"Punya apa?"
Rania tidak langsung menjawab. Ia mendorong kursinya mundur dari meja, memutar sedikit, dan mulai menarik bantal duduknya sendiri.
"Ran, tunggu—"
"Bantuin, Mbak. Ini keras."
Bantal itu bantal busa tebal berlapis kain cokelat, yang dijahit ulang Sutini tiga bulan lalu karena jahitan pabriknya lepas. Rania membalikkannya. Di bagian bawah, di sepanjang sisi yang menempel ke rangka kursi, ada jahitan tangan yang benangnya beda warna.
"Gunting," kata Rania.
Sutini menyerahkan gunting kain dari kotak jahitnya, tangannya gemetar.
Rania memotong benangnya satu per satu, hati-hati, seperti orang membuka luka lama. Dari dalam busa yang sudah dibelah dan dikosongkan, ia menarik sebuah bungkusan plastik pipih.
Kertas. Difotokopi. Dilipat dua kali. Sudutnya sudah melengkung karena berbulan-bulan diduduki.
Kalila tidak bisa bicara.
"Ini dari Mas Faris," kata Rania.
Sutini menutup mulutnya. "Kapan?"
"Sebelas hari sebelum kebakaran." Rania meletakkan bungkusan itu di meja tapi tidak melepaskan tangannya. "Sore. Mbak lagi ke rumah sakit nemenin Bapak. Mas Faris masuk ke kamarku, tutup pintu, duduk di lantai biar tingginya sama denganku. Dia belum pernah begitu sebelumnya."
"Dia bilang apa?"
Rania menirukan, dan suaranya berubah, lebih rendah, agak terburu-buru, seperti orang yang menghafal kalimat sebelum mengucapkannya.
"Ran, Mas mau titip. Jangan dibuka. Jangan dibaca. Jangan bilang siapa-siapa, termasuk mbakmu."
"Dan kamu tidak bilang," kata Kalila.
"Aku tidak bilang."
"Sebelas hari."
"Iya."
"Rania—"
"Aku tanya kenapa aku," potong Rania. Suaranya naik satu tingkat. "Aku tanya, Mbak. Aku bilang, Mas, kenapa aku, aku ini kan cuma anak yang duduk. Dan dia diam lama, terus dia bilang: justru karena itu."
Ruangan itu sunyi.
"Dia bilang," lanjut Rania, lebih pelan, "kalau orang datang menggeledah rumah ini, mereka akan buka lemari, buka laci, buka plafon, buka jok mobil. Mereka tidak akan pernah menyuruh anak berkursi roda berdiri."
Kalila memejamkan mata.
Ia melihat Faris di kepalanya. Lelaki yang selalu bau semen dan sabun murah. Yang kalau bicara serius selalu menunduk dulu ke sepatunya. Yang duduk di lantai supaya tingginya sama dengan adik iparnya.
"Dia benar," bisik Kalila.
"Dia benar," ulang Rania. "Dan itu yang bikin aku marah sampai sekarang."
Mereka membuka bungkusan itu di atas meja dapur, di bawah lampu kecil yang sama.
Ada sebelas lembar.
Lembar pertama: daftar pengiriman material, bulan Januari sampai Maret. Kolomnya rapi. Jenis barang, jumlah, tanggal masuk, nomor kendaraan pengangkut.
Kalila membaca kolom paling kanan dan tangannya berhenti.
Plat nomor yang berakhir dengan dua huruf yang gampang diingat itu. Muncul empat kali.
Ia mengambil buku gambar Rania dan menaruhnya bersebelahan. Angka di kertas kantor dan angka di tulisan tangan anak empat belas tahun berdiri berjajar, sama persis, huruf demi huruf.
"Sama," kata Rania.
"Sama," kata Kalila.
Lembar kelima: surat internal. Perintah pemindahan barang cepat kering ke gudang belakang. Alasannya satu baris, "efisiensi ruang". Di bawahnya, tanda tangan, dan di bawah tanda tangan itu, nama diketik dengan mesin tik yang huruf o-nya agak naik.
