Pagi-pagi sekali aku sudah datang ke Koji, mengenakan seragam, lalu berdandan lebih proper dari biasanya. Mulai dari foundation, shade, blush, jepit bulu mata, mascara, eyeliner, lip tint, bedak touch up, hairdo ... hasilnya penampilanku terlihat lebih meyakinkan.
Aku tidak akan mengatakan diriku cantik, tapi paling tidak makeup bisa membuatku merasa lebih percaya diri sementara saat ini aku membutuhkan keberanian sebanyak yang kupunya.
Ya aku akan mengatakannya pada Ran, aku akan memulai pembicaraan serius dengannya, dan berhadapan dengan laki-laki itu sejauh ini tidak pernah menyenangkan.
Berbekal hot chocolate kesukaannya zaman sekolah dulu, aku langsung menuju ruangannya di lantai tiga mengetuk pintu sebanyak dua kali, menunggu sahutan dari dalam sebelum membukanya.
"Pagi Pak," sapaku sambil melongokkan kepala, memindai situasi secara kilat. Ran sedang duduk di kursi kebesarannya, berkas tidak bertebaran di meja, tapi matanya kelihatan fokus pada layar macbook yang menyala. Lalu kemeja ... aku meringis menyadari laki-laki itu masih mengenakan pakaiannya yang kemarin yang kini sudah kusut serta rambutnya yang berantakan yang menandakan dia belum sempat pulang sejak terakhir kami bertemu.
Situasi ini sempat membuatku termagu dan memikirkan ulang tentang keputusanku karena ... bisa saja aku salah, bisa saja alih-alih baik, mood Ran mungkin tengah berada di level paling buruk.
Tapi kemudian aku sadar bahwa aku tidak bisa mundur, ada masa depan yang kupertaruhkan, apalagi Mas Benji sudah resmi kembali ke Koji yang artinya intensitas kehadiran Ran di sini tidak akan sama seperti dulu lagi. Ini adalah kesempatan yang tidak bisa kulewatkan begitu saja.
Sambil berusaha menenangkan jantungku yang berdebar kencang, aku menguak daun pintu lebih lebar untuk membawa tubuh sekaligus nampan berisi mug mendekat ke mejanya.
"Saya bawain hot chocolate kesukaan, Bapak." Aku tahu meski Ran memiliki bisnis kafe yang menunya kebanyakan kopi, tapi laki-laki itu tidak meminum kopi, dia lebih suka sesuatu yang manis alias sweet tooth person. Kesukaanya kalau tidak cokelet, cake ya souffle. "Mau saya pesankan sarapan sekalian, Pak?"
Alis Ran mengerut saat melihatku dengan cekatan langsung menarik roller blind di jendela setelah menaruh minuman di meja. Sehingga ruangan yang awalnya remang-remang itu seketika dilimpahi cahaya matahari pagi. Tampak jelaslah ruangan kekuasaannya yang semua serba rapi, tertata, dan kinclong.
Aku bahkan menepuk-nepuk cusion di sofa dan hasilnya tidak ada debu sama sekali, aku penasaran siapa yang membersihkan tempat ini?
"Kalau Bapak mau, saya bisa--"
"Apa yang kamu lakukan, Mia?"
Dengan hati-hati aku menaruh kembali bantal-bantal empuk itu di sofa. "Beresin ruangan Bapak," kataku lancar tanpa dosa.
Ran mendengus. "Selagi saya ada di sini?"
"Kalau Bapak mau keluar dulu, silakan."
"Kamu mengusir saya dari ruangan saya sendiri?"
"Kalau Bapak nggak keberatan."
Suara embusan napasnya yang seakan tak percaya membuat senyumku sedikit goyah. Sebenarnya alih-alih dia yang akan pergi, mungkin dialah yang akan menendangku keluar.
Ran mengempaskan tubuhnya di punggung kursi lalu mengamatiku sebelum pandangannya turun pada mug yang mengempulkan asap beraroma cokelat pekat di meja.
"Silakan diminum, Pak."
Lihat kan? Dia pasti akan tergoda!
Meskipun penampilan dan kelakuannya sudah berubah tapi kesukaannya tetap sama seperti dulu, aku baru akan tersenyum penuh kemenangan saat tiba-tiba Ran berkata.
"Saya nggak minum cokelat lagi."
But why??
Aku dibuat melongo ketika laki-laki itu berdiri dan membawa mug itu ke hadapanku, menggenggamkannya di jari-jariku seolah menyuruhku membawanya kembali. Aku segera meletakkannya di meja sofa dan mendekati Ran yang sudah duduk di kursi.
"Bapak mau saya bawain yang lain, Pak? Teh mungkin? Atau ... s**u?"
Dia menggeleng. "Nggak perlu Mia, saya bisa urus diri saya sendiri."
Ya ampun, orang mau berbuat baik pun dipersulit. "Gimana dengan sarapan, Bapak biasa sarapan apa biar saya pesenin?"
"Didn't you heard me?"
"Bubur? Lontong sayur? Sandwich? Atau Omelette?" Aku teringat dengan makanan kesukaannya zaman sekolah dulu. "Oh Bapak paling suka sarapan pancake. Saya bisa pesankan itu."
"Kenapa kamu ngotot banget, Mia? Apa saya kelihatan butuh diurus?"
