Seorang wanita berumur awal 40 tahunan tengah memejamkan matanya seraya merasakan pijatan di punggungnya. Namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya dan mengganggu waktu bersantainya.
"Nyonya.. Utusan Tuan Hongja ingin menemuimu." seorang pelayan berseru dari depan pintunya.
Wanita yang dipanggil nyonya itu hanya melambaikan tangan memperbolehkan tamunya untuk masuk. Pelayan membukakan pintu kamar dan seorang pria utusan pedagang Hongja itu masuk. Kemudian segera wanita itu memerintahkan para pelayannya untuk keluar dari kamarnya.
"Apa ada hal penting?"
Utusan Tuan Hongja mendekat kemudian membisikkan sesuatu. Wanita itu hanya terus mengangguk mendengarkan ucapannya.
"Katakan padanya, akan ku lakukan untuknya."
"Yee." pria itu segera pergi.
**
Kepala kasim membawa Chae yoon dan Yuri ke sebuah ruangan. Tampaknya seorang wanita yang tadi berada di kamarnya telah berada di sana dengan beberapa dayang lainnya. Chae yoon dan Yuri melihatnya dengan sedikit takut karena wanita itu tampak menakutkan dan mendominasi.
"Hanya mereka?"
"Ku rasa Hongja tidak seberapa beruntung kali ini." jawab Kepala Kasim.
"Baiklah, biar ku perkenalkan diriku pada kalian." ujar wanita itu.
"Aku adalah Dayang Kepala Choi rong dan dia adalah Kepala Kasim Jang Jimo."
Chae yoon dan Yuri yang masih sangat tidak berpengalaman berada di istana hanya mengangguk.
"Biar ku ajarkan cara memberi hormat dengan benar." kemudian Kepala Dayang Choi rong memerintahkan seorang dayang lainnya untuk mengajari cara memberi hormat, segera mereka melakukannya di hadapan Kepala Kasim dan juga Dayang Kepala.
"Biar ku tempatkan mereka di istana selir sukwon yang baru."
"Yee?" Kepala Kasim menatap Dayang Kepala.
"Apa kau keberatan Tuan Jang?"
"Bahkan calon selir sukwon saja belum menunjukkan diri di istana, dan apa kau sudah tahu di mana Permaisuri Kang akan menempatkan calon selir sukwon?" tanya Tuan Jang.
"Akan ku luruskan permasalahan ini pada Permaisuri, kau tidak perlu khawatir Tuan Jang." tampaknya Kepala Kasim tak ingin berdebat dengan Dayang Kepala, Ia hanya sedikit menghela nafas dan meninggalkan ruangan, menyerahkan Chae yoon dan Yuri kepada wanita yang tadi mendapat pesan dari pedagang Hongja. Bahkan kini wanita itu tampak lekat memperhatikan Chae yoon dan Yeri.
"Siapa namamu?" tanyanya pada Yuri.
"K-kim Yuri, Nyonya."
"Lalu, kau?"
"Chae yoon."
"Chae yoon." Dayang Choi mengulang ucapannya.
"Berikan pakaian itu padanya." perintahnya, lalu seorang dayang mendekat dan memberikan hanya satu buah pakaian pada Yuri.
"Kau pasti tahu, mengapa kau dikirim kemari." ujar Dayang Choi pada Yuri yang hanya terdiam.
"Kau akan bekerja untuk istana, kau akan mengabdi di sini sebagai pelayan istana." jelasnya tepat dihadapan Yuri.
"Yee.."
"Bagaimana dengan diriku?" tanya Chae yoon menyadari jika Dayang Choi tidak memasukkan Ia ke dalam tugas istana.
"Kau cukup berani menanyakan posisimu saat ini, mungkin itulah alasan kau berbeda dan lebih istimewa, jadi aku tak bisa mengirimmu hanya sebagai pelayan istana saja."
"Y-yee?"
"Bawa pelayan Yuri menuju kamarnya dan jelaskan tugas-tugasnya."
"Yee!"
Beberapa dayang menuntun Yuri untuk mengikutinya, tapi Yuri maupun Chae yoon tak mengerti mengapa mereka berdua harus di pisahkan. Chae yoon terpikirkan akan ucapan Dayang Choi bahwa dirinya berbeda dan lebih istimewa, namun itu justru membuat Chae yoon merasa takut sehingga Ia berlutut dan meminta Dayang Choi untuk menjadikannya pelayan sama seperti Yuri.
"Nyonya, maaf jika aku bersikap lancang kepadamu. Tapi biarkan aku bekerja sebagai pelayan saja bersamanya, aku tidak membutuhkan pekerjaan lain yang lebih dari sekedar pelayan. Ku mohon Nyonya." Chae yoon terus meraih kaki Dayang Choi yang terus mencoba menghindarinya.
