Lexi tidak beranjak dari sisi tempat tidur itu.
Telapak tangannya menekan bahu Tyrex dengan lembut, menahan pemuda tersebut supaya tidak memaksakan diri bangkit. Angka pada monitor terus merangkak naik dan itu bukan pertanda baik bagi seseorang yang kepalanya baru saja dibuka untuk mengeluarkan sebutir peluru.
“Trey, dengarkan aku. Tarik napas empat hitungan, tahan dua, lepaskan enam,” ucap Lexi dengan suara rendah.
“Aku tidak bisa berhenti mendengarnya!”
“Bukan berhenti mendengar yang aku minta. Aku minta kau tetap bernapas.”
Rahang Tyrex mengatup. Butir keringat menetes dari pelipis dan membasahi bantal.
Lexi mengangkat wajah, menatap sudut ruangan tepat di belakang kepala pasiennya.
Sosok itu masih berdiri di sana.
Seorang pria bertubuh kurus dengan seragam pasien yang tidak terkancing rapi. Bagian rahangnya rusak dan Lexi mengenali bentuk luka semacam itu dari ruang otopsi. Bukan luka jatuh, bukan pula luka kecelakaan.
Sosok tersebut tidak menoleh sedikit pun pada Lexi. Ia terus menunduk ke telinga Tyrex, seperti seseorang yang sedang mendiktekan alamat pada anak kecil.
“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Lexi dengan hati-hati.
“Kalimat yang sama. Berulang-ulang sejak tadi.”
“Katakan padaku, Trey.”
Tyrex menelan ludah dan bibirnya bergerak dengan susah payah.
“Jangan percaya seragam itu.”
Tangan Lexi terhenti di atas selang infus.
“Seragam siapa?”
“Aku tidak tahu! Dia tidak pernah menyelesaikan kalimatnya!” pekik Tyrex dengan frustrasi.
Perawat mengintip dari balik pintu dan Lexi mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa semua masih terkendali.
Wanita muda itu menarik kursi dan duduk. Ia meraih pergelangan tangan Tyrex, meletakkan dua jarinya di sana, lalu menghitung dalam diam.
“Seratus enam belas,” gumamnya. “Jantungmu bekerja seperti orang yang sedang berlari, sementara tubuhmu terbaring diam. Ini yang berbahaya, bukan bisikannya.”
“Apakah kau melihat dia sekarang?”
Lexi mengangguk pelan.
“Pria. Kurus. Sekitar lima puluh tahun. Aku tidak mengenalinya dan dia bukan pasien di lantai ini.”
“Bisakah kau memintanya pergi?”
“Sudah kukatakan padamu, aku tidak bisa bicara dengan mereka. Aku hanya melihat.” Nada suara Lexi terdengar getir. “Selama sepuluh tahun aku belajar hidup dengan itu. Rahasianya sederhana, Trey. Jangan pernah membalas tatapan mereka.”
“Bagaimana jika mereka yang mencariku?”
“Maka kau berpura-pura tidak menarik. Arwah sama seperti manusia, mereka bosan pada orang yang tidak memberi reaksi.”
Tyrex tertawa kecil dan tawa itu terdengar sumbang. Namun bahunya sedikit turun dan itu yang Lexi tunggu.
Dokter magang tersebut menyuntikkan obat penenang dosis rendah ke dalam selang infus. Bukan untuk menghapus penglihatan Tyrex, karena Lexi tahu obat mana pun tidak akan mampu melakukan itu.
“Aku hanya menurunkan tekananmu. Jahitan di kepalamu belum kuat menahan lonjakan seperti tadi,” terangnya.
“Lexi.”
“Ya?”
“Tetaplah di sini sampai aku tertidur.”
Permintaan itu terlontar dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Seorang pemuda yang sudah puluhan kali keluar masuk penjara, yang beberapa hari lalu memohon pada Bill untuk mengakhiri hidupnya, kini takut sendirian di kamar berukuran empat kali lima meter.
Lexi tidak menjawab. Ia hanya menggeser kursinya sedikit lebih dekat.
Delapan menit kemudian, napas Tyrex melambat dan matanya terpejam.
Ketika Lexi menoleh ke sudut ruangan, sosok itu sudah tidak ada.
Yang tertinggal hanya rasa dingin yang menempel di tengkuknya dan satu kalimat yang tidak mau pergi dari kepalanya.
Jangan percaya seragam itu.
**
Chloe menatap Lexi yang menulis catatan medis di meja perawat dengan wajah pucat pasi.
“Kau terlihat seperti baru menandatangani surat kematianmu sendiri, Dixon.”
“Pasienku kejang lagi. Kali kedua dalam tiga hari.”
“Kejang atau panik?”
Pertanyaan Chloe membuat pena Lexi berhenti. Temannya itu memang lulusan terbaik Stanford dan sangat sulit dibohongi.
“Panik,” aku Lexi akhirnya. “Dia melihat sesuatu.”