"Iya," kataku ngasal sambil membuka ponsel berniat mencari sarapan di aplikasi online food. "Bapak butuh personal asisten baru yang bisa ngurus semua keperluan Bapak."
Alis Ran terangkat. "Personal asisten?"
Nah, aku tidak benar-benar ngasal saat mengatakannya, tapi aku berusaha membuat itu terdengar natural, dan dilihat dari tanggapan Ran sepertinya itu berhasil.
"Bukannya kemarin Bapak bilang Jessica belum bisa kerja dan harus banyak istirahat untuk pemulihan?" tanyaku, lalu mengangguk. "Selama Jessica cuti, saya rasa saya bisa menggantikan dia, Pak. Memang sih saya nggak punya pengalaman, tapi ... saya bisa belajar. Bapak lihat sendiri gimana kemajuan saya kerja di Koji selama ini."
Kemajuan apa padahal aku baru kerja seminggu? Aku meringis merasa mendadak tidak yakin dengan kata-kata sendiri, mengulum bibir dengan cemas, pura-pura menunduk memperhatikan ponsel, saat kulirik, Ran sedang mengamatiku. Karena merasa ini tidak sopan, aku langsung mengangkat kepala dan menatapnya.
"Gimana, Pak?"
"Kamu serius dengan omongan kamu?"
Astaga, harga diriku rasanya seperti tercabik-cabik. Aku tidak tahan dengan bagaimana caraku meminta belas kasihannya agar diterima, menawarkan diri sendiri seperti ini bahkan menggunakan cara-cara yang sangat konyol.
Namun kepalang tanggung kepalaku tetap mengangguk. Ran diam saja, laki-laki itu tidak menanggapi serius permintaanku. Tentu saja mungkin dipikirnya aku cuma bercanda, atau hanya iseng ingin mengerjainya atau malah mungkin dia berpikir aku sudah gila ... siapapun tolong selamatkan wajahku, aku merasa sangat malu!
Aku harusnya tau ide ini sebenarnya sangat buruk, aku seharusnya juga sadar siapa aku bisa menggantikan posisi Jessica, aku harusnya berpikir jernih agar tidak seperti Mama, apalagi ...
"Oke."
Wait.
What?
Apa?
"Gi-gimana, Pak?" Aku merasa perlu memastikan pendengaranku.
Ran bahkan tidak bergerak di kursinya, matanya tetap lekat memandangku. "Itu tawaran yang menarik," katanya. "Mungkin kamu memang bisa jadi personal asisten saya." Melihatku yang melotot tak percaya, dia buru-buru menambahkan. "Hanya untuk sementara."
Yah tidak masalah, yang terpenting aku diberi kesempatan plus gajiku pasti akan berkali-kali lipat dibandingkan saat di Koji, yang artinya peluangku untuk pelan-pelan bisa melunasi hutang Mama terbuka lebar.
"Jadi kamu terima aku, Ran?"
Ran kelihatan mengangkat alis karena saking terkejut dengan keputusan kilatnya aku melupakan sikap formal pura-puraku. "Kalau memang kamu berminat dengan posisi ini, yah ..." Bahunya terangkat. "Apa salahnya mencoba? Saya juga sudah kenal kamu, daripada saya cari yang lain yang belum pasti gimana bibit, bebet, bobotnya. Lebih baik saya memilih yang ada di depan saya dan jelas kualitasnya."
Semudah itu? Dia tidak sedang bercanda, kan? Aku tidak sedang diprank, kan? Jangan-jangan setelah ini dia justru tertawa dan berkata bahwa aku mimpi saja ingin jadi personal asistennya.
Karena merasa bersemangat, aku menyelipkan anak rambut ke balik daun telinga, mencondongkan tubuh, bergerak lebih dekat di antara mejanya.
"Kalau gitu saya nggak perlu kerja di Koji lagi? Tapi gimana dengan kontraknya?"
"Nggak masalah, kalau Jessica sudah pulih, kamu bisa kembali kerja di Koji."
Kurasa aku memang tidak sedang diprank. Ran benar-benar serius dengan keputusannya! Bahkan saking excitednya aku nyaris kehilangan kendali dengan melompat tapi berhasil menguasai diri. Akhirnya dari semua hal menyebalkan yang dia lakukan, Ran masih memiliki sisi baik yang memberiku banyak harapan.
"Kalau perlu kamu bahkan bisa kerja mulai hari ini," tambah Ran murah hati. "Gimana?"
Alarm di kepalaku mendadak menyala seperti memberikan tanda warning tapi aku terlalu bahagia sehingga memilih untuk mengabaikannya. "Siap, Pak."
"Nanti kita bicarakan lebih lanjut gimana prosedur kerjanya."
Aku mengangguk, Ran bangkit dari kursi untuk menyamai posisiku kemudian tangannya terulur.
Situasi ini membuatku merasa dejavu dengan pertemuan pertama kami saat sesi wawancara setelah sekian tahun tidak berjumpa, saat itu aku menatap tangannya ragu-ragu merasa sangat berdebar. Hari ini debarnya masih sama, tapi dengan jenis yang berbeda, dan alih-alih merasa ragu aku justru menyambutnya dengan penuh semangat.
Ran tersenyum lebar. "Selamat menjadi personal asisten saya, Mia."
***