"Hentikan Chae yoon, aku tidak akan menyakitimu. Berdirilah, dan akan ku antar kau ke tempat yang lebih baik dari ini."
Chae yoon masih merasa ragu dan masih tak beranjak, namun Dayang Choi kembali meyakinkannya.
"Bangunlah, jangan takut."
Chae yoon mulai percaya dan mengikuti kemana langkah kaki Dayang Choi membawanya, hingga sampailah mereka di pintu depan gerbang istana. Dayang Choi berbisik pada seorang penjaga dan tak menunggu lama, penjaga itu pergi dari tempatnya. Dayang Choi menghampiri Chae yoon dan meminta Ia menunggu.
Chae yoon terkejut ketika tiba-tiba sebuah tali dilesatkan ke dalam mulutnya dan diikatkan di kepalanya, tentu hal itu membuat Chae yoon kesulitan untuk bicara, kemudian mereka mengikat kedua tangan Chae yoo lalu menutup kepalanya dengan sebuah kain hitam dan seorang penjaga mengangkat tubuhnya, meletakkannya di sebuah terungku yang bergerak. Chae yoon tebak Ia kini berada di atas sebuah gerobak.
Chae yoon tak cukup kuat untuk berontak melepaskan diri, Ia bahkan merasakan tubuhnya di lempar dengan kuat lagi dan lagi hingga Ia tak sadarkan diri.
***
Chae yoon tak tahu kemana orang-orang itu membawanya hingga Ia terbangun dan masih dalam kondisi yang sama. Namun kini terungku itu sudah tak bergerak dan Chae yoon dapat mendengar mereka membuka pintu terungku dan menariknya untuk keluar, kemudian melepaskan penutup di kepalanya beserta ikatan-ikatan pada tubuhnya.
"Jaga dia dengan baik, Tuan Hongja menginginkannya."
"Aku mengerti!" wanita di hadapan Chae yoon terlihat menyeramkan dengan bibir yang sangat kemerahan dan hanbok yang menampakkan sedikit bagian dadanya.
"Nyonya, dimana aku? Aku tidak seharusnya berada di sini, aku harus kembali ke istana untuk bertemu sahabatku." ujar Chae yoon panik.
"Istana?? Cihhh!!" wanita itu seolah merendahkannya.
"Lihatlah dirimu! Dengan pakaianmu yang sangat lusuh itu, kau meminta untuk kembali ke istana?"
"Tapi Nyonya, aku harus kembali ke istana." Chae yoon berlutut di hadapan wanita itu dengan memohon.
"Ck! Singkirkan tanganmu!" dia mendorong Chae yoon hingga terjatuh ke tanah.
"Jangan banyak bicara, bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu dengan itu!" wanita itu melempar pakaian pada Chae yoon, dan menyuruh beberapa orangnya untuk membawa Chae yoon ke sebuah kamar.
Chae yoon masih terus memohon untuk di lepaskan namun tampaknya tak ada yang peduli. Chae yoon memperhatikan hanbok di pangkuannya, meski tak ada yang aneh dengan pakaian itu, Chae yoon masih merasa janggal. Di mana Ia sebenarnya dan mengapa Dayang Choi membawanya ke tempat ini tanpa mengatakan apapun. Chae yoon terus berpikir, Ia merasa lelah dan tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
*
"Hmm.. Kau belum mengganti pakaianmu?"
Suara decitan pintu bersamaan dengan suara seorang wanita mampu membangunkan Chae yoon, Ia terperanjat dan panik ketika kali ini seorang wanita yang berbeda menghampirinya.
"Siapa kau?"
"Aku? Kau tidak perlu tahu siapa aku, sebaiknya segera ganti pakaianmu."
"Tidak! Aku bahkan tak tahu di mana aku sekarang." tolak Chae yoon.
"Kau tak tahu di mana dirimu sekarang?"
"Nona, bisakah kau memberitahuku di mana aku sebenarnya?"
Wanita itu memperhatikan Chae yoon seolah tak mengerti.
"Aku di ikat dan mereka menutup kepalaku dengan kain, aku tidak tahu kemana mereka membawaku pergi."
"Jadi kau dipaksa datang kemari?"
"Yee?"
"Ini adalah rumah bordil, rumah di mana orang-orang menjajakan dirinya demi uang."
"Ru-rumah bordil?!" Chae yoon tampak sangat terkejut hingga menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Kau terlihat begitu terkejut." ujar wanita itu masih terus memperhatikan Chae yoon.
"Aku tidak seharusnya berada di sini, mereka tidak seharusnya mengirimku ke rumah bordil ini." Chae yoon merasa terpojok, Ia harus segera memikirkan cara untuk keluar dari tempat itu.
