Malam setelah insiden di ruang rapat itu, Nara tidak bisa tidur semenit pun. Setiap kali memejamkan mata, aroma parfum sandalwood maskulin milik Adrian dan kehangatan d**a pria itu langsung berputar kembali di otaknya.
Pagi ini, Nara menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi dengan nelangsa. Kantung matanya hitam mirip panda.
"Nara, sadar! Dia itu bos besar, pemegang saham utama Gtech. Kamu cuma remahan rengginang di kubikel pojok," umpatnya pada diri sendiri sambil menepuk-nepuk pipinya agak keras.
Begitu sampai di kantor, suasana terasa berbeda. Beberapa karyawan dari divisi pemasaran berbisik-bisik saat Nara melewati mereka. Rupanya, kabar tentang Adrian yang pasang badan membela Nara di ruang rapat kemarin sudah bocor ke telinga para pencinta gosip kantor.
Nara mencoba abai dan langsung duduk di kursinya. Namun, baru saja dia menyalakan komputer, sebuah bayangan tinggi sudah berdiri di depan kubikelnya. Bukan Adrian, melainkan Kevin, asisten pribadi sang CEO yang terkenal ramah tapi sangat efisien.
"Pagi, Nara. Pak Adrian meminta kamu ke ruangannya sekarang. Bawa draf maskot yang kemarin," ucap Kevin dengan senyum penuh arti yang membuat Nara merinding.
"Pagi, Mas Kevin. Oh... b-baik, segera ke sana."
Nara berjalan dengan langkah terseret menuju lantai top eksekutif. Pintu kaca itu kini terasa sepuluh kali lebih mengintimidasi. Dia mengetuk, lalu masuk setelah mendengar gumaman familier dari dalam.
Adrian sedang membaca dokumen iPad-nya. Kemeja putihnya rapi, dasinya terpasang sempurna. Gunung es itu kembali ke mode normal, seolah pelukan hangat kemarin malam hanyalah halusinasi Nara akibat kelaparan.
"Selamat pagi, Pak Adrian. Ini draf yang Bapak minta," kata Nara, sengaja berdiri agak jauh—sekitar satu setengah meter dari meja kerja Adrian. Dia tidak mau jantungnya berdegup kelewat berisik lagi.
Adrian meletakkan iPad-nya. Matanya melirik jarak yang sengaja dibuat oleh Nara, lalu beralih ke kantung mata hitam gadis itu.
"Kenapa berdiri di sana? Saya tidak menggigit, Nara. Maju tiga langkah," perintah Adrian datar.
Nara maju ragu-ragu. "Maaf, Pak."
"Kamu tidak tidur semalaman?" tanya Adrian langsung, mengabaikan map yang disodorkan Nara.
"Eh? Ah... saya... itu, mengerjakan revisi maskot ini, Pak! Saya sangat berdedikasi pada Gtech!" bohong Nara, langsung memberikan pose hormat yang konyol.
Adrian menghela napas pelan. Dia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja, dan berhenti tepat di depan Nara. Jarak mereka kini terkikis habis. Saking dekatnya, Nara bisa melihat pantulan dirinya di manik mata hitam Adrian.
"Jangan berbohong. Dan jangan panggil saya 'Pak' jika tidak ada orang lain," bisik Adrian, suaranya rendah dan serak.
"Tapi... ini masih di lingkungan kantor, P-Pak Adrian. Dan soal kemarin... saya minta maaf kalau saya lancang menangis di baju Bapak. Saya akan bayar biaya laundry-nya—"
"Nara." Adrian memotong kalimat panjang Nara yang diucapkan tanpa napas itu. "Saya tidak peduli dengan baju saya. Yang saya pedulikan adalah apa yang kamu pikirkan setelah kemarin."
Nara menelan ludah. "Saya... saya pikir Bapak cuma kasihan sama saya."
Mendengar kata 'kasihan', rahang Adrian mengeras sesaat. Dia mengulurkan tangan, berniat menyentuh rambut Nara, namun gerakannya terhenti di udara. Dia menarik tangannya kembali ke dalam saku celana.
"Jika itu cuma kasihan, saya tidak akan membiarkan seluruh direksi menganggap saya gila karena membela satu karyawan biasa," kata Adrian dengan nada dingin yang menyembunyikan ketegasan perasaannya. "Tim hukum sudah menyelesaikan masalah plagiat itu. Agensi lawan sudah menarik tuntutannya pagi ini. Kamu aman."
Mata Nara langsung berbinar cerah. "Benarkah?! Wah, terima kasih banyak, Pak—eh, Adrian!" Tanpa sadar, Nara melompat kecil karena gembira.
Adrian yang melihat binar murni di mata itu tidak bisa menahan senyum tipisnya. "Sebagai gantinya, malam ini ada makan malam perayaan keberhasilan proyek ini dengan beberapa investor utama. Dan kamu, harus ikut dengan saya."
Nara mengerjap. "Ikut? Sebagai tim kreatif?"
"Sebagai pendamping saya," jawab Adrian telak, membuat jantung Nara kembali melakukan maraton tanpa henti.