Berkas-berkas itu masih tergeletak di meja ruang tamu ketika matahari pagi menerobos tirai.
Tidak seorang pun sempat merapikannya semalam. Gwen tertidur di sofa dengan kacamata baca yang masih tersangkut di kerah bajunya, sementara Lexi terbangun setiap dua jam dan kembali membaca halaman yang sama, seolah berharap huruf-hurufnya berubah.
Wanita tua yang semalam berdiri di ambang pintu itu sudah pergi sebelum siapa pun bangun. Ia hanya meninggalkan secarik kertas di meja dapur, berisi tiga kalimat pendek dan sebuah nomor telepon yang tidak dikenali Gwen.
Aku harus menemui beberapa orang. Jangan mencariku. Aku kembali sebelum malam.
“Dia benar-benar ibumu,” gumam Lexi ketika membaca kertas tersebut.
“Kenapa?”
“Karena dia pergi tanpa penjelasan dan meninggalkan perintah.”
Gwen tidak tertawa. Wanita itu melipat kertas tersebut, memasukkannya ke saku, lalu menyeduh kopi seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam.
Ben datang pukul delapan dengan roti hangat dan dua kantung kopi.
“Kalian terlihat seperti tiga orang yang baru kalah dalam perang,” komentarnya.
“Kami memang kalah,” sahut Gwen sembari menegakkan tubuh. “Kami hanya belum tahu kepada siapa.”
Detektif itu meletakkan kantung di meja dan mengambil satu berkas paling atas.
“Jelaskan padaku dari awal. Anggap aku orang bodoh yang hanya bisa menembak dan menangkap orang.”
Lexi menarik napas dan mulai menyusun lembaran tersebut berjajar di atas meja, seperti seorang dokter yang menjelaskan hasil pemeriksaan kepada keluarga pasien.
“Ada dua tahap dalam proyek ini, Ben. Tahap pertama dipimpin oleh ayah Trey, Jacob Rexon Muller, dan berhenti dua puluh tahun lalu. Tahap kedua dipimpin oleh ayahku, Liam Dixon, dan berhenti sepuluh tahun lalu ketika dia meninggal.”
“Berhenti, atau dihentikan?”
“Itu pertanyaan yang tepat, dan aku tidak punya jawabannya.”
Lexi mendorong satu lembar ke arah Ben.
“Yang mereka kerjakan bukan obat. Bukan pula senjata dalam pengertian yang biasa kau bayangkan. Mereka mencoba mengubah cara tubuh manusia menanggapi kerusakan. Tubuh kita punya rem, Ben. Rem itu yang membuat kita pingsan saat kesakitan, yang membuat otot kita berhenti sebelum tulang kita patah, yang membuat luka menutup pelan-pelan supaya tidak salah bentuk. Mereka mencari cara melepas rem tersebut.”
Ben mengangkat wajahnya perlahan.
“Manusia tanpa rem.”
“Manusia yang tidak berhenti ketika seharusnya berhenti,” koreksi Lexi. “Itu sebabnya mereka memilih remaja dan gelandangan. Bukan karena murah. Tapi karena tidak ada yang akan mencari mereka kalau remnya terlepas terlalu jauh.”
Ruangan itu senyap.
Tyrex duduk paling ujung tanpa menyentuh kopinya sejak tadi. Pandangannya terpaku pada satu lembar yang sejak semalam tidak ia lepaskan dari tangan.
Sebuah label yang disalin ulang dari tabung kaca di ruang bawah tanah tersebut.
ECHO001.
“Aku yang pertama,” ucapnya tanpa diminta.
Semua kepala menoleh.
“Bukan berarti kau yang paling penting, Trey,” bantah Gwen dengan cepat.
“Nomor satu berarti yang paling awal, Nyonya Dixon. Dan yang paling awal biasanya adalah yang paling gagal.”
“Atau yang paling berhasil, sehingga mereka tidak berani mengulanginya,” timpal Ben.
Tyrex mengangkat wajah dan menatap detektif itu.
“Kau tidak sedang menghiburku, bukan?”
“Aku belum pernah menghibur siapa pun seumur hidupku dan aku tidak akan mulai hari ini.” Ben menyeruput kopinya. “Aku hanya membaca berkas. Ada dua puluh sembilan label di ruangan itu, Trey. Dua puluh delapan di antaranya bernomor tiga digit ke atas dan semuanya tersimpan dalam satu rak yang sama. Nomor satu diletakkan terpisah, di lemari terkunci, dengan suhu yang berbeda.”
“Apa artinya itu?”
“Artinya siapa pun yang menyimpannya menganggap tabung itu lebih berharga daripada dua puluh delapan lainnya.”
Lexi menyilangkan tangan dan bersandar.
“Ini juga menjelaskan hal-hal yang selama ini kita abaikan. Pegangan besi ranjang rumah sakit yang patah waktu itu. Bekas jahitan yang menutup dalam sepertiga waktu normal. Hasil labmu yang dua kali diminta ulang oleh Dean karena dia mengira ada kekeliruan alat.”
