Rumah Husain tidak pernah benar-benar gelap.
Ada dua lampu taman di kiri-kanan jalan setapak, dan satu lampu kuning di teras belakang yang tidak pernah dimatikan sejak nyonya rumah meninggal enam tahun lalu. Pak Adi tahu persis, karena dia sendiri yang menyalakannya tiap sore. Delapan belas tahun dia bekerja di rumah ini. Dia hafal bunyi setiap pintu. Pintu dapur berdecit di bagian bawah. Pintu ruang kerja tuan Husain berat dan diam. Pintu kamar Kalila hampir tidak bersuara, karena pak Adi sendiri yang meminyaki engselnya bulan lalu.
Malam ini dia duduk di kursi rotan di ujung lorong lantai satu. Empat langkah dari pintu kamar Kalila. Kursi itu berderit kalau dia bergeser. Maka dia memilih untuk tidak bergeser sama sekali.
"Pak Adi."
Suara Sutini, pelan, dari arah dapur. Perempuan itu membawa gelas kecil dengan dua tangan.
"Kopi. Tidak pakai gula."
"Terima kasih, Bu Sutini."
"Saya kasih sedikit garam." Sutini meletakkan gelas di lantai, di samping kaki kursi. "Biar tidak mual kalau begadang."
Uap kopi naik tipis. Baunya pahit dan sedikit gosong, bercampur bau minyak angin yang tadi dioleskan pak Adi ke tengkuknya sendiri.
"Ibu belum tidur?"
"Tidak bisa." Sutini berdiri di ambang lorong, jari-jarinya meremas ujung kerudung. "Kalau saya tidur, saya mimpi ada orang membuka pintu."
Pak Adi tidak menjawab. Dia mengangkat gelas. Panasnya menempel di telapak tangan yang kasar.
Di luar, jangkrik berbunyi rapat. Sekali-sekali ada motor lewat di jalan depan, suaranya naik lalu hilang di tikungan. Pukul sebelas lewat empat puluh. Pak Adi menghitung dalam hati, bukan karena perlu, tapi karena menghitung membuat matanya tetap terbuka.
Ponsel di pangkuannya bergetar sekali. Satu baris pesan.
Saya sudah di seberang. Warung Bu Nas. Jendela kamar Kalila kelihatan penuh dari sini. Kalau lampunya mati mendadak, saya lari.
Pak Adi mengetik pelan, satu jari.
Baik, Mas Ken.
Di seberang jalan, Ken Arashi duduk di bangku kayu warung yang sudah tutup. Terpal biru diturunkan setengah, jadi dia duduk di balik bayang-bayang. Bu Nas mengizinkan asal Ken menutup gembok pagi-pagi. Di depannya ada gelas teh yang sudah dingin dan sebuah kantong kertas berisi tiga mangga harum manis dari kebun keluarganya, yang tadi sore lupa dia tinggalkan di dapur rumah Husain.
Baunya manis dan sedikit asam, memenuhi ruang sempit di balik terpal.
Ken tidak memakannya. Dia menatap satu titik: jendela kedua dari sudut, tirai krem, lampu tidur menyala redup di baliknya.
Dia sudah menghitung juga. Dari bangku ini ke pagar samping rumah Husain: dua puluh dua langkah, kalau berlari mungkin sembilan detik. Ada got selebar satu telapak kaki yang harus dilompati. Ada tiang listrik yang bisa dipakai berbelok. Dia sudah menghafal semuanya sejak sore, waktu masih terang, karena menghafal dalam gelap selalu salah.
Di dalam rumah, pintu kamar Kalila terbuka.
"Pak Adi."
Perempuan itu berdiri di ambang, memakai kardigan abu-abu di atas piyama. Rambutnya diikat asal. Wajahnya pucat, tapi matanya sama sekali tidak mengantuk.
"Non belum tidur?"
"Tidak bisa." Kalila menyandarkan bahu ke kusen. "Bapak juga tidak tidur."
"Memang tidak boleh tidur, Non."
Kalila tersenyum sedikit, senyum yang tidak sampai ke matanya. Dia duduk di lantai, di ambang pintunya sendiri, memeluk lutut. Keramiknya dingin, dan justru itu yang membuatnya merasa lebih terjaga.
