Kalila berusia delapan puluh tiga ketika pneumonia membuat napasnya semakin berat. Dokter menjelaskan pilihan rumah sakit, antibiotik di fasilitas, serta perawatan kenyamanan. Kalila masih memiliki kapasitas dan memilih tetap di unitnya dengan oksigen serta obat, tanpa ventilator jika keadaan memburuk.
Nara serta Tara datang. Rania tidak mampu bepergian dan berbicara melalui panggilan. Mereka tidak menuntut Kalila bertahan demi keluarga.
"Mama takut?" tanya Nara.
"Iya. Juga lelah."
Kalila meminta jendela dibuka dan batu dari kebun diletakkan di meja. Ia tidak meminta semua foto tiga lelaki yang pernah dicintainya. Foto Ken berada di lemari, sedangkan Devan dan Faris tinggal dalam arsip.
Pada malam kedua, Kalila mengalami kebingungan. Ia memanggil Ken, lalu menyebut nama Nara. Anak perempuannya memperkenalkan diri setiap kali mata Kalila terbuka.
"Aku Nara, anak Mama."
Kalila tersenyum sekali dan meminta mangga. Buah hanya dapat disentuh ke bibir karena ia sulit menelan.
Petugas memberi obat kenyamanan sesuai petunjuk. Nara tidak meminta resusitasi ketika napas berhenti menjelang pagi.
Kalila meninggal dengan Nara serta Tara berada di kamar. Rania mendengar kabar beberapa menit kemudian dan memilih tidak menyalakan panggilan video pada tubuh.
Wasiat membagi aset kepada Nara, Rania, pekerja perawatan, serta lembaga yang telah ditentukan. Mira dan Indah menerima hak berdasarkan formula, bukan hadiah karena dianggap keluarga.
Tubuh Kalila dikremasi. Abunya ditaburkan sebagian di kebun buah dekat Ken, sebagian di laut sesuai wasiat, dan sebagian tidak disimpan. Tidak ada penyatuan simbolis dengan Devan atau Faris.
Hari terakhir Kalila tidak membawa kutukan baru. Ia meninggal karena penyakit setelah hidup panjang, dengan pilihan yang dicatat dan orang yang menghormati batas sampai napas terakhir.
Keputusan perawatan diperiksa dua kali karena dokter jaga belum mengenal Kalila. Ia menanyakan pemahaman tentang akibat menolak ventilator. Kalila salah menyebut tanggal, tetapi mampu menjelaskan tujuan menjaga kenyamanan serta peluang kecil kembali ke kondisi yang dianggap layak.
"Aku tidak memilih mati pagi ini," katanya. "Aku memilih batas perawatan."
Dokter mencatat kapasitas khusus keputusan itu dan menghubungi dokter utama. Nara tidak diminta memberi izin pengganti selama ibunya masih mampu.
Indah mengatur jadwal petugas agar wajah yang dikenal lebih sering hadir, tetapi memastikan tidak satu pekerja berjaga tanpa istirahat. Mira datang sebagai teman setelah Kalila mengatakan ingin bertemu.
"Aku gak bawa makanan karena pasti dilarang," kata Mira.
"Untuk sekali ini kamu patuh."
Mereka tertawa sampai Kalila batuk. Mira bercerita tentang cucunya serta pekerjaan baru, bukan mengulang seluruh masa pengasuhan.
Rania berbicara melalui layar. Napasnya sendiri telah lemah karena usia. Ia mengatakan syal Kalila masih disimpan dan bertanya apakah kakaknya menyesal dahulu membawa bukti tentang Elo.
"Tidak," jawab Kalila. "Aku menyesal kadang bicara seolah aku menyelamatkanmu."
"Aku sudah koreksi di arsip."
"Bagus."
Mereka mengakhiri panggilan sebelum salah satu merasa wajib mengucapkan kata sempurna. Sinta, Ken, orang tua, Devan, dan Faris tidak dipanggil satu per satu sebagai daftar kematian.
Nara meminta Tara mengurus pesan masuk. Perusahaan, media, serta arsip hanya mendapat informasi bahwa Kalila sedang menerima perawatan privat. Tidak ada laporan keadaan setiap jam.
Pada hari kedua, petugas menanyakan apakah batu kebun memiliki nilai agama. Kalila menggeleng. Batu itu hanya benda yang pernah berada dekat mangga Ken, terbawa ke rumah baru, lalu ke fasilitas.
