Lisa melangkah memasuki gedung perkantoran tinggi dengan jantung yang berdebar keras. Ini adalah hari pertama kerjanya di perusahaan besar milik Romano Dirgantara, seorang pengusaha muda yang sukses, namun terkenal galak dan tegas. Selama proses seleksi, ia sudah banyak mendengar cerita tentang bosnya yang satu itu—sebuah sosok yang sering membuat orang lain merasa cemas hanya dengan keberadaannya.
"Hari pertama memang selalu penuh kecemasan," pikir Lisa, mencoba menenangkan diri. Namun, bayangan tentang Romano terus menghantui pikirannya. Banyak yang bilang, dia itu galak banget, tidak pernah tersenyum, dan sangat sulit didekati. Wajahnya yang selalu serius bahkan membuat karyawan lain takut, dan Lisa merasa, entah kenapa, ia juga tak terkecuali.
"Lisa, kamu harus siap menghadapi tantangan di sini," kata teman se-kantornya yang sudah lebih dulu bekerja di perusahaan itu. "Romano itu bukan orang yang gampang, tapi dia adil. Kalau kamu bisa menunjukkan kualitas kerja, dia pasti akan memperhatikan."
Lisa mengangguk pelan, berusaha mencerna nasihat itu. Begitu sampai di lantai atas gedung kantor, matanya langsung tertuju pada ruang direktur yang ada di ujung koridor. Di situlah Romano bekerja, mengurus semua urusan bisnis yang sudah membesarkan namanya.
Saat Lisa hendak melangkah lebih jauh, seorang pria bertubuh tinggi dan berpenampilan rapi datang menghampirinya. Pria itu mengenakan jas hitam dan berjalan dengan tenang meskipun suasana kantor tampak sibuk. Itu adalah Abraham, asisten pribadi Romano, yang dikenal sebagai tangan kanan bosnya.
"Selamat datang di perusahaan ini, Lisa. Aku Abraham, asisten Romano. Aku akan membantumu beradaptasi di sini," kata Abraham sambil memberikan senyum ramah yang membuat Lisa merasa sedikit lebih tenang.
"Terima kasih," jawab Lisa, meskipun suaranya terdengar sedikit cemas. "Senang bertemu dengan Anda, Pak Abraham."
Abraham memandang Lisa dengan lembut. "Panggil saja aku Abraham. Ayo, aku antar ke meja kerjamu."
Mereka berjalan menyusuri koridor kantor, melewati berbagai ruang meeting dan kantor eksekutif. Sambil berjalan, Lisa tidak bisa menahan rasa penasaran tentang bosnya. Seberapa galakkah Romano sebenarnya?
Akhirnya, mereka sampai di meja kerja Lisa. Meja yang sederhana dengan layar komputer besar dan beberapa dokumen yang sudah siap dikerjakan.
"Ini meja kerjamu. Kamu akan mulai dengan beberapa proyek kecil, dan nanti aku akan beri tugas lebih lanjut," kata Abraham sambil menunjuk layar komputer.
"Tentu," jawab Lisa, merasa sedikit lebih lega meskipun perasaannya masih campur aduk.
Tak lama setelah itu, Abraham berkata, "Romano ingin berbicara denganmu. Ayo, aku antar ke ruangannya."
Lisa merasa keringat dingin mulai menetes. "Romano?" tanyanya dengan suara yang sedikit gemetar.
"Tenang saja," jawab Abraham sambil tersenyum. "Dia memang kelihatan serius, tapi sebenarnya dia hanya butuh orang yang bisa bekerja dengan baik."
Lisa mengangguk pelan, berusaha menenangkan dirinya. Mereka berjalan menuju ruang direktur yang ada di ujung koridor. Ketika pintu ruangannya terbuka, Lisa bisa merasakan udara yang sejuk namun penuh ketegangan. Romano sedang duduk di belakang meja kerjanya yang besar, wajahnya tampak serius. Matanya yang tajam menilai setiap orang yang datang kepadanya.
"Masuk," ujar Romano singkat, tanpa menoleh sedikit pun.
