Ben akhirnya menyerah dan menutup buku catatannya.
“Baiklah. Aku berhenti bertanya. Bukan karena aku percaya, tapi karena aku kehabisan cara untuk tidak percaya.”
Tyrex tersenyum tipis dari jendela dan tidak berbalik.
Dari lantai dua belas itu, kota New York terlihat seperti mainan yang tertutup gula halus. Sebuah bus berhenti di halte, seorang pria berkostum santa membagikan brosur, dan sepasang orang tua menyeret pohon cemara yang terlalu besar untuk mobil mereka.
Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak ada tabung kaca berlabel di bawah kota ini.
“Kau tidak tidur lagi semalam,” tegur Ben.
“Aku tidur. Empat jam.”
“Empat jam bukan tidur, Trey. Empat jam adalah istirahat sebelum melanjutkan pekerjaan.”
Pintu apartemen terbuka dan Lexi masuk sembari melepas sarung tangan, membawa udara dingin bersamanya.
“Gwen dan Jude masih di kantor. Nenekku sedang menelepon entah siapa sejak subuh dan Gwen melarang siapa pun mengganggunya.” Wanita itu melempar mantel ke sandaran sofa lalu duduk dengan berat. “Aku sudah membaca ulang seluruh jurnal itu. Tiga kali.”
“Dan?”
“Dan tidak ada satu pun alamat di dalamnya. Ayahku menulis rumus, menulis dana, menulis tanggal, tapi tidak pernah sekali pun menulis di mana dia bekerja.”
Ben menuang kopi ke cangkir dan menyodorkannya pada Lexi.
“Orang seperti Liam Dixon tidak menyimpan alamat di buku yang dia bawa pulang.”
“Justru itu yang mengganggu tidurku.” Lexi memeluk cangkirnya. “Dad orang yang tidak bisa mengingat nomor telepon rumah kami sendiri. Dia menulis segalanya. Daftar belanja, jadwal operasi, bahkan nama perawat yang membuatnya kesal hari itu. Kalau dia tidak menulisnya di jurnal ini, berarti dia menulisnya di tempat lain.”
Ruangan tersebut hening beberapa detik.
Lalu Lexi mengangkat wajah dengan mata yang mendadak terbuka lebar.
“Rumah lama.”
“Rumah lama?” ulang Ben.
“Rumah tempat aku lahir dan tinggal sampai umur tiga belas tahun, di pinggiran kota. Setelah Dad meninggal, Gwen pindah dan tidak pernah kembali ke sana. Rumah itu tidak dijual, tidak disewakan, hanya ditinggalkan.” Suara Lexi bergetar tipis. “Dad punya satu ruangan di sana. Kami menyebutnya kamar kerja, tapi sebenarnya tidak ada yang tahu apa yang dia kerjakan di dalamnya. Aku tidak pernah diizinkan masuk, bahkan sekali pun.”
Ben meletakkan cangkirnya dengan bunyi keras.
“Sepuluh tahun, dan tidak ada seorang pun yang membuka ruangan itu?”
“Tidak ada seorang pun yang berani membuka rumahnya, Ben.”
**
Gwen menolak.
Percakapan telepon itu berlangsung tujuh menit dan enam menit di antaranya diisi keheningan.
“Aku bisa memberimu kunci, aku bisa memberimu surat, aku bisa memberimu apa pun yang kau minta,” ucap suara ibunya dari pengeras suara ponsel. “Tapi jangan minta aku berdiri di ruang tamu itu, Lexi. Aku masih bisa mendengar bagaimana pintu depan berbunyi setiap kali ayahmu pulang lewat tengah malam.”
Lexi menunduk dan mengusap layar ponsel dengan ibu jarinya, seolah wanita di seberang sana bisa merasakannya.
“Aku mengerti.”
“Rosa masih di sana. Aku tetap membayarnya setiap bulan selama sepuluh tahun ini supaya rumah itu tidak roboh dan tidak dimasuki orang. Dia sudah sangat tua sekarang.” Terdengar helaan napas panjang. “Katakan padanya bahwa aku menitipkan salam.”
“Kau tidak ingin menyampaikannya sendiri?”
“Suatu hari nanti. Bukan hari ini.”
Sambungan itu terputus dan Lexi memandang layar yang meredup di telapak tangannya.
Tyrex yang sejak tadi berdiri di dekatnya akhirnya bersuara.
“Aku ikut denganmu.”
“Kau tidak perlu, Trey. Ini urusan keluargaku.”
“Justru karena itu.” Pemuda tersebut mengambil mantel Lexi dari sandaran sofa dan menyerahkannya. “Kau menemaniku masuk ke ruangan tempat mereka menyimpan darahku. Aku tidak akan membiarkanmu membuka pintu ayahmu sendirian.”
Lexi menerima mantel itu tanpa berkata apa-apa, karena kalau ia membuka mulut, ia tahu suaranya akan pecah.
