“Wir, kita harus balik sekarang.”
Ketukan di pintu toiletnya tidak membuat Wira keluar. Entah sudah berapa kali Rizal meminta Wira keluar. Namun, Wira masih duduk di atas toilet duduk yang tertutup. Ia sudah berada di titik maksimalnya untuk hadir di pertemuan para pejabat yang tidak ia inginkan itu. Ia ingin kembali ke unit apartemennya. Ia ingin mengistirahatkan pikirannya. Dan yang paling penting adalah ia ingin mengistirahatkan telinganya dari segala macam jenis perbandingan yang ia terima.
“Wir, lo nggak papa kan? Lo nggak pingsan, kan?” tanya Rizal yang masih berdiri di depan toilet dengan ekspresi gusarnya.
“Sampai jam berapa acaranya?” tanya Wira dari dalam toilet.
“Dua jam lagi, Wir.”
Wira menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan perlahan karena luka di beberapa