Chae yoon dapat melihat kerumunan orang mengata-ngatai sang Jenderal yang berdiri di antara mereka dan meminta Jenderal melepaskan Choi Pansul. Jika dia Jenderal yang kejam, pasti dia sudah menebas kepala para warga yang tidak sopan terhadapnya.
Chae yoon baru saja berjalan mendekat hendak ikut menjelaskan, namun tiba-tiba
Slebb!
Sebuah panah menancap di perut sang Jenderal, para warga terkejut dan saling menatap, sebenarnya mereka takut akan mendapat masalah dengan kejadian itu.
"Jenderal Kim!" seorang prajurit berusaha menyadarkannya.
"Waspada, cari tahu dari mana panah ini berasal!"
Warga hanya terlihat ketakutan sambil memandangi sang Jenderal yang kesakitan.
"Siapapun yang bisa mengobatinya?! Aku butuh tabib untuk mengobatinya!"
"Biar ku lihat!" dengan susah payah Chae yoon melewati kerumunan warga untuk menghampiri dan memeriksa keadaannya.
"Hey Chae yoon! Apa yang akan kau lakukan?!"
"Kau akan menolong pria jahat ini?"
Teriak beberapa warga.
"Dia berusaha memeras warga, biarkan dia mati, Chae yoon!"
"Hentikan! Dia bukan Jenderal palsu. Choi Pansul, dia menggelapkan berkarung-karung garam, itulah mengapa kalian sulit mendapatkan garam, dan setiap kali kalian mendapatkannya, kalian harus membayarnya dengan harga yang mahal. Lalu mengapa kalian membela pria itu?!" kesal Chae yoon.
"Benarkah??"
"Apa? Choi Pansul menyimpan berkarung-karung garam untuk keuntungannya??"
"Mengapa bisa?"
"Benar, sudah beberapa tahun ini kita sulit mendapatkan garam."
"Choi Pansul mengkhianati kita."
Warga mulai menyadari ucapan Chae yoon.
"Tuan, maaf jika kami salah paham tentangmu, biarkan kami merawat Jenderalmu hingga Ia sembuh." ujar salah seorang warga.
"Chae yoon? Namamu Chae yoon?" tanya seorang prajurit.
"Yee.."
"Kau bisa mengobatinya?"
"Aku akan mengobatinya, bagaimana jika kita membawanya ke rumah belajar, kalian bisa menggunakan tempat itu selama aku mengobati lukanya."
"Baiklah, kita harus segera membawanya ke sana."
*
Chae yoon sudah selesai mengobati luka Jenderal Kim, Ia banyak belajar cara pengobatan dari ibunya.
"Apakah dia akan baik-baik saja?"
"Lukanya tidak seberapa, tapi Ia tetap harus beristirahat, sebaiknya minta prajurit yang lain untuk berjaga-jaga. Dari yang aku tahu Choi Pansul memiliki banyak orang yang bekerja padanya, aku takut mereka akan mencoba membebaskan Choi Pansul dengan menyerang kalian."
"Jangan khawatir, beberapa prajurit sudah berjaga di sana, terimakasih sudah mengobatinya."
Tiba-tiba Yuri datang menemuinya.
"Chae yoon! Kau harus pulang, ibumu mencarimu."
"Apa dia marah?" khawatir Chae yoon.
"Sudah sebaiknya kita pulang." Yuri menarik lengan Chae yoon dan membawanya pulang.
*
Setelah bertemu dengan ibunya, Chae yoon mulai bercerita tentang Jenderal yang Ia tolong dan merawatnya. Ia pikir ibunya akan marah dan melarangnya menemui jenderal itu lagi, tapi tampaknya sang Ibu malah mendukungnya dan membuatkan makanan untuk sang Jenderal.
Malamnya, Chae yoon kembali ke rumah belajar, ternyata sang Jenderal sudah sadarkan diri.
"Terimakasih karena sudah berkenan mengobatiku." ujar Jenderal Kim dengan menahan rasa sakitnya.
"Ku bawakan makanan untukmu, ibuku yang membuatnya." ujar Chae yoon memberikan semangkuk bubur untuk sang Jenderal.
"Sampaikan rasa terimakasihku padanya."
