Jembatan penyeberangan itu bergetar pelan setiap kali bus melintas di bawahnya.
Gwen berjalan paling depan dengan setumpuk surat kabar di lengan kiri, sesuatu yang jelas tidak pernah terjadi dalam dua puluh tahun karirnya sebagai pengacara. Lexi mengikuti sambil menahan tawa.
“Kau membeli tiga puluh eksemplar koran yang isinya sama persis, Gwen.”
“Aku membeli waktu makan malam seorang anak dan adiknya. Korannya hanya bonus.”
“Jadi kau akan membacanya?”
“Tentu tidak. Aku akan meletakkannya di ruang tunggu kantorku dan membiarkan klien-klienku berpikir aku peduli pada berita lokal.”
Lexi tertawa dan suara tawanya membuat Gwen ikut tersenyum. Sudah bertahun-tahun wanita itu tidak mendengar putrinya tertawa dalam jarak sedekat ini.
Namun senyum Gwen memudar ketika ia menoleh ke belakang.
Tyrex berjalan paling akhir, dengan kedua tangan tersimpan di kantung jaket dan pandangan lurus ke arah gedung perpustakaan tua yang kian mengecil di kejauhan.
Pemuda itu belum mengucapkan satu kalimat pun sejak mereka meninggalkan tempat tersebut.
Di dalam kantung jaketnya, jemari Tyrex menyentuh sudut sebuah amplop cokelat yang sudah lusuh dan lemas oleh keringat. Amplop yang Wilson berikan padanya. Amplop yang sampai detik ini belum pernah ia buka.
Semalam ia hampir merobeknya. Namun tangannya berhenti, seolah ada bagian dalam dirinya yang tahu bahwa isi amplop tersebut akan mengubah sesuatu, dan Tyrex belum siap kehilangan hidup barunya yang baru berumur beberapa minggu.
“Trey?” panggil Lexi.
“Ya?”
“Kau tidak apa-apa?”
Tyrex mengangkat wajah dan berusaha tersenyum.
“Kedainya kosong, Lexi. Bukan tutup. Kosong.”
Lexi memperlambat langkah supaya sejajar dengannya.
“Aku tahu.”
“Mesin kopinya masih ada di tempatnya. Cangkir-cangkir masih tersusun. Bahkan celemeknya masih tergantung di paku yang sama. Tidak ada orang yang pergi meninggalkan tempat kerjanya seperti itu.” Suara Tyrex bergetar tipis. “Orang yang pindah akan membawa mesin kopinya.”
Wanita itu tidak menjawab, karena tidak ada jawaban yang layak untuk diberikan.
“Wilson satu-satunya manusia di kota ini yang tidak pernah aku sakiti,” lanjut Tyrex. “Dan sekarang dia yang hilang.”
Gwen yang berjalan di depan berhenti dan berbalik.
“Anak muda, dengarkan aku. Sebagai orang yang menghabiskan hidup di ruang sidang, aku akan mengatakan satu hal padamu. Orang hilang bukan berarti orang mati. Selama tidak ada jasad, hukum menganggap dia masih bernapas. Dan selama hukum menganggapnya bernapas, kita boleh mencarinya.”
“Terima kasih, Nyonya Dixon.”
“Gwen. Aku sudah bosan mendengarmu memanggilku nyonya seperti aku ini kepala sekolah.”
“Aku akan mencobanya. Tapi jangan marah kalau mulutku tetap keliru, Nyonya Dixon.”
“Astaga, anak ini!” gerutu Gwen sembari berbalik dan melanjutkan langkah.
Tyrex tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya sejak siang, bahunya terasa sedikit lebih ringan.
**
Mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit Wellness Grace pukul dua lewat empat puluh.
Lexi merapikan kerah mantelnya lalu menoleh pada Gwen.
“Aku mungkin pulang pagi. Residen mengambil cuti natal lebih awal dan mereka menumpuk semuanya pada kami.”
“Makanlah sesuatu yang bukan kopi, Lexi.”
“Itu terdengar seperti nasihat seorang ibu.”
Gwen mengetuk setir dengan jarinya dan memandang lurus ke depan.
“Kalau begitu anggaplah nasihat pengacara. Klien yang tumbang di ruang sidang selalu kalah.”
Lexi turun, menutup pintu, lalu mengetuk kaca sebelum melangkah pergi. Bukan pelukan, bukan pula ucapan sayang. Hanya ketukan kecil di kaca jendela.
Namun bagi Gwen, ketukan itu lebih berharga daripada seluruh kemenangan perkara yang pernah ia raih.
**
Rumah Ben sudah gelap ketika Tyrex tiba.
Pemuda itu menyalakan lampu ruang tengah, menggantung jaketnya, lalu berdiri cukup lama memandang amplop cokelat yang kini tergeletak di atas meja makan.