Kalila membaca nama itu tiga kali meski ia sudah tahu isinya sejak lembar pertama.
Lembar ketujuh: fotokopi tanda terima laporan keselamatan. Bulan Februari. Ditandatangani penerima. Di pojoknya ada tulisan tangan pensil, huruf kecil-kecil, bukan tulisan Faris.
Sudah saya sampaikan lisan juga. Tidak ada jawaban. D.
"Dini," kata Kalila.
Lembar kesembilan sampai kesebelas: catatan tangan Faris sendiri. Tanggal, jam, siapa bicara apa. Cara menulisnya berantakan, kadang cuma potongan kalimat, tapi susunannya sama persis dengan yang Kalila kerjakan sendiri sepuluh hari terakhir tanpa tahu bahwa suaminya sudah lebih dulu melakukannya.
Di lembar kesepuluh ada satu baris yang membuatnya berhenti lama.
Tulisannya cepat, hurufnya nyaris jatuh ke kanan semua, seperti ditulis sambil berdiri.
Kalau aku kenapa-kenapa, ini bukan kecelakaan. Cari siapa yang tanda tangan surat pemindahan barang. Jangan cari di kantor. Cari di rumah.
Di bawahnya, lebih kecil lagi:
Maaf, Lila. Aku tidak berani cerita. Aku pengecut untuk satu hal ini saja.
Kalila membaca kalimat terakhir itu empat kali.
"Pengecut," katanya pelan, kepada kertas, kepada lelaki yang sudah tidak ada. "Kamu tidur di gudang tiga malam supaya orang lain bisa pulang, dan kata itu yang kamu pakai untuk dirimu sendiri."
Sutini menunduk dan menyeka pipinya dengan punggung tangan.
Ia meletakkan kertas itu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bukan tangis. Masih bukan. Cuma sesuatu yang menekan dari dalam dan tidak menemukan jalan keluar.
"Mbak," kata Rania.
"Sebentar."
"Mbak."
"Sebentar, Ran."
Rania menunggu. Sutini menuang air putih dan mendorongnya pelan ke arah Kalila.
Ketika Kalila menurunkan tangannya, matanya kering dan wajahnya sudah kembali jadi pintu.
"Kita salin semuanya malam ini," katanya. "Tiga rangkap. Satu di lemari dapur. Satu titip ke Ken untuk dibawa ke ruang kaca. Satu lagi—" ia berhenti.
"Satu lagi apa?"
"Belum tahu. Nanti aku pikir."
Ia mengambil map cokelat bertulis KERTAS dan mulai menomori lembar-lembar itu di pojok kanan bawah. Dua belas. Tiga belas. Empat belas.
Lalu ia sampai ke halaman daftar isi, di kolom terakhir yang bertuliskan SUMBER.
Pulpennya berhenti.
Ia menulis: penghuni rumah.
Rania melihatnya. Dan Rania langsung mendorong kursinya maju sampai roda kanannya berdecit.
"Apa itu?"
"Sumbernya."
"Itu bukan sumbernya. Sumbernya aku."
"Ran."
"Tulis namaku."
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
Kalila meletakkan pulpennya. Ia menoleh, dan suaranya keluar lebih keras dari yang ia niatkan.
"Karena orang yang namanya ada di kertas ini, dicari, Rania. Faris namanya ada. Sekarang dia tidak ada."
"Mas Faris namanya ada karena dia yang menulis."
"Dan kamu mau menyusul dia?"
"Aku mau namaku ditulis," kata Rania. Suaranya tidak naik. Justru itu yang membuat Kalila diam. "Bukan karena aku mau mati. Karena kalau namaku tidak ada, kertas ini jadi kertas yang datang entah dari mana. Dan kertas yang datang entah dari mana itu gampang sekali dibuang, Mbak. Mbak sendiri yang bilang tadi siang."
"Itu beda."
"Beda kenapa?"
"Karena kamu—" Kalila berhenti.
"Terusin."
"Rania."
"Terusin, Mbak. Karena aku apa?"