"Bapak sudah ditegur Papa dua kali," katanya.
"Sudah."
"Karena saya."
"Bukan karena Non." Pak Adi meletakkan gelas kopi ke lantai. "Karena ada orang yang bicara di telinga bapak Non sebelum saya sempat bicara."
"Elo."
Nama itu keluar dari mulut Kalila seperti sesuatu yang harus segera dibuang jauh-jauh.
Pak Adi tidak mengiyakan. Tidak juga membantah. Delapan belas tahun bekerja mengajarinya bahwa ada nama yang lebih aman diucapkan orang lain.
"Non," katanya akhirnya, "kalau nanti saya berteriak, Non jangan buka jendela. Jangan buka pintu depan. Kunci dari dalam, lalu nyalakan semua lampu kamar. Semuanya."
"Kenapa lampu?"
"Karena orang yang datang malam-malam itu takut kelihatan. Bukan takut sama orangnya. Takut sama terangnya."
Kalila menelan ludah. Di dadanya ada sesuatu yang mengeras sejak dua hari lalu dan tidak mau turun. Bukan takut biasa. Takut biasa itu ada bentuknya, ada mulanya, ada selesainya. Ini seperti berdiri di ruangan yang lantainya pelan-pelan dimiringkan orang, sedikit demi sedikit, sampai semua barang meluncur ke satu sudut, dan kamu yang disalahkan karena jatuh.
"Pak Adi," katanya pelan, "Bapak percaya saya, kan?"
"Saya percaya mata saya, Non. Dan mata saya melihat orang berdiri di gerbang Selasa lalu, jam dua pagi, sepuluh menit penuh. Tidak masuk. Tidak pergi. Cuma berdiri."
Kalila memejamkan mata sebentar.
"Kenapa Bapak tidak bilang ke saya?"
"Saya bilang ke bapak Non dulu. Itu urutannya." Suara pak Adi datar. "Besoknya saya ditegur."
Terdengar bunyi roda di ubin.
Halus, teratur, dua kali putaran lalu berhenti.
Rania muncul dari lorong sebelah. Kursi rodanya berhenti tepat di bawah lampu lorong. Selimut tipis di pangkuannya, buku tulis di atas selimut, pensil terselip di spiralnya.
"Kalian berisik," katanya.
"Ran, kamu harus tidur," kata Kalila.
"Kalian juga." Rania mendorong dirinya maju satu meter. "Aku cuma mau memberi tahu satu hal, terus aku pergi. Mungkin."
Kalila menghela napas. "Apa?"
"Gembok gerbang samping diganti."
Pak Adi menoleh cepat. "Diganti?"
"Yang lama warnanya kusam, ada karat di bagian bawah, dan kalau diputar bunyinya seret. Yang sekarang mengkilap dan halus." Rania mengetuk sandaran kursinya sekali. "Aku lewat situ tiap sore karena jalur ubinnya paling rata di rumah ini. Aku hafal karatnya."
"Siapa yang mengganti?" tanya Kalila.
"Mbok Iyah bilang tukangnya datang hari Kamis, siang, waktu Papa masih di kantor." Rania mengangkat bahu. "Yang memanggil tukang bukan Papa. Itu yang belum kutahu. Tapi aku akan tahu."
"Ran—"
"Jangan," potong Rania. "Jangan bilang aku sebaiknya di kamar saja. Aku memang duduk sepanjang hari, Lila. Justru karena itu aku melihat hal-hal yang kalian lewatkan sambil berjalan cepat."
Kalila menutup mulutnya. Ada rasa hangat dan perih sekaligus naik ke tenggorokannya.
"Baik," katanya. "Kamu benar."
"Aku tahu." Rania memutar kursinya. "Aku di kamar. Pintu tidak kukunci, biar aku bisa mendengar."
Roda itu menjauh, lalu senyap.
Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.
Pak Adi berdiri, menggerakkan lutut yang mulai kaku, lalu berjalan pelan ke ujung lorong. Dia mengintip lewat celah gorden ruang tamu. Jalan depan kosong. Lampu warung Bu Nas mati. Terpal biru tidak bergerak sedikit pun.
Bagus, pikirnya. Berarti Mas Ken masih di situ.
