Rania bertemu Sinta di ruang serbaguna yang pendinginnya terlalu kencang, di lantai dua gedung pemerintah kota, dalam acara yang judulnya panjang sekali dan isinya sedikit.
Sosialisasi Rencana Peremajaan Kawasan. Begitu di spanduknya. Kursi plastik empat baris, meja panjang di depan, dan seorang laki-laki berbatik yang menunjuk gambar di layar sambil berkata bahwa desain baru ini ramah untuk semua kalangan.
Rania duduk di ujung, di tempat yang ia pilih sendiri karena cuma di situ kursinya muat. Ia sudah lima belas menit menahan diri.
"Boleh tanya?" katanya waktu sesi tanya dibuka.
"Silakan, Ibu."
"Tanjakan di gambar nomor empat itu perbandingannya berapa?"
Laki-laki berbatik itu tersenyum. "Sudah sesuai standar, Bu."
"Standar yang mana?"
"Standar yang berlaku."
"Saya tanya angkanya," kata Rania. "Bukan namanya."
Ruangan jadi sunyi dengan cara yang tidak nyaman. Ada yang batuk. Ada yang membuka ponsel.
Lalu dari baris kedua, seorang perempuan berdiri sambil membawa gulungan kertas.
"Satu banding enam," katanya. "Saya hitung dari gambar kerjanya kemarin. Ketinggian delapan puluh senti, panjang landaian empat meter delapan puluh. Itu bukan ramah. Itu bukit."
Semua kepala menoleh. Perempuan itu memakai kemeja lapangan yang lengannya digulung, sepatu berdebu, dan rambut diikat asal. Di sakunya ada penggaris siku kecil, seperti orang yang tidak pernah bisa pergi ke mana-mana tanpa alat ukur.
"Ibu dari?" tanya laki-laki berbatik itu.
"Saya kontraktor kecil," katanya. "Saya yang tahun lalu disuruh membongkar tanjakan seperti ini di proyek sebelah, karena sudah dibangun, baru ketahuan tidak bisa dipakai. Uang bongkarnya dua kali uang bikinnya. Kalau Bapak mau, saya kasih nomor tukang saya."
Sesi itu bubar dua puluh menit kemudian tanpa keputusan, seperti biasa.
Di lorong luar, Rania menyusul perempuan itu.
"Satu banding enam," kata Rania.
"Iya."
"Saya kira cuma saya yang bawa meteran ke acara begini."
Perempuan itu tertawa. Tawanya keras, tidak sopan, menyenangkan. "Saya bawa dua. Yang satu selalu hilang."
"Nama saya Rania."
"Sinta."
Mereka minum kopi di warung seberang, yang lantainya lebih tinggi dua puluh senti dari trotoar, dan Sinta menaruh papan kayu bekas dari bak mobilnya sebagai jembatan darurat tanpa bertanya lebih dulu.
"Kamu tidak tanya dulu," kata Rania.
Sinta berhenti. "Salah, ya?"
"Iya. Lain kali tanya."
"Baik," kata Sinta, dan langsung menarik papan itu kembali. "Mau saya pasang, atau kita cari warung lain?"
"Pasang," kata Rania. "Tapi karena saya yang jawab, bukan karena kamu yang memutuskan."
Sinta memandangnya lama, lalu mengangguk sekali, dan ada sesuatu di wajahnya yang terlihat seperti orang baru saja diberi peta.
Mereka duduk sampai kopi dingin. Bau kopi tubruk, bau asap knalpot dari jalan, bunyi sendok diadu di gelas orang lain. Sinta bercerita tentang mandor yang menertawakan gambarnya. Rania bercerita tentang delapan tanjakan pasar yang ia catat tiap Kamis selama bertahun-tahun sampai pengelolanya menyerah dan membetulkan enam.
"Enam dari delapan," kata Sinta. "Itu bagus."
"Itu lama."
"Semua yang bagus lama."
Enam bulan kemudian mereka menyewa ruko satu lantai di dekat terminal, karena cuma itu yang pintunya rata dengan jalan. Namanya mereka putuskan di dalam mobil, di tengah macet, sesudah membuang belasan nama yang terdengar seperti nama yayasan.