"Baik Jenderal."
"Siapa namamu?"
"Park Chae yoon."
"Park Chae yoon, ku rasa namamu seindah hatimu."
Chae yoon tertawa lirih, "Maaf, karena sudah menyulitkanmu dengan mendirikan rumah belajar."
"Kau memiliki alasan mendirikannya?"
"Aku hanya merasa kehidupan ini sangat tidak adil untuk rakyat miskin seperti kami, sehingga dengan pengetahuan kami yang terbatas, kami harus terus hidup dengan kesulitan. Berbeda dengan kalian, bukankah hidupmu begitu nyaman, kau beruntung dengan pangkat yang kau miliki."
"Hidup dengan kenyamanan?" pria yang dipanggil Jenderal itu tertawa sambil meringis menahan rasa sakitnya, "Ku rasa akan lebih menyenangkan menjadi rakyat biasa." tambahnya.
"Mengapa? Bukankah kau memiliki segalanya."
Lagi-lagi Jenderal Kim tertawa lalu terbatuk, segera Chae yoon memberinya segelas air.
"Kau bahkan tidak bertanya namaku."
Chae yoon yang sejak tadi tak mau menatap sang Jenderal, terkejut ketika sang Jenderal menyebutkan namanya.
"Kim Taewon." ujarnya.
"Yee?"
"Kau bisa memanggilku Jenderal Kim."
"Yee.."
Setelah memastikan Jenderal Kim memakan buburnya, Ia berpamitan dan Jenderal Kim meminta beberapa anak buahnya untuk mengantar Chae yoon sampai kerumah.
***
"Untukmu." Jenderal Kim meletakkan sebuah kotak di atas meja.
"Yee?" Chae yoon masih tak mengerti, kemudian Jenderal Kim memerintahkan anak buahnya untuk membuka kotak tersebut.
"T-Tuan, aku tidak bisa menerima ini, aku menolongmu bukan karena menginginkan bayaran darimu." tolak Chae yoon setelah mengetahui isi di dalamnya, sebuah perak dan beberapa emas.
Jenderal Kim dan salah seorang prajuritnya saling menatap, merasa aneh karena Chae yoon menolaknya.
"Kau benar-benar tak membutuhkannya? Aku memberikan ini sebagai tanda terimakasihku padamu karena sudah menolong kami."
"Ini terlalu berlebihan, aku menolongmu bukan untuk ini, sungguh." yakin Chae yoon.
"Tapi kau-"
"Tuan, tolong jangan memaksaku." pinta Chae yoon.
Jenderal Kim tersenyum dan akhirnya menarik kotak itu kembali.
"Katakan padaku jika kau berubah pikiran." ujar Jenderal Kim.
Yuri sesekali menggoyangkan tangan Chae yoon, sungguh jika itu dirinya tentu dia tak akan menyia-nyiakan pemberian dari sang Jenderal. Chae yoon melirik Yuri dan membulatkan matanya yang berarti 'Tidak'.
"Lalu bagaimana dengan Choi Pansul?" tanya Chae yoon.
"Beberapa prajuritku telah mengamankannya."
"Syukurlah.."
Kemudian keduanya berpamitan hendak pergi, dan entah mengapa Jenderal Kim meminta Chae yoon untuk kembali nanti malam. Chae yoon yang mengira ada hal penting akhirnya mengiyakan permintaan sang Jenderal.
**
Malamnya Chae yoon kembali menemui Jenderal Kim. Kondisinya sudah sangat baik, bahkan Jenderal Kim meminta Chae yoon untuk menemaninya berjalan-jalan. Awalnya Chae yoon hendak menolak, tapi bagaimana bisa Ia menolak permintaan pria itu, Jenderal Kim begitu berkharisma untuk mendapat penolakan dari siapapun.
Chae yoon dan Jenderal Kim berjalan-jalan di desa Pyongsan yang ramai saat malam, bahkan kegiatan jual beli warga, sebagian di lakukan pada malam hari. Mereka tidak hanya berdua, tentu beberapa prajurit mengikutinya dari belakang. Chae yoon dapat melihat sang Jenderal yang sama sekali tak menakutkan seperti yang dibayangkannya, Ia pria yang sangat ramah dan mudah tersenyum bahkan pada siapapun yang menyapanya.