Abraham melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti Lisa yang merasa kakinya agak lemas. Mereka berdiri di depan meja kerja besar itu, menunggu Romano memberikan arahan.
"Lisa, kan?" Romano berkata dengan suara tegas. "Aku sudah baca profilmu. Tapi ingat, kerja kerasmu yang akan menentukan nasibmu di sini. Jangan harap ada perlakuan istimewa karena kamu karyawan baru."
Lisa menelan ludah. "Tentu, Pak Romano. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
Romano mengangkat alisnya, menilai Lisa dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu tahu kan, kebanyakan orang yang bekerja di sini cuma bertahan beberapa bulan. Kamu yakin bisa lebih dari itu?"
Lisa menatap mata Romano yang tajam, berusaha tetap tenang. "Saya yakin, Pak Romano. Saya akan berusaha keras."
Romano diam sejenak, hanya menatap Lisa tanpa mengatakan apa-apa. Setelah beberapa detik yang terasa lama, akhirnya dia mengangguk pelan.
"Baiklah. Kita lihat saja nanti," kata Romano, suaranya tetap terkesan serius. "Abraham, tunjukkan tugas pertama untuk Lisa."
Abraham segera memberikan beberapa dokumen kepada Lisa. "Kamu akan bekerja sama dengan tim marketing dan riset. Aku yakin kamu bisa menyelesaikannya dengan baik."
Lisa mengangguk, meskipun perasaan tegang masih belum hilang. "Terima kasih, Pak Romano, Pak Abraham."
"Segera selesaikan tugas itu. Aku tidak suka menunggu," kata Romano singkat.
Lisa mengangguk cepat, merasa keringat semakin membasahi tubuhnya. Ketika keluar dari ruang direktur, Abraham menatapnya dengan senyum menenangkan.
"Jangan khawatir. Romano memang galak, tapi dia cuma ingin karyawan yang serius. Kamu pasti bisa," ujar Abraham dengan suara lembut.
"Terima kasih, Pak Abraham," jawab Lisa, meskipun hatinya masih berdebar-debar.
Hari-hari berikutnya, Lisa bekerja dengan penuh semangat. Ia berusaha sebaik mungkin untuk memenuhi ekspektasi yang tinggi. Meskipun terkadang cemas, ia mulai menyadari bahwa Romano mungkin bukan sosok yang seburuk yang diceritakan orang. Meskipun dia selalu terlihat serius dan tegas, ternyata Romano memberi perhatian pada pekerjaan dengan cara yang lebih langsung. Kalau ada masalah, dia akan datang dengan sikap tegas, memberi arahan tanpa banyak basa-basi. Dari situ, Lisa mulai memahami bahwa sikap galak Romano bukan berarti dia tidak peduli.
Abraham selalu ada untuk memberi dukungan, meskipun ia tahu betul bahwa menjaga hubungan dengan Romano tidak gampang. Namun, ia merasa yakin Lisa adalah orang yang tepat untuk menghadapi tantangan ini.
Suatu hari, Lisa berhasil menyelesaikan salah satu tugas besar yang diberikan oleh Romano. Saat menyerahkan laporan kepadanya, ia merasa gugup sekali. Romano memeriksa dokumen itu dengan teliti, dan Lisa berharap tidak ada kesalahan.
Romano menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Bagus. Teruskan kerja bagusmu."
Pujian singkat itu membuat Lisa merasa seperti mendapat hadiah besar. Mungkin, tidak semua yang Romano katakan itu keras dan dingin. Ada kalanya dia bisa memberi sedikit pujian, meskipun jarang.
Meski tantangan masih terus datang, Lisa merasa ada secercah harapan. Ia mulai percaya, mungkin di balik sikap galak Romano, ada sisi lembut yang hanya perlu waktu untuk ditemukan.
Setelah beberapa hari berlalu, Lisa mulai menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya. Setiap pagi, ia datang lebih awal, mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapi, dan memulai pekerjaan dengan penuh semangat. Meski tak jarang ia merasa cemas, ia berusaha tetap fokus dan bekerja sebaik mungkin. Namun, ketegangan antara dia dan Romano masih terasa. Bosnya itu jarang berbicara lebih dari yang diperlukan, dan setiap kali ada kesempatan untuk bertemu, suasana terasa tegang.