Dia kembali ke kursinya dan mengingat dua teguran itu, karena orang tua yang begadang selalu mengingat hal-hal yang seharusnya sudah dilupakan.
Yang pertama di ruang makan, dua minggu lalu. Tuan Husain menaruh sendok, lalu berkata bahwa pembantu rumah tidak perlu ikut mengurusi soal kantor. Pak Adi cuma menunduk, karena yang dia laporkan waktu itu bukan soal kantor, melainkan sebuah mobil yang tiga malam berturut-turut parkir di ujung jalan dengan mesin menyala.
Yang kedua di teras, empat hari lalu, dan lebih pendek. Tuan Husain tidak marah. Justru itu yang membuatnya lebih perih. Laki-laki itu cuma berkata, "Adi, jangan bikin anak saya takut," lalu masuk ke rumah.
Pak Adi ingin sekali menjawab bahwa dia bukan yang membuat Non Kalila takut. Dia cuma orang pertama yang mempercayai takut itu.
Tapi jawaban semacam itu tidak pernah keluar tepat waktu. Selalu terlambat, selalu di kepala, selalu jam dua pagi.
Pukul tiga, hujan turun sebentar. Cuma sepuluh menit, tapi cukup untuk membuat udara berbau tanah dan daun basah. Ken menarik jaketnya lebih rapat. Air menetes dari ujung terpal ke bahunya, satu tetes tiap beberapa detik, dan dia membiarkannya, karena dingin membuat orang tetap bangun.
Dia memikirkan sesuatu yang tidak dia katakan kepada siapa pun malam itu.
Bahwa dia bukan sedang menjaga rumah. Rumah punya pagar, punya gembok, punya tuan. Dia sedang menjaga satu orang di dalam rumah yang penghuninya sendiri belum percaya bahwa ada yang perlu dijaga. Itu jenis penjagaan yang paling melelahkan: kamu tidak boleh salah sekali pun, dan kalau kamu benar, tidak ada yang akan berterima kasih.
Pukul empat lewat sepuluh. Adzan belum berkumandang.
Dan pak Adi mendengar bunyi itu.
Bukan bunyi keras. Justru itu yang membuat bulu tengkuknya berdiri: bunyinya terlalu hati-hati. Krek pendek dari arah luar, di ketinggian pinggang, di dinding sisi timur. Lalu diam. Lalu krek lagi, lebih panjang, seperti besi digeser pelan-pelan supaya tidak berbunyi. Dan justru karena digeser pelan-pelan, bunyinya jadi punya bentuk.
Jendela kamar Kalila.
Pak Adi bangkit. Kursi rotan itu berderit keras dan dia tidak peduli lagi.
Dia melihatnya lewat celah tirai lorong. Sebuah tangan. Cuma tangan. Jari-jarinya menyusup lewat sela daun jendela yang terbuka dua sentimeter, meraba-raba mencari kait pengunci. Tangan lelaki. Kuku pendek. Ada plester kotor melingkar di jari telunjuk.
Untuk satu detik penuh, pak Adi tidak bisa bersuara. Tenggorokannya kering seperti kain.
Lalu delapan belas tahun rumah ini mendorongnya dari belakang.
"WOOOY! ADA ORANG DI JENDELA! MALING!"
Suaranya pecah di lorong, memantul ke tangga, masuk ke kamar-kamar. Pak Adi memukul dinding dengan telapak tangan, tiga kali, sekeras yang dia bisa.
"NON KALILA! NYALAKAN LAMPU! SEMUANYA!"
Di dalam kamar, Kalila melompat dan menekan seluruh saklar sekaligus. Kamar meledak jadi putih. Dari luar, siapa pun yang berdiri di sana pasti langsung terlihat sejelas siang bolong.
Tangan itu tersentak. Menghilang.
Sesuatu jatuh di halaman samping. Benda logam, berdenting di ubin, memantul sekali. Lalu langkah kaki. Berat, panik, dua tiga langkah, lalu berlari.
Pak Adi membuka pintu samping. Angin subuh menampar wajahnya, membawa bau tanah basah dan melati dari pot di teras.
Di seberang jalan, terpal biru terangkat.
Ken sudah lari.
Bersambung.