Hujan turun deras saat Maya menandatangani dokumen terakhir di kantor notaris. Tinta birunya berlekuk pelan, lalu berhenti. Di seberang meja, Pak Hartono melepas kacamatanya dan menatap perempuan dua puluh tujuh tahun itu dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran kasihan dan, kalau Maya tidak salah lihat, sedikit lega.
"Jadi semua isi rumah di Jalan Cendana Nomor 17 sekarang menjadi milik Saudari," kata notaris itu. "Termasuk perabotan, dokumen, dan barang-barang pribadi mendiang Ibu Sari."
Maya mengangguk. Tenggorokannya terasa kering. Bibi Sari, adik dari almarhumah ibunya, adalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Mereka tidak terlalu dekat—Maya bisa menghitung dengan jari berapa kali mereka bertemu sejak ia dewasa—tetapi kabar kematian bibinya tetap menghantam dada seperti batu.
"Boleh saya tanya," Maya berkata pelan, "bagaimana Bibi Sari meninggal? Polisi tidak menjelaskan banyak."
Pak Hartono terdiam sejenak. Hujan menggedor jendela.
"Beliau ditemukan di kamarnya. Duduk di kursi, menghadap jendela." Ia menarik napas. "Dokter bilang serangan jantung. Tapi... ekspresi wajahnya, kata orang yang menemukan, seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan."
Maya menelan ludah. "Siapa yang menemukan?"
"Tetangga sebelah. Bu Tari. Beliau yang pertama curiga karena tirai rumah tidak pernah dibuka selama tiga hari."
Sore itu Maya menyetir sendiri ke Jalan Cendana. Komplek itu tua, dengan pohon-pohon mangga yang dahannya saling menyilang di atas jalan, menciptakan terowongan hijau yang gelap meski siang. Rumah Nomor 17 berdiri di ujung, dindingnya berwarna krem pudar, dengan teras yang ditumbuhi lumut di sudut-sudutnya. Sebuah rumah yang dari luar tampak biasa, tetapi entah kenapa membuat tengkuk Maya menegang begitu ia turun dari mobil.
Kunci berderit di lubangnya. Pintu terbuka dengan suara berat, melepaskan bau pengap, debu, dan sesuatu yang manis—seperti bunga yang membusuk. Maya menyalakan lampu. Ruang tamu itu penuh perabot kuno: kursi rotan, lemari kayu jati, jam dinding yang sudah berhenti pada pukul tiga lewat sebelas.
Ia berjalan perlahan, menyusuri lorong, hingga sampai di sebuah ruang yang dulu mungkin ruang kerja. Di sana, di atas rak kaca, sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah boneka porselen.
Boneka itu duduk dengan kaki menjuntai, mengenakan gaun renda putih yang sudah menguning di tepinya. Rambutnya hitam pekat, ikal, dengan pita merah. Wajahnya pucat sempurna, pipinya merona buatan, dan matanya—matanya berwarna biru kaca, terbuka lebar, menatap lurus ke arah pintu. Ke arah Maya.
Untuk sesaat Maya merasa boneka itu sedang menunggunya.
Ia tertawa pelan pada dirinya sendiri. Konyol. Itu hanya boneka. Tapi saat ia mendekat, ia menyadari betapa indahnya benda itu—dan betapa tua. Di alas kakinya ada ukiran kecil: deretan angka dan satu nama yang nyaris terhapus. Maya memiringkan kepala, mencoba membaca, tetapi cahaya terlalu redup.
Di sebelah rak, tergantung sebuah pigura. Foto Bibi Sari, muda, tersenyum, memeluk boneka yang sama persis. Di pojok foto tertulis dengan tangan: "Untuk Ratih yang manis. Jaga dia baik-baik. — 1987."
Ratih. Bukan Sari. Maya mengernyit. Siapa Ratih?
Angin entah dari mana membuat tirai bergoyang. Maya menoleh ke jendela yang tertutup rapat, lalu kembali menatap boneka itu.
Ia bersumpah, sebelumnya kepala boneka itu menghadap pintu.
Sekarang, matanya menatap Maya.