"Aku dikirim ke istana untuk menjadi pelayan, tapi sebaliknya wanita itu- tidak, Dayang Kepala malah mengirimku ke tempat ini." jelasnya lagi.
"Dayang Kepala?"
"Yee, apa kau mengenalnya?"
"Apa maksudmu Dayang Choi rong?"
"Yee! Dia yang telah mengirimku kemari."
"Jadi wanita itu masih memikirkan dirinya sendiri. Wanita itu bahkan yang telah mengirimku kemari."
"Yee? Dia juga yang telah mengirimmu ke rumah bordil?"
Wanita itu mengangguk dengan menaikan sudut bibirnya, "Wanita licik itu."
"Dengar, apa kau bisa membantuku keluar dari tempat ini?"
"Mengapa? Mengapa aku harus membantumu keluar dari tempat ini?"
"Karena-" Chae yoon hendak mengatakan jika ada seseorang yang menunggunya, namun bukankah lucu jika mengatakan itu hanya seorang teman. Bahkan tak ada siapapun yang menjadi alasan Chae yoon untuk terus melanjutkan hidup. Tidak, dirinya harus tetap kembali untuk terus bersama Yuri, Chae yoon yakin Yuri pasti begitu memikirkannya saat ini. Namun seketika Chae yoon kembali memikirkan Jenderal Kim, apakah dengan berada di istana, Chae yoon akan dapat menemui Jenderal Kim di sana.
"Karena seseorang telah menungguku. Aku harus terus melanjutkan hidupku, tapi bukan di tempat ini."
Wanita itu kembali berpikir dan tampak begitu serius, kemudian Ia membisikkan sesuatu pada Chae yoon.
"Aku akan membantumu, dengar.."
*
"Penyakit kulit?"
"Yee.. Ku lihat ada bintik-bintik merah ditangannya, aku bisa melihatnya dengan jelas."
"Bagaimana ini bisa terjadi di rumah bordil." teriak wanita pertama yang Chae yoon temui.
"Aku tak mungkin menyerahkan gadis itu pada Tuan Hongja dengan kondisinya yang begitu."
"Tuan Hongja?" wanita yang membantu Chae yoon tampak terkejut.
"Apa kau berniat menggantikannya?"
Wanita itu terdiam tanpa menjawab.
"Baiklah, jauhkan Ia dari rumah bordil, minta beberapa penjaga untuk mengawalmu."
"Yee.." wanita itu kembali pada Chae yoon bersama beberapa penjaga.
"Kalian tunggu disini, aku akan masuk dan membawanya keluar." ujar si wanita pada penjaga yang berdiri di luar gubug tempat Chae yoon berada.
"Beberapa penjaga ada di luar, mereka akan menutup matamu sampai ke tempat kau di asingkan." kemudian wanita itu memberikan sebuah kunci cadangan pada Chae yoon.
"Aku sudah memikirkan ini dan sengaja membuat duplikatnya untuk berjaga-jaga. Sesampainya di sana, larilah menuju arah yang berlawanan dari pintu bangunan itu.
"Jangan fikirkan itu, kau harus berhati-hati, bintik ini hanya polesan, jangan sampai mereka mengetahuinya."
Chae yoon mengangguk, "Baiklah, aku mengerti. Terimakasih untuk semua bantuanmu, entah dengan apa aku harus membalasnya."
"Jangan pikirkan itu, aku berharap kau dapat keluar dari tempat ini."
"Park Chae yoon.." Chae yoon menjulurkan tangannya.
Dengan senang hati wanita itu menjabat tangan Chae yoon, "Sooyoung do. Kau bisa memanggilku, Sooyoung."
"Sooyoung jaga dirimu.."
"Yee.. Semoga berhasil Chae yoon."
Penjaga membawa Chae yoon ke tempat pengasingan. Sesampainya, seorang penjaga di tugaskan untuk mengawasi Chae yoon, dan seperti rencana ketika hari mulai gelap dan para penjaga mulai kelelahan hingga tertidur, Chae yoon berhasil melarikan diri.
Meski Chae yoon tahu beberapa penjaga mengejarnya di belakang, Ia tak gentar dan terus berlari semakin cepat hingga tanpa sadar Ia hampir saja menabrak seekor kuda yang ditunggangi seorang pria dengan penutup wajah hingga kuda itu meringkik. Chae yoon terkejut dan terjatuh di tanah, Ia berlutut dan meminta maaf pada pria yang tengah menunggangi kuda tersebut.
"Maafkan aku Tuan, aku tak bermaksud untuk menyakiti kudamu, maafkan aku." Chae yoon merasa begitu takut, takut jika para penjaga rumah bordil akan menangkapnya, dan takut jika pria berkuda beserta seorang temannya itu adalah orang jahat.
