Tyrex tidak tidur semalaman.
Ketika matahari mulai memanjat jendela dapur, pemuda itu masih duduk di kursi yang sama, dengan isi amplop tersebut tertata rapi di atas meja seperti barang bukti di ruang sidang.
Selembar surat yang ditulis tangan dengan huruf besar dan gemetar. Selembar bukti setoran yang kertasnya sudah menguning. Dan satu baris angka panjang yang Tyrex hafal di luar kepala sejak semalam.
Ben menuruni tangga dengan rambut berantakan dan langsung mengambil kursi di seberangnya.
“Kau tidak pindah semenit pun, bukan?”
“Aku pindah. Ke wastafel, dua kali.”
Detektif itu mendengus dan menarik surat Wilson ke arahnya, membacanya untuk kali ketiga.
“Pria tua itu menyimpan ini selama bertahun-tahun, Trey. Dia bisa saja membuangnya, atau menjual isinya, atau menghilang bersama uangnya. Tapi dia tetap menyeduh kopi setiap pagi di kedai yang sama, di trotoar yang sama, hanya supaya kau lewat di depannya.”
Tyrex menunduk dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Dan aku selalu pergi tanpa berpamitan.”
“Itu bukan bagian yang perlu kau sesali sekarang.”
“Lalu bagian mana yang boleh aku sesali, Ben?”
“Bagian di mana kau tidak membuka amplop ini enam minggu lebih awal.” Ben mengetuk kertas kuning tersebut dengan telunjuk. “Kalau kau membukanya waktu itu, mungkin kita sudah tahu kenapa seseorang merasa perlu menghilangkan seorang penjual kopi berusia tujuh puluh tahun.”
Kalimat itu menghantam Tyrex jauh lebih keras daripada yang Ben perkirakan.
Detektif tersebut menghela napas lalu menepuk lengan pemuda itu.
“Maaf. Aku terlalu lama menjadi detektif dan lupa bagaimana caranya bicara sebagai manusia.”
Tyrex menggelengkan kepala.
“Kau benar. Aku memang selalu terlambat pada hal-hal yang penting.”
Ben berdiri dan menuang kopi ke dua cangkir.
“Kalau begitu jangan terlambat hari ini.”
**
Gwen Dixon tiba pukul sepuluh dengan tas kerja dan wajah seorang wanita yang siap berperang di ruang sidang.
Ia meletakkan berkas di meja makan Ben, lalu duduk sembari mengeluarkan kacamata bacanya.
“Ada kabar baik dan kabar yang menyebalkan. Aku akan mulai dari yang menyebalkan supaya kalian tidak terlalu gembira,” ucapnya. “Rekeningnya sah dan masih aktif. Dibuka sekitar dua puluh tahun lalu atas nama Trey Rexon Muller, dengan wali penyetor bernama Jacob Rexon Muller.”
Tyrex terpaku mendengar nama tersebut diucapkan oleh orang lain, dengan suara sekeras itu, di ruangan seterang itu.
“Ayahku,” bisiknya.
Gwen mengangguk dan nada bicaranya melunak.
“Ayahmu, Trey. Bukan pemerintah, bukan panti asuhan, bukan pekerja sosial. Ayahmu meninggalkan sesuatu untukmu sebelum dia meninggal.”
“Lalu bagian yang menyebalkan?”
“Bank tidak akan menyerahkan satu sen pun padamu.”
Ben mengerutkan kening. “Kenapa? Namanya ada di sana!”
“Karena secara administratif, Trey Rexon Muller tidak pernah ada.” Gwen melepas kacamatanya. “Tidak ada akta kelahiran yang tersimpan. Tidak ada kartu identitas. Tidak ada nomor jaminan sosial yang aktif. Panti asuhan yang dulu menampungnya sudah tutup pada tahun sembilan puluh delapan dan berkasnya musnah terbakar. Bagi negara ini, dia hanya sebuah bayangan yang kadang-kadang ditangkap polisi.”
Ruangan itu senyap sejenak.
Tyrex tertawa pahit dan bersandar ke kursinya.
“Jadi satu-satunya bukti bahwa aku hidup adalah catatan kejahatanku.”
“Tepat sekali,” sahut Gwen tanpa basa-basi. “Dan justru itu kabar baiknya.”
Kedua pria di ruangan tersebut menoleh bersamaan.