Di sisi lain, Abraham selalu ada untuk memberinya semangat. Setiap kali Lisa merasa terpuruk atau cemas tentang pekerjaan yang diberikan Romano, Abraham akan datang dengan senyum tenang dan memberikan beberapa kata motivasi. "Santai aja, Lisa. Jangan terlalu terbebani dengan apa yang dia bilang. Yang penting, fokus sama tugas kamu, dan dia pasti akan melihat hasilnya."
Pagi itu, Lisa baru saja selesai dengan sebuah proyek kecil ketika Abraham menghampirinya dengan senyum lebar. "Kamu berhasil! Romano baru aja bilang tugasmu bagus."
Lisa terkejut. "Benarkah?" tanyanya, tak percaya.
"Yup, dia langsung memuji hasil kerja kamu," jawab Abraham, sambil melirik ke arah ruang kerja Romano di ujung koridor. "Kalau dia sudah mulai bicara positif, itu artinya kamu sudah berada di jalur yang benar."
Lisa merasa lega mendengar itu. Meskipun selama ini ia merasa hampir tak pernah mendapatkan perhatian positif dari Romano, rasanya sedikit pujian bisa membuatnya lebih percaya diri. Namun, ia juga tahu bahwa ini hanya langkah pertama. Tantangan masih banyak menantinya, dan Romano sepertinya selalu menuntut lebih.
Sore harinya, Lisa menerima telepon dari Abraham yang mengabarkan bahwa Romano ingin bertemu lagi. "Dia minta kamu datang ke ruangannya sekarang. Ada hal penting yang perlu dibicarakan."
"Baik, Pak Abraham. Saya akan segera ke sana," jawab Lisa, suaranya sedikit gugup. Sekali lagi, perasaan cemas mulai menyelimuti dirinya.
Lisa berjalan dengan langkah yang sedikit ragu ke arah ruang direktur. Namun, saat sampai di pintu, ia berhenti sejenak, mengambil napas panjang, dan mencoba untuk menenangkan diri. "Romano itu hanya manusia biasa," pikirnya. "Dia cuma ingin yang terbaik untuk perusahaan ini, dan aku hanya perlu menunjukkan bahwa aku bisa."
Begitu pintu terbuka, Lisa masuk dan berdiri di depan meja kerja besar yang sudah dikenalnya. Romano sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen, dan tanpa menoleh, ia berkata, "Masuk. Duduk."
Lisa duduk di kursi yang terletak di depan meja kerjanya, berusaha menahan detak jantungnya yang semakin cepat. Romano akhirnya menatapnya, menilai dari ujung kepala hingga kaki, lalu berkata, "Kerja bagus, Lisa. Kalau kamu terus seperti ini, aku tidak ragu kamu bisa berkembang di sini."
Lisa terkejut, hampir tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar. "Terima kasih, Pak Romano. Saya benar-benar berusaha."
Romano hanya mengangguk, kembali sibuk dengan dokumennya. "Tapi jangan cepat puas," tambahnya dengan suara yang masih tegas. "Kerja keras adalah kunci di sini. Aku tidak ingin lihat karyawan yang asal-asalan."
Lisa mengangguk cepat, merasa bahwa Romano memang tidak akan pernah benar-benar menunjukkan sisi lembutnya secara terang-terangan. Tapi, mungkin itulah yang membuatnya berbeda. Romano bukan orang yang suka membuang waktu dengan kata-kata yang tidak perlu. Dia lebih suka melihat hasil kerja dan menilai dari sana.
Setelah pertemuan singkat itu, Lisa keluar dengan rasa campur aduk. Di satu sisi, ia merasa bangga karena mendapat pujian dari Romano, namun di sisi lain, ia tahu bahwa ini adalah awal dari banyak tantangan yang akan datang. "Aku harus terus berusaha. Tidak ada ruang untuk santai di sini," pikirnya.