"Ku mohon maafkan aku Tuan, tolong lepaskan aku dan berikan aku jalan." Chae yoon masih terus meminta maaf dengan sesekali menoleh ke belakang. Benar saja, para penjaga rumah bordil terlihat tengah berlari ke arahnya, tanpa memikirkan pria berkuda di hadapannya Ia kemudian mencari tempat untuk bersembunyi dengan masuk ke dalam semak yang sedikit rendah.
Sementara dua pria berkuda itu tampak tak memahami apa yang gadis di hadapan mereka itu lakukan. Lalu beberapa orang penjaga menghampiri pria berkuda dan bertanya tentang seorang wanita yang melewati jalan itu. Tampaknya pria berkuda itu mengerti bahwa wanita yang tadi dihadapannya adalah seorang b***k yang hendak melepaskan diri. Tanpa berpikir panjang, Ia menunjukan arah yang salah pada para penjaga itu.
"Yang mulia, Yang mulia sudah menipu mereka."
"Diamlah.." singkatnya, "Kau aman sekarang, Nona."
Dengan tubuh gemetar, Chae yoon keluar dari persembunyiannya, dan berterimakasih, kemudian memohon agar para pria berkuda itu untuk tidak membawanya. Chae yoon masih tak dapat berpikir jernih, hanya ada perasaan takut dalam dirinya saat ini, Ia berpikir jika pria dihadapannya sengaja melindunginya untuk mendapat keuntungan.
"Apa mereka menjadikanmu b***k?" pria itu bertanya untuk pertama kalinya.
"Yee.."
"Orang-orang dari rumah bordil, bukankah benar?" tanya salah seorang temannya.
"Rumah bordil?"
"Yee Tuan, mereka adalah para penjaga rumah bordil."
"Kau pergi dari rumah bordil?"
"Tidak Tuan, aku tidak seharusnya berada di rumah bordil, aku di paksa bekerja di tempat itu. Tuan, sekalipun aku harus kembali, aku lebih baik mati." jelas Chae yoon
"Dia di sana!" teriakan para penjaga rumah bordil mengejutkan ketiganya, tampaknya mereka mencari di tempat sebelumnya.
Chae yoon panik dan kebingungan, Ia hendak kembali berlari, tapi tanpa Ia duga, pria yang menolongnya tadi turun dari kudanya dan menarik pedangnya untuk melindungi Chae yoon.
"Yang mulia.. Ini bukan urusan kita."
Tanpa mendengar, Ia tetap menghadang para penjaga itu dan mulai melawan satu persatu orang-orang yang mengejar Chae yoon. Tapi tampaknya pria itu tak benar-benar menghunuskan pedangnya, Ia hanya menggertak dengan melukai para penjaga itu dan mengancam mereka. Para penjaga itu tidak sebanding dengan kepandaian dua pria berkuda itu dalam berpedang.
"Katakan pada tuan kalian, seorang pria telah merampas miliknya."
"Y-yee.." mereka berlari seraya menahan sakit, mencoba menyelamatkan diri.
Chae yoon kembali berlutut dan terus berterimakasih pada kedua pria berkuda tersebut. Pria itu hanya memandangi Chae yoon lalu memberikan kantong kecil berisi koin perak.
"Gunakan itu untuk kembali ke desamu."
"Yee? Tapi.." Chae yoon merasa malu menerimanya meski sebenarnya Ia sangat membutuhkan uang mengingat Ia bahkan belum makan sejak kemarin.
"Tak perlu menolaknya, ambilah.."
"Tuan, dengan apa aku harus membalas kebaikanmu?"
"Membalasnya? Hmm.. Biar ku pikirkan."
Chae yoon berharap pria di hadapannya ini tak berniat meminta balasan yang tak mungkin Ia berikan.
"Baiklah.. Tak perlu berikan apapun padaku. Melihat upayamu untuk menjaga harga dirimu, aku percaya kau akan lakukan hal terbaik dalam hidupmu."
"Yee Tuan.."
Pria berkuda itu tersenyum dalam penutup wajahnya, tentu Chae yoon tak dapat melihatnya. Ia begitu kagum pada sosok gadis di hadapannya, gadis luar biasa yang jarang sekali Ia temui.
"Selamatkan dirimu, pergilah karena aku tidak memiliki banyak waktu."
"Yee.. Terimakasih banyak atas pertolonganmu Tuan." Chae yoon memberi hormat pada dua pria di hadapannya lalu segera berlari pergi. Ia merasa sangat berhutang budi dan bersyukur telah di pertemukan dengan para pria baik, sungguh tak ada yang dapat Ia berikan kecuali hanya ucapan terimakasih.
***