“Sidik jarimu ada di berkas kepolisian sejak kau berusia dua belas tahun. Dua puluh tiga kali, Trey. Dua puluh tiga berkas dengan sidik jari yang sama dan nama yang sama.” Gwen mengangkat map di tangannya dengan senyum kemenangan. “Aku sudah mengajukan permohonan penetapan identitas kemarin sore. Hakim menandatanganinya pagi ini, karena tidak ada satu pun pihak yang bisa membantah bahwa manusia bernama Trey Rexon Muller benar-benar berjalan di kota ini.”
Tyrex menatap map tersebut tanpa berkedip.
“Kau mengubah catatan kriminalku menjadi akta kelahiran?”
“Aku mengubah dua puluh tiga kesalahanmu menjadi satu nama yang diakui negara. Selamat datang di dunia orang hidup, Anak Muda.”
Ben tertawa terbahak dan menepuk meja dengan telapak tangannya.
“Aku sudah bilang, Trey! Wanita ini menakutkan!”
“Aku menganggap itu sebagai pujian, Detektif Hardy.”
**
Sore harinya Lexi datang dengan mantel yang masih berbau antiseptik dan mata yang jelas kurang tidur.
Ia duduk di sebelah Tyrex dan membaca surat Wilson dalam diam.
“Dia menulis tanggal itu di baris terakhir,” ucap Lexi kemudian.
“Tiga belas November dua ribu sepuluh.”
“Tanggal kau ditembak.”
Tyrex mengangguk. “Bertahun-tahun dia menyebutkan tanggal itu padaku, hampir setiap pagi, dan aku selalu menganggapnya orang tua yang kesepian. Aku bahkan pernah menertawakannya di depan pelanggan lain.”
“Kau tidak bisa tahu, Trey.”
“Dia tahu, Lexi. Itu yang membuatku tidak bisa tidur. Wilson tahu sesuatu akan terjadi padaku pada hari itu, dan dia tetap berdiri di trotoar yang sama setiap pagi, menunggu supaya aku selamat.”
Lexi meletakkan surat tersebut dan menggenggam pergelangan tangan pemuda itu sejenak. Bukan sebagai dokter yang menghitung denyut nadi, melainkan sebagai seseorang yang tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Kalau begitu jangan sia-siakan hari yang dia belikan untukmu.”
**
Malam itu Gwen menutup pertemuan dengan satu pengumuman yang tidak bisa dibantah siapa pun.
“Tanggal enam, makan malam di rumahku. Kalian bertiga, ditambah teman dokter putriku yang cerewet itu. Aku tidak menerima penolakan dan aku tidak menerima alasan jadwal jaga.”
“Aku belum tentu libur, Gwen,” protes Lexi.
“Kau akan libur. Aku sudah menulis surat pada kepala rumah sakitmu dan aku menulis surat yang sangat sulit ditolak.”
Lexi memutar bola matanya, namun tidak membantah lagi.
Ketika ketiga tamunya bersiap pulang, Ben mengantar sampai pintu, lalu berbalik pada Tyrex dengan raut yang mendadak serius.
“Sesudah kau kembali dari bank besok, kita perlu bicara soal uang. Bukan soal warisanmu, tapi soal gelang yang kau pakai.”
“Ada masalah?”
“Belum. Tapi akan ada, dan aku lebih suka kau mendengarnya dariku daripada dari surat pengadilan.” Ben menepuk bahunya. “Tidurlah. Besok pagi kau harus terlihat seperti orang yang pantas masuk ke dalam bank.”
**
Pukul tujuh lewat sepuluh, Tyrex sudah berdiri di depan cermin kamar mandi dengan kemeja pinjaman milik Ben yang kebesaran di bahu.
Rambutnya dipangkas rapi oleh Lexi kemarin sore, wajahnya bersih tanpa jenggot, dan untuk sesaat ia hampir tidak mengenali sosok yang memandangnya dari balik kaca tersebut.
Pemuda ini bukan the carnivore man. Bukan pula gelandangan yang tidur di ruang bawah tanah perpustakaan dengan selimut curian.
Tyrex memasukkan map dari Gwen ke dalam tas kertas, mengecek untuk kesekian kali bahwa surat penetapan identitasnya ada di dalam, lalu menyambar mantel yang tergantung di dekat pintu.
Salju turun tipis di luar dan jalanan mulai penuh oleh orang-orang yang mengejar waktu.
Ia menoleh sebentar pada rumah yang mulai terasa seperti rumah, lalu menutup pintu dan melangkah menuju halte.
Di dalam kepalanya, satu kalimat kembali terdengar, diucapkan oleh seorang pria tua berkulit hitam di trotoar yang dingin, bertahun-tahun sebelum hari ini.
Lewati hari ini, Tyrex. Dan kau akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.