Dapur itu sunyi. Kulkas menyala lagi. Sutini mundur setengah langkah dan pura-pura sibuk dengan gelas.
Kalila menarik napas. "Karena kamu adikku."
"Bukan itu yang mau Mbak bilang."
"Itu yang aku bilang."
"Bukan." Rania menepuk sandaran tangan kursinya, dua kali, pelan, bunyi plastik yang tumpul. "Mbak mau bilang karena aku duduk. Sama seperti Mas Faris. Bedanya dia pakai itu buat menitipkan sesuatu, dan Mbak pakai itu buat menyingkirkan aku."
"Aku tidak menyingkirkan kamu."
"Mbak menulis penghuni rumah."
Kalila menatap kata itu di kertas. Dua kata yang aman, netral, tidak berbahaya. Dua kata yang dipilihnya dalam waktu kurang dari satu detik, tanpa berpikir, seperti refleks tangan yang menutup wajah sebelum ada yang memukul.
Ia sadar refleks itu bukan miliknya sendiri. Ia mempelajarinya di rumah ini. Dari ayahnya. Dari semua orang yang selama empat belas tahun bicara tentang Rania sambil menghadap ke arah Kalila.
"Aku menyimpan sebelas lembar ini di bawah pantatku selama sebelas hari," kata Rania. Suaranya bergetar sekarang, tapi ia tidak berhenti. "Aku tidur di atasnya. Aku ke sekolah bawa itu. Waktu Mas Faris meninggal aku duduk di kursi plastik di ruang tamu selama empat jam, di depan orang-orang yang bilang kasihan, dan bukti tentang kematiannya ada persis di bawah badanku, dan aku tidak boleh bilang apa-apa."
Sutini menutup mulutnya dengan celemek.
"Sebelas hari, Mbak," kata Rania. "Aku sudah bayar. Jadi jangan hapus namaku."
Kalila menutup matanya sebentar.
Lalu ia mengambil pulpen, mencoret dua kata itu dengan satu garis lurus — tidak dihapus, tidak ditutup tip-ex, karena arsip yang dihapus adalah arsip yang tidak bisa dipercaya — dan menulis di sebelahnya:
Rania Husain. Pelapor. Menerima titipan dari Faris, disimpan sebelas hari.
Ia memutar map itu menghadap adiknya.
"Tanda tangan."
Rania mengambil pulpen. Ia menulis namanya dengan huruf besar yang bulat, huruf anak yang masih senang pada bentuk hurufnya sendiri, lalu membubuhkan tanggal di bawahnya tanpa disuruh.
Tintanya tebal. Ia menekan terlalu keras. Kertasnya sedikit robek di ujung huruf terakhir.
Kalila menatap tanda tangan itu lama sekali, dan di dadanya ada dua hal yang saling dorong: bangga, dan takut yang dingin dan tajam sekali.
"Sudah," kata Rania. "Sekarang aku pelapor."
"Sekarang kamu pelapor," ulang Kalila pelan.
Mereka menyalin sampai jam empat pagi. Tangan Kalila kram di lembar kedelapan. Sutini menyeduh kopi dua kali. Di luar, ayam pertama berbunyi, dan langit di atas genting mulai berubah dari hitam jadi biru tua.
Ketika semuanya selesai dan ketiga bundel sudah dibungkus kain, Rania mendorong kursinya ke pintu dapur, lalu berhenti.
"Mbak."
"Hm."
"Besok kita bicara lagi."
Kalila mengangkat wajah. "Bicara apa?"
"Tentang semua hal yang Mbak putuskan sendiri untuk aku sejak aku umur sepuluh." Rania tidak marah. Justru itu yang membuat perut Kalila dingin. "Aku sudah tulis daftarnya. Ada di buku gambarku, halaman paling belakang."
"Ran—"
"Aku belum selesai," kata adiknya. "Tidur dulu, Mbak. Besok."
Roda kursi itu berdecit sepanjang lorong, menjauh, lalu berhenti.
Kalila duduk sendirian di dapur, di depan tiga bundel kain batik yang berisi kematian dua orang lelaki, dan menunggu matahari.
Bersambung.