Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Yusuf Ongko Wijaya
Kita mengetahui bahwasanya kalimat “perceraian” itu identik dengan menyakitkan. Tak ada satu pun manusia yang menginginkannya di dunia ini, dan saya pun demikian. Saya rasa semua manusia dibelahan bumi termasuk saya hanya menginginkan pernikahan itu sekali seumur hidup, tetapi apakah selalu berjalan sesuai harapan? Tidak selalu seperti itu. Satu hal yang harus kita ketahui bagaimana mengenal karakter diri kita, bagaimana cara kita membawa diri kita terhadap pasangan hidup kita, bagaimana cara mempelajari dan menerima segala kekurangan mulai dari diri kita dan pasangan hidup kita. Kita berhenti sejenak untuk melangkah ke ranah lingkungan keluarga, karena sejatinya untuk mendapatkan kehidupan yang harmonis bersama pasanagan hidup kita harus membahagiakannya terlebih dahulu, ya “membahagiakan”. Tapi satu hal, bagaimana mungkin kita membahagiakan pasangan kita sedangkan kita sendiri tidak bahagia, itu terdengar konyol. Kita ber-akting bahagia di depan pasangan tetapi kenyataannya tidak seperti itu, ini banyak terjadi dalam kehidupan berumah tangga, dan dampaknya jika dibiarkan terus menerus seperti itu, efeknya akan mengarahkan ke emosional kita, karena di satu sisi ketika kita memberikan sesuatu yang membuat pasangan kita bahagia, di sisi lain kita juga mengharapkan feedback, yaah seenggaknya saling mengerti walaupun tidak saling meminta. Ini juga banyak terjadi di dalam hubungan rumah tangga. Pada intinya jangan pernah merahasiakan apapun itu dari pasangan kita, memang terlalu jujur itu tidak baik (buan berarti saya mengajarkan kebohongan pada pasangan anda ya), tetapi berbohong juga bukan pilihan yang tepat, yag seharusnya bagaimana cara kita menempatkan sesuatu dengan benar dan tepat. Penempatan kebohongan dan kejujuran itu bisa jadi satu jika anda dapat menelaah kalimat ini. Anda takut untuk berkata jujur ketika ada rahasia yang ingin anda ungkapkan pada pasangan anda tetapi anda takut membohongi dirinya karena kesalahan anda, entah anda berselingkuh atau lainnya. Oke kita ambil contoh masalah yang sering terjadi dalam hubungan rumah tangga yang berakibat perceraian adalah perselingkuhan. Ada beberapa faktor yang membuat orang itu berselingkuh dari pasangannya; dia sudah tidak mencintai pasangannya dari segi fisik, dari segi materi, dan dia menginginkan yang lebih baik dari itu. Ya sifat manusia itu selalu menginginkan yang lebih baik dan.tidak ada titik kepuasan. Jika melihat sifat kita lebih detil lagi, sebenarnya kita hanya mengikuti ego. Hati itu selalu murni, tetapi ego bisa menutupi pendengaran dari kaimat-kalimat yang baik dari hati dan mengabaikannya lalu melanjutkan perjalanannya yang menurutnya benar, tetapi yang menurutnya benar belum tentu benar (itulah yang dinamakan ego). Ketika kita membenarkan ego, kita melemahkan logika kita, sudah mulai banyak kebohongan-kebohongan yang muncul di permukaan diri kita. Pertama kita sudah membohongi diri, pasangan, orang-orang terdekat, dan yang paling utama kita sudah membohongi Tuhan. Tapi itulah hidup, tidak ada satu pun manusia yang selalu jujur dan tidak ada satu pun manusia yang selalu berbohong pada kehidupan. Hanya saja penempatannya yang kurang tepat. Kejujuran dan kebohongan itu ada pada setiap manusia, itu sudah sifat alami. Tetapi bagaimana cara kita menerima itu semua dari segi pengontrolan emosional (cara menerima sesuatu yang tidak menyenangkan), pengontrolan hasrat pribadi (ingin melakukan sesuatu yang bisa menyakiti seseorang), itu semua butuh pengontrolan dalam diri, yang pastinya kalau lepas kontrol bisa berakibat buruk bahkan fatal. Nah, semua itu membutuhkan logika. Bagaimana jika semua itu tidak dapat diterima secara logika? Ya butuh komunikasi. Komunikasi adalah senjata paling ampuh dalam menyelesaikan suatu masalah, ibarat obat untuk sebuah luka. Jika tidak dapat di komunikasikan, atau bahkan sudah komunikasi tapi tidak mendapatkan titik terang dari suatu perdebatan, kita kembalikan lagi ke kalimat diatas, bagaimana cara kita menerima dan memberi terhadap pasangan kita. Satu hal yang harus kita ketahui, jangan pernah mengambil keputusan disaat marah, dan jangan pernah membuat janji disaat kita bergembira. Kenapa? Disaat kita membuat keputusan disaat marah, pola pikir kita tidak dapat berjalan normal, yang lebih dominan ada di pikiran kita hanya keburukan pasangan kita ketimbang kebaikan yang pernah ia berikan terhadap kita. Saat membuat janji ketika gembira itu juga tidak baik, kebanyakan tidak sesuai dengan realita. Kita bisa bahagia dengan sebuah janji pernikahan akan sehidup semati bak romeo dan juliet, tetapi kenyataan hidup tidak selalu sempurna dan tidak selalu seperti itu. ic_default
Karena kamu suka Pernikahan · Selingkuh, mungkin kamu suka ini juga: