Maya tidak tahu apa yang ia lakukan—ia hanya tahu ia tidak boleh membiarkan Bilqis di dalam lingkaran itu. Ia teringat samar-samar, dari film, dari cerita nenek, dari mana pun: garam. Garam memutus.
Ia berlari ke dapur, menyambar toples garam kasar milik bibinya, dan kembali. Bilqis—atau sesuatu di dalamnya—mendesis padanya, suara itu menggema seakan datang dari dinding.
"Jangan," geram suara berlapis itu. "Dia milikku. Aku sudah memilihnya."
"Dia anak kecil!" balas Maya, suaranya gemetar tapi keras. "Lepaskan dia!"
Ia menabur garam membentuk lingkaran—mengelilingi dirinya dan Bilqis, memutus garis abu yang menggambar simbol. Begitu garam menyentuh garis itu, lilin-lilin padam serentak. Boneka porselen menjerit—suara melengking yang bukan dari mulut mana pun, menusuk telinga Maya hingga ia hampir pingsan.
Lalu hening.
Bilqis ambruk. Maya menangkapnya, mengangkat tubuh kecil yang dingin itu, dan membawanya keluar dari lingkaran, keluar dari ruangan, keluar dari rumah, ke udara malam yang basah.
"Bilqis, bangun. Bangun, Sayang." Maya menepuk pipi anak itu.
Bilqis mengerang, kelopak matanya bergetar, lalu terbuka. Mata cokelat bening seorang anak. "Kak... Maya? Aku... aku capek sekali."
Air mata Maya tumpah karena lega. "Tidak apa-apa. Kamu aman sekarang."
Pak Reza dan Bu Lina datang berlari, dituntun suara. Mereka merebut Bilqis dari pelukan Maya, memeluknya erat, menangis. Bu Lina menatap Maya—kali ini bukan dengan kecurigaan, tapi dengan tanya yang dalam. Maya hanya menggeleng pelan. Nanti. Nanti ia akan jelaskan, sebisanya.
Setelah keluarga itu pulang, Maya berdiri sendiri di halaman rumah Nomor 17, menatap pintu yang menganga seperti mulut.
Ia tahu ini belum selesai. Boneka itu hanya terhenti, bukan kalah. Lingkaran garam menyelamatkan Bilqis malam ini, tapi besok, atau lusa, sesuatu akan tergores lagi. Korban berikutnya. Mungkin Bilqis lagi. Mungkin Bu Tari. Mungkin Maya sendiri.
Ponselnya bergetar. "S" lagi.
"Bagus. Kamu menyelamatkannya malam ini. Tapi garam hanya menunda. Dia akan mencari yang lain. Kalau kamu serius mau mengakhiri ini, temui aku besok. Pasar lama Sukowati, kios kain nomor 9. Datang sendiri. Dan bawa dia. — S."
Maya menatap layar lama-lama. Sukowati. Tempat asal boneka. Tempat semuanya dimulai pada tahun 1923.
Ia membalas: "Bagaimana saya tahu Anda bukan jebakan?"
Jawaban "S" datang pelan, satu per satu:
"Karena dulu akulah yang membuatnya."
Maya menjatuhkan ponsel.
Dari dalam rumah, di kegelapan ruang kerja, sesuatu bergerak. Dan suara kecil seorang gadis—lembut, manis, mengerikan—melayang ke telinganya.
"Kakak mau bawa aku pulang? Asyik. Aku sudah lama ingin pulang."