Landai.
"Cuma satu kata?" tanya Sinta.
"Satu kata," kata Rania. "Orang harus tahu isinya sebelum masuk."
Ruko itu mereka temukan sesudah menolak sembilan tempat lain.
"Yang ini pintunya rata," kata Sinta. "Tapi kamar mandinya di belakang, lewat dua anak tangga."
"Bongkar."
"Pemiliknya belum tentu mau."
"Kalau tidak mau, kita cari yang kesepuluh," kata Rania. "Aku tidak akan buka kantor aksesibilitas yang pemiliknya sendiri tidak bisa ke kamar mandi. Itu lelucon yang tidak lucu."
Pemiliknya mau, sesudah ditunjukkan hitungan Sinta bahwa membongkar dua anak tangga itu memakan biaya lebih kecil daripada satu bulan ruko kosong.
Modal awalnya dari tabungan Rania dan uang penjualan mobil Sinta. Rania menolak pinjaman dari siapa pun, termasuk yang tidak ditawarkan.
"Kenapa keras sekali soal itu?" tanya Sinta di malam pertama, sambil menyusun kursi.
"Karena nanti akan ada orang yang bilang kantor ini berdiri karena kakakku," kata Rania. "Aku mau bisa menjawabnya dengan angka, bukan dengan tersinggung."
Nara yang mengecat papan namanya. Anak itu sudah dua belas waktu itu, tangannya panjang, dan hurufnya miring ke kanan semua.
"Miring, Tante."
"Biarin," kata Rania. "Miring itu landai."
Kalila datang di hari pertama membawa nasi kotak dan satu pot tanaman, lalu pulang, lalu duduk di dapur rumah dengan ponsel di tangan selama satu jam.
Ia mengenal Bu Ratih. Direktur operasional jaringan pusat perbelanjaan yang sedang merenovasi tiga cabang. Mereka pernah satu komite, dan Bu Ratih pernah berutang budi padanya untuk hal yang tidak perlu disebut lagi.
Kalila mengetik.
Ratih, apa kabar. Saya mau titip satu nama untuk konsultan aksesibilitas kalian. Adik saya sendiri. Kerjanya rapi.
Jarinya berhenti di atas tombol kirim.
Di kepalanya, semuanya masuk akal. Cuma satu pesan. Bukan menyuap. Bukan menekan. Adiknya memang mampu. Malah efisien: kenapa harus menunggu bertahun-tahun kalau satu pesan bisa memotong jalan?
Lalu satu ingatan datang, dan datangnya tidak sopan, seperti orang yang membuka pintu tanpa mengetuk.
Rania, dua puluh tahun. Dapat tempat penelitian lapangan di luar kota. Sudah membeli tas. Sudah menghafal jadwal kereta. Dan Kalila menelepon kampus tanpa memberi tahu siapa pun, bicara dengan suara paling manis yang ia punya, dan berkata bahwa adiknya tidak jadi ikut karena alasan kesehatan.
Rania baru tahu tiga tahun kemudian. Dari orang lain.
"Ma."
Kalila terlonjak. Nara berdiri di pintu dapur sambil memegang gelas.
"Kenapa?"
"Mama dari tadi megang HP tapi nggak ngapa-ngapain."
Kalila memandang layar. Ia menekan hapus. Satu huruf, dua huruf, sampai kotak pesan itu kosong lagi, dan rasanya seperti melepaskan pegangan di tepi kolam.
"Sudah," katanya. "Nggak jadi."
Empat bulan kemudian, Rania datang ke kebun sambil membawa map berisi kontrak, dan langsung meletakkannya di meja seperti orang menaruh ikan hasil pancingan.
"Tiga cabang," katanya. "Survei, gambar, pengawasan."
"Yang mana?"
"Jaringan pusat perbelanjaan. Direktur operasionalnya Bu Ratih."
Kalila merasakan lantai bergerak sedikit di bawah kursinya.
"Bagaimana ceritanya?" tanyanya, dan berusaha keras supaya suaranya biasa saja.