Ia menyeret kursi, duduk, dan meletakkan kedua telapak tangan di sisi amplop tersebut, seperti orang yang berhadapan dengan hewan liar.
Nama di sudut amplop itu ditulis dengan huruf besar yang gemetar.
TREY REXON MULLER.
Bukan Tyrex. Bukan the carnivore man. Nama lengkap yang bahkan hampir tidak pernah ia dengar diucapkan orang.
Kunci pintu depan berbunyi dan Tyrex secepat kilat menarik amplop itu, memasukkannya kembali ke saku jaket yang tergantung.
Entah kenapa ia melakukannya. Mungkin karena kebiasaan lama, kebiasaan seorang pencuri yang selalu menyembunyikan sesuatu sebelum ada yang bertanya.
“Kau masih hidup!” seru Ben dari ambang pintu. “Aku setengah menduga kau kabur bersama Gwen Dixon dan meninggalkan gelangmu di meja.”
“Gelangnya kau nonaktifkan, Ben. Kalau aku mau kabur, aku tidak perlu meninggalkan apa pun.”
Detektif itu tertawa dan melemparkan kunci mobilnya ke atas rak.
“Bagus. Setidaknya kau jujur.”
Ben membuka lemari pendingin, mengeluarkan daging cincang, bawang, dan dua butir telur yang tersisa. Pria itu memasak dengan gerakan orang yang sudah sembilan tahun memasak untuk satu piring saja.
“Bagaimana kantormu?” tanya Tyrex sembari mengiris bawang.
“Menyebalkan, seperti biasanya. Tapi aku menemukan sesuatu.”
Tyrex berhenti mengiris.
“Jack Winsley dan Burt Cooper. Keduanya tidak dimutasi ke kota yang sama, seperti yang tertulis pada surat perintah. Winsley memang berangkat, tapi Cooper mengambil cuti panjang dua hari setelah surat itu keluar, dan sejak saat itu tidak pernah melapor lagi.”
“Dia menghilang juga?”
“Tidak. Itu bagian anehnya. Dia masih menerima gaji, masih membayar tagihan listriknya, dan rumahnya masih atas namanya. Dia hanya berhenti datang.” Ben menuang minyak ke wajan. “Orang tidak berhenti datang tanpa alasan, Trey. Orang berhenti datang karena takut.”
Tyrex mengangguk perlahan dan mendorong irisan bawang ke sisi talenan.
Di kepalanya, dua kalimat berputar bersamaan. Cooper yang berhenti datang, dan Wilson yang berhenti ada.
“Ben.”
“Hm?”
Pemuda itu membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia ingin mengatakan bahwa Wilson dilaporkan hilang seminggu setelah dirinya terbaring di rumah sakit. Ia ingin mengatakan bahwa ada amplop yang menggantung di saku jaket di ruang sebelah. Namun setiap kali kalimat itu naik ke tenggorokannya, ada rasa takut yang lebih tua dan lebih kuat mendorongnya turun kembali.
Selama dua puluh tujuh tahun, setiap kali Tyrex membagikan sesuatu yang penting kepada seseorang, ia selalu kehilangan orang tersebut sesudahnya.
“Tidak jadi. Garamnya di mana?”
“Rak atas, sebelah kanan.”
Mereka makan pukul sembilan lewat, di meja yang sama, dengan lampu gantung yang salah satu bohlamnya sudah lama mati dan tidak pernah Ben ganti.
Ben bercerita tentang rekan-rekannya yang bertaruh mengenai siapa yang akan bertugas malam natal. Tyrex mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil, dan menyadari bahwa ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia makan malam dua kali berturut-turut di meja yang sama, bersama orang yang sama.
Di kota ini ada ribuan JC yang berjuang untuk adiknya. Ada ribuan Wilson yang menyeduh kopi untuk orang asing tanpa pernah dicari ketika mereka lenyap. Dan sampai beberapa bulan lalu, ada seorang Tyrex yang tidur di ruang bawah tanah perpustakaan dengan selimut curian.
Sekarang pemuda itu duduk di ruang makan yang hangat, dan justru karena itulah ia semakin takut kehilangan.
“Kau melamun lagi,” tegur Ben.
“Aku sedang berhitung.”
“Berhitung apa?”
Tyrex meletakkan garpunya dan menatap piring yang sudah bersih.
“Berhitung berapa lama lagi keberuntungan ini bertahan.”
Ben mendengus dan bangkit sembari mengumpulkan piring-piring kotor ke wastafel.
“Kalau begitu berhentilah berhitung dan bantu aku mencuci. Keberuntungan tidak pernah bertahan pada orang yang malas, Jagoan.”