurkan tangan, dan telapaknya menyentuh permukaan yang kasar.
Bukan dinding kamar.
Ini berbeda. Ini terlalu tinggi, terlalu panjang, dan ketika Deon melangkah ke depan, jalannya berbelok. Lalu berbelok lagi. Lalu bercabang.
"Halo?" Panggilnya.
Suaranya menggema, lalu hilang.
"Halo!"
Tidak ada jawaban.
Deon terus melangkah, meraba dinding, berbelok ke kanan, menemui jalan buntu, kembali lagi, berbelok ke kiri, menemui jalan buntu lagi.
Dan ketika ia hendak berbalik untuk yang kesekian kalinya, ia mendengarnya.
Sangat samar. Sangat jauh. Tapi jelas.
Sebuah suara memanggil namanya.