"Sinta yang kirim proposal. Ditolak. Kirim lagi, ditolak. Ketiga kalinya kami datang tanpa diundang ke lokasi, kami ukur sendiri tanjakan mereka, kami foto, kami kirim hitungannya beserta perkiraan biaya bongkar kalau salah bangun." Rania mengangkat bahu. "Bu Ratih menelepon dua hari kemudian. Katanya dia paling benci proposal, tapi dia percaya pada angka bongkar."
"Bagus," kata Kalila.
"Kenapa Mbak mukanya begitu?"
Kalila menaruh gelasnya.
"Empat bulan lalu aku hampir mengirim pesan ke Bu Ratih," katanya. "Menitipkan namamu."
Rania diam.
"Hampir," ulang Kalila. "Sudah aku ketik. Tinggal kirim. Aku hapus."
Angin sore lewat, membawa bau mangga dari peti-peti di depan ruang kaca. Di kejauhan Ken dan Sinta sedang berdebat tentang cara menyangga dahan, dan suara mereka naik turun seperti orang bertengkar padahal tidak.
"Terima kasih sudah berhenti," kata Rania akhirnya.
"Aku tidak minta terima kasih."
"Aku tahu. Tapi aku tetap bilang, karena berhenti itu bukan hal kecil buat Mbak." Rania memainkan pinggiran map di pangkuannya. "Dan aku juga mau bilang yang satunya."
"Bilang."
"Waktu penelitian lapangan itu, Mbak tidak berhenti."
Kalila mengangguk pelan. "Iya."
"Aku tidak menuntut apa-apa sekarang. Aku cuma tidak mau kita berpura-pura urusan itu sudah selesai gara-gara hari ini bagus."
"Tidak selesai," kata Kalila. "Aku tahu."
"Bagus," kata Rania, dan tersenyum, dan senyum itu tidak pahit — cuma jujur, yang kadang lebih sulit ditanggung.
Malam itu mereka makan di beranda. Bibi Mai membawa sambal, pak Adi datang membawa dua sisir pisang yang tidak ada yang minta, Nara duduk di anak tangga sambil memangku piring.
Sinta ternyata bisa membuat Ken tertawa sampai batuk, hanya dengan cerita tentang mandor yang mengecor tanjakan terbalik.
Kalila memperhatikan dari kursinya.
Ia melihat Sinta menggeser gelas Rania sedikit lebih dekat, tanpa berkata apa-apa, karena tahu jangkauan tangan Rania di meja setinggi itu. Ia melihat Rania mengetuk punggung tangan Sinta dua kali, pelan, seperti kode yang sudah lama dipakai. Ia melihat keduanya berhenti bicara di tengah keramaian dan saling memandang selama dua detik lebih lama daripada yang perlu.
Kalila memalingkan wajah dan pura-pura sibuk dengan sambal.
Ada hal-hal di meja itu yang bukan haknya untuk ditonton.
"Mereka bagus," kata Ken pelan di sampingnya.
"Iya."
"Kamu tidak akan ikut campur?"
"Aku akan ingin," kata Kalila jujur. "Aku akan ingin tiap hari. Tapi aku sudah tahu bagaimana rasanya jadi orang yang hidupnya diatur orang lain demi kebaikannya sendiri. Aku tidak akan jadi Elo yang versi sayang."
Ken memandangnya, agak kaget dengan kerasnya kalimat itu.
"Bukan berarti aku sama dengan dia," lanjut Kalila. "Dia memutuskan supaya orang jadi miliknya. Aku memutuskan karena takut. Tapi buat yang diputuskan, dua-duanya sama saja: hidupnya jadi bukan miliknya."
"Terus kamu mau apa?" tanya Ken.
"Aku mau belajar duduk diam," kata Kalila. "Itu saja. Kelihatannya gampang. Ternyata itu pekerjaan paling berat yang pernah aku ambil."
Ken mengambil piring kosongnya dan piring Kalila, lalu berdiri.
"Kalau begitu duduk," katanya. "Aku yang cuci."
Di ujung meja, Rania tertawa keras karena sesuatu yang dikatakan Nara. Sinta ikut tertawa sambil menutup mata, dan Bibi Mai menepuk-nepuk meja karena tidak paham lelucon itu tapi tidak mau ketinggalan.
Kalila mendengarkan tawa itu sampai habis.
Bersambung.