Beberapa kali Chae yoon mencuri pandang kepada Jenderal Kim, dia tampan dan pembawaannya tenang, pakaiannya sebagai seorang Jenderal menambah kesan tersendiri baginya, sangat-sangat berkharisma.
Jenderal Kim menyadari dirinya di perhatikan oleh Chae yoon. Sehingga Ia balik menatap Chae yoon dan mengernyitkan dahi. Chae yoon yang terkejut membulatkan mata dan menundukkan wajah. Jenderal Kim hanya tersenyum melihat tingkah Chae yoon yang menggemaskan.
Tampaknya tak hanya Chae yoon yang tertarik pada sang Jenderal, sang Jenderal pula diam-diam sudah memperhatikan Chae yoon, Ia menilai Chae yoon adalah gadis yang sangat berbeda, gadis desa yang cerdas dan pemberani. Bahkan dengan penampilannya yang begitu sederhana, Chae yoon terlihat cantik dan cukup menarik perhatiannya.
Jenderal Kim mencoba mencairkan suasana dengan mengajak Chae yoon berbincang tentang banyak hal, tentang keluarganya bahkan pengetahuannya tentang banyak hal. Jenderal Kim terkesan dengan segala kemampuan Chae yoon.
"Chae yoon, maukah kau menyimpan benda ini untukku?"
"Yee?" Chae yoon melihat sebuah jepit rambut yang sangat cantik berada di tangan Jenderal Kim.
"Aku akan pergi ke Ibukota, aku tidak tahu kapan lagi aku akan datang ke sini, jadi simpanlah ini untukku."
Mendengar sang Jenderal yang hendak pergi, tiba-tiba Chae yoon merasa sedih, apakah mungkin Jenderal Kim tak akan kembali lagi ke Pyongsan mengingat desanya teramat jauh dari Ibukota.
"A-aku akan menyimpannya." Chae yoon meraih jepit rambut itu.
"Besok pagi, maukah kau datang menemuiku di perbatasan, mungkin hanya untuk memberiku salam perpisahan."
Chae yoon berpikir mungkin tak ada kesempatan lain, selain hari esok untuk bertemu dengan Jenderal Kim. Entah mengapa, permintaan Jenderal Kim membuatnya merasa senang dan begitu bersemangat untuk menemuinya.
Chae yoon mengangguk dengan semangat.
"Aku akan pergi pada pukul enam." ujar Jenderal Kim.
"Aku akan datang ke perbatasan." yakin Chae yoon.
***
Chae yoon berlari menuju perbatasan desanya. Ia terlambat pergi menemui Jenderal Kim karena pekerjaannya dirumah. Ini sudah pukul 6 lebih, tapi Chae yoo belum menampakan diri di perbatasan.
"Jenderal Kim, kita harus segera pergi." salah seorang prajuritnya mengingatkan.
Meski Ia tahu jika dirinya harus segera pergi, Jenderal Kim masih tak mau beranjak, pasti sebentar lagi Chae yoon akan datang, yakinnya.
"Perintahkan yang lain untuk berangkat lebih dulu."
"Jenderal, mereka tak akan mau meninggalkanmu."
"Jika begitu tunggulah sebentar lagi, ku yakin Chae yoon akan segera datang!" Jenderal Kim menaikkan sedikit suaranya karena merasa kesal dan panik bersamaan.
Beberapa menit berlalu, Jenderal Kim tahu Ia tak bisa menunggu lebih lama.
"Jenderal.." panggil prajuritnya lagi.
Jenderal Kim melepas ikat kepalanya dan meletakkannya di atas batu besar di sana. Salah seorang tangan kanannya itu merasa heran dengan Jenderalnya yang sampai melakukan hal itu.
"Aku tak ingin dia kecewa saat sampai di sini, setidaknya dia tahu aku sudah menunggu." jelasnya.
Sang Jenderal akhirnya pergi dengan perasaan sedih karena tidak sempat bertemu dengan Chae yoon. Tak lama setelah mereka menghilang, Chae yoon datang dengan tergesa-gesa, Ia benar-benar sudah terlambat. Ia mencoba menemukan keberadaan sang Jenderal, tapi sama sekali tak Ia temukan siapapun di sana. Tak hanya sang Jenderal, Chaeyoung-pun merasa sedih karena Ia terlambat datang, padahal Ia sudah berlari bergitu cepat untuk sampai ke perbatasan.