**
Perjalanan ke pinggiran kota memakan waktu satu jam empat puluh menit.
Salju turun semakin tebal begitu mereka meninggalkan jalan besar. Rumah-rumah semakin berjauhan, pagar-pagar semakin tinggi, dan lampu jalan semakin jarang.
Lexi tidak berbicara sepanjang perjalanan. Ia hanya menyebutkan arah dengan suara pendek, kadang terlambat satu belokan karena pohon-pohon yang dulu masih setinggi bahu kini sudah menutupi papan nama jalan.
“Kiri di depan. Setelah kotak surat merah.”
Tyrex membelokkan mobil dan menghentikannya di depan sebuah rumah bercat putih dua lantai dengan atap curam yang tertimbun salju.
Halamannya rapi. Terlalu rapi untuk rumah yang ditinggalkan sepuluh tahun.
Tirai jendela lantai bawah tertutup semua, kecuali satu di sudut kanan, tempat sebuah lampu kecil menyala dari dalam.
Lexi tidak segera turun. Ia duduk memandang pintu depan yang bercat hijau tua dengan kedua tangan mencengkeram sabuk pengaman.
“Bagian tersulit selalu sepuluh langkah pertama,” ucap Tyrex pelan.
“Kau bicara dari pengalaman?”
“Aku berjalan pulang ke perpustakaan itu setiap malam selama belasan tahun. Sepuluh langkah pertama selalu terasa seperti mengakui sesuatu.”
Lexi menghela napas, lalu melepas sabuknya.
Salju berderak di bawah sepatu mereka. Angin membawa bau kayu bakar dari suatu tempat di kejauhan.
Lexi berhenti di anak tangga teras, memandang engsel pintu, lalu memandang ubin di kakinya.
“Di sini Dad mengajariku menghitung denyut nadi. Aku berumur enam tahun dan dia memakai pergelangan tangannya sendiri sebagai contoh.”
Tyrex tidak menjawab. Ia hanya berdiri satu langkah di belakangnya.
Wanita itu mengangkat tangan dan mengetuk tiga kali.
Cukup lama tidak ada jawaban. Kemudian terdengar suara langkah kaki yang diseret, disusul bunyi rantai pengaman yang dilepas satu per satu.
Pintu terbuka sepertiga dan seorang wanita tua bertubuh kecil dengan rambut putih yang disanggul rapi memandang keluar.
Matanya menyipit menahan cahaya salju, lalu perlahan membesar.
“Ya Tuhan,” bisiknya dengan tangan menutup mulut. “Nona kecil.”
“Halo, Rosa.”
Wanita tua itu membuka pintu lebar-lebar dan menarik Lexi ke dalam pelukannya tanpa bertanya apa pun terlebih dahulu. Ia lebih pendek satu kepala, namun pelukannya membuat bahu Lexi yang selama berminggu-minggu tegang akhirnya turun.
“Sepuluh tahun,” ucap Rosa dengan suara bergetar. “Sepuluh tahun aku menyalakan lampu teras setiap malam, kalau-kalau ada yang pulang.”
Lexi menutup matanya dan membiarkan dirinya dipeluk lebih lama daripada yang ia rencanakan.
“Gwen menitipkan salam untukmu.”
“Nyonya Dixon masih hidup dan masih galak?”
“Masih keduanya.”
Rosa tertawa kecil, lalu matanya beralih pada pemuda bermantel gelap yang berdiri di belakang Lexi.
“Dan siapa ini?”
“Namanya Trey. Dia teman.”
Wanita tua tersebut mengamati Tyrex cukup lama, dari sepatu sampai ke wajahnya, dengan cara yang hanya dimiliki oleh orang yang sudah puluhan tahun bekerja di rumah orang lain dan belajar menilai tamu dalam sekali pandang.
Entah apa yang ia lihat, tapi kemudian Rosa mengangguk dan menyingkir dari ambang pintu.
“Masuklah, kalian berdua. Di luar terlalu dingin untuk bicara.”
Lexi melangkah masuk dan bau rumah itu langsung menyerbunya. Kayu tua, lilin, dan sedikit aroma kopi yang seakan tidak pernah hilang dari dinding.
“Rosa,” ucapnya sebelum wanita tua tersebut sempat menawarkan minuman. “Aku ingin masuk ke kamar kerja Dad.”
Senyum di wajah Rosa memudar perlahan.
Ia memandang Lexi cukup lama, lalu menoleh ke arah lorong di sisi kanan rumah yang gelap dan tidak berlampu.
“Aku tidak pernah membersihkan ruangan itu, Nona. Nyonya Dixon melarangku menyentuhnya sejak hari pemakaman.”
“Aku tahu.”
“Kuncinya masih tergantung di tempat yang sama.”
Rosa mengambil lilin dari meja kecil di dekat tangga, menyalakannya dengan tangan yang bergetar, lalu berjalan mendahului mereka menyusuri lorong tersebut.