“Dan orang-orang mati yang berbicara padaku,” tambah Tyrex pelan.
“Itu yang tidak ada dalam berkas mana pun,” aku Lexi. “Tidak satu baris pun. Entah mereka tidak tahu, atau mereka tahu dan sengaja tidak menuliskannya.”
Gwen yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, dengan suara seorang pengacara yang sedang menyusun dakwaan.
“Kalian salah fokus. Kita tidak akan menang dengan memahami formulanya. Kita menang dengan menemukan siapa yang membayarnya.”
Wanita itu menarik jurnal bersampul hitam milik mendiang suaminya, lalu membukanya pada halaman-halaman terakhir yang selama ini mereka lewati karena isinya hanya angka.
“Ini bukan rumus. Ini pembukuan.”
Ben mencondongkan tubuh.
“Liam mencatat setiap dana yang masuk. Tanggal, jumlah, dan tiga huruf di sebelah kanannya.” Jari Gwen menyusuri kolom tersebut. “Tiga huruf yang sama, berulang selama empat tahun.”
“Nama bank?”
“Bukan. Bank tidak pernah ditulis dengan tiga huruf oleh orang yang paranoid seperti suamiku.” Gwen mengangkat wajah. “Ini inisial seseorang.”
Ben mengeluarkan buku catatannya dan menyalin ketiga huruf tersebut.
“Aku akan menitipkan ini pada seseorang di bagian arsip lama. Dia berhutang budi padaku dan dia tidak akan bertanya macam-macam.”
“Berapa lama?”
“Dua hari, kalau aku beruntung. Dua minggu, kalau tidak.”
“Kita tidak punya dua minggu,” tukas Gwen. “Natal tinggal beberapa hari lagi dan sesudah tahun baru, berkas Trey masuk ke meja hakim yang berbeda. Hakim yang baru tidak akan peduli pada foto, jurnal, atau tabung kaca di ruang bawah tanah itu.”
“Aku tahu, Gwen.”
“Kalau begitu jangan beruntung. Menanglah.”
Ben menatap wanita itu cukup lama, lalu tersenyum tipis dan menutup buku catatannya.
“Sekarang aku paham kenapa tidak ada jaksa di kota ini yang mau berhadapan denganmu.”
Ternyata Ben hanya membutuhkan waktu satu hari.
**
Malam berikutnya detektif tersebut kembali dengan map cokelat tipis dan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan kemenangan.
Ia meletakkan map itu di tengah meja tanpa berkata apa pun, lalu duduk dan menuang sisa scotch ke gelasnya.
Gwen membuka map tersebut.
Di dalamnya hanya ada dua lembar. Yang pertama adalah salinan permohonan izin pendirian pusat penelitian swasta, diajukan tiga puluh dua tahun lalu, dengan sebagian besar kolomnya dihitamkan.
Yang kedua adalah sebuah foto.
Foto hitam putih yang diambil dari udara, sudah kabur di bagian tepinya, dengan bekas lipatan yang membelah gambar tersebut menjadi dua.
Sebuah bukit curam menjulang di tengah kabut. Di puncaknya berdiri tiga bangunan berbentuk kotak yang menempel satu sama lain, dikelilingi tembok tinggi. Di luar tembok itu tidak ada apa pun kecuali jurang.
Dan menjulur dari bibir jurang menuju satu-satunya gerbang, terbentang sebuah jembatan yang panjangnya tampak mustahil.
“Astaga,” bisik Lexi.
“Tidak ada nama tempat, tidak ada koordinat, tidak ada tanggal,” ucap Ben dengan datar. “Hanya satu baris tulisan tangan di belakangnya.”
Gwen membalik foto itu dan membaca dengan suara yang mengecil di kalimat terakhir.
Mereka yang menyeberang tidak pernah kembali. J. R.
Tyrex mengambil foto tersebut dan mengamatinya cukup lama.
Ada sesuatu yang membuat tengkuknya dingin, dan itu bukan karena tempatnya terlihat menyeramkan. Justru sebaliknya. Tempat itu terlihat rapi, teratur, dan dibangun dengan perhitungan yang sangat matang.
Seseorang menghabiskan uang yang tidak terbayangkan untuk mendirikan bangunan di tempat yang paling sulit dijangkau manusia.
Orang tidak melakukan itu untuk menyembunyikan barang.
Orang melakukan itu untuk menyembunyikan orang.
“Ben,” panggil Tyrex tanpa mengalihkan mata dari foto tersebut.
“Ya?”
“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berjalan kaki menyeberangi jembatan sepanjang itu?”
Detektif tersebut menimbang sejenak.
“Dua puluh menit. Mungkin lebih, kalau berangin.”
“Dua puluh menit tanpa tempat berlindung, tanpa jalan memutar, dan tanpa kesempatan berbalik arah.” Tyrex meletakkan foto itu kembali ke meja. “Siapa pun yang membangunnya sudah memikirkan hal yang sama denganku.”
“Yaitu?”
“Bahwa jembatan itu bukan dibuat supaya orang bisa masuk.”