Di atas batu besar itu, Chae yoon menemukan ikat kepala milik Jenderal Kim yang sengaja di letakkannya di sana, Ia tersenyum saat melihatnya, pasti Jenderal Kim sudah lama menunggu, pikirnya. Semua memang salahnya, karena tak datang tepat seperti yang dijanjikan.
*
Chae yoon berjalan gontai, sedih rasanya tak sempat mengucapkan salam perpisahan pada Jenderal Kim, langkahnya tertuju pada rumah belajar miliknya. Kemarin rumah belajar ini ramai, tapi sekarang tampak sepi.
Lamunannya buyar ketika Ia mendengar suara ribut dari desanya, Ia bangkit dan berlari menuju suara bising itu. Chae yoon terkejut ketika melihat pasar desa Pyongsan hancur, mungkinkah desa mereka kedatangan orang-orang pembelot kerajaan.
Ibu. Chae yoon terpikirkan Chae ra, jika memang ini ulah para pemberontak kerajaan, Ia dan ibunya harus segera pergi dari desa. Namun langkahnya terhenti ketika melihat banyak orang asing terlihat brutal, membunuh penduduk desa pria dan wanita bahkan mereka mengejar para gadis-gadis desa. Tubuh Chae yoon bergetar takut, Ia masih bersembunyi dengan lututnya yang lemas, Ia begitu takut untuk melangkahkan kakinya mencari sang Ibu yang entah di mana.
"Tangkap semua gadis yang ada di sini! Ambil harta semua orang!" teriak salah seorang pria mengerikan.
Chae yoon semakin panik, Ia berlari sambil menangis, mencari jalan aman untuk sampai ke rumahnya, Ia hanya berharap sang Ibu belum pergi ke pasar untuk berjualan. Beruntung Chae yok berhasil sampai ke rumahnya, baru saja Ia berjalan menuju pintu rumah, tiba-tiba ibunya terlempar dari dalam.
Chae ra melihat putrinya berdiri mematung ke arahnya, lebih tepatnya Chae yoon begitu terkejut melihat kejadian di hadapannya.
"I-Ibu!!" Chae yoon berteriak melihat tubuh Chae ra yang berlumuran darah. Ia hendak berlari membantu ibunya, tapi sang ibu tak membiarkan putrinya mendekat.
"Chae yoon! Pergi! Pergilah! Selamatkan dirimu!" perintahnya.
Chaeyoung menghentikan langkahnya, menangis dan terus menggeleng.
"Pergi Chae yoon!"
Chae yoon masih mematung, Ia tak mau pergi meninggalkan ibunya. Sampai seorang pria menakutkan keluar dari rumahnya dan hendak mengejar Chae yoon, namun dengan sigap Chae ra menahan kaki pria itu hingga membuatnya terjatuh.
"Pergi Chae yoon! Cepat!" Chae ra terus berteriak.
Chae yoon tak mau pergi meninggalkan ibunya, tapi jika Ia tetap di sana, tentu Ia takkan selamat dan Ia tidak akan bisa menolong ibunya sehingga Chae yoon berlari sekuat-kuatnya, berlari menuju hutan. Ketika Ia kebingungan menentukan arah, seseorang menariknya ke dalam sebuah gua kecil.
"Lepas-"
"Sstttn Chae yoon ini aku!"
"Yuri?!"
"Pelankan suaramu."
"Yuri? Kau selamat?"
Yuri mengangguk.
"Yuri ibuku-"
"Aku tahu, kita harus menyelamatkan diri, jika kita sama-sama tertangkap tak akan ada harapan."
"Yuri aku harus menyelamatkannya."
"Aku tahu Chae yoon." Yuri adalah teman masa kecil Chae yoon, Yuri hanya hidup bersama ayahnya yang pemabuk, dan ibunya telah meninggalkan Yuri sejak kecil, dalam situasi seperti ini tak ada yang Ia khawatirkan kecuali dirinya.
***