Min Yoongi berlari kencang saat melewati halaman rumahnya. Tak lupa ia memeluk sebuah kotak merah yang menjadi perhatiannya sejak pulang sekolah. Ia bahkan mengindahkan peringatan bibi Seo tentang meletakkan kembali sepatunya di rak depan. Yang ia pikirkan hanya satu, Boo.
Boo, gadis yang tengah bersandar pada dinding tempat tidurnya. Ia sibuk menggumamkan lagu 'Kupu-kupu' dengan senyum yang semakin ceria.
Suara langkah seseorang sayup-sayup terdengar. Bahkan ia bisa dengan jelas mendengar omelan bibi Seo. Suara itu semakin dekat dan membuatnya berhenti bernyanyi.
"Boo, aku datang," seru seseorang sambil membuka pintu kamarnya.
Boo tersenyum sembari menoleh ke arah Yoongi. Gadis itu sudah hapal betul kebiasaan Yoongi yang masuk kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Yoongi," balas Boo cepat. Gadis itu kemudian merengut, "Yoongi tidak membawa kue, ya?"
Ah, Yoongi melupakan satu hal. Boo selalu meminta kue saat ia pulang sekolah dan kini ia melupakannya.
Yoongi melihat kotak yang ia bawa, lalu menggeleng cepat. "Boo, aku tak membawa kue hari ini. Aku tak mau kau jadi gendut. Nanti tak cantik lagi, tahu?" Yoongi mulai menggodanya.
Ingin tahu reaksi Boo? Gadis manis itu merengut sembari menarik-narik rok lebarnya.
Boo kesal, tak ada kue. Yoongi jahat!
Kira-kira itu gumaman kesal Boo yang ia simpan di hatinya.
"Tapi kan Boo ingin kue. Kue manis dengan buah di atasnya. Boo lapar."
Jika seperti ini, rasanya Yoongi menyesal tak membelikan Boo kue.
"Maaf ya, Boo. Yoongi janji besok akan belikan Boo dua kue. Tapi sekarang, Yoongi membawakanmu sesuatu yang cantik," jelas Yoongi mencoba menghiburnya.
Binar mata Boo terlihat antusias. Gadis itu bahkan mencoba meraba sekitarnya, berharap langsung ia dapatkan.
"Apa itu Yoongi? Mana? Berikan pada Boo," pinta Boo dengan wajah memohon.
Yoongi meletakkan kotak itu di tangan Boo; membantu gadis itu mengambil sendiri sebuah pin berwarna merah yang ia beli.
Cantik seperti Boo.
"Apa ini?" Boo terus meraba permukaan pin merah itu dengan senang. Yoongi pun ikut tersenyum saat Boo akhirnya memekik, "Pin rambut! Yoongi membelikan Boo pin rambut."
"Pintar sekali. Iya, ini pin rambut berwarna merah. Cantik sekali. Di sini juga ada gambar sayap kecil. Aku memilihkan yang paling cantik untukmu. Mari kupakaikan." Yoongi membantu Boo menyematkan pin itu di rambutnya.
"Terima kasih, Yoongi. Aku suka," ucap Boo terus menyentuh pin miliknya.
"Besok aku belikan sesuatu yang cantik lagi, ya. Kuenya tidak usah."
Mendengar sesuatu yang buruk tentang kuenya, Boo kembali memekik, "Jangan kuenya, Yoongi. Aku suka pin yang cantik. Tapi, aku juga suka kue." kali ini Boo mengatakannya dengan sangat manis.
"Baiklah. Kuenya akan kuberikan. Tapi, besok Boo harus makan sayuran hijau, bagaimana?" Yoongi mencoba berkompromi mengingat Boo yang tak suka memakan sayuran. Ia pikir akan lebih baik jika memancingnya dengan kue.
Sementara Boo menggeleng kuat beberapa kali, 'Tidak mau, Yoongi. Pahit. Boo bisa makan wortel. Tapi bibi Seo sering masak sayuran hijau," jelasnya dengan harapan bahwa kali ini kakaknya itu berpihak padanya.
##
Masih mengenai sayuran hijau, kini Boo memakan makanannya dengan tak selera. Ia mencium bau sayuran hijau dengan udang di piringnya.
"Bibi Seo, apakah Boo bisa minta wortel saja untuk makan malam besok? Sayuran hijau pahit rasanya." Boo mencoba membuat kesepakatan dengan bibinya.
Bibi Seo hanya menggeleng pelan, "Besok dan satu minggu berikutnya kita hanya akan makan sayuran hijau dan udang, Boo. Lebih baik kau coba membiasakan, ya?"
Boo hanya mengangguk pelan sambil mencoba mengambil lauk di piringnya. Yoongi tentu saja ikut membantu. Kakaknya itu dengan sabar mengarahkan suapan ke mulutnya.
"Coba biaskan makan sayuran hijau ya, Boo. Nanti kau kuat," bujuk Yoongi saat ia memasukkan beberapa helai potongan sayur hijau ke suapan berikutnya.
"Untuk apa kuat jika Boo tak bisa melihat?"
Pertanyaan Boo menbuat Yoongi dan Bibi Seo menghentikan suapannya.
"Boo hanya ingin makan wortel. Wortel bagus untuk mata kata Yoongi. Mungkin jika Boo rajin makan wortel, mata Boo bisa melihat."
Kali ini Bibi Seo menggigit bibirnya, menahan isakan. Yoongi memandang Boo dengan wajah yang sedih.
"Boo, Bibi Seo besok akan membeli wortel yang—hiks—banyak untuk Boo. Bibi janji."
Bibi Seo tak dapat menahan isakannya lagi, ia bergegas menuju dapur dan menangis di sana.
Sementara Yoongi terus menyuapi Boo hingga makanannya habis.
"Yoongi tidak bohong pada Boo, kan?"
"A—aku tidak berbohong."
"Baiklah. Boo kenyang. Besok Boi harus makan wortel yang banyak. Hihi."
Yoongi memandang ke arah dapur dengan tatapan tajam. Ia bahkan tak mengindahkan ocehan Boo setelahnya.