Sepanjang jalan Julie diam membisu. Tidak ada kecerewetan seperti biasa. Dia–terlanjur kecewa dan kesal atas semua sikap seenaknya yang Ezra lakukan. Tangannya sakit karena Ezra mencabut paksa infusan. Begitu pula dadanya yang semakin sesak.
“Kenapa kau diam saja? Kau tidak senang bisa pulang?” Ezra menelengkan kepalanya ke arah kiri, tepat sang istri berada. Tangannya turut bergerak, bersiap menyentuh kepala Julie.
Dengan cepat dan kasar Julie menepis tangan Ezra sebelum tangan itu berhasil mendarat di kepalanya. “Jangan sentuh aku.”
Nada dan cara Julie bicara tak seperti biasanya. Ada kesan marah, kesal, bercampur aduk yang tersirat. Tidak hanya dari suara melainkan juga ekspresi wajahnya.
Lily dan Edgar yang duduk di depan tidak mau ikut campur urusan yang berada di jok belakang. Me