Rosa menunggu di ambang pintu sampai keduanya selesai.
Wanita tua itu tidak masuk sedikit pun ke dalam ruangan tersebut, bahkan ketika Lexi memintanya. Ia hanya berdiri sambil memegang lilin, seperti seseorang yang menjaga pintu makam.
“Ada satu hal lagi, Nona,” ucapnya ketika Tyrex mulai menumpuk kertas yang mereka pilih.
Lexi menoleh.
“Tuan Dixon menitipkan sesuatu padaku, dua hari sebelum dia meninggal. Dia bilang, kalau ada orang datang menanyakan kamar ini, aku boleh menyerahkannya. Kalau tidak ada yang datang, aku harus membakarnya ketika aku merasa ajalku dekat.”
“Sepuluh tahun, Rosa. Kenapa kau tidak pernah mengabari kami?”
“Karena tidak ada yang datang menanyakan kamar ini, Nona.” Wanita tua tersebut menjawab tanpa nada menyalahkan sedikit pun. “Sampai hari ini.”
Rosa pergi ke lantai atas dan kembali beberapa menit kemudian, membawa kotak kaleng biskuit yang catnya sudah mengelupas.
Isinya hanya tiga benda.
Sebuah paspor lama atas nama Liam Dixon, dengan enam cap keberangkatan pada tahun yang sama. Selembar foto berwarna pudar yang menampilkan tiga pria muda berdiri di depan pesawat kecil. Dan sebuah amplop tipis yang tidak bertuliskan apa pun.
Lexi membalik foto tersebut dengan tangan gemetar.
Tiga nama tertulis di baliknya, ditulis dengan pena yang sama.
Liam. Jacob. Jergen.
“Ayahku dan ayahmu berdiri di sebelah orang yang sama,” bisik Lexi.
Tyrex menatap wajah pria yang berdiri paling kanan pada foto tersebut. Rambutnya gelap, tubuhnya tegap, dan senyumnya lebar seperti orang yang sedang merayakan sesuatu.
Tidak ada satu pun bagian dari wajah itu yang terlihat seperti monster.
“Itu yang paling menakutkan,” gumam Tyrex.
“Apa?”
“Bahwa mereka pernah berteman.”
**
Mereka tiba kembali di apartemen menjelang pukul sembilan malam dan mendapati semua orang sudah berdiri.
Koper Gwen tergeletak terbuka di ruang tengah. Ben sedang menutup tas ranselnya dengan gerakan cepat seorang pria yang terbiasa berangkat mendadak.
“Nenekmu berangkat tadi sore,” ucap Gwen sebelum Lexi sempat bertanya. “Dia sudah mengurus semuanya di sana dan menyuruh kita menyusul malam ini juga.”
“Malam ini?!”
“Pesawatnya tidak menunggu siapa pun, Lexi. Termasuk cucunya.”
Ben mengangkat kepala dan menatap kotak kaleng di tangan Tyrex.
“Kalian menemukan sesuatu?”
“Kami menemukan foto mereka bertiga,” jawab Tyrex. “Dan sebuah amplop yang belum kami buka.”
“Bawa. Buka di pesawat.” Ben menyambar mantelnya. “Kita berangkat sekarang.”
**
Salju sudah berhenti ketika mobil memasuki area parkir hanggar swasta di pinggir landasan.
Lampu-lampu di sana berpendar kuning dan sebagian besar padam. Tidak ada petugas, tidak ada antrian, tidak ada suara apa pun kecuali deru mesin yang memanas di kejauhan.
Ben yang pertama kali merasa ada yang salah.
“Berhenti,” ucapnya pelan.
“Kenapa?”
“Pintu pagar tadi seharusnya terkunci.”
Mereka baru turun sepuluh langkah dari mobil ketika dua sorot lampu menyala dari sisi kiri dan sebuah van hitam melaju memotong jalan mereka menuju pesawat.
Empat orang turun. Semuanya mengenakan pakaian gelap dan menutupi wajah. Tidak satu pun berteriak, tidak satu pun memberi peringatan.
Orang yang berniat menangkap akan berteriak. Orang yang berniat membunuh tidak.
“Ke belakangku!” bentak Ben sembari menarik pistolnya.
Gwen menyeret Lexi ke balik mobil. Ben menembak dua kali dan salah satu dari mereka roboh, namun tiga sisanya terus bergerak dengan cara yang membuat bulu kuduk berdiri; tidak menunduk, tidak melindungi diri, tidak melambat sedikit pun ketika rekan mereka jatuh.