"Gak semua benda perlu cerita besar," katanya.
Kalila meminta Nara membaca janji pernikahan satu baris. Setelah dibacakan, ia mengatakan kertas boleh dimusnahkan bersama dokumen privat. Nara ingin menyimpan, tetapi mengangguk.
"Aku boleh menyimpan kalimatnya dalam ingatan?"
"Ingatanmu milikmu."
Malam terakhir, kebingungan meningkat. Kalila mengira dirinya akan menikah dan bertanya apakah gaun sudah siap. Nara menjawab dirinya aman dan tidak ada upacara yang harus dikejar. Ia tidak mencoba menjelaskan puluhan tahun dalam satu napas.
Saat jernih sebentar, Kalila bertanya apakah Nara bahagia tanpa anak. Nara menjawab iya, tidak selalu, seperti hidup siapa pun. Kalila tersenyum.
"Jawaban bagus."
Napas berhenti setelah matahari terbit. Perawat mengikuti petunjuk tanpa resusitasi. Nara memegang tangan setelah memastikan dirinya ingin, lalu melepaskan ketika dokter datang.
Pekerja yang merawat Kalila diberi kesempatan berpamitan jika memilih dan mendapat cuti berbayar. Mereka tidak disebut anak-anak Kalila untuk menutupi hubungan kerja.
Kremasi dilakukan tanpa siaran. Di laut, angin membawa sebagian abu ke air dan sebagian ke sisi perahu. Tidak ada yang menganggap arah abu sebagai pesan.
Janji satu baris dimusnahkan sesuai instruksi. Nara menyimpan batu, bukan karena diperintah, tetapi karena benda kecil itu terasa cukup.
Sebelum kremasi, pelaksana wasiat menanyakan apakah Nara ingin menunda pemusnahan janji. Instruksi Kalila jelas, tetapi hukum memberi waktu administratif singkat. Nara memakai waktu itu untuk memotret amplop tertutup, lalu menghapus foto sebelum proses.
"Aku hampir membuat salinan rahasia," katanya kepada Tara.
"Kamu berhenti."
"Bukan berarti keinginannya hilang."
Menghormati batas orang mati tidak memerlukan dirinya merasa ikhlas sempurna. Cukup tidak melanggar.
Rania meminta upacara abu di laut direkam karena tidak mampu hadir. Setelah menonton satu kali, ia meminta file dihapus dari perangkat umum dan menyimpan salinan privat. Rekaman tidak masuk arsip tanpa persetujuannya.
Di fasilitas, unit Kalila tidak langsung dikosongkan. Kontrak memberi keluarga tujuh hari dan petugas tetap menerima bayaran. Nara datang dua kali, bukan menyelesaikan semuanya dalam satu hari.
Ia menemukan daftar keluhan dewan penghuni serta notulen kenaikan biaya. Dokumen diserahkan kepada ketua dewan, bukan dibawa sebagai kenangan. Kerja Kalila di sana milik komunitas.
Indah berkata Kalila sering keras kepala. Nara tertawa dan bertanya apakah ada masalah yang belum diselesaikan. Satu pengembalian biaya masih tertunda. Pelaksana wasiat menyelesaikan melalui prosedur.
Pada hari ketujuh, Nara menutup pintu unit dan menyerahkan kunci. Penghuni lain tidak diminta membuat barisan perpisahan. Beberapa melambaikan tangan dari ruang makan.
Di laut, Nara tidak menyebut ketiga lelaki atau seluruh perkara. Ia hanya mengatakan ibunya menyukai mangga, warna gelap ketika muda, dan biru saat tua. Tara menambahkan bahwa Kalila sering mengoreksi label pameran.
Abu larut. Tidak ada bagian tubuh yang dibawa pulang selain batu yang memang sudah dipilih Nara.
Malamnya, Nara tidur panjang dan bangun merasa bersalah karena dapat tidur. Konselor duka menjelaskan tubuh mengambil istirahat ketika mampu. Kelelahan bukan kurang cinta.
Hari-hari berikutnya diisi dokumen, pesan, serta makanan kiriman. Nara mengatur agar kelebihan makanan diberikan dengan izin, bukan dibuang. Ia kembali bekerja setelah dua minggu dan tetap menangis di toilet pada hari pertama.
Kematian Kalila sesuai pilihan tidak membuat duka mudah. Ia hanya mengurangi pertanyaan apakah tubuhnya dipaksa melewati batas terakhir.