“Kepala yang baru dikeluarkan peluru memang bisa membuat orang melihat macam-macam, Lex. Halusinasi pasca trauma otak. Itu ada di buku tahun pertama.”
“Ya. Itu ada di buku,” sahut Lexi datar.
Chloe mengerutkan dahi dan menunggu kalimat lanjutan yang tidak pernah datang.
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
“Aku menyembunyikan banyak hal, Nona Yang. Kau baru menemukan satu.”
Sahabatnya mendengus lalu menyerah dan kembali pada tumpukan map miliknya sendiri.
**
Ben Hardy datang menjelang pukul delapan malam dengan mantel yang masih basah oleh salju.
Detektif itu tidak langsung menuju kamar Tyrex. Ia justru menunggu Lexi di dekat mesin kopi, dengan dua gelas kertas di tangan.
“Aku membawa kabar dan tidak satu pun yang menyenangkan,” ucap Ben seraya menyerahkan satu gelas.
Lexi menerimanya tanpa berterima kasih.
“Kejaksaan mempercepat berkas. Trey akan didudukkan sebagai tersangka, bukan saksi.”
“Kau bilang dia korban!”
“Aku tahu apa yang aku katakan, Lexi. Tapi yang mereka lihat hanyalah tumpukan catatan kriminal dan seorang pemuda tanpa alamat, tanpa kartu identitas, tanpa satu pun keluarga yang mau bersaksi bahwa dia manusia.”
Lexi meletakkan gelasnya di atas mesin dan menyilangkan tangan.
“Lalu apa yang bisa aku lakukan? Aku dokter magang. Aku bahkan tidak boleh menandatangani resep tanpa pengawasan.”
Ben menarik napas panjang, seperti orang yang sudah lama menimbang kalimat yang akan ia ucapkan.
“Trey butuh pengacara. Bukan pengacara yang ditunjuk pengadilan dan menangani dua puluh perkara dalam sehari. Dia butuh nama yang membuat hakim duduk lebih tegak.”
Lexi memandang detektif itu dengan mata menyipit. Ia langsung memahami arah pembicaraan tersebut dan hatinya seketika mengeras.
“Tidak.”
“Aku belum menyebut nama siapa pun.”
“Kau tidak perlu. Kau sudah menyebutnya waktu itu, ketika kau bertanya apakah aku ada hubungan dengan Gwen Dixon.”
Ben tidak membantah. Ia hanya menyeruput kopinya dan membiarkan Lexi marah.
“Kau tahu apa yang kau minta, Ben? Aku belum bicara empat kalimat penuh dengan wanita itu selama sepuluh tahun terakhir.”
“Aku tahu.”
“Aku memanggilnya dengan nama depannya, seperti memanggil tetangga.”
“Aku tahu itu juga.”
“Lalu kenapa tetap meminta?!”
Detektif berusia empat puluh tahun tersebut meletakkan gelasnya dan menatap Lexi dengan sorot yang mendadak sangat lelah.
“Karena aku pernah menunda satu telepon, Lexi. Satu telepon saja. Dan dua orang yang paling aku sayangi kini terbaring di pemakaman perbatasan kota.”
Kalimat itu menghantam Lexi tepat di ulu hati.
“Aku tidak memintamu berbaikan dengannya. Aku memintamu mengangkat telepon.”
Lorong rumah sakit itu mendadak terasa sangat panjang dan sangat sunyi. Lexi memandang lantai berkilat yang memantulkan lampu neon, lalu memandang pintu kamar tempat seorang pemuda tertidur dengan tangan yang sebentar lagi akan diborgol.
Ia teringat bagaimana Tyrex memintanya duduk. Ia teringat pula kalimat yang Bill sempat ceritakan pada polisi sebelum pemilik minimarket itu ikut terbunuh; bahwa Tyrex memohon supaya ada seseorang yang mau mengakhiri hidupnya.
Manusia semacam itu tidak akan pernah mendapatkan pengacara yang layak.
“Aku tidak menjanjikan apa pun,” ucap Lexi dengan suara serak.
Ben mengangguk. “Itu sudah lebih dari cukup untukku.”
Detektif tersebut berpamitan dan berjalan menuju kamar Tyrex, meninggalkan Lexi sendirian di depan mesin kopi yang mendengung pelan.
Wanita muda itu merogoh ponsel dari saku jas putihnya. Ibu jarinya menggantung cukup lama di atas layar, seolah tombol itu terbuat dari besi panas.
Nomor tersebut bahkan tidak ia simpan dengan sebutan Mom. Hanya dua huruf. G.D.
Lexi mengetik dengan cepat, sebelum keberaniannya habis.
Kau ada waktu untuk minum kopi besok sore? Ada yang ingin aku bicarakan.
Pesan itu terkirim.
Lexi menyandarkan kepala ke dinding dan memejamkan mata. Ia baru saja melakukan sesuatu yang selama sepuluh tahun ia bersumpah tidak akan pernah ia lakukan, dan anehnya, dadanya justru terasa sedikit lebih ringan.