Manusia tanpa rem.
Salah satu dari mereka meraih Lexi dari sisi yang tidak terjaga dan menyeret wanita itu ke arah van.
Lexi menjerit satu kali.
Dan sesuatu di dalam diri Tyrex terlepas.
Pemuda itu tidak sempat berpikir, tidak sempat memilih, dan tidak sempat merasa takut. Ia hanya melihat tangan asing itu menutupi mulut Lexi, lalu dunia di sekelilingnya berubah panas.
Api keluar dari kedua telapak tangannya.
Bukan percikan, bukan pula kobaran kecil. Api itu membungkus lengannya sampai ke siku, berwarna biru di bagian dalam dan jingga di ujungnya, dan bergerak mengikuti gerakan tangan Tyrex seperti sesuatu yang hidup dan patuh.
Pria bertopeng tersebut melepaskan Lexi dan mundur dengan panik, menepuk-nepuk lengan bajunya yang menyala.
Kedua rekannya berhenti untuk pertama kalinya sejak turun dari van.
Tyrex melangkah maju satu kali dan itu sudah cukup. Ketiganya berlari mundur, melompat ke dalam van, lalu kendaraan itu melesat menembus pagar dan menghilang di kegelapan landasan.
Api di tangan Tyrex padam secepat munculnya.
Pemuda itu berdiri terpaku, memandang kedua telapak tangannya yang masih terentang.
Tidak ada luka. Tidak ada melepuh. Bahkan lengan mantelnya tidak hangus sedikit pun.
“Trey.” Suara Lexi bergetar di belakangnya.
Tyrex tidak menoleh. Ia hanya menatap tangannya sendiri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku pikir sudah hilang,” bisiknya. “Sejak malam itu aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku pikir mereka sudah mengambilnya kembali dariku.”
Ben mendekat, memeriksa kedua tangan pemuda tersebut dengan cepat, lalu menepuk bahunya dengan keras.
“Nanti. Sekarang naik ke pesawat, semuanya!”
**
Pesawat itu lepas landas dua puluh menit kemudian.
Tidak ada yang berbicara selama satu jam pertama. Gwen memegang tangan Lexi dan tidak melepaskannya sekali pun. Ben duduk di kursi paling belakang dengan pistol yang masih tergeletak di pangkuannya, memandang keluar jendela pada gelap yang tidak berujung.
Tyrex duduk sendirian di dekat sayap, menatap kedua telapak tangannya berulang kali, membuka dan menutupnya perlahan, seolah mencoba menemukan tombol yang tadi tidak sengaja ia tekan.
Amplop dari kotak kaleng itu tetap tidak terbuka sepanjang penerbangan.
Tidak ada seorang pun yang punya tenaga untuk membacanya.
**
Kota tujuan mereka menyambut dengan hujan tipis dan udara yang jauh lebih dingin daripada New York.
Mobil jemputan membawa rombongan itu langsung ke sebuah hotel tua bertingkat delapan, melewati lobi tanpa satu pun formulir yang harus diisi, lalu naik ke lantai paling atas.
Pintu president suite terbuka dari dalam sebelum Ben sempat mengetuk.
Jude berdiri di sana dengan syal tersampir di bahu dan wajah yang jelas belum tidur semalaman. Matanya langsung menyapu satu per satu wajah rombongan tersebut, menghitung, memastikan.
“Kalian semua utuh,” ucapnya lega.
“Nyaris tidak,” sahut Gwen.
Wanita tua itu menutup pintu, menguncinya, lalu berbalik dengan alis terangkat.
“Apa maksudmu nyaris?”
Lexi melepas mantelnya yang basah dan duduk di tepi sofa, sementara Tyrex tetap berdiri di dekat jendela tanpa melepaskan pandangan dari kedua tangannya sendiri.
Ben yang akhirnya menjawab, dengan suara serak seorang pria yang sudah kehabisan cara untuk terkejut.
“Mereka menunggu kami di hanggar, Jude. Empat orang, bersenjata, dan sama sekali tidak takut ditembak.” Detektif itu meletakkan tasnya di lantai. “Kami semua seharusnya mati malam ini.”
“Lalu kenapa kalian tidak mati?”
Ben menoleh pada pemuda yang berdiri di dekat jendela tersebut.
“Karena tangan anak ini terbakar, dan dia tidak melepuh sedikit pun.”